
"Huaahahahaha....hahaha...."
Kelima orang tua itu tertawa terbahak-bahak melihat Agni menumbuk pohon dan memeluknya. Chua Pek Dong melayang memutari pohon yang dipeluk Agni sebelum merunduk dan berkata di hadapan muka Agni.
"Sakit...?"
"Huaahahahaha....hahahaha"
Pertanyaan Chua Pek Dong yang bernada mengejek itu kembali mengundang tawa ke empat orang tua yang lainnya.
Sebenarnya andai Agni tetap dalam siaga tempurnya, tumbukan pohon itu sama sekali tak akan menyakiti dirinya, baju zirah badak emas telah melekat di sekujur tubuhnya. Namun, si pembuat baju zirah itu tidak ingin sepenuhnya melepaskan sisi kemanusiaan seorang kultivator, sehingga baju zirah badak emas hanya akan aktif pada saat pemakainya berada dalam keadaan siaga tempur atau waspada saja. Dengan begitu, pemakainya masih akan merasakan gigitan semut atau nyamuk, atau hal-hal semacam yang di alami Agni saat ini.
"Tega sekali Eyang....hiks..." Rintih Agni sambil menggosok-gosok dahinya yang kesakitan.
"Hahaha... Tega...tega...sungguh teganya diriku...diriku...diriku..... Aaaanggur kolesom cap orang tua.... Hahahaha...."
Saut Chua Pek Dong teringat bang haji.
"Apa kau tak melihat wujudku ini Bocah Nakal...?" Lanjutnya.
Kemudian Agni berdiri dan mengamati kembali tubuh Eyangnya juga ke empat orang tua yang lainnya. Ternyata tubuh mereka yang seolah berdiri diatas kepulan asap berwarna abu-abu muda itu, agak sedikit transparan. Namun sebenarnya, asap itu sendiri adalah bagian dari tubuh mereka.
"Eyang... Kenapa bisa begini Eyang... Engkau jadi seperti hantu" kata Agni sambil meraba tubuh Chua Pek Dong. Ternyata tangannya itu tidak dapat memegang tubuh Chua Pek Dong, bahkan tangan Agni menembus tubuh Chua Pek Dong. Hanya saja, tangan Agni itu merasa hangat ketika menembus tubuh Chua Pek Dong.
"Hahaha... Hantu gundulmu... Kucekik kau nanti..." Jawab Chua Pek Dong, kemudian ia melanjutkan.
"Ini adalah wujud rohku Cu, terbentuk dari energi spiritual yang terkondensasi, namun tidak cukup padat untuk dapat di pegang atau memegang sesuatu"
"Lalu Eyang, bagaimana kau bisa menyerangku jika tak dapat memegang sesuatu" tanya Agni masih heran dengan keterangan Chua Pek Dong.
"Sebenarnya aku masih bisa mengkondensasikan energi spiritualku lebih padat lagi, tapi hanya di bagian tertentu saja, seperti di tangan ini" jawab Chua Pek Dong sambil menunjukkan cincin yang terpasang di tangannya. pertanda kondensasi energi spiritual pada tangannya itu lebih padat dari pada bagian yang lainnya.
"Aku dan juga keempat orang tua itu, harus menghemat tenaga Cu, karena tenagaku dalam wujud roh ini, hanya 10-20% saja. Jika sampai aku dalam wujud roh ini kehabisan tenaga, aku bisa tertidur hingga waktu yang cukup lama" terangnya.
"Kemudian untuk menyerangmu, apa kau pikir aku perlu memegang batu itu? Liat ini" kemudian Chua Pek Dong mengangkat tangannya dan menjetikkan salah satu jarinya, sebuah batu sebesar kelereng dibuatnya terbang dan melesat menembus sebuah batang pohon.
"Dasar bocah sinting tukang pamer, kau pikir kami hanya obat nyamuk saja?" Salah seorang yang menggunakan baju berwana kuning tua dan bermotif huruf-huruf aneh, bertopi hitam bulat dengan bagian kepala agak meninggi yang diikat dengan sebuah tali hingga ke bawah dagu. Orang benua Taijun menyebut baju itu dengan sebutan hanbok dan topinya adalah gat.
"Hahaha.... Jelas kau mengiri Suk, lihatlah betapa gagah bocah nakal ini" kata Chua Pek Dong sambil menunjuk Agni.
"Kau hanya beruntung saja bocah sinting" saut orang tua lainnya yang memakai semacam baju zirah perak bermotif sisik sebatas pundak menyembunyikan baju berwarna hitam berlengan sepanjang siku, berjubah coklat dibelakang pindaknya, warna matanya agak kebiruan dan rambutnya yang panjang terurai berwarna pirang keputihan. Serta ikat kepala dari kain berwarna coklat yang melingkari dahinya.
"He Bocah Sinting, sebenarnya anak itu turunanmu atau turunanku, blas ga ada mirip-miripnya sama mata sipitmu itu" timpal orang tua terakhir yang berambut abu-abu keputihan dan sebagiannya disanggul di atas kepala, bertelanjang dada, berkalung tali hitam dengan buntalan hitam sebagai bandulnya, mirip kalung jimat anak-anak orang jawa. Memakai celana hitam setinggi betis. Kemudian kain bermotif batik dilipat segitiga, melingkari pinggangnya, dengan sudut panjang berada di paha kanan. Sebuah keris terselip di belakang pinggangnya.
__ADS_1
"Hahaha... Kalian mau aku kenalkan atau mau kenalan sendiri?" Tanya Chua Pek Dong pada ketiga orang tua yang lainnya selain Takada Tanaga. Yang sebenarnya, justru mereka bertiga lebih mengetahui bagaimana Agni dari pada Chua Pek Dong atau Takada Tanaga, mereka bertiga yang selama ini menjaga anak turun Chua Pek Dong. Namun tradisi pada umumnya, diperkenalkan orang lain, sedikit lebih mengangkat harga diri dari pada memperkenalkan diri sendiri. Ketiga orang itu pun memberi isyarat kepada Chua Pek Dong untuk memperkenalkan diri mereka.
"Agni, selama aku dan ular sawah itu menjaga tongkat dan kitabmu, mereka bertigalah yang menjaga ribuan generasi anak turunku hingga sampai kepadamu, berilah hormat kepada mereka" ucap Chua Pek Dong.
"Mahisa Agni mengucap terima kasih dan memberi hormat kepada kakek bertiga" ucap Agni bersimpuh di atas lututnya dan menunduk dalam-dalam.
"Hahaha... Berdirlah anak muda, kami terima hormatmu" kata orang tua yang membawa keris mewakili ketiganya.
"Yang bertopi aneh itu master formasi sari benua Taijun, bernama Suk Ang Hin, yang berambut pirang itu Master Senjata dari Britania bernama Ben Crutch....." Chua Pek Dong menghentikan kata-katanya melihat Agni menahan tawa, Chua Pek Dong telah mengerti apa yang dipikirkan Agni.
"Kenapa kau tertawa... Apa yang mau kau katakan..." Kata Chua Pek Dong dengan nada bentakkan yang dibuat-buat.
"Hihi..ndak Eyang... Tapi.... Anu... Mungkin... mungkin aku punya koin yang tepat untuk kakek Suk Angin kerokan, serta koin emas pemberian Eyang dan Guru, biarlah buat kakek Bangkrut saja...hemmpphh" Agni berkata sambil menahan tawa hingga pipinya menggembung.
"Hahaha... Sudah kubilang dia pantas jadi murid bocah sinting...hahaha" ujar Takada Tanaga di ikuti tawa dua orang yang lainnya, sementara muka Suk Ang Hin dan Ben Crutch terlihat dongkol, puluhan batu yang berserak disekitar Agni, melayang dikendalikan Suk Ang Hin dan Ben Crutch.
"Memang bocah nakal kau... Rasakan ini" teriak salah satunya, di ikuti timpukan puluhan batu yang melayang ke sekujur badan Agni.
"Ampuuun....ampun kekkk...ampuuuunn" teriak Agni sembari menutup muka dan berjingkat-jingkat.
Kelima orang tua itu masih terus tertawa melihat Agni tersiksa dengan puluhan batu yang menimpukinya. Setelah puas membiarkan Suk Ang Hin dan Ben Crutch memberi pelajaran pada Agni, Chua Pek Dong melanjutkan.
"Dasar bocah nakal memang kau Cu, hahaha...." Setelah tertawa, ia melanjutkan kembali.
"Mereka semua juga akan menjadi gurumu, yang terakhir, orang yang tak punya baju itu, master spiritual dari benua Nusantara, Gajahmada" pungkasnya.
"Hahaha.... Aku senang sekali kau mengenali namaku" jawab Gajahmada sambil membusungkan dada. Sementara empat orang tua yang lainnya mendongkol karena nama Gajahmada lebih dikenal daripada nama mereka.
"Sebagai hadiah karena mengenaliku, terimalah ini, sebagai ganti koinmu yang kau bilang akan kau beri pada kakek bangkrut itu... Hahahaha..." Kata Gajahmada sambil melemparkan cincin penyimpanan pada Agni.
Agni menangkap cincin itu, kemudian dengan sedikit qi, melongok kedalam mata cincin itu. Ia kembali membelalakan mata sebagaimana ketika melihat isi cincin pemberian Chua Pek Dong dan Takada Tanaga.
"Ini gila, bagaimana mungkin mereka bisa sekaya ini" kata Agni dalam hati.
Gunungan koin emas dan perak yang tak kalah banyaknya dengan dua cincin sebelumnya, juga ada banyak sekali inti binatang spiritual didalam cincin pemberian Gajahmada itu. Agni telah mengetahui tentang inti hewan spiritual dari kitab jalan pedang.
"Memang hanya kau saja yang punya cincin, dasar gajah bengkak sombong, ini terimalah bocah nakal, jangan kau pikir aku orang bangkrut" giliran Ben Crutch yang melempar cincin penyimpanan kepada Agni. Agni menangkapnya, belum sempat ia menengok isi cincin itu, Suk Ang Hin pun tak mau kalah.
"Ini, didalam cincin itu ada koin terbaik daripada milik mereka semua, awas, nanti kutagih janjimu ngerokin punggungku....!!!" Kata Suk Ang Hin.
"Ini gila, benar-benar gila, bagaimana aku menghabiskan semua isi dalam cincin ini, dari mana mereka mendapatkan ini semua, apa ini mimpi?" Agni masih belum bisa sepenuhnya percaya, dengan isi dalam cincinnya. Dengan isi cincin itu, sangat mudah ia dirikan istana yang paling megah di atas lima benua di daratan bumi ini
"Eyang, dan kakek sekalian, sebenarnya bagaimana bisa kalian memilikki harta sebanyak ini...???" Tanya Agni begitu penasaran.
__ADS_1
Bukan hal yang tidak mungkin hal itu bisa dilakukan oleh kelima orang tua itu. Sebelum terjadinya perang besar dengan iblis surgawi, telah ratusan tahun mereka menjadi kultivator pengelana, kemudian ratusan tahun pula mereka berlima menjadi ketua sektenya masing-masing.
Apalagi dimasa perang, jutaan kultivator dari seluruh benua yang menjadi korban perang, tentunya mati tanpa membawa cincin-cincin mereka. Dan terakhir, telah ribuan tahun mereka hidup sebelum memutuskan mengasingkan diri, ribuan kultivator pula yang telah mati ditangan mereka karena memburu tongkat dan kitab pemukul anjing.
"Bagaimana, masih belum percaya dengan isi cincin itu?" Tanya Gajahmada.
"Ii ..iya Kek... Sekarang baru masuk akalku" jawab Agni.
"Jangan kau panggil aku kakek, kalau bukan karena leluhurmu itu, aku senang pula kau panggil Eyang" jawab Gajahmada.
"Hahaha.... Salah sendiri kau tak memungut istri" saut Chua Pek Dong.
"Menyesal aku, gara-gara sumpah itu aku jadi tak punya turunan" sungut Gajahmada.
Gajahmada, saat menjadi Mahapatih Majapahit telah bersumpah untuk melakukan puasa dari keduniawian sebelum bisa menyatukan benua Nusantara. Saat ia telah berhasil menyatukan nusantara, ia sudah terlalu tua dan tak berhasrat lagi mempunyai Istri.
"Jadi harus bagaimana aku memanggil kakek?" Tanya Agni.
"Panggil saja aku mbah kakung, Kakung...... iya... Kakung saja" jawab Gajahmada yang mengundang tawa semua orang.
"Bagaimana aku memanggilmu kek Suk Ang Hin?" Tanya Agni selanjutnya.
"Panggil saja aku Ssaem, itu juga berarti guru dalam bahasaku" terang Suk Ang Hin.
"Kakek Ben Crutch?"
"Sekehendakmu lah" jawab Ben Crutch.
"Karena kakek Ben dari Britania, kupanggil Mister saja ya Kek" ujar Agni.
"Hahaha... Walau kau terlihat mirip bocah sinting itu, tapi kau pintar juga mengambil hati orang, baiklah, aku suka juga panggilan Mister itu" ujar Ben Crutch.
"Jadi bagaimana, bukankah sudah tepat?" Tanya Chua Pek Dong tiba-tiba kepada empat orang lainnya.
"Elemen api, tulang harimau, otot besi, masih 12 tahun, aku sih iyes..." Jawab Takada Tanaga.
"Aku juga iyes" tambah Suk Ang Hin.
"Me? Of course yes...yes...yes..." Sambung Ben Crutch.
"Sudah kuberikan cincinku, kau masih juga tanya bocah sinting... AKU IYES...!!!" Pungkas Gajahmada lantang.
Sementara Agni didalam kebingungan melihat dan mendengar apa yang diperbincangkan kelima Gurunya itu.
__ADS_1
Kemudian Agni berkata,
"Kakak-kakak reader yang baik... Krisan, like, gift, dan votenya buat Agni yak... Biar Agni ga kebingungan ngadepin 5 guru edan itu, dan Agni makin semangat ngehibur kakak reader sekalian.... Lup U Pull kakaaaaa'...."