
Malam itu di hutan luar tembok kota Guziko. kilatan cahaya saling melesat, dentum ledakan akibat pertarungan 3 orang ranah Demigod tahap akhir melawan seorang Demigod tahap awal membuat puluhan lobang-lobang besar di tanah serta banyak pohon bertumbangan. Langit memerah karena cahaya api yang membakar hutan itu.
Hal tersebut telah mengundang perhatian penduduk kota yang masih terjaga, yang tengah tertidur pun ikut terbangun atau dibangungkan orang yang lainnya untuk turut menyaksikan pertempuran itu. Meski mereka hanya mampu melihatnya dari jarak jauh. Itu karena akan berakibat fatal bagi mereka apabila ada serangan yang tak sengaja menyasar mereka.
Begitu pula dengan orang-orang yang dibawa Bok Pyong, mereka tak lagi mendirikan formasi dan menjauh dari arena untuk menghindari efek pertarungan.
Ternyata tak hanya Jaya Pamungkas yang dapat melihat pertarungan tersebut, Fang Yuen dan Yan Lee pun telah mendatangi arena pertarungan antara Agni dan pihak Bok Pyong itu.
Ratusan jurus telah dikerahkan oleh Bok Pyong dan dua orang yang bersamanya. Mereka telah berusaha keras untuk melumpuhkan Agni. Sekali-sekali serangan mereka dapat mengenai tubuh Agni, tapi itu justru membuat mereka heran, karena serangan mereka hanya membuat Agni terpental tanpa mengalami luka serius.
"Senior, aku tak bermaksud membunuh saudara senior, tapi orang itu yang memaksaku melakukkannya" ujar Agni di tengah pertempuran hanya sekedar mengingatkan tiga orang itu.
"Jangan banyak bicara, aku tak akan tenang sebelum kau pergi menyusulnya!" Jawab Bok Pyong.
Sejauh ini, Agni belum melepaskan aura Sasra Birawa ataupun Ajian Gelap Ngampar, itu karena Agni juga ingin menggunakan kesempatan itu untuk mengukur sejauh mana dia bisa bertahan.
"Melawan seorang dari mereka bukan hal sulit bagiku, tapi 3 orang sekaligus tanpa aura sasra birawa dan Gelap Ngampar.. Hmmm... Kerja sama mereka juga rapi sekali" batin Agni.
Pertarungan itu terus berlangsung, semakin lama Agni semakin tertekan, dan semakin sering serangan ketiganya berhasil mengenai tubuhnya. Beruntung baju zirah badak emas melindunginya, sehingga tak berakibat luka serius, tapi itu cukup menguras energi qi Agni.
"Gila, kekuatan apa yang dimilikki anak muda ini??" Desis Bok Pyong.
"Kita harus segera membunuhnya Hoejangnim, selagi energi kita masih cukup!" Ujar Jun Miyo.
"Aku setuju Hoejangnim, kita harus segera menyelesaikannya" imbuh Ji Sung.
"Baik mari kita lakukan" Bok Pyong menyetujui.
Sementara, Agni menyadari lawannya akan melakukan serangan andalan mereka. Namun ia meragu apakah harus melepaskan aura Sasra Birawa dan Ajian Gelap Ngampar saat ini atau tidak.
"Aku harus mengetahui batasanku...!!!" Tekad Agni memutuskan untuk tidak menggunakan kedua jurus itu terlebih dahulu.
Jaya Pamungkas, Fang Yuen dan juga Yan Lee yang mengetahui Agni memilikki aura Sasra Birawa yang mengerikan, menjadi heran kenapa pemuda itu tak segera menggunakannya.
"Ataukah mungkin 3 orang itu mampu menahan aura Sasra Birawa milik Agni?" Pikir ketiganya dalam kekhawatiran.
"Booommmm.... booommmm... booommmm"
Suara ledakkan terus menghiasai pertarungan itu.
"Siapkan dirimu menemui ajal anak muda....!" Pekik Bok Pyong yang kemudian bergerak berpadu dengan Jun Miyo dan Ji Sung sebelum membentuk posisi dengan pola segitiga untuk melakukan satu serangan terakhir.
Melihat hal tersebut, Agni mundur beberapa meter dan bersiap pula.
"Teknik Rahasia Bukit Embun... Hujan Bukit Meteor... Matilah....!!!" Teriak ketiganya.
Agni telah bersiap pula,
__ADS_1
"Jurus Memukul Seribu Anjing Gila....!!!" Teriak Agni pula.
Ratusan meteor dengan bentuk tak beraturan yang berasal dari padatan energi qi Bok Pyong, Jun Miyo, dan juga Ji Sung, keluar dari pola segitiga yang mereka bentuk, sementara dari ruang hampa di sekitar Agni, muncul padatan energi qi berupa tongkat yang berjumlah tak kalah banyaknya dari meteor Bok Pyong dan kedua rekannya. Benturan kedua padatan energi qi tak terhindarkan
"Blamm...blamm.blaamm"
"Duarrr...duarr...booomm"
"Booommm...jduaarrr... Blammm"
Suara ledakan bertubi-tubi saat keduanya bertemu. Itu berlangsung hingga beberapa puluh detik dan mengakibatkan sebuah lubang kawah besar di tengah hutan itu. Hentakan angin berhembus kencang mengiringi setiap ledakan. Membuat mereka yang menyaksikan harus melindungi wajah dengan lengan mereka.
"BOOOMMMM"
Satu ledakkan terakhir membuat kedua pihak terlempar puluhan meter yang membuat mereka semua mengalami luka dalam. Darah mengalir dari sudut bibir mereka. Andai Agni tak mengenakan baju zirah badak emas, mungkin dadanya sudah hancur akibat benturan itu. Ia segera menelan pil pemulihan. Meskipun begitu, Agni masih menyimpan cukup banyak titik qi untuk melanjutkan pertempuran.
Rupanya ketiga lawan Agni telah bergerak bangkit terlebih dahulu dan segera terbang menuju tempat Agni, dimana Agni masih terduduk bersila untuk memulihkan diri. Bok Pyong berada di tengah, Jun Miyo di kanan dan Ji Sung di sisi kirinya.
"Hahaha... Tak kusangka kau masih bertahan anak muda, sayang sekali bakat mudamu ini, namun kau salah telah berurusan dengan sekte Bukit Embun!" Ujar Bok Pyong yang telah melayang beberapa meter di hadapan Agni.
"Dengan begini Tetua Bok Sun He juga akan tenang" imbuh Jun Miyo.
"Isi cincinnya juga pasti ada banyak harta Hoejangnim" timpal Ji Sung melihat apa yang dikenakan Agni.
"Ku akui kehebatan mu Anak muda, namun sekarang pasti kau telah kehabisan banyak energi qi, dan kami masih lengkap bertiga" ujar Bok Pyong.
Agni masih terduduk memejamkan mata mendengarkan ketiga orang itu bicara. Ia sengaja melakukan itu.
Sementara di barisan para penonton, Jaya Pamungkas dipenuhi kebimbangan akan membantu Agni atau tidak, bagaimanapun, Agni mengetahui keberadaan Ayu Wilis pula. Kemudian di ujung yang lainnya, Fang Yuen dan Yan Lee dipenuhi penyesalan karena tak bisa memberikan bantuan pada Agni.
"Kenapa kau diam saja Bangs*t, apa kau menyesal sekarang?" Umpat Ji Sung.
Agni yang masih terdiam dan memejamkan mata, tersenyum kecil dengan nada mengolok kepada mereka bertiga.
"Cih... Kalian terlalu percaya diri senior, kalau aku mau, sudah dari tadi kuremukkan kepala kalian!" Kata Agni masih dengan memejamkan mata dan duduk bersila.
Betapa terkejut ketiga orang itu mendengar ucapan Agni, Ji Sung telah siap mengayunkan tangan untuk menghabisi Agni.
"Kurang a...."
Umpatan Ji Sung berhenti ditengah jalan ketika ia melihat dan merasakan aura mengerikkan berwarna Merah kehitaman yang memancar dari tubuh Agni. Seketika itu pula ketiganya merasa semua bukit yang ada di Sekte Bukit Embun menindih punggung mereka.
"Ke...kekuatan apa ini...???" Batin mereka bertiga.
"Ba.. bagaimana bisa kau..." ujar Bok Pyong
Dengan sekuat tenaga ketiganya mencoba menahan tekanan itu dan mempertahankan tubuh mereka yang masih melayang di udara.
__ADS_1
"Sseet..settan... Apa yang kau lakukan bang$at" umpat Jun Miyo.
Agni membuka matanya perlahan, dengan tersenyum kecil dia menunjukkan titik qi di atas belakang punggungnya yang masih tersisa 30 titik lagi.
"Ii...ini bagaimana mungkin?" Ketiganya tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Diantara mereka, tertinggi hanya Bok Pyong yang mempunyai 30 titik q, itu sudah luar biasa bagi ranah Demigod tahap akhir. Sementara saat ini sisa energi qi ketiganya, tidak lebih dari 10 % saja.
"Apa katamu sekarang senior, sudah kubilang saudaramu itu yang memaksaku membunuhnya, kalian tak percaya" kata Agni.
"Aku bukan pembunuh senior, tapi aku tak akan segan-segan menghabisi kalian. Ribuan hewan iblis yang kubunuh di alam rendah membuatku tak ragu melakukan itu"
"Aam...ampun Senior, aku punya mata tapi tak melihat" ujar Jun Miyo yang menginginkan kematian paling menyakitkan bagi Agni.
"Hahaha... Ampun? Senior memanggilku Senior? Bukankah senior tadi menginginkan kematian paling menyakitkan untukku?"
"Kau sungguh aneh senior, Aku tahu kalian pasti tak akan mengampuniku jika aku yang memohon, aku juga yakin, pasti kalian akan mengoyak-ngoyak isi perutku jika berhasil membunuhku" sebagai ras manusia, Agni tidak mempunyai inti kristal seperti ras hewan iblis, ia sengaja mengatakan itu untuk menutupi jati dirinya.
"Apa benar yang kukatakan Senior.....????" Kalimat Agni yang terakhir ini dilandasi dengan Ajian Gelap Ngampar.
"Uhuk...uhukkk...uhukk..."
"Brugh"
Ketiganya terbatuk dan tak mampu lagi untuk tetap melayang, mereka terduduk dengan kedua lututnya di atas tanah, berjuang menahan tekanan aura Sasra Birawa, juga goncangan ajian Gelap Ngampar.
"Senior Bok Pyong, kau ketua Sekte Bukit Embun,ingatlah ini, aku mengampunimu agar sektemu tetap bisa berdiri, tapi tidak dengan kedua orangmu...!!!"
Bok Pyong tak bisa berkata-kata, ia hanya menggeram, kali ini ia benar-benar telah menanduk gunung. Walaupun merasa lega Agni berkata akan memgampuninya, namun mendengar kedua orang yang bersamanya tidak mendapat pengampunan, tak urung membuat dadanya semakin sesak.
"Ammm...ampun senior... Ampunn.. ampuni kami"
Agni membentuk dua telapak tangan dari aura Sasra Birawa, kemudian kedua telapak tangan itu melayang kepada Jun Miyo dan Ji Sung kemudian menggenggam mereka berdua.
"Ampuuun... Tolong ampuni kami seniorrrr" keduanya berteriak berusaha meronta, sementara Bok Pyong hanya menggeram pasrah tanpa bisa berbuat apa-apa.
Agni melepaskan Ajian Gelap Ngampar berkekuatan penuh kepada Jun Miyo dan Ji Sung saat ia berkata.
"Raja neraka telah duduk di sekitar meja bundar bersama senior Bok Sun He dan Tuan Besar Kaka, menunggu kalian untuk ikut duduk melingkar memutar gelas arak sambil bermain gitar"
"Krakk...kraaakkk...kretakk...kruakk"
Suara tulang leher dan punggung mereka yang patah mengakhiri suara teriakan dan denyut jantung keduanya.
"Senior Bok Pyong, jangan menyalahkan aku berbuat ini, kalian yang datang sendiri padaku dan berniat membunuhku, kubiarkan Senior Bok Pyong hidup hanya karena aku tak ingin membunuhmu, aku tak peduli jika kau memanggil leluhurmu untuk mendatangiku, aku juga tak peduli kau koyak perut orangmu itu atau tidak!"
Agni berkata demikian sebenarnya hanya untuk menekan dan mengancam Bok Pyong, dengan begitu, ada kemungkinan Bok Pyong akan berpikir bahwa leluhurnya sekalipun bukanlah tandingan Agni. Jika ia membunuh Bok Pyong, bisa jadi Tetua Sekte Bukit Embun yang lainnya, akan memanggil leluhur mereka yang saat ini berada di alam tinggi. Itu mungkin akan merepotkannya jika benar-benar terjadi, Agni merasa masih belum mempunyai cukup kekuatan untuk melawan ranah SoulGod.
"Ingatlah itu Senior....!!!!" Pungkas Agni.
__ADS_1
Agni melesat terbang dengan kecepatan tinggi meninggalkan Bok Pyong yang masih bergetar isi dadanya merasakan semua yang baru saja di alaminya. Prediksi Agni memang tepat, itu membuat Bok Pyong berpikir dua kali untuk meminta bantuan leluhurnya atau tidak. Selain itu, bagi leluhur Sekte manapun yang saat ini berada di alam tinggi, bukan hal mudah untuk sesukanya keluar masuk alam tinggi dan alam tengah. Kecuali ia telah berada di ranah SoulGod tahap akhir bintang 3.