Pendekar Tongkat Pemukul Anjing

Pendekar Tongkat Pemukul Anjing
Ep 49 - Tiba Di Sekte Tapak Macan


__ADS_3

Ini adalah sebuah cerita, maka sangat mungkin terjadi jika tiba-tiba saja seekor burung elang yang cukup besar, melintas di atas kepala dua insan muda-mudi yang sedang terbuai memadu gairah.


"Plooookkk"


Entah karena cemburu pada keduanya, atau hal lainnya, elang itu memuntahkan limbah perutnya membidik tepat di antara kedua wajah muda-mudi yang sedang berpa-gut bibir itu.


Itu membuat keduanya terkejut dan saling melepaskan pag-utan karena merasakan kehangatan yang basah dari sesuatu yang asing, yang tiba-tiba menemplok pada pipi dan ujung bibir mereka.


Sepersekian detik kemudian keduanya tersadar dengan apa yang tengah mereka lakukan, bersipu merah wajah mereka, secara spontan pula tangan mereka meraba sesuatu yang hangat basah di pipi mereka, aroma menyengat seketika merasuki indra penciuman, keduanya menatap nanar pada telapak tangan, kemudian saling mengadu pandangan terheran.


"Hahaha......"


Untuk beberapa saat baik Ayu Wilis dan Agni tertawa karena hal itu. Elang besar yang melintas di atas kepala mereka telah menyelamatkan keduanya dari indahnya buaian gairah. Andai limbah perut elang itu tak memisahkan mereka, entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Setelah berhenti tertawa, keduanya berada dalam suasana yang canggung.


"Maafkan aku Wilis" kata Agni atas hal yang baru saja terjadi, yang kemudian melayang turun dan mendarat di tengah hutan.


Ayu Wilis pun menyadari apa yang baru saja terjadi, tapi campur aduk perasaan yang ada didalam dadanya, tak mudah untuk membuatnya menjadi rangkaian kata.


Agni mengeluarkan gayung dari perlengkapan mandi yang sempat ia beli beberapa hari lalu. Kemudian mengisinya dengan air mata dewi. Itu bukan air biasa, air itu dipenuhi energi qi yang pekat karena telah merendam kristal pusaka, Som Tang Chong mengatakan itu bernama kristal air mata dewi.


Kemudian Agni memberikan gayung yang telah berisi air mata dewi itu kepada Ayu Wilis. Ayu Wilis pernah berendam dengan air itu ketika masih berlatih di tempat Harjaya, jadi ia tak heran lagi dengan aura energi dari air mata dewi.


Usai Ayu Wilis membersihkan kotoran elang di mukanya, Agni pun melakukan hal yang sama. Kemudian mereka mencari tempat di bawah pohon dan duduk di tanahnya.


"Maafkan aku Wilis" Agni tak tahu harus berkata apa selain kata maaf itu.


"Aku yang harusnya meminta maaf Agni, karena diriku kita jadi berada pada situasi seperti itu" sebenarnya Ayu Wilis bahagia dengan apa yang baru saja terjadi, ia berharap itu akan menjadi satu hal yang baik kedepannya, sehubungan dengan perasaannya terhadap Agni.


"Itu tidak baik untuk kita Wilis, aku mengakui telah terpesona padamu, tapi engkau pun telah mengetahui asal-usulku, dan sejujurnya aku juga tidak berniat untuk selamanya tinggal di alam ini" kata Agni sambil menunduk.


Sesak dada Ayu Wilis mendengar perkataan Agni, namun itulah kenyataannya, sedari awal Ayu Wilis juga menyadari bahwa Agni tidak mungkin selamanya berada di alam hewan iblis. Namun biar bagaimana, Ayu Wilis tak dapat membohongi perasaannya.


"Aku mengerti Agni, meski dadaku sesak mendengar kata-katamu, namun aku telah cukup bahagia memberikan ciuman pertamaku pada seorang yang memang telah aku kagumi" Ayu Wilis mengakui perasaannya.


"Itu juga ciuman pertamaku Wilis, aku tahu yang kau rasakan lebih berat, namun dadaku juga sesak dengan kenyataan yang harus kita hadapi, dan apalagi kita dari ras yang berbeda, apakah mungkin dapat menjalin hubungan kekasih?" Kata Agni.

__ADS_1


"Apa ada masalah dengan itu Agni, bahkan ras dewa menikahi iblis neraka pun juga bukan hal yang tidak mungkin" sahut Ayu Wilis. Itu membuat Agni terheran. Namun bukan itu alasan yang mendasari mereka tak bisa melanjutkan hubungan mereka lebih dalam.


"Bahkan jika itu mungkin terjadi, namun kau mengerti bukan itu alasan yang mendasari" kata Agni.


"Aku mengerti Agni, sudahlah, apakah kita akan terus berada disini?" Kata Ayu Wilis, dia tak ingin terus berada pada situasi yang pahit ini.


"Kau benar, tapi aku tak bisa menggendongmu seperti sebelumnya, aku tak akan mampu menahan godaanmu Wilis" kata Agni yang tanpa ia sadari itu membuat Wilis kesal


"Apa, aku bukan perempuan penggoda, jahat sekali engkau Agni...hiks" Ayu terisak sambil membuang muka.


"Mak...maksudku bukan itu Wilis" kini ia sadar telah salah bicara.


"Aku minta maaf, aku benar-benar tak bermaksud seperti itu" sesal Agni, namun Wilis masih membuang mukanya.


"Wilis...." Agni mendekati Wilis untuk membujuknya.


Hal tak terduga terjadi, Ayu Wilis menolehkan wajahnya kembali saat Agni mendekatinya, kedua wajah itu masih cukup jauh untuk dikatakan dekat, namun saat pandangan mereka saling bertemu, tiba-tiba saja perasaan mereka bagai di sengat listrik jutaan kilo volt, keduanya harus mengakui bahwa sadar atau tidak, mereka telah saling menggoda dan tergoda. Didorong oleh kekuatan darah muda yang tak mampu mereka tahan, untuk kedua kalinya kedua bibir mereka saling berpa gut dalam melodi di bawah pohon rindang itu.


***


Sementara itu Jaya Pamungkas yang telah kembali ke sektenya, pagi itu pula ia mengadakan pertemuan dadakan para tetua di aula pertemuan utama.


Keseluruhan ada 100 ruang tempat duduk para tetua. Namun ruang itu kini hanya berisi separuh lebih sedikit, karena lebih dari 40% tetua telah meninggalkan Sekte Tapak Macan sejak tantangan Jaya Pamungkas dilayangkan.


"Para tetua sekalian, ini hal baik untuk kita, meskipun aku belum tahu pasti bentuk bantuan yang akan diberikannya, namun aku mempunyai firasat baik. Dan ingat, ini rahasia sekte kita, para tetua sekalian mengetahui konsekuensinya jika rahasia ini bocor keluar!!!" Kata Jaya Pamungkas dilengkapi ancaman.


Beberapa tetua saling berbisik mempertanyakan perkataan pemimpin mereka.


"Apa pemuda itu sungguh spesial, bagaimana mungkin hanya seorang saja mampu memberikan bantuan pada sekte kita yang sekarat ini" kata tetua ke 15 pada tetua lain disampingnya.


"Aku juga meragukannya, tapi bantuan apapun kita butuhkan untuk saat ini" balas tetua 17.


"Aku menjadi penasaran bagaimana wujud pemuda itu" imbuh tetua ke 16.


"Aku tahu sebagian dari kalian meragukan perkataanku, simpanlah terlebih dahulu keraguan kalian, berilah penilaian setelah melihatnya sendiri" perkataan Jaya Pamungkas mengehentikan bisik-bisik diantara mereka.

__ADS_1


Pertemuan itu berlangsung beberapa jam, Jaya Pamungkas menugaskan Gao Yuan mengatur penjagaan gerbang sekte untuk mengawal kedatangan Agni dan Ayu Wilis yang mungkin akan datang dalam beberapa hari ini. Itu demi menghindari sesuatu yang tak diinginkan dari anggota sekte jika melihat kedatangan Ayu Wilis.


****


Sementara itu, kembali ke bawah pohon rindang. Ternyata Agni dan Ayu Wilis masih mempunyai cukup kesadaran untuk menguasai diri mereka, sehingga pergumulan mereka tak berlanjut lebih jauh.


"Agni, engkau cinta pertamaku sekaligus menjadi orang yang menerima ciuman pertamaku, aku sangat bahagia dengan itu meskipun dadaku terasa sesak jika mengingat akhir hubungan kita nanti" kata Wilis.


"Begitu pula diriku Wilis, semoga dikehidupan selanjutnya kita dipertemukan dengan takdir yang lebih indah untuk kita jalani" pungkas Agni.


Selanjutnya, karena tak ingin mengalami hal serupa dengan keadaan terbang seperti sebelumnya, Agni menebang sebuah pohon yang cukup besar, dengan pedang katananya ia membuat sebuah kursi dengan sandaran yang cukup panjang, sementara di bagian atas sandaran, Agni membuat lobang yang cukup besar untuk mengaitkan kursi itu di punggungnya. Bukan hal sulit membuat itu dengan kemampuan Agni saat ini. Agni mendesign kursi itu dengan cukup baik agar Ayu Wilis dapat duduk nyaman selama perjalanan.


Agni terbang dengan mengaitkan kursi di pinggangnya, sementara Ayu Wilis menduduki kursi itu, mereka melanjutkan kembali perjalanan menuju Sekte Tapak Macan. Agni membuatkan perisai dari padatan energi qi untuk melindungi Ayu Wilis dari terpaan angin ketika mereka terbang dengan kecepatan tinggi.


Setelah perjalanan 3 jam lebih, Ayu Wilis telah dapat melihat wilayah Sekte Tapak Macan dari atas langit.


"Itu tujuan kita Agni" tunjuk Wilis.


Agni pun telah melihat itu, namun Agni masih belum mengira bahwa area yang di tunjuk Ayu Wilis itu adalah tujuan mereka. Itu sebuah wilayah yang sangat besar, benar-benar diluar perkiraan Agni, tempat itu lebih dari setengah ukuran kota Ngalam tempat asal Agni.


"Ini besar sekali, apakah benar ini tujuan kita Wilis?" Tanya Agni masih belum percaya.


"Memang benar itu Agni" jawab Ayu Wilis.


"Apakah setiap sekte sebesar seluas ini?"


"Bahkan Sekte Beruang Emas lebih luas dari Sekte Tapak Macan Agni"


Sebuah sekte memang tak ubahnya bagai sebuah kota, setidaknya jika itu sekte kecil, bagaikan sebuah desa. Kehidupan sehari-hari mereka pun hampir mirip dengan kehidupan masyarakat pada umumnya. Hanya saja mereka mempunyai jadwal khusus untuk berlatih atau hal-hal lainnya yang berhubungan dengan kegiatan sekte. Dan sebagian murid-murid khusus atau murid-murid jenius, menghabiskan waktunya hanya untuk berlatih dan berlatih.


Mereka memiliki ratusan guru dengan tugas mendidik murid dalam bidangnya masing-masing. Ada kriteria khusus untuk dapat menduduki posisi Tetua. Ujian promosi tetua berbeda antara sekte satu dengan yang lainnya, itu tergantung kebijakkan masing-masing sekte.


"Kita akan turun beberapa ratus meter sebelum gerbang Sekte Wilis, itu akan lebih baik" kata Agni.


"Engkau benar Agni"

__ADS_1


Sejenak kemudian mereka turun 200 meter sebelum pintu gerbang sekte, dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan.


Tibalah mereka di gerbang sekte yang berdiri megah dengan lebar lebih dari 10 meter. Kedua gapura di sisi kanan kiri gerbang itu berhiaskan ornamen yang berbentuk sebuah tapak macan yang menjadi ikon sekte terebut. Dan tak hanya itu, sebuah formasi pertahanan melindungi seluruh wilayah yang menjadi area Sekte Tapak Macan. Itu penting untuk melindungi Sekte dari serangan musuh.


__ADS_2