
"AAARRRGGHHHHHHHHHH.......!!!!!"
Teriakan panjang Bok Pyong menggema menggetarkan malam di hutan yang sunyi itu beberapa saat setelah perginya Agni dari hadapannya. Hanya itu satu-satunya cara yang bisa ia lakukan untuk meluapkan gejolak emosi di dalam dadanya. Dalam dua malam, Bok Pyong telah kehilangan tiga besar tetua sektenya, belum lagi lebih dari 20 pasukan pengintainya yang menemui ajal pula.
Setelah emosinya sedikit mereda, Bok Pyong menggendong sendiri kedua jasad yang tergeletak disampingnya itu. Sementara orang-orangnya yang tersisa, ia perintahkan untuk membawa jasad rekan-rekannya dan segera membawa mereka kembali ke Sekte Bukit Embun.
Prediksi Agni memang tidak terlalu salah, namun juga tidak tepat sepenuhnya. Andai Bok Pyong mengetahui dengan pasti bahwa Agni itu bersendiri saja dalam petualangannya, tentunya ia akan meminta bantuan leluhur sekte untuk mengatasi anak itu. Tapi setelah Bok Pyong mengetahui sendiri kekuatan Agni, membuatnya menjadi lebih banyak perhitungan.
Usia lawan yang baru saja ia hadapi masih begitu muda, namun memilikki kekuatan yang sangat mengerikan dan dengan sangat mudah dapat mengalahkan 3 orang lawan dalam ranah Demigod tahap akhir bintang 3. Bok Pyong berpikir, tentunya pemuda itu mempunyai guru yang mengerikkan pula.
Mungkin leluhur sekte Bukit Embun dapat mengatasi anak muda itu, namun jika guru pemuda itu turun tangan pula, mungkin bukan hanya leluhurnya yang akan kalah, tapi juga sekte Bukit Embun akan hancur tanpa sisa. Sedangkan saat ini saja, andai pemuda itu mendatangi Sekte Bukit Embun dan berniat menghancurkannya, bukanlah suatu hal yang tidak mungkin untuk dilakukan.
Sementara itu, untuk kedua kalinya kota Guziko gempar. Dalam waktu dua hari berturut-turut, terjadi dua peristiwa besar yang mengguncang kota itu. Pertempuran yang membakar hutan di pinggiran kota Guziko itu menjadi perbincangan hangat di seluruh sudut kota.
Tidak ada yang mengetahui dengan pasti siapa-siapa saja yang terlibat dalam pertempuran itu, karena pertempuran terjadi di malam hari dengan pencahayaan yang terbatas, sedangkan tidak ada penduduk yang berani menyaksikan pertempuran itu dari dekat. Akan tetapi, mereka berani memastikan bahwa Sekte Bukit Embun adalah salah satu pihak yang terlibat, itu karena hanya Sekte Bukit Embun saja pemilik teknik Rahasia Hujan Bukit Meteor.
Hari itu pula, petugas pemerintahan kota Guziko sebagai perwakilan kekaisaran mendatangi Sekte Bukit Embun untuk meminta kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan dalam pertarungan didalam kota sehari sebelumnya. Itu baru dilakukan karena pada hari pertama, sekte Bukit Embun masih menjalankan prosesi pemakaman Bok Sun He, sehingga petugas kota belum bisa melaksanakan tugasnya untuk mendatangi sekte pada hari itu.
Bersamaan datangnya petugas itu pula, Sekte Bukit Embun mengumumkan bahwa mereka akan menutup diri untuk sementara, hingga batas waktu yang belum ditentukan. Namun semua aktifitas usaha di luar sekte, akan berjalan seperti biasanya. Bok Pyong akan memberikan sanksi yang tegas bahkan sebuah hukuman mati jika ada anggota sektenya yang membocorkan penyebab sekte Bukit Embun menutup diri. Prosesi pemakaman Jun Miyo dan Ji Sung pun di lakukan secara rahasia.
Hal itu telah membuat penduduk kekaisaran Yun cukup terkejut. Namun juga membuat mereka semakin pasti bahwa pertarungan semalam di hutan pinggiran kota Guziko telah membawa dampak cukup serius bagi Sekte Bukit Embun. Namun tak ada yang dapat memastikan apa yang sebenarnya terjadi pada Sekte Bukit Embun itu.
Hal itu hanya 3 orang saja yang mengetahui penyebabnya. Adalah Jaya Pamungkas, Fang Yuen, dan Yan Lee saja yang dapat menyaksikan pertempuran itu dengan cukup jelas, sehingga ketiganya mengetahui kematian dari Jun Miyo dan Ji Sung yang merupakan 3 besar Tetua Sekte Bukit Embun.
Malam itu Jaya Pamungkas tidak segera kembali ke Sekte Tapak Macan, namun orang itu kembali ke Balai Lelang Pucuk Harum untuk menemui Fang Yuen.
"Bagaimana menurutmu Tuan Fang?" Tanya Jaya Pamungkas saat telah bertemu dengan Fang Yuen.
"Ke empat sekte yang lainnya pasti akan lebih berhati-hati sekarang, mereka pasti sudah menduga bahwa pertarungan itu adalah pertarungan antar Sekte Bukit Embun melawan orang yang memilikki pil Bunga Biru yang telah membunuh Bok Sun He" ujar Fang Yuen.
"Aku sarankan Tuan Besar untuk menyimpan informasi ini, ke empat sekte yang lainnya juga pasti akan mencari informasi sedalam-dalamnya tentang Agni. Meski mereka sudah menebak siapa yang menjadi lawan sekte embun pagi, namun jika informasi itu keluar dari Tuan Besar atau sekte Tapak Macan, bisa jadi mereka akan mencurigai Tuan Besar punya hubungan dengan Agni, itu akan semakin menyulitkan langkah Sekte Tapak Macan memperbaiki keadaan"
"Maaf Tuan Yuen, atas dasar apa mereka mencurigai Sekte Tapak Macan dan alasan apa yang mereka pakai mempersulit langkah sekteku?" Tanya Jaya Pamungkas memperjelas pernyataan Fang Yuen.
"Bahkan mereka tak memerlukan alasan untuk itu Tuan. Sebelum kehadiran Agni, Sekte Rubah Salju telah mengawasi pergerakan Sekte Tapak Macan. Ketika di pelelangan, ketua Lin Mewu terang-terangan mengatakan hal itu. Jika mereka mencurigai Sekte Tapak Macan mempunyai hubungan dengan pemilik Pil Bunga Biru, ingat Tuan Besar, hanya sekedar mencurigai!" Fang Yuen berhenti sejenak untuk memberi tekanan pada kalimat terakhirnya tadi, kemudian melanjutkan,
"Itu sudah cukup menjadi alasan untuk mereka bekerja sama lebih erat lagi untuk menghalangi langkah Sekte Tapak Macan"
__ADS_1
"Yang mereka pertaruhkan adalah setengah dari kekayaan sekte mereka. Itu pertaruhan yang besar. Yang aku tahu, saat ini mereka belum terikat kerja sama untuk menghambat langkah-langkah sekte tapak Macan, namun jika itu terjadi, tentu akan sangat menyulitkan. Sebaiknya Tuan Besar mengambil langkah yang bijak agar tidak memprovokasi mereka" pungkas Fang Yuen.
"Hmmm... Baiklah Tuan Yuen, terima kasih banyak, penjelasan Tuan bisa aku mengerti, jika begitu aku mohon diri Tuan Fang Yuen, sekali lagi aku mengucapkan terima kasih" ujar Jaya Pamungkas.
"Sama-sama Tuan Besar, aku tidak bisa memberikan bantuan lebih jauh, ini hanya sekedar masukkan saja. Hati-hati diperjalanan Tuan Besar" pungkasnya.
Sementara itu, pagi-pagi sekali Agni telah melesat menuju rumah Harjaya untuk menemui Ayu Wilis.
"Ini benar kau Kang Agni?" Seru Arini yang tak percaya melihat penampilan Agni saat ini. Tanpa sungkan-sungkan ia mencubit kedua pipi Agni.
"Iidiihhh... Apaan sih... Aku bukan kakangmu, kakangmu kan ga ganteng-ganteng amat" saut Agni sambil mencoba menyingkirkan kedua tangan Arini dari pipinya.
"Kau jadi tampan sekali Kang, Nona Wilis pasti makin terpikat sama Kakang, jangankan Nona Wilis, hatiku saja sekarang jadi berdebar-debar ini Kang" goda Arini.
"Apaan sih Arini ih... Jangan didengar perkataan anak ini saudara Agni" Timpal Ayu Wilis yang wajahnya menjadi merah sambil mencubit pinggang Arini.
Begitu pula dengan Agni, ia menjadi salah tingkah akan hal itu. Namun.... di awal perjumpaan, Agni memang sempat terpesona dengan kecantikan Ayu Wilis, akan tetapi Agni menyadari bahwa dirinya adalah ras manusia, sedangkan Wilis adalah ras hewan iblis.
"Apakah mungkin ras manusia bisa menjalin hubungan dengan ras hewan iblis?" Batin Agni saat itu.
Selain itu Agni juga tidak berniat untuk selamanya tinggal di Alam Hewan Iblis, maka ia mengesampingkan segala pikiran tentang Ayu Wilis. [Di dunia novel kultivasi, apa sih yang tidak mungkin... 😅]
"Huuu.... Ayah... Kayak ga pernah muda saja" sahut Arini sambil berlalu ke dapur di ikuti Ayu Wilis.
"Tunggu saudari Wilis, sebaiknya saudari tetap disini, aku akan menceritakan pertemuan ku dengan Tuan Besar Jaya Pamungkas" cegah Agni.
"Cie...cieee...cieee..." Arini masih menggoda.
Kemudian Agni mulai menceritakan pertemuannya dengan Jaya Pamungkas kepada mereka.
Agni meminta Ayu Wilis untuk bersiap-siap setelah makan nanti, karena hari ini juga ia akan membawa Ayu Wilis kembali ke Sekte Tapak Macan, namun hanya Ayu Wilis seorang, Harjaya dan keluarganya akan menyusul selanjutnya.
"Paman, berapa jarak Sekte Tapak Macan dari tempat ini?" Tanya Agni pada Harjaya, ia belum mengetahui letak sekte tersebut.
"Kurang lebih 400-450 km dari tempat ini?" Jawab Harjaya.
Kebingungan melanda Agni, bagaimana ia harus membawa Ayu Wilis, jika melakukan perjalanan darat, itu akan memakan waktu, jika terbang, hanya sekitar 3 jam saja, namun itu berarti Agni harus menggendong Ayu Wilis.
__ADS_1
Meskipun begitu, wujud Ayu Wilis adalah adalah wujud manusia, seperti halnya ketika adiknya si Ucok memanjat-manjat ketika ia didandani oleh Fang Zizi, begitu pula yang mungkin akan terjadi jika ia menggendong Ayu Wilis.
"Sial, bagaimana ini?" Batin Agni. Dengan terpaksa ia meminta pendapat.
"Anu paman, saudari Wilis, itu akan lama sekali kalau harus berkuda atau berlari, juga resiko bertemu orang lain, mmmhh... Menurutmu gimana Paman?" Tanya Agni meragu.
"Hahaha... Ya kau gendonglah Agni" jawab Harjaya sambil melirik Ayu Wilis.
"Tapi... Apakah saudari Ayu Wilis bersedia?" Muka Agni memerah.
"Kalau memang harus seperti itu, aku menurut saja saudara Agni" kata Wilis malu tapi mau.
"Mmm... Ba...baiklah Saudari Wilis, maafkan aku, aku memang harus menggendong saudari dan menjadi penunjuk jalan" kata Agni dengan wajah memerah.
Setelah makan pagi, keduanya pun telah siap untuk berangkat.
"Saudari Wilis, kita akan terbang dengan kecepatan tinggi, aku harap saudari bersiap" kata Agni berusaha bersikap biasa.
"Baiklah Saudara, aku akan berusaha" sahut Ayu Wilis. Berdebar hatinya saat itu, seumur hidupnya belum pernah Ayu Wilis memeluk seorang pemuda pun.
"Paman, Bibi, Arini, Andara, aku menunggu kalian di rumah" pamit Ayu Wilis kepada keluarga Harjaya, ia mengatakan rumah untuk menyebut Sekte Tapak Macan.
"Kau harus menjaganya Agni, lecet baret setitik kulit saja, akan ku kuliti sendiri kulitmu" ancam Harjaya, meski ia sadar itu tak mungkin bisa dilakukannya.
"Hahaha... Siap paman, mari Saudari"
Berdebar hati keduanya, saat tangan Ayu Wilis menggamit pundak Agni, jantung mereka berdetak kencang. Keringat dingin bermunculan di dahi Agni ketika punggungnya mulai merasakan sentuhan, kedua lengan Agni menggamit kedua paha Ayu Wilis dan memeganginya saat gadis itu mulai memanjat di belakang punggung Agni.
"Tapi kenapa keras sekali...???" Batin Agni merasakan sesuatu yang menempel di punggungnya.
Rupanya itu adalah lengan Ayu Wilis yang masih merasa malu-malu sehingga ia hanya berpegang pada pundak Agni dengan kedua telapak tangannya, sedangkan kedua lengannya, menahan bagian dadanya agar tak menempel di punggung Agni.
"Hhmmm... Meskipun hatiku berdebar, jantungku berdetak lebih kencang, keringatku bercucuran, namun aku juga pria normal, lihat saja...." Batin Agni yang menjadi kesal karena Ayu Wilis hanya berpegang di pundaknya.
"Wussshhhttttt....." Agni melesat terbang.
"Kyyaaaaaaaaaaa..........!!!!!!!" Jerit panjang Ayu Wilis dan secara spontan merangkul leher Agni sekencang-kencangnya.
__ADS_1
Ilustrasi Ayu Wilis. Sumber Mbah Gugel