Pendekar Tongkat Pemukul Anjing

Pendekar Tongkat Pemukul Anjing
Ep 24 - Som Tang Chong


__ADS_3

Di dunia kecil, hari ketiga sejak datangnya keluarga Agni beserta Dirjo.


"Malam ini bacalah kitab-kitab itu, pelajarilah dengan seksama" kata Suk Ang Hin kepada empat murid barunya.


Itu adalah kitab pengetahuan dasar tentang dunia kultivasi. Penting bagi keempatnya untuk mempelajari kitab tersebut.


Esok hari, masih seperti sebelumnya, mereka berempat makan pagi dengan beberapa buah pisang dan mengkonsumsi pil penempa tubuh. Kemudian dilanjutkan dengan gerakan dasar beladiri untuk meregangkan otot-otot mereka.


Bagaimanapun, bukan hal yang mudah bagi pemula untuk melakukannya. Apalagi bagi Mahisa Pukat dan Puspandari, dengan tulang tua mereka, hanya untuk sekedar mengangkat kaki setinggi dada saja sudah sangat menyiksa mereka.


Seharian penuh mereka melakukan latihan dasar dan hanya berhenti istirahat ketika waktu makan.


Meskipun Rara Kencana tak berhenti protes dengan aksi manjanya, namun ia tetap melakukan semua yang diperlukan dengan sungguh-sungguh.


Pada malam hari, mereka melanjutkan dengan membaca kitab yang diberikan kepada mereka.


Kegiatan di dunia kecil itu terus berlangsung, sementara hingga hari ke tujuh, Agni yang sedang berkultivasi di goa, belum juga menampakkan dirinya.


"Sudah satu minggu, lebih lama dari sebelumnya" kata Chua Pek Dong.


"Haha... Apa kau meragukannya?" Tanya Takada Tanaga.


"Haha... justru aku yakin sekali, aku percaya dia akan mengejutkan kita saat keluar goa" Saut Chua Pek Dong.


Guru-guru Agni tak menyadari bahwa Agni sedang tak berada dalam goa itu. Namun seseorang telah menyamarkan keberadaan Agni hingga seolah-olah Agni tetap berada di tempatnya.


****


Di kediaman Ming,


"Bajingaaaaannnnnnn....!!!!"


Teriak Ming Bao Ze yang menggetarkan kediaman keluarga Ming dan membuat semua penghuni di kediaman Ming hampir pingsan. Ia sangat marah ketika mengetahui semua anggota keluarganya telah kehilangan dantiannya.


Adalah diluar perhitungan para guru Agni bahwa Ming Bao Ze telah menerobos ranah Demigod tahap menengah. Seperti halnya keberuntungan Agni yang menemukan rumput giok di sungai tempat ia tenggelam. Ming Bao Ze pun telah menemukan rumput giok pula di gunung Putri Tidur.


Dengan kemampuan dan pemahaman yang dimilikki Ming Bao Ze, dalam waktu lima tahun dia telah mampu menerobos hingga ke ranah Demigod tahap akhir, yang sebelumnya ia berada di ranah Kaisar tahap menengah


Kekuatan yang mengerikkan di atas tanah jawa, tak akan ada satupun penghuni tanah jawa yang akan dapat menandinginya.


"Akan ku buat bocah itu membayarnya 100 kali lipat" geram Ming Bao Ze


Tak lama setelah ia mendapat informasi lokasi kediaman Agni, Ming Bao Ze melesat terbang ke tempat itu. Hanya dalam sekejap waktu saja ia telah melayang di atas rumah Agni. Namun ia tak merasakan energi kehidupan dari dalam rumah Agni. Warga disekitar rumah Agni yang kebetulan sedang di luar rumah belum menyadari bahwa seseorang tengah melayang di atas mereka.


"Katakan, dimana bocah bernama Mahisa Agni, jika tidak akan aku ratakan desa ini...!!!" suara Ming Bao Ze itu didasari dengan energi qi nya sehingga semua orang yang berada di desa Lowok dapat mendengarnya.


Semua orang didera ketakutan setelah mengetahui dari mana datangnya sumber suara itu. Apalagi setelah melihat Ming Bao Ze yang terbang di atas langit. Seumur hidup belum pernah mereka lihat seseorang bisa terbang diatas langit.


Ming Bao Ze melihat seseorang tetangga sebelah Agni,

__ADS_1


"Sebagai tetangga terdekat, harusnya ia tahu dimana bocah itu" pikir Ming Bao Ze.


Ia kemudian menarik orang itu terbang dan membawa dekat padanya dengan menggunakan energi yang ia padatkan menjadi seutas tali.


"Tolooong... Toloongg...aahhh...ampun dewaaaaa..." Teriak orang itu.


"Katakan dimana bocah itu?" Tanya Ming Bao Ze.


Orang itu adalah ayah Dirjo, dalam kepanikannya, ia masih sempat berpikir, itu akan mencelakakan Dirjo, putranya. Nalurinya sebagai seorang ayah berkata untuk melindunginya.


"Ampun dewa....ampun... Aku tidak mengetahuinya" katanya.


Ming Bao Ze yang dilanda kemarahan tidak berpikir panjang, ia megayunkan tangannya dan melemparkan Ayah Dirjo ke atap rumah Agni kemudian dengan satu ayunan tangan, menghancurkan rumah Agni dan membakarnya.


"Kakaaaaannngggg...." Seorang wanita yang tak lain adalah ibu Dirjo, berlari dan berteriak meratapi nasib suaminya. Namun tiba-tiba, wanita itu juga terangkat terbang.


"Dimana anak itu...???" Tanya Ming Bao Ze.


"Kau membunuh suamiku... Biadaaaabb"


"Wuuussshhh....blarrr" ibu Dirjo menyusul suaminya.


Karena kemarahannya, Ming Bao Ze telah menghilangkan nyawa dua orang yang mengetahui ke mana Agni pergi. Melihat itu, semua orang penghuni desa lowok lari berhamburan, sebagian besar memasuki rumah-rumah mereka dan bersembunyi di bawah kolong-kolong meja atau gudang bawah tanah yang mereka bangun. Sebagian ada yang mencoba pergi keluar dari desa itu.


Sebenarnya Ming Bao Ze juga tak terlalu peduli dengan jawaban orang-orang yang di tanyainya tahu atau tidak, Ming Bao Ze memang ingin melampiaskan kemarahannya. Ming Bao Ze yakin Agni pasti kembali, apalagi jika Agni mendengar desanya telah rata dengan tanah.


Maka dengan membabi buta, ia menghancurkan seluruh bangunan yang ada di desa Lowok tanpa tersisa satupun, dan membunuh ratusan penduduknya tanpa pandang bulu, entah itu orang tua ataupun anak-anak. Sementara yang berhasil melarikan diri bisa di hitung dengan jari. Dan tak akan ada di seluruh tanah jawa itu yang akan berani menghentikannya.


****


"Tekanan ini... Bahkan ranah kaisar tahap akhir juga belum tentu mampu menahannya" kata Agni dalam hati.


Agni terus menyelam ke bagian terdalam kolam itu. Walau semakin dalam Agni menyelam, cahaya di dalam air tidak menjadi semakin gelap, dinding batu pada kolam itu terlihat dengan jelas sekali.


Beberapa saat kemudian Agni telah mencapai dasar kolam, ia melihat batu kristal berwarna hijau muda yang tertancap pada batu di dasar kolam.


"Pasti karena batu ini, ini benda pusaka tingkat tinggi, aku harus mengambilnya" pikir Agni.


Agni memukul batu tempat kristal itu menancap dengan jurus tinju besi warisan Ben Crutch. Setelah beberapa kali melakukannya, batu tempat kristal itu menancap hanya mengalami retak kecil saja.


"Keras sekali batu ini, pasti efek kristal pusaka ini" pikir Agni.


Hingga 50 pukulan selanjutnya, batu itu belum juga hancur, itu telah menghabiskan banyak energi qi Agni. Ia meminum pil pengumpul qi dan beristirahat sejenak sebelum melanjutkan. Setelah 100 kali pukulan dengan tinju besi dan tapak sasra birawa, akhirnya Agni dapat menghancurkan batu itu.


"Hehehe... Aku beruntung sekali" Agni memasukan batu itu kedalam cincin penyimpanannya.


Kemudian ia hendak kembali ke permukaan,


"Ah ..tanggung, airnya sekalian"

__ADS_1


"Sssrrrooooosssshhhhh" Agni menyerap seluruh air di kolam tersebut ke dalam cincinnya hingga kering.


"Dengan begini aku tak perlu repot-repot pergi ke tempat ini kalau harus mandi" pikirnya.


Agni kemudian keluar dari kolam yang telah kering itu. Sampai diatas, hari telah gelap, ketika akan mengenakan pakaian, Agni lupa belum mencuci pakaiannya itu. Karena tak menyiapkan ember, Agni mengeluarkan tungku tempatnya memasak dan mencuci pakaiannya menggunakan tungku itu dengan air kolam yang berada di cincinnya.


Setelah mencuci, tanpa menunggu pakaiannya kering, ia segera mengenakannya. Dengan inti api yang ia punyai, bukan hal sulit untuk mengeringkan pakaian yang ia kenakan.


Agni melesat terbang. Belum ada lima menit melayang di udara, Agni merasakan aura membunuh yang kuat dari tiga ekor hewan iblis.


"Wuuutthhh...wuuutth.....wuuutth"


Agni menghindari terkaman dari tiga ekor kelelawar. Lagi-lagi hewan raksasa. Kelelawar itu mempunyai rentang sayap hampir 10 meter, mereka bertiga berada di ranah kaisar tahap menengah.


"Huh... Apakah semua hewan disini berukuran raksasa" gerutu Agni.


Dengan kekuatan Agni saat ini yang berada di ranah Demigod tahap awal, membunuh 3 ekor kelelawar itu semudah membalikkan telapak tangan.


Naas benar nasib kelelawar itu, mereka pikir Agni yang menyembunyikan auranya itu adalah mangsa yang empuk, ternyata mereka malah menanduk gunung dan berakhir di dalam cincin penyimpanan Agni.


Aura-aura gelap dari tiga kelelawar itu berpindah ke tubuh Agni. Kali ini Agni telah menyadari, itu adalah aura membunuh.


Selama perjalan kembali ke formasi yang dibangunnya, beberapa kali Agni bertemu hewan iblis ranah kaisar selain tiga kelelawar tadi. Kali ini ia tak ingin melewatkan kesempatan. Agni membunuh semua hewan iblis yang ia temui dalam jalur perjalanannya.


Sampai di tujuannya. Agni menyerap inti hewan iblis yang ia dapatkan. Kini kemampuan agni menyerap inti hewan ranah kaisar menjadi jauh lebih cepat, hanya dalam waktu 30 menit ia telah menyerap habis satu inti qi. Titik qi nya bertambah 2 titik. Kemudian satu lagi inti hewan yang ia serap, menambah 1 titik qi, dan inti ketiga yang ia serap sudah tidak menambah titik qi nya.


Setelah itu, Agni memasak daging macan kumbang untuk makan malamnya, dan melanjutkan sisa malam dengan meditasi sebelum memejamkan mata sejenak saja.


Esok hari, Agni berkeliling tidak terlalu jauh dari tempatnya. Setelah seharian penuh, Agni hanya menemui beberapa puluh hewan ranah kaisar saja dan telah membunuh mereka semua serta mengambil inti hewan dan bangkainya. Dan hal itu menambah pekat aura membunuh yang berada di tubuhnya.


Tentang kristal yang Agni temukan di dasar kolam, Agni ingin mengetahui terlebih dahulu benda apakah itu. Sepertinya itu bukan kristal biasa, Agni belum memutuskan akan menyerapnya atau tidak. Selain itu, ia merasa itu akan bermanfaat untuk rencananya nanti.


Sehari-hari hanya itu saja yang dilakukan Agni hingga hari ke 10 sejak ia datang ke tempat itu. Setiap hari Agni menambah radius berkelilingnya, telah ratusan ekor hewan iblis yang ia bunuh. Dan pada malam harinya, ia manfaatkan untuk meditasi dan melatih kultivasinya


"Kemana pemilik suara itu, sudah sepuluh hari aku disini, bagaimana keadaan keluargaku, semoga mereka baik-baik saja dan berlatih dengan baik"


Hari terus berganti, tak terasa sudah satu bulan Agni berada di tempat itu. Ia semakin gelisah, pasti keluarganya mengkhawatirkan keadaan dirinya. Namun Agni belum mengetahui bagaimana cara untuk kembali ke dunianya. Tiba-tiba saja, suara yang dinantikan Agni terdengar menggema di dalam kepala Agni.


"Hahaha... Aku tak tahu takdir apa yang disiapkan untukmu hingga kau mempunyai keberuntungan seperti itu anak muda, aku tak menyangka hanya dalam sepuluh hari kau dapat menyesuaikan diri di daerah terendah alam hewan iblis ini, juga dengan mudah mengambil benda pusaka kristal air mata dewi itu"


Keterkejutan adalah hal pertama yang dirasakan Agni saat mendengar suara itu.


"Apa dengan mudah? Tak kurang 100 pukulan tinju besi dan tapak sasra birawa yang menghabiskan energi qi ku dibilang mudah...???" Pikir Agni dalam hati. Di dunianya, bahkan Agni bisa menghancurkan gunung dengan 100 pukulan itu. Bahkan suara itu juga menyebut ini area terendah dari alam hewan ibl, padahal hampir semua hewan yang Agni temui berada di ranah Kaisar.


"Maaf leluhur, tapi, bolehkah aku tahu siapakah leluhur ini?"


"Hahaha... Namaku Som Tang Chong, aku telah mengetahui segala hal tentangmu, tenang saja, kau tak perlu khawatir tentang waktu. Satu hari diduniamu, sama dengan satu tahun di alam ini?" Kata suara bernama Som Tang Chong itu.


"Be... benarkah leluhur, jadi....???" Agni masih belum percaya.

__ADS_1


"Hahaha... Hahaha....hahaha...." Suara tawa Som Tang Chong berkepanjangan sebelum perlahan hilang dari kepala Agni.


__ADS_2