
Lepas pertemuan para tetua, Gao Yuan segera melakukan tugasnya untuk mengatur penjagaan gerbang pada orang-orang kepercayaannya. Itu sebenarnya tugas yang sangat remeh, hanya murid luar yang biasnya melakukan penjagaan gerbang. Namun mengetahui siapa yang akan datang dan itu merupakan perintah langsung dari Tun Besar Jaya Pamungkas, membuat Gao Yuan dengan senang hati melakukan itu.
Setiap Tetua hanya mempunyai satu atau dua murid utama saja, itu biasanya putra-putri mereka sendiri jika mereka mempunyai keturunan. Namun jika tidak, mereka akan mengambil dari murid-murid yang mereka nilai memiliki bakat menonjol dan sesuai kriteria untuk menerima pengajaran mereka. Akan tetapi jika mereka tak menemukan bakat itu dan juga tak memilikki keturunan, maka mereka tidak akan mengambil murid satupun.
Meskipun begitu, mereka mempunyai beberapa orang kepercayaan yang selalu menemani tugas-tugas mereka. Sebenarnya mereka juga bisa disebut murid para tetua itu karena mereka juga menerima pelatihan dari tetua yang diikutinya. Tapi itu berbeda dengan murid utama, sehingga secara status, mereka tidak bisa disebut murid tetua. Jumlahnya tak tentu, kadang dapat dihitung jari, dan sebagian tetua lainnya bahkan memilikki belasan atau puluhan orang kepercayaan.
Setiap orang kepercayaan yang mengikuti salah seorang tetua, memiliki status yang lebih tinggi dari pada murid lainnya, itu membuat mereka disegani dan bahkan di takuti oleh murid lainnya. Baik murid luar ataupun murid dalam.
Status murid sendiri, secara umum terbagi menjadi 3 bagian utama. Status itu juga membuat sumber daya yang mereka dapatkan berbeda-beda. Semakin tinggi status murid, semakin banyak jatah sumber daya, terlebih jika itu murid jenius, maka akan mendapat sumber daya yang lebih demi kemajuan kultivasinya.
Pembagian status murid itu adalah murid luar, murid dalam, dan murid inti. Murid luar adalah mereka yang berada di ranah Demigod tahap awal bintang 1 hingga bintang 3, murid dalam adalah mereka yang berada di ranah Demigod tahap menengah bintang 1 dan bintang 2. Sedangkan murid inti berada di ranah Demigod tahap menengah bintang 3. Murid inti inilah yang juga bertugas sebagai guru bagi murid pemula. Selain itu, mereka juga dipersiapkan untuk memasuki promosi jajaran tetua apabila telah menerobos ke ranah Demigod tahap akhir bintang 1. Namun tidak semua yang berada di ranah Demigod tahap akhir bintang 1 dapat menjadi tetua, mereka harus melakukan ujian tantangan Macan untuk dapat menjadi seorang Tetua.
Secara garis besar, seperti itu lah gambaran sekte-sekte yang berada di kekaisaran Yun, beberapa sekte menerapkan sistem yang berbeda tergantung keadaan sekte itu sendiri.
Maka sejak hari itu, tugas penjagaan gerbang di lakukan oleh orang-orang Gao Yuan. Mereka terdiri dari dua kelompok terdiri dari 6 orang tiap kelompoknya. Beberapa orang yang di tugaskan itu masih mengumpat, meski hanya di dalam hati, karena menurut mereka, menjaga gerbang hanya pekerjaan remeh temeh saja.
Dan memang beruntung orang-orang Gao Yuan itu, mereka tidak perlu melakukan penjagaan gerbang hingga beberapa hari, karena baru beberapa puluh menit kelompok pertama dari mereka melakukan penjagaan. Dua orang pemuda berlainan jenis terlihat mendekati gerbang sekte dan berhenti dua meter sebelum batas formasi.
"Maaf Saudara, kami datang ingin menemui Tuan Besar Jaya Pamungkas" kata seorang pemuda yang tak lain adalah Mahisa Agni, ia memanggil saudara karena penjaga yang ditugaskan masih tampak muda.
Sementara seorang gadis yang bersamanya adalah Ayu Wilis, terus menundukkan muka menahan debar hatinya karena akan menginjak kembali Sekte Tapak Macan yang telah lebih dari 5 tahun terakhir ia tinggalkan.
Salah seorang petugas mengamati Ayu Wilis, ia merasa tak asing dengannya, namun setelah mengamati beberapa saat, ingatannya tak mampu mengingat siapa gadis tersebut, apalagi gadis itu terus menunduk.
"Apa dua orang ini yang dikatakan Tetua Gao Yuan" kata petugas itu dalam hati, instruksi Gao Yuan agar mengawal hingga kediaman ke tempat kediaman Tuan Besar Jaya Pamungkas, orang yang akan datang dengan lencana emas Sekte Tapak Macan, namun Gao Yuan tidak menyebutkan siapa dan berapa orang yang akan datang.
"Apa Saudara telah membuat janji dengan Tuan Besar, kami memerlukan bukti untuk itu" tanya petugas yang lainnya.
__ADS_1
Agni tak ingin bertele-tele, ia kemudian menunjukkan lencana yang diberikan Jaya Pamungkas. Lencana itu berukuran hampir sebesar telapak tangan dengan ukiran tapak macan di tengahnya dan berlatar belakang batu kristal berwarna merah gelap.
"Lencana Tuan Besar" kata seorang yang menjadi pemimpin kelompok penjaga itu, setelah memastikan lencana yang dipegang Agni.
"San Meng, pergilah ke Tarino untuk kembali bertugas menjaga gerbang, San Ho, San Yuk, kalian berdua jaga gerbang ini hingga kelompok Tarino datang untuk menggantikan kalian, Bajra, kau pergilah pada Tetua Gao Yuan untuk melapor, Nagata, kau bersamaku mengawal kedua orang itu menuju kediaman Tuan Besar" kata pemimpin kelompok itu menginstruksikan.
"Baik Senior" jawab semuanya serentak. Dan dua orang pergi dari tempat itu terlebih dahulu untuk melapor.
Kemudian ketua pemimpin membuat satu pola dengan gerak tangannya untuk membuka sedikit celah pada formasi pertahanan itu.
"Kraaasss"
Sebuah garis terbentuk pada dinding formasi, kemudian membelah membentuk celah selebar 2 meteran.
"Mari Saudara, kami akan mengawal saudara ke tempat kediaman Tuan Besar" tugas pemimpin itu hanya mengawal untuk memastikan tamu yang membawa lencana ketua Sekte tidak mengalami gangguan selama perjalanan menuju kediaman Tuan Besar Jaya Pamungkas, maka dari itu ia tak memerlukan untuk bertanya identitas tamu itu.
"Lima tahun lalu belum ada formasi ini" batin Ayu Wilis mengingat saat ia melarikan diri dari sekte, formasi pertahanan tersebut belum terbentuk.
Memasuki gerbang Sekte, sebuah jalan selebar ukuran gerbang memanjang sekitar 500 meter. Di kanan dan kiri, terdapat kolam lengkap dengan sebuah taman, beberapa patung macan dengan berbagai pose menghiasi taman tersebut.
Sampai di ujung jalan, mereka menaikki anak tangga sekira panjang 20 meter. Sampai di ujung anak tangga paling atas, Agni menyadari itu adalah sebuah arena datar yang cukup luas yang dikelilingi podium untuk tempat duduk penonton.
Mereka terus berjalan lurus, hampir setara atau mungkin sedikit lebih panjang dari jalan yang mereka lalui sebelum menaikki anak tangga. Mereka memasuki sebuah lorong yang cukup besar, sementara diatas lorong itu, sepertinya adalah podium utama yang khusus untuk orang-orang penting. Mungkin arena itu di pergunakan untuk sebuah pertandingan atau acara-acara besar kesektean lainnya.
Tidak kurang dari 50 meter panjang lorong yang mereka lalui. Agni masih dibuat terpukau dengan apa yang dilihatnya. Sebuah jalan memanjang dengan ukuran lebar yang sama dengan sebelumnya, di kanan kirinya tertata rapi pepohonan setiap beberapa meter. Jalanan kecil menjadi cabang-cabang jalan utama itu kekanan kirinya. Sementara di kanan kiri, sebuah gedung yang sangat besar berlantai 3 dengan plakat nama Paviliun Bulan di sebelah kanan, dan Paviliun Bintang di sebelah kiri. Dan satu gedung yang hampir sama besarnya berada lurus di ujung jalan itu.
Mereka tak bicara selama perjalanan itu. Agni dapat memahami kenapa Ayu Wilis terus menunduk, sehingga ia tak mengajaknya untuk berbicara. Dua orang didepan yang mengawal mereka pun juga tak mengeluarkan kata-katanya.
__ADS_1
Melintasi jalan utama itu, Agni melihat cukup banyak orang yang tengah melakukan pekerjaan mereka masing-masing. Ada juga beberapa dari mereka yang sepertinya hanya sedang bersantai di tempat duduk yang disediakan di beberapa titik. Sebagiannya memakai seragam yang serupa dengan kedua orang yang mengawal mereka, namun sebagian yang lain mengenakan pakaian yang berbeda-beda. Pandangan mereka semua tertuju kepada Agni dan Ayu Wilis ketika melintasi tempat itu.
Mereka memasuki gedung yang berada diujung jalan. Di dalam gedung, di sebelah kanan dan kiri, tertata rapi beberapa set meja dan kursi, sepertinya itu adalah ruang tunggu, sementara disisi dinding kanan kiri, terdapat beberapa ruang dengan pintu-pintunya yang tertutup. Segaris lurus dengan pintu masuk, terdapat sebuah lorong yang menuju ruangan atau mungkin halaman belakang gedung tersebut. Sementara di kanan dan kiri lorong itu, terdapat empat orang wanita yang sedang bertugas di mejanya masing-masing, sepertinya mereka adalah resepsionis.
Mereka menuju salah satu petugas di sebelah kanan lorong.
"Nona Xue, tamu ini datang dengan lencana emas Tuan Besar" kata pemimpin petugas pengawal Agni.
"Jika begitu, silahkan senior" jawab petugas yang di panggil nona Xue itu.
"Terima kasih, marilah saudara" jawab pemimpin itu kemudian mempersilahkan Agni.
Mereka terus berjalan memasuki lorong di sebelah meja resepsionis. Tidak panjang, hanya sekitar 10 meter saja. Terdapat tiga pintu di lorong itu. Satu pintu berukuran paling besar menuju ruangan atau halaman belakang, sementara dua pintu lainnya dengan ukuran yang lebih kecil, terdapat si kedua sisi dinding lorong.
Itu menarik perhatian Agni, karena dua pintu tersebut terletak di tengah-tengah sebuah pola formasi dan tidak memiliki daun pintu. Hanya sebuah kusen yang menandakan bahwa itu adalah sebuah pintu. Tepat ditengah-tengah pintu, terdapat sebuah tuas yang terbuat dari emas yang berukir.
"Klek...klek...klek"
Pemimpin itu menarik tuas pintu sebelah kanan, erbunyi beberapa kali, dan berhenti di salah satu titik.
Tiba-tiba saja keluar nyala sinar berwarna merah ke emasan, bersumber dari kusen pintu dan terus merambat mengikuti setiap garis pada gambar pola formasi tersebut. Setelah semua garis terisi sempurna dengan sinar merah ke emasan, tiba-tiba saja pintu itu berubah warna menjadi hitam gelap, seperti sebuah lorong yang menuju tempat lainnya. Tanpa diminta, untuk pertama kali pemimpin itu menerangkan hal tersebut.
"Jika saudara heran, ini adalah formasi pintu kemana saja saudara, kita akan menuju ke tempat kediaman Tuan Besar Jaya Pamungkas melalui pintu ini, karena jika melewati jalan normal, akan membutuhkan waktu untuk sampai kesana" rupanya pemimpin tersebut menjelaskan karena melihat ekspresi heran pada raut muka Agni.
"Marilah" Pemimpin itu mempersilahkan setelah melihat Agni mengangguk usai mendengar penjelasannya.
Pintu itu tiba-tiba saja menghilang setelah mereka semua melangkah melaluinya. Tiba di tujuan,Agni melihat sebuah gerbang yang diatasnya terdapat sebuah patung seekor macan kumbang raksasa berwarna hitam dengan loreng kuning gelap, sedang duduk dengan dua kaki belakang dan kedua kaki depan yang tegap, sedangkan mata macan itu seolah sedang memandang Agni dengan tajam. Itulah gerbang kediaman Tuan Besar Jaya Pamungkas.
__ADS_1