
Agni segera kembali ke tempat persembunyiannya. Perutnya masih terasa mual membayangkan isi perut Kaka yang di belahnya. Segera ia mengeluarkan bak mandi yang baru dibelinya dan membersihkan dirinya malam itu juga.
Lepas membersihkan diri, Agni bermeditasi untuk menenangkan pikirannya. Biar bagaimanapun, membunuh "sesosok" manusia tetap saja memberikan bekas tersendiri dalam pikirannya. Itu karena Agni bukanlah seorang pembunuh.
Akan tetapi belum lama bermeditasi, ia kembali membuka matanya. Perutnya masih terasa sedikit mual. Kemudian ia mengeluarkan beberapa bahan herbal untuk membuat pil anti mual. Tidak sampai 10 menit ia telah selesai membuat 20 pil anti mual. Sebiji pil Ia telan untuk meredakan rasa mualnya.
"Aku harus cepat bertemu Tuan Jaya Pamungkas" batin Agni.
Ia mengeluarkan layang-layang perak, itu diberikan beberapa lembar oleh Fang Yuen saat pertemuan di restoran Warmindo. Agni menulis sesuatu, namun kali ini tidak menggunakan saos ABC, karena Fang Yuen telah memberikan layang-layang perak sama sekali dengan penanya.
"Mendesak! tolong atur pertemuanku dengan Tuan Jaya Pamungkas besok malam. Bisa atau tidak aku akan pergi ke Balai Lelang besok malam, terima kasih, lupUpull"
Agni melipat kembali layang-layang perak dan lekas menerbangkannya.
"Aku harus merubah penampilanku, sebaiknya besok pagi aku rumah Paman Harjaya, semoga dia masih ada pakaian yang sesuai untuk aku pakai" batin Agni.
Agni berpikir beberapa saat tentang pakaian yang mungkin akan ia kenakan sebagai pengganti pakaiannya. Ia tak pernah terpikirkan, selama ini Agni memakai sistem CKP untuk pakaiannya. Cuci Kering Pakai.
"Sial, kenapa aku tak terpikirkan, Tuan Fang pasti lebih bisa memilih pakaian yang pas untukku" umpat Agni.
Selembar layang-layang perak kebali keluar dari cincin Agni,
"Tolong belikan beberapa set pakaian untukku"
Kemudian Agni melipat kertas itu kembali dan menerbangkannya.
"Njir... Lupa berterima kasih"
Satu lembar lagi layang-layang perak keluar.
"Terima kasih Tuan Yuen"
*Note: maaf telat ngucapin.
Layangan perak ketiga itupun terbang menuju tujuannya.
Agni teringat kedua inti yang ia dapatkan dari Bok Sun He dan Kaka. Juga cincin penyimpanan kedua orang itu. Ia melongok isi cincin penyimpanan Bok Sun He. Koin emas, beberapa botol pil, artefak, dan beberapa lembar surat berhubungan dengan kesektean yang Agni tidak tahu dan belum ingin tahu isinya.
"Lumayan, mungkin nanti akan berguna" desisnya.
Kemudian ia melongok pada cincin penyimpanan milik Kaka alias Wira Satriaji. Hampir sama dengan milik Bok Sun He, namun tanaman herbalnya lebih banyak, bahkan ada beberapa yang dibutuhkan Agni. Namun yang paling membuat Agni terkejut adalah beberapa surat yang di ikat tersendiri.
"Njir... Surat Cinta...!!!" Pekik Agni.
Benar, itu adalah balasan surat-surat cinta dari Lin Mewu, ketua Sekte Rubah Salju. Dan ternyata itu pula yang menjadi penyebab putusnya hubungan Sekte Tapak Macan dengan Sekte Alas Roban berkenaan dengan pasokan tanaman herbal.
"Hmmm jadi begitu" desis Agni.
Dari surat-surat yang dibacanya, Agni menyimpulkan bahwa keputusan untuk memutus hubungan Sekte Alas Roban dengan Sekte Tapak Macan adalah karena bujukkan dari Lin Mewu. Dan kelanjutan kisah ini, pasti akan lebih jelas di bab-bab selanjutnya saat Agni telah bertemu dengan Jaya Pamungkas.
__ADS_1
Setelah beberapa saat sibuk dengan surat-surat itu, Agni kembali pada dua inti yang ada dihadapannya.
"Ini aneh, mereka berada di ranah Demigod tahap akhir, mengapa energi dari inti hewan iblis alam rendah yang berada di ranah kaisar masih lebih besar dari pada inti ini" Agni benar-benar dibuat bingung dengan ranah kultivasi di alam itu.
"Ah, biarlah, besok aku tanyakan pada Paman Harjaya saja, kalau dia tak mengerti, sekarang aku punya tempat bertanya yang lainnya" pikir Agni. Fang Yuen lah yang dimaksud.
Beberapa saat kemudian ia membaringkan diri. Malam masih cukup panjang, walau belum lelah, namun sudah lama Agni tidak tidur dengan waktu yang cukup panjang. Maka malam itu ia gunakan untuk tidur hingga pagi menjelang.
****
Sementara itu di Balai Lelang Pucuk Harum,
"Benar-benar kekuatan yang mengerikkan" kata Fang Yuen setelah mendengar bagaimana jalannya pertarungan antara seorang pemuda dan tetua pertama sekte Bukit Embun dan Ketua sekte Alas Roban.
Itu cerita dari beberapa penduduk yang menyaksikannya, walau Fang Yuen yakin cerita itu telah bertabur micin dan garam, namun Fang Yuen masih cukup bisa menilai mana cerita yang masih original.
"Benar Tuan, aku sendiri pernah merasakan tekanan itu, namun aku masih bisa bergerak walaupun sulit, namun mendengar cerita Ketua Sekte Alas Roban bahkan tak bisa bergerak, mungkin Agni memang hanya menggunakan sedikit kemampuannya saja saat melumpuhkanku" imbuh Yan Lee.
"Beruntung kita bisa menjalin hubungan baik dengannya" kata Fang Yuen.
Tiba-tiba saja sebuah burung layang-layang dari kertas memasuki ruangan itu melalui lubang khusus yang telah disiapkan di sudut ruangan. Burung layang-layang kertas itu mendarat ke tangan Fang Yuen. Ia pun membuka lipatan layang-layang perak dan membacanya, kemudian berkata pada Yan Lee.
"Yan Lee, pergilah ke Sekte Tapak Macan malam ini juga, undang Tuan Besar Jaya Pamungkas untuk datang ke tempat ini besok malam, ini pertemuan rahasia, katakan seorang pemuda yang sangat penting ingin menemuinya" perintah Fang Yuen.
"Baik Tuan" Ucap Yan Lee.
Tidak lama setelah itu, sebuah burung layang-layang perak, kembali muncul melalui lubang khusus itu.
Karena merasa haus, ia meraih gelas minumannya. Namun satu lagi burung layang-layang perak datang padanya. Fang Yuen membacanya sambil meminum minumannya.
"Uhukkk...uhuukk...." Itu membuatnya tersedak dan memuntahkan air yang masih berada di mulutnya.
"Njir.... 10 koin emas hanya untuk pesan seperti ini!!!"
****
Di Sekte Tapak Macan, beberapa tetua berkumpul di kediaman Jaya Pamungkas.
"ini kabar gembira Tuan....!!!" Kata Aryasena.
"Kau benar Aryasena, tapi jaga sikap kita, bagaimanapun itu adalah duka bagi mereka, kita tak bisa menampakkan kegembiraan didepan mereka" kata Jaya Pamungkas.
"Sebaiknya apa langkah kita kedepan Tuan Besar?" Gao Yuan bertanya.
"Besok kita akan pergi ke sekte Bukit Embun untuk turut berbelasungkawa, namun untuk Sekte Alas Roban, sebaiknya kita tunggu perkembangan, sekte Rubah Salju pasti telah mendahului langkah kita"
"Aryasena, Gao Yuan, Iko Uwais Samijan, Hui Ja, kalian menemaniku pergi ke Sekte Bukit Embun" ujar Jaya Pamungkas
"Baik Tuan Besar" ujar mereka yang dipanggil namanya serempak.
__ADS_1
"Tok...tok...tok" pintu kediaman Jaya Pamungkas diketuk.
Setelah pintu terbuka, seorang murid sekte menyampaikan pesan pada pelayan khusus kediaman Jaya Pamungkas secara berbisik. Hal itu biasa dilakukan karena tidak pantas untuk menganggu saat ada tamu atau perbincangan penting. Setelah selesai mendapat bisikkan, pelayan bergegas melanjutkan bisikkan itu kepada Jaya Pamungkas.
"Utusan dari Fang Yuen, ada apa malam-malam begini" kata Jaya Pamungkas
"kalian beristirahatlah terlebih dahulu, pesan dari Fang Yuen sepertinya hanya tertuju untukku, besok pagi kita akan ke sekte Bukit Embun" Kata Jaya Pamungkas menutup pertemuan itu.
"Baik Tuan Besar, kami mohon diri" jawab mereka serempak.
"Eh...tunggu...!!!" Kata Jaya Pamungkas tiba-tiba, yang membuat para tetua yang lainnya kembali duduk di tempatnya.
"Atas nama pribadi, aku meminta maaf pada para tetua sekalian atas kecerobohanku melayangkan tantangan itu, dan aku sangat berterima kasih para tetua sekalian masih bersedia menemaniku untuk menghadapi tantangan itu. Untuk itu...." Jaya Pamungkas menghentikan kata-katanya sejenak dan bangkit dari duduknya.
"Tetua sekalian mohon terima lah hormatku"
Jaya Pamungkas membungkukkan dirinya dalam-dalam. Itu membuat semua Tetua yang ada di kediaman Jaya Pamungkas bergegas bangkit untuk mencegah ketua sektenya melakukan itu.
"Tuan Besar jangan seperti itu, bangkitlah Tuan" kata Gao Yuan yang berada paling dekat dengan Jaya Pamungkas dengan memegang pundak dan lengan sebelah kanan ketuanya. Begitu juga Aryasena yang berada disebelah kirinya. Bukan suatu kewajaran seorang Ketua Sekte membungkuk memberikan hormat kepada orang-orang yang dipimpinnya.
Mereka semua mengetahui bagaimana perjuangan Jaya Pamungkas untuk membesarkan sekte Tapak Macan, leluhur sekte yang hanya ada 2 orang yang sekarang tengah berada di alam tinggi, juga tidak sebanding dengan perjuangan Jaya Pamungkas. Kesetiaan para Tetua yang tersisa bukan hanya pada sekte belaka, namun juga karena rasa hormatnya pada Jaya Pamungkas.
Jaya Pamungkas bangkit berdiri, matanya tampak memerah menahan bulir-bulir air mata yang ditahannya keluar. Begitu juga beberapa Tetua yang lainnya. Bagi sebagian lelaki, air mata itu begitu sangat mahal, jika bukan karena sesuatu yang benar-benar mengguncang dada mereka, tak akan begitu saja air mata itu tertumpah.
Setelah saling menenangkan dalam suasana haru tersebut, para tetua Sekte Tapak Macan pun undur diri. Tak lama kemudian, seorang utusan dari Balai Lelang Pucuk Harum memasuki kediaman Jaya Pamungkas.
"Selamat Malam Tuan Besar, Utusan Balai Lelang Pucuk Harum memberi hormat pada Tuan Besar" kata orang itu sambil menangkupkan tangan dan membungkuk. Itu adalah Yan Lee, orang kepercayaan Fang Yuen.
"Aku terima hormatmu, bangkitlah" balas Jaya Pamungkas. Kemudian bertanya kembali,
"Ada keperluan mendesak apakah tengah malah begini Tuan Fang Yuen mengirimu?" Tanya Jaya Pamungkas.
"Tuan Fang Yuen mengundang Tuan Besar atas nama seorang pemuda yang berniat menawarkan bantuan pada Tuan Besar Jaya Pamungkas, Tuan Fang Yuen menjamin itu sangat penting bagi Tuan Besar" kata Yan Lee.
Jaya Pamungkas mengerutkan dahi atas undangan itu. Bagaimanapun juga itu adalah satu hal yang aneh, namun seorang manajer dari Balai Lelang Pucuk Harum yang mengundangnya, bukan satu perkara untuk dihiraukan, bahkan berani menjamin bahwa itu adalah satu hal yang penting. Maka Jaya Pamungkas pun menerima undangan itu.
"Baiklah, aku akan memenuhi undangan Tuan Fang Yuen" jawab Jaya Pamungkas.
"Maaf Tuan Besar, undangan ini bersifat rahasia" imbuh Yan Lee.
"Aku mengerti, sampaikan salamku untuk Tuan Yuen" ujar Jaya Pamungkas.
"Baiklah, utusan mohon diri" pungkas Yan Lee.
Setelah Yan Lee pergi, Jaya Pamungkas menebak-nebak siapa kiranya pemuda yang dimaksud utusan tersebut.
"Apakah itu orang yang memilikki Pil Bunga Biru? Atau pemuda yang dikabarkan membunuh orang-orang itu....?"
...Vote, gift, atau like tentunya akan sangat berarti bagi petualangan Mahisa Agni, terutama juga kritik dan saran dari readers sekalian. Semoga para readers di berikan kesehatan dan kelancaran pada segala urusan....
__ADS_1
...Aamiin...