Pendekar Tongkat Pemukul Anjing

Pendekar Tongkat Pemukul Anjing
Ep 25 - Alam Tengah Hewan Iblis


__ADS_3

"Kalau daerah ini adalah area terendah dari alam hewan iblis, aku harus meningkatkan kekuatanku, hewan iblis di area terendahnya saja hampir semua berada di ranah Kaisar tahap menengah, bagaimana di area yang lebih tinggi" pikir Agni dalam hatinya.


Hari-hari selanjutnya ia bermeditasi untuk meningkatkan semua yang mampu ia tingkatkan, termasuk kemampuannya membuat formasi. Ia berniat untuk mencari area yang lebih tinggi dari tempatnya saat ini. Oleh karena itu Agni harus bersiap, karena resikonya juga pasti lebih besar.


Setelah satu minggu berkultivasi, peningkatannya tak terlalu signifikan. Ia masih berada di ranah Demigod tahap awal. Titik qi bertambah 2 saja, jadi saat ini Agni mempunyai 65 titik qi. Setelah sebulan mengkonsumsi daging hewan iblis terus menerus, otot dan tulang Agni terasa semakin kokoh dan liat, walau masih pada kualitas yang sama. Tulang harimau dan otot besi.


Agni memulai perjalanannya dengan terbang kearah dimana ia menemukan kristal air mata dewi. Kecepatan terbang Agni saat ini hampir dua kali lipat kecepatan kuda terbaik di dunianya. Jika di konversi ke satuan kecepatan, kuda terbaik di dunia Agni mempunyai kecepatan sekitar 60-65 km per jam, dan kecepatan Agni saat ini, tidak kurang dari 100 km/jam.


Sepanjang perjalanan, Agni memanfaatkan untuk membunuh hewan iblis yang ia temui. Ia akan memanfaatkan hasil buruannya itu didunianya nanti.


Hingga sore hari, Agni tak merasakan perubahan pada area yang ia lewati, tidak kurang dari 100 hewan iblis telah ia bunuh, dan semuanya berada di ranah kaisar tahap awal atau tahap menengah. Itu menambah pekat aura membunuh yang ia milikki.


Agni berhenti untuk makan dengan memasak daging hewan iblis dan memulihkan qi yang hilang karena ia gunakan untuk terbang. Tidak sedikit energi qi yang ia butuhkan untuk terbang.


Merasa perjalanannya akan panjang. Agni memutuskan untuk memasak daging hewan iblis dalam jumlah besar. Agni mengetahui bahwa cincin penyimpanan bukan hanya sekedar gudang saja, namun ia juga menjaga kualitas barang yang berada didalamnya seperti saat pertama kali di masukkan. Mudahnya, itu seperti lemari pengawet saja. Terbukti dengan tanaman herbal yang tidak layu walau telah di simpan ribuan tahun lamanya di dalam cincin itu.


Maka malam itu ia menghabiskan waktu untuk memasak daging sebanyak-banyaknya. Dengan begitu, diperjalanan selanjutnya ia tidak akan repot untuk berhenti hanya untuk sekedar memasak. Setelah memasak, ia lanjutkan meditasi dan sejenak memejamkan mata.


Pada dasarnya, Agni sudah tidak terlalu memerlukan tidur di ranahnya saat ini. Karena semakin tinggi ranah seorang kultivator, semakin baik juga pengolahan organ dalam tubuhnya. Sehingga hanya memerlukan sedikit energi qi saja untuk menjaga organ tubuhnya bekerja dengan sewajarnya tanpa perlu untuk tidur.


Hari selanjutnya Agni meneruskan perjalanan, hingga satu minggu lamanya Agni masih merasa berada di area terendah alam hewan iblis. Lebih dari seribu ekor hewan iblis yang telah ia bunuh sepanjang perjalanannya itu.


Pada hari kesepuluh, di kejauhan Agni dapat melihat puncak sebuah gunung. Ia menambahkan kecepatan terbangnya dengan tetap membunuh setiap hewan iblis yang ia temui.


Namun hingga malam hampir tiba, puncak gunung itu masih dengan pemandangan yang sama seperti pertama kali Agni melihatnya.


"Jauh sekali gunung itu" kata Agni dalam hati.


Agni melanjutkan terbangnya, ia hanya beristirahat untuk mengembalikan qi yang hilang digunakan untuk terbang.


Sepuluh hari berlalu, Agni telah sampai di lereng gunung. Puncak gunung yang beberapa hari lalu ia lihat, kini sama sekali tak nampak terhalang oleh awan yang menyelimuti gunung itu. Selama perjalanan telah lebih dari 2500 hewan iblis yang ia bunuh.


Agni memutuskan untuk istirahat dan memulihkan diri sepenuhnya sebelum mendaki gunung itu. Ia tidak tahu apa yang ada di balik awan yang menghalangi puncak gunung itu. Selain itu, hari juga telah malam.


Agni mulai terbang mendaki gunung itu pada pagi harinya. Setelah satu jam terbang barulah ia sampai di kepulan asap yang menyelimuti gunung itu.


"Benar-benar tinggi gunung ini"

__ADS_1


Agni mendarat sekitar 1 km sebelum mendekati awan itu dan melanjutkan pendakian dengan berjalan. Agni menyembunyikan ranah kultivasinya hingga habis. Bukan mudah mendapat kemampuan menyembunyikan ranah kultivasi, apalagi mengikisnya habis.


Ketika Agni di ranah kaisar tahap menengah dan menguji kemampuan itu dihadapan gurunya. Itu membuat gurunya tak berhenti terpukau, bahkan bahkan ranah Demigod tahap menengah juga belum tentu mampu melihat kultivasi Agni.


Sekarang Agni berada di ranah Demigod tahap awal, menurut perhitungan Agni, setidaknya ranah SoulGod tahap awal tidak akan dapat melihat ranahnya.


Andai Agni tahu yang sebenarnya, bahwa saat ini ranah SoulGod tahap akhir pun tak akan mampu melihat ranah kultivasi Agni, tentunya Agni akan berjingkat-jingkat.


Itu karena Agni mempunyai bakat yang benar-benar khusus, gurunya sekalipun tak mampu mendeteksi kekhususan Agni. Saat ini, hanya Som Tang Chong yang mengetahui kekhususan Agni itu.


Setelah mendaki beberapa ratus meter, kabut tipis mulai menyentuh kulit Agni. Dingin, dan semakin lama semakin dingin karena kabut juga semakin tebal.


Langkah Agni menjadi semakin berat ketika ia masuk semakin dalam. Seperti ada dinding tak terlihat yang menghalangi Agni untuk melewatinya. Semakin dalam Agni memasuki kabut itu, Agni merasakan satu tekanan.


"Tekanan ini seperti didasar kolam itu, mungkin lebih berat" kata Agni dalam hati.


Kulit yang tadi hanya merasakan dingin, kini terasa sakit bagaikan ditusuk jarum-jarum es. Itu memakan titik qi karena baju zirah badak emasnya sedang berjuang keras untuk melawan tekanan itu. Sementara Agni terus mendaki.


Setelah hampir setengah jam, akhirnya Agni mampu menembus dinding itu.


"Gila, hanya untuk melewati dinding ini, aku harus menghabiskan 50 titik qi"


Agni melihat sekeliling, pepohonan agak terlihat berbeda, batang-batang pohonnya tak lagi sebesar hutan sebelumnya, namun masih lebih besar dari pohon di dunia Agni. Kemudian ia melanjutkan pendakiannya, kabut yang menyelimuti gunung itu semakin tipis sebelum akhirnya hilang sama sekali.


Setelah beberapa saat, ia telah berada di tanah hutan yang mendatar.


"Akhirnya keluar juga dari kabut itu"


Agni memandang hutan di depannya, kini benar-benar ia melihat hutan seperti biasa ia lihat di daratan bumi. Kemudian Agni membalikkan tubuhnya untuk melihat kabut yang telah ia lewati. Dahinya tampak berkerut, karena sejauh mata memandang, ia hanya melihat kabut yang berbatas dengan langit saja.


"Aneh sekali, padahal dari bawah tadi, aku bisa melihat puncak gunung ini, kenapa justru sekarang aku tak dapat melihat hutan di bawah gunung ini" tanya Agni dalam hatinya.


Namun sesaat kemudian ia mengacuhkannya. Saat kembali memperhatikan hutan didepannya, Agni terheran karena melihat hutan itu seperti yang biasa ia lihat di daratan bumi. Begitu pula ketika Agni melihat beberapa ekor kelinci dan rusa. Hewan berukuran normal seperti yang biasa ia jumpai di dunianya.


"Aku sama sekali tak melihat mereka di area rendah, mungkin ini sudah di area yang berbeda" pikir Agni.


Agni melanjutkan perjalanannya dengan berlari dan melompat dari dahan ke dahan. Ia masih belum siap menggunakan kemampuan terbang agar tidak menarik perhatian.

__ADS_1


Ternyata hutan itu cukup luas, sekitar 30 km hingga Agni sampai di tepian hutan. Sepanjang perjalanan, semua hewan yang ia temui, tak berbeda dengan apa yang Agni lihat di daratan bumi.


Agni berhenti sekitar 500 meter di tepian hutan karena ia mendengar tapak dua ekor kuda. Dan benar saja,


"Manusia...???" Agni terheran.


Kemudian ia melangkah lebih dekat untuk memperjelas pendengarannya dan bersembunyi di balik pohon. Agni tak khawatir keberadaannya di ketahui, karena dua orang yang sedang lewat itu berada di ranah Demigod tahap awal.


"Aura ini, mirip.. dan bahkan sama dengan macan kumbang raksasa yang aku bunuh" Agni terkejut dengan hal itu.


Memang saat membunuh hewan-hewan iblis di area rendah, Agni merasakan aura yang berbeda dari setiap jenis hewan yang ia bunuh, namun saat itu Agni tak terlalu memperhatikannya.


"Tuan muda Sekte Beruang Emas telah menerobos ranah demigod tahap akhir, Patriark mereka mengundang 5 sekte besar di kota Guziko untuk merayakannya, apa kau tahu?" Kata salah satu orang berkuda.


"Tentu saja itu akan dilakukannya, dengan begitu 5 sekte lainnya akan berpikir dua kali jika ingin mencari masalah dengan sekte beruang emas" kata seorang lainnya.


"kita masih terlalu lemah, sejak Tuan Wiraja dihukum ke alam rendah, Sekte Tapak Macan semakin tersingkir dari posisi 6 sekte besar"


"Kau benar, tapi itu sudah menjadi keputusan Tuan Besar dan para tetua, Tuan Wiraja telah membuat kesalahan berat"


Kedua penunggang kuda itu berlalu, percakapan mereka membuat Agni bertanya-tanya.


[*mohon maaf jika pembicaraan kedua penunggang tersebut mengalami revisi, nama-nama sektenya kurang pas. hehehe...]


"Apa benar ini area tengah? mereka menyebutnya alam rendah, mungkinkah yang dimaksud adalah area rendah alam hewan iblis?" Tanya Agni dalam hati.


"Kalau benar ini area tengah...hmmm.. memang lebih enak didengar dengan sebutan alam tengah dari pada area rendah...hehehe...."


"Eh.... Serius dong Ag, hehe"


Agni pun melanjutkan pertanyaan dalam hatinya yang belum bisa ia temukan jawabannya.


"Kalau benar ini alam tengah hewan iblis, mengapa wujud mereka jauh berbeda, tapi aura kedua orang itu sama dengan aura macan kumbang itu"


"Aku harus lebih berhati-hati, alam ini jauh melenceng dari perkiraanku"


"kupikir alam menengah akan dipenuhi hewan iblis dengan ranah yang lebih tinggi"

__ADS_1


"Oh Tuhaaaan... Bantu aku... Suara bernama Som Tang Chong itu juga tidak memberiku petunjuk sama sekali... Huh!!!!" seru Agni


__ADS_2