
Sri duduk memegang perutnya yang terlihat membesar, berkat pil kesuburan yang diberikan Agni, ia dapat mengandung lagi. Mungkin usia kandungannya saat ini telah menginjak enam atau tujuh bulan. Sebenarnya usia Sri dan Ki Jarpa belumlah terlalu tua, namun sejak lahirnya anak semata wayangnya yang menjadi korban keluarga Ming, Sri tak kunjung hamil kembali.
"Ngger, entah dengan apa kami bisa membalasmu Ngger, kehadiranmu saja telah memberi warna pada rumah ini, dan berkat dirimu pula, aku masih bisa merasakan perut ini membesar lagi. Aku sungguh hanya bisa berterima kasih Ngger" kata Sri sambil menitikkan air mata ketika sore itu, mereka bertiga duduk diserambi rumah Ki Jarpa.
"Benar Ngger, aku juga tak tahu dengan apa aku harus berterima kasih, aku akan membantu apapun dengan kemampuanku, jika engkau membutuhkan Ngger" imbuh Ki Jarpa.
"Paman, Bibi, justru aku yang seharusnya berterima kasih. Tanpa kecurigaan apapun paman dan bibi bersedia menampung aku disini" jawab Agni.
"Bukankah itu sudah menjadi kewajiban kami Ngger, orang orang tua kita selalu mengajarkan agar kita menjaga nilai-nilai luhur budi pekerti. Bagaimana aku bisa membiarkan seorang anak kecil yang tersesat sebatang kara" imbuh ki Jarpa.
Kata-kata ki Jarpa itu cukup menancap di hati Agni. Tidak jauh beda dengan bagaimana yang diajarkan oleh ayah dan ibunya sendiri. Namun, mungkin akan berbeda ketika ia seseorang memasuki dunia kultivasi diluar sana. Kekuatan adalah segalanya, yang lemah akan menjadi sampah tak berguna.
Beruntung pulau jawa adalah pulau terpencil yang berada sangat jauh dari benua Nusantara. Penduduk asli pulau jawa, bisa dikatakan tidak ada satupun yang menjadi kultivator. Hanya saja, saat beberapa pengungsi yang datang ketika perang besar melawan iblis surgawi, sejak itulah pulau Jawa kedatangan seorang kultivator.
Meskipun jumlah kultivator di pulau Jawa hanya sedikit saja, mungkin hanya 5% dari total penduduknya, namun setelah ribuan tahun berlalu, dominasi kekuatan mereka sangat terasa. Hampir semua pasar-pasar di pulau jawa, di kuasai oleh keluarga kultivator.
Justru karena hal tersebutlah yang memicu bangkitnya penduduk asli pulau Jawa. Dengan berbagai cara, termasuk lewat jalur pernikahan, akhirnya beberapa orang jawa dapat menjadi kultivator pula. Bagaimanapun, harus ada yang berperan agar tanah jawa justru tidak dikuasai oleh pendatang.
Ribuan tahun berlalu, adalah Perguruan Pagar Nusa, yang didirikan oleh beberapa kultivator dari jawa. Dengan usaha yang sangat keras, akhirnya perguruan itu mampu bersaing dengan keluarga dan sekte lain yang menguasai pasar-pasar pulau jawa.
Kemudian, ratusan ribu tahun berlalu, kini pulau jawa telah ditempati ratusan ribu manusia, dari awalnya yang tidak sampai 200 orang saja. Terbilang sangat lambat untuk pertumbuhan penduduk dalam waktu yang sangat lama, namun itulah yang terjadi.
Bagaimana dengan anak turun Chua Pek Dong? Sayangnya keluarga Chua tak mampu bertahan dari persaingan, seiring berjalannya waktu, bakat kultivasi anak turun Chua semakin buruk dari tahun ke tahun, hingga akhirnya, nama keluarga Chua hilang dari dunia kultivasi pulau jawa.
Tapi itu bukanlah hal yang buruk, misi utama tiga orang yang menjaga anak turun Chua Pek Dong, adalah menjaga keselamatan garis darah Keluarga Chua Pek Dong. Bahkan menjadi hal yang baik ketika keluarga Chua menjadi orang biasa dan bekerja sebagai petani saja. Karena dengan begitu, keluarga Chua bisa hidup layaknya penduduk asli pula jawa, yang tidak terlibat persaingan dengan para kultivator lainnya. Walau kadang-kadang akan berbahaya jika berurusan dengan keluarga kultivator.
Namun itu tidak perlu dikhawatirkan, karena 3 master terkuat, selama ini melindungi keluarga Chua dari kemusnahan sama sekali. Sehingga dari keturunan keluarga Chua, terlahirlah Agni yang sama sekali tidak mengetahui bahwa keluarga Chua adalah leluhur aslinya.
"Namun Paman, Bibi, dengan berat hati aku harus menyampaikan, aku merindukan keluargaku, beberapa hari lagi mungkin aku ingin segera menemui mereka" kata Agni.
"Oh, kenapa terburu-buru Ngger apakah kau tidak ingin menunggu lahirnya adikmu ini Ngger?" Tanya Sri.
__ADS_1
"Jika saatnya tiba, aku akan kembali ke tempat ini untuk melihat adikku itu, desaku juga tidak lebih dari satu hari perjalanan dari tempat ini" sesungguhnya, dengan kemampuan Agni saat ini, dengan berlari mungkin hanya dua sampai tiga jam saja dia akan sampai kedesanya. Namun Agni sengaja menunda hal tersebut, juga atas arahan dari guru-gurunya.
Esok harinya di tempat Agni biasa berlatih.
"Eyang, Guru, Ssaem, Mister, Kakung, apakah sudah tiba waktunya bagiku? Aku begitu merindukan keluargaku"
"He Bocah sinting, hampir sejuta tahun aku menjaga anak cucumu, kini giliranmu, aku akan bersantai di desa ini" kata Suk Ang Hin kepada Chua Pek Dong.
"Aku setuju...!" Teriak Ben Crutch dan Gajahmada bersamaan.
"Bagaimana ular sawah?" Yanya Chua Pek Dong.
"Aku akan menemanimu, aku masih ingin kembali bertualang. Hehe..." Jawab Takada Tanaga. Sebenernya masih ada beberapa hal yang harus ia lakukan untuk menyempurnakan ilmu Agni tentang alkimia.
"Baiklah, Cu... Dengarkan... Mungkin di pulau Jawa ini, kau sudah menjadi kultivator terkuat, karena menurut 3 gurumu, kultivator tertinggi di tanah ini hanya ranah Kaisar tahap menengah, bahkan mungkin kau masih bisa menghadapi kultivator ranah Demigod tahap awal sekalipun" terang Chua Pek Dong.
"Tapi di luar sana, kemampuanmu masih belum bisa diandalkan, terlebih sejuta tahun lebih aku tak tahu bagaimana perkembangan dunia luar. Dulu, sebelum kami mengasingkan diri, beberapa orang, bahkan sekte, telah berkembang cukup kuat karena peninggalan mayat-mayat iblis surgawi, bisa jadi hari ini mereka telah berkembang jauh, jika kau ingin bertualang, kau harus meningkatkan kemampuanmu" terang Chua Pek Dong.
"Coba terangkan lagi" tagih Takada Tanaga.
"Begini guru, menurut ketiga guru, Perguruan Pagar Nusa adalah yang terlemah diantar penguasa yang lainnya di empat penjuru pulau jawa. Bagaimanapun, aku sebagai orang jawa, juga tidak rela jika tanah kelahiranku ini justru dikuasai oleh pendatang" terang Agni.
Kelima gurunya menganggukkan kepala, sebenarnya hanya Gajahmada sendiri yang mempunyai hubungan paling dekat dengan pulau jawa, karena di berasal dari Benua Nusantara. Sedangkan ke empat guru yang lainnya adalah pendatang dari benua lainnya. Bahkan Agni sendiri, sebenarnya bukanlah keturunan orang jawa asli.
Ke empat guru Agni yang bukan berasal dari benua Nusantara bisa mengerti dengan maksud Agni tersebut, bahkan Eyangnya pun justru sangat memahami hal itu.
"Baiklah, aku akan tinggal di alam jiwamu bersama Takada Tanaga, namun seperti yang telah terjadi, kami tak bisa menemani dalam waktu yang lama di dunia luar. Ketiga orang itu, mereka telah menemukan dunia kecil mereka sendiri ditempat ini" terang Chua Pek Dong.
"Maksud guru dunia kecil?" Tanya Agni penasaran.
"Dunia kecil, adalah dunia yang berada dalam dimensi lain namun masih berada di alam yang sama. Masih belum diketahui bagaimana dunia tersebut dibangun, namun aku yakin seorang master formasi tingkat tinggi yang membuatnya" Suk Ang Hin menjelaskan.
__ADS_1
"Selama ini aku belum pernah mendengarnya, tapi mungkin saja itu berasal dari master yang hidup berjuta-juta tahun yang lalu, dan saat ini, aku ingin mempelajari dunia tersebut" kata Suk Ang Hin, ia disebut-sebut sebagai master formasi tanpa tanding, namun dengan penemuan itu, Suk Ang Hin semakin percaya, bahwa diatas langit masih ada langit yang lebih tinggi lagi, padahal ia sendiri, jika dihitung sejak masih bersama jasad dan kini yang hanya rohnya saja, telah hidup lebih dari sejuta tahun lamanya.
Penjelasan Ssaem nya tersebut, tiba-tiba saja semakin membuat Agni merasa kecil, ia menjadi semakin bertekad untuk menjelajahi dunia. Namun sebelumnya, Agni akan melaksanakan maksud awalnya terlebih dahulu.
Dengan demikian, beberapa hari kemudian Agni meninggalkan desa Nenjap, dan kembali ke kampung halamannya di desa Lowok kota Ngalam. Ia meninggalkan beberapa ratus lagi koin emas dan perak untuk keluarga ki Jarpa. Agni berjanji akan mengunjungi keluarga ki Jarpa dan memperkenalkan ki Jarpa dengan keluarganya.
Chua Pek Dong dan Takada Tanaga telah menempati alam jiwa Agni, dengan begitu, kapan saja Agni bisa meminta nasehat kepada dua gurunya itu. Sementara ketiga guru yang lainnya, akan berusaha memecahkan misteri dunia kecil yang mereka temukan di desa Nenjap.
Di ranah Kaisar tahap menengah, Agni belum bisa menggunakan kemampuannya untuk terbang, setidaknya di ranah Demigod, Agni akan memiliki kemampuan itu, walupun masih memungkinkan bagi Agni untuk memiliki kemampuan terbang di ranah Kaisar tahap akhir, karena Agni mempunyai bakat alami dan bekal fisik yang mumpuni. Oleh karena itu, Agni berniat kembali ke desanya dengan berlari.
Agni berangkat pagi-pagi beberapa jam sebelum matahari terbit. Ia ingin segera sampai di rumah, sebelum ayahnya berangkat mengurus sawah. Tak lupa Agni menyembunyikan auranya, ia tak ingin menemui masalah di perjalanan.
Lima tahun yang lalu, mungkin Agni akan mengalami kesulitan jika harus pulang sendiri, namun saat ini hanya butuh sedikit arahan saja dari ki Jarpa, apalagi ketiga gurunya justru telah sangat hapal rumah keluarga Agni, maka bukan hal sulit bagi Agni untuk menemukan jalan pulang, walau dalam keadaan gelap sekalipun.
Saat matahari mulai menguning, Agni telah sampai di depan pintu halaman rumahnya. Ia telah mendengar kesibukkan dari dalam rumah itu. Itu membuat degup jantung Agni berdetak kencang. Telah lebih dari lima tahun Agni tak menginjak tanah rumah itu.
Kemudian ia mengucapkan salam dan mengetuk pintu pagar rumahnya.
Sejenak kemudian, seorang paruh baya berusia sekitar 45 tahun bergegas menghampiri pintu pagar. Dada Agni sungguh berdebar semakin kencang, tanpa disadarinya, bulir-bulir air mata telah membasahi matanya.
"Ayah..." Kata Agni dalam hati ketika melihat Ayahnya membuka pagar pintu, Agni masih belum mampu berkata-kata.
"Maaf, mencari siapakah Angger?" Kata orang paruh baya itu yang masih belum mengenali Agni, walaupun orang itu merasa tak asing dengan Agni.
Bagaimanapun, saat berpisah, Agni masihlah anak-anak berusia 12 tahun, apalagi ayah Agni telah menganggap bahwa Agni telah meninggal karena tenggelam di sungai itu, sehingga tidak mudah bagi Ayah Agni untuk mengenalinya kembali.
Belum lagi penampilan Agni saat ini telah jauh berubah. Walaupun masih berumur 17 tahun, namun garis wajah Agni dan perawakan Agni, juga sedikit kumis di atas bibirnya, membuat Agni terlihat seperti pemuda yang telah matang berusia 21-22 tahun.
Agni masih belum berkata-kata walau ayahnya telah bertanya. Namun kemudian, ia membuka lipatan baju di depan dadanya. Iya, Agni mempunyai tanda lahir sebua bercak hitam persis di tengah bagian dadanya. Tanpa sanggup berkata-kata, Agni memperlihatkan dengan tanda lahirnya tersebut kepada ayahnya.
"Ag...Agni....?????" Kata Ayah Agni dalam keterkejutannya.
__ADS_1