
"Ag, kau harus berhati-hati, aku mendengar dari orang-orang, keluarga Ming masih mempunyai satu orang lagi, mereka bilang leluhur keluarga Ming, yang saat ini sedang berlatih di gunung putri tidur" kata Dirjo.
"Aku juga sudah mendengarnya Jo dan sudah mempersiapkan beberapa rencana" jawab Agni.
"Jo, apa kau tak ingin pula berlatih kultivasi? Aku sarankan sebaiknya bersedia melakukannya" kata Agni lagi.
"Apa kau bersedia mengajariku Ag, biasanya kau hanya bergurau saja" jawab Dirjo.
"Tunggulah kabar dariku" pungkas Agni.
Agni telah menceritakan maksudnya kepada dua gurunya untuk melatih keluarganya berkultivasi. Kedua gurunya pun tak keberatan, tapi mereka menyarankan untuk menghubungi ketiga guru yang lainnya yang saat ini sedang berada di dunia kecil mereka.
Walaupun sebenarnya bisa saja Chua Pek Dong atau Takada Tanaga yang menghubungi ketiga guru Agni yang lainnya, tapi akan lebih baik jika Agni melakukannya sendiri karena Agnilah yang berkeperluan.
Agni tidak bisa melatih keluarganya dalam alam jiwanya, karena ia belum memilikki kemampuan untuk itu. Walaupun Chua Pek Dong bisa melakukannya, tapi membawa beberapa orang yang masih berjasad kedalam alam jiwa Agni, akan memberikan beban yang berat bagi Agni. Beda halnya jika para gurunya yang berada di alam jiwa itu, karena sejatinya guru-guru Agni hanyalah wujud roh saja.
Sedangkan menurut Chua Pek Dong, itu bisa dilakukan di dunia kecil, berapapun banyaknya orang yang akan menempati dunia kecil itu. Dengan begitu, Agni tidak perlu mengkhawatirkan lagi keselamatan keluarganya.
Esok harinya, Agni segera pergi menuju desa Nenjap, ia berlari dengan kekuatan penuh, itu jauh lebih cepat dari pada menunggang kuda. Agni tak mempedulikan jika ada yang memperhatikannya. Lebih cepat akan lebih baik karena Agni khawatir Leluhur keluarga Ming akan mendatangi rumahnya sebelum ia kembali. Dan hanya kurang dari dua jam, Agni telah sampai di wilayah desa Nenjap.
Agni belum sempat di beritahukan letak dunia kecil oleh ketiga gurunya. Dengan mengikuti arahan Chua Pek Dong, Agni segera menuju ke dunia kecil tempat ketiga guru yang lainnya.
"Murid memberi hormat kepada guru bertiga" Kata Agni sambil bersujud kepada gurunya ketika telah sampai di dalam dunia kecil tempat tinggal ketiga gurunya yang lain.
Isi dalam dunia kecil itu ternyata sangat mirip sekali dengan dunia luar. Hanya saja tidak ada makhluk lain selain hewan-hewan dan tetumbuhannya. Suk Ang Hin berkesimpulan bahwa itu adalah dunia dalam cermin, tapi ia masih belum bisa menemukan misteri dari formasi yang membentuk dunia itu.
Saat Agni menyampaikan maksudnya, ketiga gurunya tak berkeberatan sama sekali. Bahkan Suk Ang Hin sangat bersemangat karena ia akan menjadikan Rara Kencana muridnya. Suk Ang Hin cukup tertarik dengan Adik Agni itu, karena menurut penilainnya, Rara Kencana juga mempunyai cukup bekal untuk berkultivasi.
Tak hanya keluarganya, Agni meminta gurunya untuk melatih Dirjo pula, karena Dirjo juga teman yang sangat berarti bagi Agni. Selain itu, kedepannya Agni mempunyai rencana untuk keluarganya juga Dirjo itu.
Setelah mendapat persetujuan dari ketiga Gurunya, Agni segera mohon diri untuk mempersiapkan segalanya.
Setelah sampai kembali kerumah, Agni segera mengabarkan hal itu pada keluarganya dan juga Dirjo. Rara Kencana sangat bersemangat sekali karenanya. Keputusan telah dibuat, bahwa mereka akan berangkat besok pagi-pagi. Agni menyewa dua kereta kuda untuk mengantar keberangkatan mereka, agar kuda-kuda itu tak membawa beban terlalu berat. Sementara Ayah Agni berpamitan kepada para tetangganya untuk mengunjungi kerabatnya.
Sesuai pesan Agni, Dirjo sendiri mendapat izin dari keluarganya namun Dirjo juga mewanti-wanti agar keluarganya tak menceritakan maksud kepergian Dirjo pada para tetangganya. Dirjo hanya ikut menumpang kereta Agni, karena ia akan berkunjung pada kelurganya pula. Tak lupa Agni juga memberikan beberapa koin emas untuk menghibur keluarga Dirjo, karena mungkin Dirjo akan pergi untuk waktu yang cukup lama.
"Besok aku akan memperkenalkan Ayah dan ibu pada keluarga Paman Jarpa. Orang yang menampungku itu" kata Agni malam itu.
"Iya Ngger, mungkin bayinya sudah lahir, telah lebih dua bulan sejak kau kembali" kata Puspandari.
__ADS_1
Esoknya, rombongan mereka berangkat pagi-pagi benar, syukurlah tak ada kendala dalam perjalanan mereka. Sore hari, mereka telah sampai di rumah ki Jarpa.
"Terima kasih telah bersedia menampung putraku Ki Jarpa, aku tak tahu apa jadinya putraku jika Ki Jarpa dan keluarga tak menolongnya" kata Mahisa Pukat.
"Hahaa... Ki Pukat telah keliru, justru Angger Agni ini yang telah menolong kami, kami yang seharusnya mengucapkan banyak-banyak terima kasih" ujar Ki Jarpa.
"Iya Ki Pukat, Nyi Puspandari, kalau bukan karena Agni, belum tentu kami memilikki momongan lagi" imbuh Sri sambil menggendong bayi yang baru beberapa hari lalu dilahirkan.
"Ihhhh... Lucunya dedek ini... siapa namanya Bibi?" Rara Kencana merasa gemas sambil mengelus pipi bayi itu.
"Ini adikmu juga Nduk, juga adik kakangmu itu, bibi menamainya seperti nama kakangmu, bibi berharap, kelak dia bisa menjadi seperti kakangmu itu. Namanya Mahisa Murti"
Orang tua Agni yang mendengar kata-kata Sri itu menjadi semakin bangga pada Mahisa Agni.
Malam itu mereka menginap di rumah Ki jarpa, kereta kuda yang mengantarkan mereka telah kembali saat itu juga. Esok paginya, rombongan Mahisa Agni segera menuju tempat dunia kecil berada dengan berjalan kaki.
Setalah melewati hutan dan beberapa bukit kecil, dan lembah-lembah, rombongan mereka pun sampai pada tujuan pada sore harinya. Perjalanan itu menjadi lambat karena selain ke empatnya hanya manusia biasa, juga dua dari mereka adalah perempuan, apalagi ibu Agni yang sudah berusia 40 tahun lebih.
"Murid memberi hormat kepada Guru" Keluarga Agni bersama Dirjo bersujud memberi hormat pada guru baru mereka.
"Hahaha... Kami terima hormat kalian, bangkitlah" kata Suk Ang Hin yang terlihat bersemangat menerima murid kembali, apalagi dengan adanya Rara Kencana.
"Tempat ini akan menjadi lebih ramai. Hahaha" imbuh Gajahmada.
"Guru, apakah aku bisa menjadi sekuat Kakang Agni?" Tanya Rara Kencana pada Suk Ang Hin dengan polosnya.
"Rara...!" Puspandari menyenggol lengan Rara Kencana, mengingatkan bahwa sikapnya kurang pantas.
"Hahaha... kau bersemangat sekali gadis kecil, tapi jangan panggil aku Guru, kau bisa memanggilku Ssaem seperti kakangmu, itu juga berarti guru" jawab Suk Ang Hin.
"Baik Guru, eh.. Ssaem.. jadi bagaimana Ssaem?" Rara Kencana menagih.
"Hahaha... Bisa...bisa... 100-200 tahun lagi mungkin bisa....hahaha" jawab Suk Ang Hin menggoda Rara Kencana.
"Ihh... Lama banget Ssaem, Ssaem bercanda ih..." Rara Kencana belum mengetahui, bahwa menjadi kultivator, jika mempunyai sumber daya dan ilmu yang cukup, bahkan bisa hidup hingga ribuan tahun.
"Hahaha... Jadi bagaimana, masih mau jadi muridku?"
"Sudahlah Suk... Biarkan mereka beristirahat dulu, kau jangan terus menggodanya" potong Gajahmada.
__ADS_1
"Baiklah, besok kita mulai berlatih, hari ini kalian beristirahatlah dulu, kami sudah menyediakan tempat untuk kalian masing-masing" kata Ben Crutch.
Bagi ketiga orang itu, bukan suatu yang sulit untuk membangun sekedar rumah sederhana dalam hitungan jam saja.
Setelah ke empat murid baru itu menuju tempat masing-masing yang ditunjukkan oleh Ben Crutch, kelima Guru Agni kini berkumpul bersama dengan Agni.
"Maaf murid jadi merepotkan Guru bertiga" kata Agni sambil menangkupan tangannya.
"Haha... Justru kami merasa senang Agni, sudah kubilang aku mempunyai ketertarikan pada adikmu itu, dia mempunyai dua elemen, sayang tulangnya hanya tulang ayam. Tapi itu bisa diperbaikki" kata Suk Ang Hin.
"Kau tenang saja Ngger, kalau mereka berempat tekun, aku berani memastikan mereka akan punya nama di pulau Jawa ini" timpal Gajahmada yakin.
"Terima kasih banyak Ssaem, Kakung, tapi Ssaem, Kakung, Mister" Tanya Agni.
"Bocah nakal, kau juga jangan lupa meningkatkan kultivasimu. Kau masih menyimpan cukup banyak herbal tingkat tinggi, itu masih bisa membuat beberapa botol pil suci" Kata Takada Tanaga.
"Jangan tunda lagi, segeralah kau buat pil itu, apa kau juga ingin istirahat seperti keluarga dan temanmu itu?" Sahut Chua Pek Dong.
"Ba...baik Eyang"
Agni kemudian mengambil posisi beberapa jarak dari guru-gurunya. Ia mengeluarkan beberapa tanaman herbal yang melayang didepannya. Tanpa di arahkan lagi oleh Takada Tanaga, ia sudah cukup menghapal herbal mana saja yang ia butuhkan.
Agni mengalirkan ki di kedua telapak tangannya dan dengan elemen apinya, ia merubah energi menjadi dua jenis api yang menyala di kedua tangannya. Inilah yang membuat guru-guru Agni terpukau, Takada tanaga mempunyai dua akar roh, elemen api dan tanah. Namun elemen apinya hanya mempunyai satu api langit tingkat tinggi berwarna biru. Sedangkan Agni mempunyai dua inti api langit. Bahkan Agni juga membuat pil itu tanpa menggunakan tungku, itu hanya bisa dilakukan oleh alkemis tingkat tinggi.
Setelah memisahkan racun dan bagian-bagian tak berguna dari herbal yang ia bakar, Agni memainkan ukuran panas apinya, kadang ia perbesar kadang ia perkecil, beberapa saat kemudian setelah bahan-bahan itu benar-benar bersih, ia mulai menguapkan semua bahan untuk proses penyatuan.
Kemudian Agni mengeluarkan satu botol air dari cincin penyimpanannya. Itu adalah air YinYang, air yang didapat dari sumber air es api jauh di bawah perut bumi, air itu dibuat dengan menyatukan kabut air es, dan uap air api. Dan dengan cara tertentu, kabut dan uap dari dua sumber yang berbeda itu di embunkan dan menjadi bulir-bulir air.
Botol itu melayang dan menuangkan satu tetes air pada ramuan yang dibuat Agni. Asap tipis beraroma tajam keluar akibat proses itu, namun hanya sekejap sebelum berubah menjadi aroma yang harum dan memberikan efek ketenangan. Setelah asap itu hilang, beberapa pil berwarna putih bersih berkilauan melayang dan mendarat telapak tangan Agni.
"Bagus, kau telah menguasainya bocah Nakal, sepertinya, tidak lama lagi kau akan melampauiku dalam prosesnya pembuatan pil" puji Takada Tanaga merasa sangat puas dengan pencapaian Agni itu.
Memang, selama beberapa waktu di rumah Agni, hampir setiap malam Agni mempertajam kemampuannya di bidang alkimia. Agni telah membuat banyak sekali pil-pil tingkat tinggi dan beberapa pil suci dari bahan-bahan yang di wariskan Takada Tanaga. Kedepannya, Agni mempunyai satu rencana dengan pil-pil itu.
"Terima kasih Guru, ini berkat bimbingan Guru" jawab Agni.
"Ssaem, maaf, dimana aku bisa mulai berkultivasi?" Pinta Agni kepada Ssaem nya untuk mencari tempat yang tenang.
Suk Ang Hin menunjuk satu arah, sekilas yang ditunjuk Suk Ang Hin hanya pepohonan saja. Namun dengan mata tajam Agni, ia bisa melihat bahwa beberapa puluh meter kedepan di arah yang ditunjuk Suk Ang Hin ada sebuah goa.
__ADS_1
"Baik Ssaem, Eyang, Guru, Mister, Kakung, Agni mohon restu" Agni mohon diri dengan menangkupkan tangan, setelah gurunya memberi isyarat, ia pun melesat pergi menuju gua itu untuk menyerap pil-pil yang baru saja di buatnya dan berkultivasi dengannya.