Pendekar Tongkat Pemukul Anjing

Pendekar Tongkat Pemukul Anjing
Ep 40 - Membunuh Tetua Sekte Bukit Embun


__ADS_3

Pertemuan Agni bertiga dengan Fang Yuen dan Yan Lee ternyata menghabiskan waktu yang cukup lama, hampir senja ketika Agni meninggalkan restoran Warmindo. Itu bukan hal yang sia-sia, selain mendapatkan bantuan informasi, Fang Yuen juga menjanjikan pertemuan Agni dengan Jaya Pamungkas 10 hari ke depan, di Balai Lelang Pucuk Harum.


Dilain sisi, pertemuan Agni yang lebih dari lima jam itu membuat Sekte Bukit Embun masih mempunyai cukup waktu untuk mendapati pemuda yang dicarinya tetap berada di tempatnya. Bok Sun He telah tiba di tempatnya, 15 menit sebelum Agni keluar dari restoran Warmindo.


Dengan sejumlah koin, Bok Sun He bertanya kepada resepsionis restoran tentang seorang pemuda yang berkunjung ke ruang VVIP siang tadi, karena sejumlah koin itupun, resepsionis menjawab dengan sebenarnya.


Agni telah melangkah keluar dari restoran Warmindo, karena peringatan Fang Yuen, dia menjadi lebih berhati-hati dari sebelumnya. Dan benar saja, baru saja berjalan di kota Guziko 10 menit, Agni telah memastikan ada orang yang tengah menyembunyikan aura ranah kultivasinya yang sedang mengikutinya.


Agni memikirkan cara yang paling tepat untuk menghadapi situasi tersebut. Rupanya tidak percuma menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendengarkan informasi dari Fang Yuen.


Penduduk tidak akan ikut campur jika ada keributan atau perkelahian antar kultivator, mereka justru menjadi hiburan gratis bagi mereka. Penindasan dari keluarga atau klan yang lebih besar terhadap klan kecil, suatu yang telah biasa terjadi, petugas keamanan kota tidak akan mencampuri hal tersebut kecuali itu menguntungkan bagi mereka. Itupun tidak sering terjadi, karena ranah petugas keamanan kota, paling tinggi berada di ranah Demigod tahap awal bintang 3, sedangkan cukup banyak keluarga menengah, bahkan keluarga kecil yang mempunyai kepala keluarga atau tetua yang ranah kultivasinya berada di atas para petugas keamanan. Mereka hanya akan meminta ganti rugi jika keributan tersebut menimbulkan kerugian pada fasilitas umum.


Sekali lagi Agni dibuat geleng-geleng kepala dengan tata kehidupan dunia kultivator, yang kuat menindas yang lemah, sudah sangat wajar terjadi dimana-mana. Namun karena keterangan dari Fang Yuen itulah, maka Agni tidak ragu-ragu lagi untuk menentukan langkahnya.


Agni telah cukup yakin, kemampuannya dapat mengalahkan ranah Demigod tahap akhir, tak peduli itu bintang 1,2 atau bintang 3. Bintang-bintang itu hanya berlaku bagi kultivator ras hewan iblis, namun bagi Agni sama saja, mau itu bintang 1,2 ataupun 3. Akan tetapi ia tetap perlu untuk menguji kekuatannya. Karena itulah ia memutuskan untuk mencoba kekuatannya dengan orang yang mengikutinya.


Saat tiba di jalanan yang cukup sepi, Agni berhenti, dengan penglihatan spiritualnya, kini Agni dapat melihat dengan jelas posisi si penguntit.


"Maaf senior, mengapa menguntitku, apakah ada perlu?"


Perkataan Agni tersebut cukup mengejutkan Bok Sun He, ia tidak menyangka ranah demigod tahap awal bisa mengetahui kehadirannya,


"Hahaha... Aku tidak menyangka seorang junior bisa mengetahui kehadiranku" balas Bok Sun He yang keluar dari tempat persembunyiannya dan mendekat ke arah Agni, kini jarak mereka tak lebih dari 10 meter.


"Hanya kebetulan saja Senior, seekor serangga mendatangiku dan berbisik kepadaku memberitahukan kedatangan senior" kelakar Agni.


"Apa...??? Hahaha... Kau pandai berkelakar anak muda" balas Bok Sun He.


"Sudahlah senior, tidak usah basa-basi lagi, katakan saja kenapa kau mengikutiku" timpal Agni. Dia tahu orang yang mengikutinya itu akan tersinggung dengan kata-katanya.


Dan memang benar, Bok Sun He cukup tersinggung, bocah kemarin sore tak menaruh hormat sama sekali kepadanya. Bok Sun He melihat kultivasi Agni masih berada di ranah Demigod tahap awal bintang 3, itu berarti selisih 5 tingkat dengan dirinya. Bok Sun He tak tahu, bagi Agni tak ada bedanya bintang-bintang itu, itu berarti Agni hanya selisih dua tingkat di bawah Bok Sun He. Karena Agni berada di ranah Demigod tahap awal dan Bok Sun He di ranah Demigod tahap akhir.


"Berani sekali anak ini" batin Bok Sun He, namun ia masih menahan diri.


"Aku tidak bermaksud buruk, aku hanya ingin mengetahui siapa dirimu, apa benar kau yang melelang Pil Bunga Biru?" Tanya Bok Sun He sambil menahan geram di hatinya.


"Senior yang mendatangiku, dengan menguntit pula, apa itu bukan maksud buruk? kenapa aku harus memperkenalkan diriku dulu, seharusnya senior yang memperkenalkan diri lebih dahulu" Agni mencoba memprovokasi.

__ADS_1


"Kau..." Bok Sun He menggeram pelan, ia hampir tak tahan dengan kata-kata Agni, ia merasa begitu terhina seorang yang berada di bawah ranah kultivasinya, tak memberi muka sama sekali. Namun sekuat-kuatnya ia mencoba bertahan.


"Jika kau masih mempunyai pil itu, aku, Bok Sun He, tetua pertama sekte Bukit Embun, bersedia membeli pil tersebut dengan harga mahal" Bok Sun He di kenal sebagai tetua paling cerdas di Sekte Bukit Embun, namun provokasi Agni telah berhasil mengungkit harga dirinya.


"Oh... Jadi Maksud senior pil ini...wutss" Agni mengeluarkan Pil Bunga Biru, kemudian membuka kotak pil itu sejenak untuk mengeluarkan auranya, itu telah cukup membuktikan bahwa yang dibawanya benar-benar pil Bunga Biru.


"Maaf senior, pil ini telah di pesan Tuan Besar Jaya Pamungkas, aku tak bisa menjualnya pada senior" kata Agni sambil menyimpan kembali Pil itu.


Tentu saja itu membuat Bok Sun He naik pitam, kalau sampai Jaya Pamungkas mendapatkan pil Bunga Biru, itu akan menjadi ancaman untuk setengah kekayaan sekte Bukit Embun. Hal itu membuat kecerdasan Bok Sun He tersimpan rapat-rapat, yang ada di kepala Bok Sun He saat ini hanya mendapatkan Pil Bunga Biru itu.


"Aku pamit senior, sepertinya sudah tak ada lagi yang perlu kita bicarakan" ujar Agni bersiap meninggalkan tempat tersebut namun bersiap pula menerima serangan Bok Sun He, ia yakin provokasinya telah berhasil.


Bok Sun He telah gelap mata, ia tak mau berpikir lagi kekuatan apa yang dimilikki Agni hingga berani bertindak seperti itu terhadapnya. Maka tanpa perhitungan lagi, ia pun menyerang Agni.


"Blaarr"


Ledakkan energi qi membentur tanah saat Agni menghindarinya.


"Cih.... kau pikir semudah itu pergi, serahkan pil itu dan akan ku berikan kau kematian yang mudah" ancam Bok Sun He. Aura membunuh merembes kuat dari tubuhnya.


"Haisss... Aku masih sayang nyawaku Senior..." Balas Agni.


"Serangga tak tahu diri... Mati sana" umpatnya.


"Boomm....blaaarr..."


Dua serangan Bok Sun He dengan mudah di hindari Agni. Lepas gerakan menghindar, Bok Sun He datang dengan sebilah pedangnya. Namun Agni telah bersiap, ia tak ingin menggunakan tongkatnya, maka ia mengeluarkan pedang katana warisan Takada Tanaga dari cincinnya.


"Ting...tang..traang...trraang"


Percikan api berbalut energi qi menghiasi benturan kedua pedang. Dalam sekejap mereka telah saling bertukar puluhan jurus. Sejauh ini, Agni masih mengukur kekuatan Bok Sun He.


"Booommmm" ledakan cukup besar membuat keduanya mundur beberapa meter.


"Hmmm.... Rupanya kau punya cukup bekal... Pantas saja berani berlagak, tapi itu saja belum cukup bocah" ujar Bok Sun He.


"Hahaha... Buktikan saja senior, aku juga ingin tahu, sehebat apa kekuatan tetua pertama sekte bukit Embun" balas Agni.

__ADS_1


"Benar-benar tak tahu diri kau serangga rendahan... Terimalah... Jurus pedang membelah jantung...!!!!"


Kembali mereka beradu ilmu pedang, tak terasa telah ratusan jurus saling tertukar namun Agni masih belum merasakan tekanan berarti dari Bok Sun He.


"Bahkan jika 4-5 kali lebih cepat dan lebih kuat dari serangan orang ini, aku juga tak akan kesulitan. Apa hanya seperti ini kekuatan ranah Demigod tahap akhir? Tak terlalu jauh dengan kekuatan hewan iblis di alam rendah, bahkan mereka masih di ranah kaisar" Kata Agni dalam hati, awalnya ia berpikir Bok Sun He masih belum mengeluarkan kemampuan sebenarnya, tapi menilai dari ratusan jurus yang telah dikerahkan Bok Sun He, Agni menjadi pasti, orang itu bukan tandingannya, apalagi Agni belum mengeluarkan aura Sasra Birawa nya.


Namun yang membuat Agni menjadi bingung justru selisih kekuatan antara hewan iblis di alam rendah dengan di alam tengah ini. Dengan perbedaan ranah, seharusnya hewan iblis di alam tengah lebih kuat dari pada hewan iblis di alam rendah. Akan tetapi Agni tidak bisa berlama-lama dengan kebingungannya, karena saat ini ia sedang berada di tengah pertempuran.


Sementara itu, Wira Satriaji alias Kaka, ketua Sekte Alas Roban masih melesat terbang dalam perjalanannya, itu karena jarak sektenya ke kota Guziko lebih jauh daripada jarak sekte bukit Embun ke kota itu. Ia menyadari kemungkinan akan terlambat dan tak dapat menemui pemuda yang dimaksud. Namun itu tak menunda perjalananya menuju kota Guziko, semakin cepat semakin baik agar tak kehilangan jejak si pemuda.


"Blaaarrrr"


Satu ledakan energi qi membuat Bok Sun He dan Agni mundur. Namun Agni memang sengaja mundur beberapa langkah, sedangkan Bok Sun He, meloncat mundur lebih dari 10 meter. Pertarungan mereka telah mengundang beberapa penduduk untuk sembunyi-sembunyi menyaksikannya. Beruntung saat itu sudah gelap, sehingga dapat menyamarkan wajah Agni.


"Bagaimana senior, apa kau sudah cukup puas?" Kata Agni.


"Apakah anak ini menyembunyikan ranahnya? Tidak mungkin ranahnya lebih tinggi dariku, ia masih begitu muda, bahkan seranganku tak berarti sama sekali" kata Bok Sun He dalam hati, meskipun begitu, ia masih punya beberapa jurus andalan, harga dirinya tak mau menerima jika harus berhenti disini.


"Sialan, mati kau...hyaaat...!!!" teriak Bok Sun He sambil menyerang Agni dengan kekuatan penuh.


"Blaar....boom... blaaarrrrr...duaarr..."


Agni menahan serangan Bok Sun He, benturan kekuatan mereka menimbulkan ledakkan yang mengakibatkan lobang-lobang besar di tengah jalanan itu. Bok Sun He terlihat kepayahan karena serangannya itu menghabiskan cukup banyak energi qi.


Agni sudah tak ingin melanjutkan pertarungan lebih lama, ia tak ingin semakin ramai yang menyaksikan pertarungannya.


"Sekarang giliranku senior, sampaikan salamku untuk raja neraka... Jurua auman raja naga....!!!"


"Traang...triing..Duarr...duarr..duarr... Triing... Duaaarr"


Bunyi benturan pedang dan ledakan energi bertubi-tubu mewarnai serangan Agni. Beberapa orang yang menyaksikan pertarungan itu, tak ada yang bisa mengikuti pergerakan keduanya orang itu. Mereka hanya mendengar bunyi ledakan dan melihat percikan api saja. Namun bagi yang bisa melihatnya, akan memastikan Bok Sun He tidak akan bertahan lebih lama lagi.


"Sreettt"


"Sreett"


"Jlleebbb"

__ADS_1


Dua sabetan pedang membelah dada dan perut Bok Sun He sebelum tusukan pedang Agni menembus jantungnya. Bok Sun He berangkat ke neraka tanpa bersuara.


__ADS_2