Pendekar Tongkat Pemukul Anjing

Pendekar Tongkat Pemukul Anjing
Ep 43 - Merubah Penampilan


__ADS_3

Sebelumnya Harjaya sudah menebak bahwa Agni telah mencapai ranah SoulGod, namun ia masih sangat terkejut ketika Agni telah membunuh dua orang pembesar sekte. Terutama justru ketua Sekte Alas Roban itu.


"Jika inti yang kami milikki lebih kuat dari inti hewan iblis di alam rendah, tentunya saling bunuh diantara kami lebih banyak terjadi dari pada saat ini Agni" jawaban Harjaya saat Agni bertanya tentang inti Bok Sun He dan Kaka.


"Ras hewan iblis alam tengah memilikki keunggulan dalam kecerdasan dan tingkatan kultivasi, tapi mereka yang di alam rendah memilikki kekuatan yang jauh di atas kami meskipun ranah mereka lebih rendah dari pada kami" lanjut Harjaya kemudian.


Meski Agni cukup memahami penjelasan Harjaya, namun Agni masih belum habis pikir kenapa mereka di ciptakan seperti itu.


Agni turut senang ketika melihat Ayu Wilis dapat menerobos ke ranah Demigod tahap menengah bintang 1. Sedangkan ke empat orang penghuni yang lainnya masih pada tingkatan sebelumnya, namun pondasi kekuatan mereka cukup mengalami peningkatan yang memuaskan. Tidak akan butuh waktu lama bagi ke empat yang lainnya untuk turut menerobos pula.


Ayu Wilis mengucapkan terima kasih dengan menitikkan air matanya kepada Mahisa Agni. Tanpa bantuan Agni, akan butuh bertahun-tahun lamanya untuk Ayu Wilis bisa menerobos ranah selanjutnya. Agni kemudian memberikan satu lagi pil Bunga Biru kepada Wilis, agar Wilis bisa meningkatkan ranah alkemisnya.


"Saudari Wilis, Paman, mungkin malam nanti aku akan bertemu Tuan Besar Jaya Pamungkas. Aku akan melihat perkembangan keadaan, semoga dalam waktu dekat ini kalian bisa kembali ke sekte dengan kehidupan yang lebih baik. Aku harap kalian mempersiapkan diri"


Begitulah pesan Agni kepada mereka. Sehari itu, Agni menemani keluarga Harjaya dan juga Ayu Wilis untuk berlatih. Terutama untuk Ayu Wilis sendiri, ia memerlukan peningkatan ranah Alkemisnya agar dapat memberikan kontribusinya kepada Sekte Tapak Macan demi menghapus pandangan buruk anggota sekte kepadanya.


****


Sementara itu di Sekte Rubah Salju. Kekhawatiran Lin Mewu terhadap lencana yang diberikan pada pemilik Pil Bunga Biru masih cukup membayanginya. Meski begitu, pada pagi harinya ia tetap pergi ke Sekte Bukit Embun bersama beberapa tetua sektenya untuk mengucapkan belasungkawa.


Kematian ketua Sekte Alas Roban sendiri, meskipun cukup mengejutkannya, tak terlalu mengacaukan pikiran Lin Mewu. Selama ini ia hanya memanfaatkan Tuan Besar Kaka itu demi kepentingan pribadinya. Lin Mewu yakin Sekte Alas Roban tak akan memutuskan pasokan tanaman herbalnya untuk Sekte Rubah Salju karena kejadian ini.


Sedangkan 5 sekte besar yang lain, Lin Mewu berani memastikan, mereka tidak akan mencoba mengganggu hubungan Sekte Rubah Salju dengan Sekte Alas Roban. Terlebih Sekte Tapak Macan yang sedang dalam keadaan sulit. Namun Lin Mewu merasa harus tetap memastikan keadaan tersebut dengan pergi ke Sekte Alas Roban.


Pagi itu di Sekte Bukit Embun, suasana duka menyelimuti seluruh wilayah sekte. Semua anggota sekte mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna putih sebagai tanda berkabung. Perwakilan dari berbagai sekte juga telah tiba di sekte Bukit Embun, termasuk juga para ketua sekte dan tetuanya dari 5 sekte besar yang lainnya.


Di salah satu area yang menjadi wilayah pemakaman khusus pembesar sekte bukit Embun, sebuah papan nama besar bertuliskan nama Bok Sun He tertancap pada satu bukit kecil. Meski gundukan tanah yang membentuk bukit tersebut menjadi tempat pemakaman Bok Sun He, namun isi makam tersebut hanya sedikit abu yang tersisa dari jasad Bok Sun He.


Satu persatu para pembesar sekte berdiri di depan papan nama yang menjadi maesan Bok Sun He. Mereka mengucapkan sesuatu atau doa-doa dan meletakkan karangan bunga juga benda yang lainnya di bawah papan maesan itu. Hal itu juga dilakukan oleh para pelayat yang turut mengucapkan belasungkawa kepada Sekte Bukit Embun.


"Dongsaeng, aku berjanji akan membalaskan dendam kematianmu!"


Itulah ucapan Bok Pyong sebagai orang pertama yang berdiri di hadapan maesan Bok Sun He.

__ADS_1


Hal yang sama juga terjadi di sekte Alas Roban, namun dari sekte besar, hanya Lin Mewu saja yang pergi ke tempat itu setelah mengunjungi Sekte Bukit Embun, tentunya selain berbelasungkawa, Lin Mewu mempunyai tujuan khusus atas kedatangannya di Sekte itu.


Sedangkan sekte-sekte besar lainnya hanya mengirim perwakilannya untuk datang ke Sekte Alas Roban. Itu mereka lakukan karena sebelumnya, Sekte Alas Roban adalah kandidat terkuat yang akan menanjak ke posisi 6 sekte besar.


Akan tetapi, dengan meninggalnya Ketua Sekte Alas Roban, banyak pihak meragukan Sekte Alas Roban akan dapat menggeser posisi Sekte Tapak Macan di urutan ke 6 sekte besar.


Bagi Sekte Tapak Macan sendiri, tak banyak merubah keadaan meskipun mereka masih bisa bertahan di posisi 6 sekte besar Kekaisaran Yun. Tidak lain karena tantangan yang telah dilayangkan Jaya Pamungkas. Hanya posisi sekte nomor 1 saja yang bisa menyelamatkan Sekte Tapak Macan dari kehancuran.


Setelah semua rangkaian kejadian pada pagi hingga sore hari itu, tibalah malamnya di Balai Lelang Pucuk Harum. Bukan hal sulit bagi Agni untuk mendatangi tempat itu tanpa diketahui siapapun. Agni datang melalui lorong rahasia bawah tanah tempat terakhir kali dia keluar dari Balai Lelang Pucuk Harum. Kedatangan Agni di sambut Fang Zizi yang kemudian mengantarkannya menuju ruang kerja Fang Yuen.


"Selamat malam Tuan Yuen, apakah aku terlambat?" Sapa Agni ketika telah berada di ruangan Fang Yuen.


"Oh, bahkan ini masih terlalu awal dari waktu yang dijanjikan Agni, mari silahkan" balas Fang Yuen.


"Ini pesananmu Agni, lain kali cobalah berhemat dengan layang-layang perak itu, setiap lembarnya seharga 10 koin emas, puluhan kali lipat dari harga pesananmu ini" kata Fang Yuen sambil meletakkan beberapa set pakaian di atas meja.


Namun perkataan Fang Yuen tersebut menggelitik perasaan Agni meskipun tidak sampai menyinggungnya. Agni menatap Fang Yuen dengan memicingkan mata dan mimik muka bersungut.


Agni menarik set-set pakaian yang diberikan Fang Yuen kedalam cincin penyimpanannya, kemudian terdengar suara gemerincing bersumber dari setumpuk koin emas yang tiba-tiba saja berada di atas meja itu.


Fang Yuen tertawa melihat polah Agni itu,


"Hahaha... Usia memang tak bisa membohongi darah mudamu Agni" kata Fang Yuen dan tanpa ragu menarik setumpuk koin emas itu ke dalam cincinnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dan layang-layang perak.


"Ini uang hasil pelelangan inti yang kau berikan padaku, tadi siang aku melelangnya di ruang platinum. Dan sepuluh lembar layang-layang lagi untukmu" kata Fang Yuen.


Agni menarik uang kertas kedalam cincinnya tanpa menghitungnya, dan mengambil layang-layang perak dengan tangannya.


"Kalau ini hanya kembali terbang padamu, tak terlalu berguna bagiku Tuan Yuen" kata Agni.


"Kau tinggal melakukan kontrak darah pada benda itu Agni" kata Fang Yuen.


Agni mengerti, kemudian ia menggigit jarinya dan mengusapkannya pada layang-layang perak. Itu tidak berbeda dengan cara untuk dapat menggunakan cincin penyimpanan. Namun sedikit berbeda jika kontrak darah dilakukan pada senjata, seperti yang Agni lakukan pada tongkat dan pedangnya. Selain darah pemilik senjata, diperlukan pula energi spritual untuk melakukannya. Karena sebuah senjata akan sangat mungkin bersimbah darah orang lain.

__ADS_1


Berbeda lagi pada senjata yang memilikki roh sendiri. Lebih tepatnya roh pemilik senjata sebelumnya. Pemilik senjata menyegel rohnya sendiri di dalam senjata andalannya dengan tujuan agar senjata tersebut tidak digunakan orang lain.


Seperti halnya tongkat pemukul Anjing milik Agni, sebenarnya bisa saja Chua Pek Dong menyegel rohnya dalam senjata itu. Tapi Guru Agni itu tidak melakukannya, karena itu akan membuat roh Chua Pek Dong selamanya berada dalam senjata itu.


Cara yang lain lagi agar senjata memilikki roh, bisa juga dengan menyegel roh makhluk lainnya untuk menambah kekuatan dari senjatanya.


Sedangkan untuk dapat menguasai senjata yang memilikki roh, seorang kultivator harus mampu menaklukan roh penghuni senjata itu. Tidak harus dengan kekuatan, karena sebagian senjata roh bisa juga menerima tuannya dengan syarat tertentu atau tanpa syarat sekalipun.


"Agni, ketua Sekte Bukit Embun tidak akan diam saja dengan kematian adiknya" kata Fang Yuen kemudian.


Agni masih diam mendengarkan perkataan Fang Yuen, ia menunggu orang itu melanjutkan kata-katanya.


"Aku tahu bahwa dirimu yang membunuh dua orang itu. Bukankah Yan Lee pernah kau lumpuhkan dengan cara yang sama dengan Ketua Sekte Alas Roban itu?" Lanjut Fang Yuen, Agni pun tak bisa mengelak.


"Itu sebabnya aku meminta Tuan Yuen untuk membelikan beberapa pakaian, aku akan merubah penampilanku agar bisa tetap berjalan bebas di tengah kota Guziko" kata Agni.


"Hahaha... Aku tahu itu Agni, cukurlah kumismu dan jenggotmu yang semakin tebal itu" sahut Fang Yuen.


Selama ini Agni hampir tidak pernah bercermin, tanpa dia sadari, kumisnya pun semakin tebal dan sedikit rambut telah tumbuh di sepanjang dagunya. Rambutnya selama ini juga dibiarkan terurai. Itu sebabnya ia nampak 5-6 tahun lebih dewasa dari usia sebenarnya.


Namun itu cukup menguntungkan bagi Agni, dengan berganti pakaian, mencukur kumis dan rambut di dagunya, serta mengikat rambutnya. Akan membuatnya memiliki penampilan yang jauh berbeda dengan sebelumnya.


"Apa Tuan Yuen mempunyai pisau cukur?" Tanya Agni kemudian.


"Sekalian kau ganti pakaianmu Agni, jika kau mau, aku akan meminta Nona Fang Zizi untuk mendandanimu" tawar Fang Yuen sambil tertawa.


"Aku masih di bawa umur Tuan, sudah, mana pisau cukurnya" jawab Agni sekenanya sambil meminta pisau cukur.


Namun terbayang di kepala Agni bagaimana jika Fang Zizi itu mendandaninya.


"Sialan Tuan Yuen, buat aku viktor saja" batin Agni.


Beberapa waktu kemudian, setelah diberikan pisau cukur dan gunting kepadanya, Agni menuju salah satu ruang yang di siapkan oleh Fang Yuen. Namun pada akhirnya, Fang Zizi pula yang membantunya untuk mencukur rambut dan mendandaninya. Itu membuat Agni tak berhenti mimisan.

__ADS_1



Penampilan Agni setelah didandani oleh Fang Zizi dengan memegang keris pemberian Gajahmada, sumber foto tertera di gambar.


__ADS_2