Pendekar Tongkat Pemukul Anjing

Pendekar Tongkat Pemukul Anjing
Ep 22 - Membunuh Hewan Iblis


__ADS_3

Agni terlempar beberapa meter. Untung saja baju zirah badak emas melindunginya dari pukulan kaki kumbang itu. Namun itu menyerap cukup banyak energi qi nya. Satu titik qi terserap seketika oleh baju zirah, untuk menahan pukulan itu. Tak terasa, telah berjam-jam Agni bertarung menghadapi kumbang tanduk raksasa itu.


"Kumbang jelek sialan, rasakan ini"


Agni menyerang kumbang itu dengan jurus anjing melompati sungai, bertubi-tubi pukulan ia lesatkan pada kumbang itu dari berbagai arah. Sebagian pukulan Agni mampu ditahan oleh kumbang itu, namun lebih banyak pukulan yang mengenai sasaran.


Satu pukulan terakhir Agni berbenturan, dengan satu kaki depan kumbang itu. Itu membuat mereka sama-sama melompat mundur.


Agni merasakan kebas di tangannya, tapi keadaan kumbang tanduk lebih parah. Kaki depan yang berbenturan dengan tongkat Agni terlihat lunglai. Rupanya benturan tadi telah memutuskan beberapa urat syaraf kakinya.


"Iya, serangga tak mempunyai tulang, itu sebabnya kulitmu begitu keras" kata Agni dalam hati.


"Kksssshhhhkkk....kkkssshhhhkkk".


Kumbang terlihat begitu marah, ia berdiri dengan kedua kakinya. Untuk pertama kalinya selama pertarungan, kumbang itu mengeluarkan suara bagai mendesis.


"Hmmm... Baiklah kumbang jelek, maafkan aku harus membunuhmu" Agni merasa telah menemukan kelemahan kumbang itu.


Sebelum Agni mulai serangan, rupanya kumbang itu telah mendahului. Meskipun satu kakinya telah lunglai, namun kecepatan serang kumbang itu belum menurun. Bahkan Agni merasakan tekanan yang lebih kuat dari sebelumnya.


Puluhan jurus telah saling bertukar. Agni mendapatkan celah, dengan jurus anjing melompati sungai, giliran sebelah kaki kumbang yang masih tegak yang menjadi sasaran Agni. Seperti halnya sebelumnya, pukulan terakhir Agni membuat keduanya mundur kebelakang.


Agni sengaja melakukan lompatan mundurnya, ia memasukan tongkat ke dalam cincin penyimpanannya dan segera mengeluarkan pedang katananya, tanpa menunggu jeda, Agni kembali memberikan serangan.


"Jurus anjing masuk goa" teriak Agni.


Agni melompat lurus diantara sela-sela kaki kumbang yang telah lunglai kedua-duanya itu sambil mengacungkan pedangnya.


"Jlreeeeeeebbbbbb......."


Bunyi pedang membelah daging terdengar agak panjang dan sesaat kemudian Agni telah berdiri dibelakang kumbang itu dengan pedang berlumur darah hitam kehijauan.


Luka menganga dari dada memanjang hingga ke bagian belakang tubuh kumbang itu membuatnya ambruk. Setelah lebih dari tiga jam pertarungan, akhirnya Agni bisa membunuh kumbang itu. Sama seperti ketika Agni membunuh Ming Goman, sebuah aura hitam yang lebih pekat dari milik Ming Goman, merasuki tubuh Agni tanpa sedikitpun Agni bisa menolaknya.


"Aura apa ini, bahkan aku tak bisa menghindarinya" kata Agni.


Beberapa saat kemudian, ia mengacuhkan aura hitam itu, walau Agni masih bertanya-tanya dalam hatinya tentang hal tersebut.


"Apakah ini sama dengan hewan buas? Pasti kumbang ini juga mempunyai inti" katanya.


Setelah menelan pil pemulihan, Agni segera membalikkan bangkai hewan itu. Ia memeriksa bagian yang terbelah dan menambah belahan itu lebih dalam dengan pedangnya. Tapi Agni belum menemukan yang dicarinya. Kemudian Agni memeriksa bagian kepala. Agni melihat garis kulit yang agak berbeda tepat atas tanduk bagian bawah, iapun mencoba membelah bagian itu.


Namun rupanya kulit itu masih sangat keras, pedang katana yang ia pegang tak mampu menggores kulit kumbang itu meski Agni telah menambah tenaganya.

__ADS_1


Bahkan ketika ia mengalirkan qi pada pedangnya, kulit kumbang itu tak kunjung terbelah.


Agni mengganti pedang dengan tongkat pemukul anjing. Ia berniat menghancurkan kulit kumbang dibagian itu. Setelah beberapa kali memukul dengan mengerahkan sejumlah besar Qi, akhirnya kulit kumbang itu berhasil ia hancurkan.


Dan benar saja, sebuah benda kristal berbentuk lonjong berwarna hitam pekat berkilauan yang berukuran hampir setengah tubuh Agni, berada dibalik kulit yang telah hancur itu.


"Ini berbeda dengan inti hewan buas, meski aku tak pernah melihat inti hewan buas, tapi gambaran dari guru tidak seperti ini, energi ini... Luar biasa"


"Daging hewan ini juga pasti akan bermanfaat seperti hewan buas, kulitnya juga sangat keras, pasti bahan yang bagus untuk membuat senjata"


Kemudian Agni melambaikan tangannya untuk memasukkan bangkai kumbang itu kedalam cincin penyimpanannya. Sementara Agni ingin segera merasakan energi dari inti hewan itu.


Agni mencari tempat yang dirasa aman, walaupun ia menyadari hutan yang belum ia kenal itu jauh dari kata aman. Terbukti Agni baru bisa merasakan kehadiran hewan itu setelah berjarak beberapa belas meter saja dari dirinya.


"Aku harus segera menyerapnya, dari nama alam ini saja telah menunjukkan ada banyak hewan disini. Aku harus menambah kekuatanku"


Agni cukup beruntung untuk beberapa saat tak ada hewan yang mendekatinya. Tempat itu memang hanya dihuni oleh hewan-hewan iblis saja dan berjumlah sangat banyak, karenanya tempat itu di namakan alam hewan iblis.


Setelah satu jam menyerap inti hewan itu, Agni berhenti karena ia merasakan lagi aura sesuatu yang lainnya. Sementara inti hewan itu baru terserap 25% saja.


"Gila, luar biasa sekali" kata Agni sambil mengepalkan kedua tangannya. Kemudian ia segera memasukkan inti yang masih tersisa kedalam cincin penyimpanannya.


Kekuatan Agni naik beberapa tingkat, titik qi bertambah satu titik, penglihatan dan pendengarannya pun juga meningkat, serta penglihatan spiritualnya bisa melihat hampir 200 meter disekelilingnya.


Ranah hewan iblis itu sama seperti hewan sebelumnya, Ranah kaisar tahap


akhir. Kali ini hewan itu lebih agresif dari pada kumbang sebelumnya.


Pertarungan tak dapat dihindarkan, tanpa menunggu Agni bergerak, hewan raksasa yang mirip kumbang itu telah menyerang Agni dengan garang. Tak terasa Agni telah mengerahkan ratusan jurus. Tipikal hewan itu hampir mirip dengan hewan pertama yang menyerang Agni.


Satu setengah jam kemudian Agni telah membunuh hewan itu dengan cara yang sama seperti kumbang tanduk raksasa. Agni kembali memecahkan kepala hewan itu, kali ini agak lebih mudah karena kekuatan Agni telah meningkat. Kemudian Agni menyimpan inti dan bangkai hewan itu dalam cincin penyimpanannya.


Hari beranjak gelap, walau sebenarnya malam belum datang, tapi suasana di hutan memang tak terlalu terang, karena sinar matahari tak mampu menembus dengan sempurna pekatnya hutan itu. Setelah menelan pil pemulihan, Agni ingin segera melanjutkan melanjutkan untuk menyerap inti kumbang tanduk raksasa.


"Sialan, datang lagi" hewan yang sama dengan yang baru saja dibunuhnya kembali mendatangi Agni. Kali ini Agni menelan pil pengumpul qi yang ia buat beberapa hari yang lalu, walau bukan pil tingkat tinggi, namun cukup membantu untuk menambah energi qi nya.


"Kalau sampai mereka datang bersamaan, aku akan kerepotan, aku harus segera menyelesaikan hewan ini"


Agni tak mau lagi berlama-lama. Kini Agni cukup mengenal titik lemah kumbang itu, setelah hampir setengah jam, Agni berhasil membunuh hewan ketiga.


"Hari telah gelap, semoga formasi ini bekerja" Agni menggerakkan tangannya dengan mengerahkan qi, sebuah garis-garis bersinar keemasan membentuk bintang segi delapan, berada di depan kedua jari Agni.


Kemudian Agni mengarahkan jarinya ke atas kepala diikuti bintang segi delapan itu. Bintang itu membesar dengan Agni berada di pusatnya. Saat Agni menggerakkan tangannya kedepan dada, bintang itu mendarat ketanah dan bagai hilang ditelan bumi.

__ADS_1


Formasi itu membelokan sinar yang menerangi Agni, sehingga, seolah-olah Agni tidak berada di tempat itu. Kemudian ia menekan auranya ketitik yang terendah untuk menyembunyikan dirinya.


"Kalau aku menyerapnya sekarang, auraku pasti merembes keluar. Sebaiknya aku istirahat sejenak untuk memulihkan diri saja" pikirnya.


****


Sementara di dunia kecil, sekujur tubuh Rara Kencana telah penuh oleh tanah dan rumput, namun tak seekor kelinci pun ia dapat. Sementara baik kedua orang tuanya maupun Dirjo, masing-masing telah memegang seekor kelinci.


"Hiks... Jahat... Kenapa hanya aku yang tidak dapat" keluh Rara Kencana ketika mereka semua telah berkumpul. Rara Kencana kesal karena ia telah merasa mengerahkan seluruh kemampuannya, tapi kelinci-kelinci itu terlalu gesit baginya.


"Hahaha... Kau terlalu bersemangat gadis kecil, lihatlah ibumu itu, bukankah kau lebih gesit dan lebih kuat dari ibumu?" Kata Suk Ang Hin.


Sejak tadi itu memang menjadi pertanyaan Rara Kencana, bagaimana bisa ibunya itu berhasil menangkap seekor kelinci, padahal diantara mereka berempat, justru ibunya itu yang terlihat paling lemah.


Rara Kencana tak mengetahui Ibunya itu menangkap kelinci bukan dengan kekuatan, justru dia hanya duduk berdiam diri sambil membawa makanan untuk kelinci itu. Puspandari menyadari, ia tak akan bisa menangkap kelinci mengandalkan kecepatan atau kekuatannya. Meskipun cara yang Puspandari gunakan membutuhkan kesabaran, namun pada akhirnya ia berhasil menangkap seekor kelinci.


"Ibu... Bagaimana ibu bisa mendapatnya ibu, ajari aku ibu... Hiks..." Rengek Rara Kencana.


"Kau tak mendengar yang dikatakan Ssaem, kau terlalu bersemangat nduk... Hihihi..." Kata Puspandari sambil tertawa kecil. Namun, justru tawa kecil Ibunya itu dirasakan Rara Kencana bagai sebuah olok-olok.


"Ibu jahat...huh..." Kata rara ketus sambil membalik bada, berdiri tegap sambil menyilangkan tangan didepan dada dan mendongak ke atas melipat bibir.


"Sudahlah, bersihkan diri kalian, diri kalian, Dirjo, kau bersihkan dulu kelinci itu untuk makan malam kalian" kata Gajahmada.


"Baik Kakung" jawa Dirjo.


"Tunggu, Kakung tega... Apa kelinci itu mau disembelih... Kasihan Kung" cegah Rara Kencana.


"Kalau begitu kau makan pisang saja untuk makan malammu Gadis kecil, biarkan Dirjo dan ayah ibunu saja yang makan daging kelinci" kata Suk Ang Hin yang membuat Rara Kencana semakin bersungut.


****


Kembali ke alam hewan iblis. Agni masih duduk memulihkan diri didalam formasinya. Memang benar Agni dapat bersembunyi dari penglihatan para hewan iblis. Agni juga bisa menyembunyikan auranya dari hewan-hewan itu. Tapi Agni lupa satu hal. Agni tak dapat bersembunyi dari penciuman hewan-hewan itu.


Agni menjadi gelisah, seekor macan kumbang berwarna hitam legam yang tak kalah besar dari kumbang raksasa, melangkah di atas dahan pohon-pohon raksasa beberapa belas meter di depan Agni.


Macan kumbang itu mempunyai dua tanduk kecil di atas kedua matanya. Diujung ekornya meruncing bagaikan mata panah. Ia merundukan langkahnya di atas pohon sambil menggerak-gerakkan hidung untuk menciumi sesuatu yang menarik perhatiannya.


Macam kumbang itu berhenti diatas dahan sekitar 5 meter di depan Agni, persis di luar garis batas bintang segi delapan yang dibuat Agni.


Seolah-olah saja Macan kumbang itu sedang menggoda Agni. Ia bertengger di atas dahan dengan bertelekan kaki menopang dagu. Sedangkan matanya yang menyala merah gelap, lurus menatap ke arah tempat Agni duduk.


"Sial, ranah Demigod tahap awal, oh Tuhaaan... Tolong bantu aku...." Agni berdoa diantara gerutunya.

__ADS_1


__ADS_2