
"i...ii...ini...oh... Yan Lee..." Berguncang hati Fang Yuen saat membaca pesan yang tertulis di layang-layang perak. Huruf-huruf yang terangkai belepotan berwarna merah itu, masih dapat ia baca dengan jelas.
Yan Lee adalah pengikut keluarga Fang yang telah sangat terbukti kesetiannya, meski itu hubungan antara seorang tuan dan pengikutnya, namun Fang Yuen telah menganggap Yan Lee bagai saudara kandungnya sendiri. Itu karena mereka telah tumbuh besar bersama.
Fang Yuen menyalahkan dirinya sendiri karena terlalu terburu-buru untuk memerintahkan Yan Lee menyelidikki Agni. Ternyata firasatnya benar,meski ranah Agni masih berada di Ranah Demigod tahap awal bintang 3, namun ia merasa Agni bukan orang yang sederhana.
Pemilik Pil Bunga Biru tak bisa diremehkan, bahkan itu akan mengundang perhatian banyak pihak. Jika bukan seorang kultivator yang kuat, pasti punya latar belakang yang tidak biasa, entah itu sebuah sekte atau seorang Guru yang sangat kuat. Karena tidak mungkin Agni sendiri yang membunuh Yan Lee yang telah berada di ranah Demigod tahap akhir bintang 1.
Membunuh? Benar sekali, setidaknya Fang Yuen mengira Yan Lee telah menemui celaka karena tugas yang baru saja ia berikan kepada Yan Lee. Itu karena layang-layang perak yang ia berikan kepada Agni, telah kembali kepadanya dengan sebuah pesan berdarah. Yang dikira Fang Yuen, itu adalah darah Yan Lee.
Membalas dendam bukan tindakan yang bijak, berdiam diri juga membuat dada Fang Yuen makin sesak.
Namun tiba-tiba saja Fang Yuen merasakan aura yang sangat ia kenali.
"Yan Lee... Dia masih hidup!" Batin Fang Yuen, tiba-tiba saja mengalir rasa lega dihatinya. Layang-layang perak bertulis pesan peringatan ia masukan kedalam cincin penyimpanannya.
"Tuan, maafkan aku... Uhukk..uhukk" Yan Lee telah ada di hadapan Fang Yuen, wajahnya masih tampak pucat, walaupun serangan Agni padanya tidak sampai menimbulkan luka dalam, namun dadanya masih terasa sesak meski telah menelan pil penyembuhan yang ia milikki.
Sementara Fang Yuen, meskipun telah menganggap Yan Lee itu saudara kandungnya sendiri, namun ia tidak bisa serta merta menampakkan ekspresi kegembiraannya karena Yan Lee masih selamat, itu juga demi menjaga posisinya. Keduanya telah saling mengerti akan hal itu.
"Katakan bagaimana kau bisa terluka" tanya Fang Yuen.
"Tuan benar, orang itu tidak sesederhana yang dilihat, Agni sendiri yang telah mengalahkanku, bahkan aku tak berkutik sama sekali di hadapannya" terang Yan Lee.
"Apa...????"
"Kau jangan bergurau Yan Lee, dia hanya berada di ranah Demigod tahap awal!" Fang Yuen masih belum bisa mempercayai apa yang dikatakan Yan Lee.
"Seandainya aku berada di tahap akhir bintang 3 sekalipun, aku belum tentu mampu mengalahkannya Tuan"
"Kami telah bertukar puluhan jurus, aku benar-benar terdesak, tapi orang itu sama sekali tak terlihat kesulitan dengan semua gerakannya. Kemudian, ia seolah melonggarkan serangannya, kesempatan itu aku gunakan sebaik mungkin, aku mengerahkan tenaga sepenuhnya ketika kakiku mengenai perutnya, aku sangat terkejut Tuan, dia hanya mundur beberapa langkah saja tanpa terasa kesakitan sama sekali"
Fang Yuen mendengarkan dengan seksama, itu membuatnya sangat terkejut, ia mengetahui benar bagaimana kekuatan ranah Demigod tahap akhir meskipun masih berada di bintang 1, namun ia berisyarat agar Yan Lee melanjutkan ceritanya.
"Tak ada kesempatan bagiku untuk memenangkan pertempuran itu Tuan, aku berniat melarikan diri, namun tiba-tiba saja tubuhku menjadi sangat berat, tak hanya itu, ketika ia bertanya siapa diriku, suaranya membuat dada dan telingaku berguncang hebat"
Kemudian Yan Lee mengatakan pesan Agni kepada Fang Yuen.
"Kita benar-benar telah menyinggung orang yang salah Yan Lee. Kita harus segera menemuinya untuk menyatakan permintaan maaf. Akan menguntungkan bagi asosiasi Bintang Mayora jika dapat berhubungan baik dengan Agni, sebaliknya, akan sangat membahayakan jika ia memusuhi kita" ujar Fang Yuen.
"Dia bahkan masih sangat muda, aku tak bisa membayangkan kekuatan apa yang ada di belakang anak itu" pungkas Fang Yuen.
__ADS_1
Setelah beberapa saat perbincangan, Yan Lee meninggalkan Fang Yuen untuk memulihkan dirinya.
Fang Yuen memeriksa kembali layang-layang perak milik Agni yang baru saja ia keluarkan dari cincinnya. Ia memicingkan mata memandang warna merah tulisan tersebut, menyentuh rangkaian huruf-huruf yang masih agak basah itu dengan ujung jari telunjuknya, kemudian saling menggesekkan jari telunjuk dan ibu jarinya, diakhiri dengan mencium aroma ujung jari tersebut,
"Djuamputt... Saos Abece...!!!"
***
Sementara itu di Sekte Tapak Macan, semua tetua yang masih bertahan di sekte itu, sangat terkejut mendengar adanya Pil Bunga Biru di Balai Lelang Pucuk Harum. Apalagi pil itu dimenangkan oleh Lin Mewu yang membuat Jaya Pamungkas semakin geram.
"Pil itu memang masih pil langit bintang 3 Tuan Besar, tapi dari auranya, itu tidak kalah dengan pil Suci bintang 1" terang Hui Ja.
"Sekalipun itu pil bumi juga akan menjadi perhatian besar Hui Ja, selain bahan-bahan pil itu sangat langka, tidak mudah membuat pil itu. Selama ini, hanya alkemis pihak kekaisaran saja yang bisa membuatnya" terang Jaya Pamungkas.
"Pantas saja Lin Mewu memberikan lencana sektenya pada seseorang di salah satu ruang yang ia sebut sebagai pemilik pil itu" timpal Hui Ja.
Kehadiran Lin Mewu di pelelangan itu sudah cukup membuat Jaya Pamungkas geram. Ia tahu niat Lin Mewu hanya untuk memastikan kekalahan Jaya Pamungkas untuk memenangkan pertaruhannya. Meski tanpa dihalangi Lin Mewu pun, itu sudah sangat sulit bagi Sekte Tapak Macan untuk memenangkan pertaruhan. Tak disangka pil Bunga Biru malah muncul di pelelangan itu, Lin Mewu pula yang mendapatkannya.
"Kita harus mencari tahu siapa orang itu, mungkin itu akan bisa membantu kita" pungkas Jaya Pamungkas.
Kabar mengenai Pil Bunga Biru telah menyebar di telinga seluruh sekte dan keluarga, baik yang besar, menengah, maupun sekte-sekte kecil. Bahkan kabar itu telah sampai di istana kerajaan Yun.
Walaupun perintah itu tertuju pada semua pembesar kerajaan di istana kekaisaran Yun, namun Jendral Khong Guan lah yang paling bertanggung jawab atas titah tersebut. Titah kaisar Yun itu sebagai isyarat agar semua pembesar kerajaan memberikan kerjasamanya dalam rangka kelancaran tugas Jendral Khong Guan.
Atas titah kaisar itu, Jendral Khong Guan memerintahkan divisi intelejennya bertindak cepat, ia juga meminta pada asosiasi alkemis Kekaisaran untuk memberikan data alkemis di luar kekaisaran, yang mungkin mempunyai kemampuan untuk membuat pil Bunga Biru.
Agni benar-benar tidak menyadari, tindakannya melelang Pil Bunga Biru telah memancing seluruh pihak untuk mencari tahu segala informasi mengenai dirinya.
Dengan adanya pil itu, seorang alkemis akan mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Sebagaimana yang telah diketahui, seorang alkemis lah yang sangat berperan meningkatkan kekuatan para kultivator dengan ramuan obat dan pil-pil buatan mereka.
Mempunyai alkemis yang kuat, akan sangat membantu satu sekte atau keluarga besar untuk meningkatkan kultivasi anggota mereka. Tentunya itu akan membantu meningkatkan posisi mereka di mata sekte atau keluarga besar yang lainnya.
Sebaliknya bagi pihak kekaisaran, hal tersebut justru akan mempersulit kerja mereka. Sebenarnya adalah satu hal yang baik jika sekte atau keluarga yang berada di wilayah kekaisaran Yun mempunyai kekuatan besar, itu akan membuat Kekaisaran yang lain berpikir dua kali untuk membuat perkara dengan Kekaisaran Yun. Namun di lain sisi, itu akan semakin sulit bagi Kekaisaran untuk bisa mengendalikan sekte-sekte itu.
Beruntung bagi Agni, dia sama sekali adalah orang baru di alam tengah hewan iblis, maka tak ada satupun informasi mengenai Agni. Satu-satunya pihak yang mengetahui pemilik Pil itu hanyalah Asosiasi Bintang Mayora melalui manager Balai Lelang Pucuk Harum, Fang Yuen.
Siapapun tahu bagaimana kredibilitas Asosiasi Bintang Mayora, telah turun-temurun ratusan tahun asosiasi ini dikenal sebagai pihak paling netral dan kredibel dalam bidangnya. Selain balai lelang dan berbagai sumber daya,
sumber informasi adalah satu hal yang membuat asosiasi tersebut disegani. Tentunya juga kekuatan besar dibelakangnya. Tak ada yang tahu seberapa besar kekuatan di balik asosiasi, namun juga tak ada yang berani untuk mengujinya.
Dengan harga tertentu, semua pihak bisa mendapat informasi yang di inginkan dari asosiasi, namun sebaliknya, jika asosiasi menyatakan melindungi informasi satu pihak, maka harga berapapun tak akan mampu membeli informasi tersebut.
__ADS_1
Dengan kekuatan semacam itu, bahkan pihak kekaisaran pun tak berani ceroboh untuk menekan Asosiasi Bintang Mayora. Andai pihak kekaisaran berani melakukanya, bukan hanya kekuatan dibelakang asosiasi, bahkan tidak sedikit sekte besar ataupun keluarga-keluarga besar yang akan melindungi asosiasi.
Sementara itu di rumah Harjaya, Agni telah memperingatkan penghuni rumah itu agar tidak sembarangan keluar dari formasi perlindungan gunung, terutama Harjaya sendiri yang menemani Agni ke kota Guziko. Sejak peristiwa utusan Fang Yuen itu, Agni merasa harus lebih berhati-hati kedepannya.
Mahisa Agni hanya anak petani dari desa di pulau kecil yang terletak jauh di ujung selatan Benua Nusantara. Namun kini ia tumbuh dengan memilikki kekuatan yang bahkan tak pernah ia mimpikan sebelumnya. Seiring pertumbuhan kekuatannya, kecerdasan dan intuisinya pun semakin berkembang pula.
"Untuk sementara waktu sebaiknya kalian tidak keluar dari formasi perlindungan gunung, terutama paman sendiri, mereka telah mengetahui wajah Paman, aku khawatir mereka tidak akan berhenti sampai di situ saja" kata Agni kepada penghuni rumah Harjaya.
"Kami akan mengikuti kata-katamu Agni, tapi...." Harjaya menghentikan kata-katanya.
"Aku tahu maksud Paman, tentunya paman khawatir dengan apa yang terjadi pada Sekte Tapak Macan, sejujurnya aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk mambantu saudari Wilis dan juga keluarga paman untuk mendapatkan kembali kehidupan kalian sebelumnya, karena itu aku akan mencari informasi terlebih dahulu untuk menentukan langkahku selanjutnya" kata Agni.
Itu membuat semua orang di rumah itu tertunduk dan tak tahu harus berkata apa, selain mengucapkan terima kasih. Agni bukanlah siapa-siapa mereka, bahkan mereka baru beberapa waktu saja mengenal Agni. Namun Agni telah memberikan bantuan yang sangat besar kepada mereka.
"Sudahlah Saudari Wilis, Paman, tak perlu terlalu sungkan, aku telah menganggap kalian sebagai keluargaku di alam ini, kesulitan kalian kesulitanku pula" kata Agni, kemudian ia melanjutkan.
"Oya, kalian harus meningkatkan kemampuan, aku punya sesuatu untuk kalian, terutama kau Andara, marilah kita ke halaman belakang" ajak Agni.
Saat di halaman belakang, Agni mengeluarkan satu hewan iblis yang telah mati, agak kurang enak dibaca jika author menyebutnya "bangkai" hewan iblis.
"Hewan iblis....??????" Semua orang kecuali Agni, terkejut saat satu hewan raksasa yang mirip kambing, keluar dari cincin penyimpanan Agni.
"Aku tak tahu nama hewan itu Paman, yang jelas itu mirip kambing, hanya saja dia punya taring dan berekor tiga" kata Agni.
"Tapi itu mahal sekali Agni, hanya ranah SoulGod yang biasanya bisa membawa hewan iblis, apakah itu berarti kau telah berada di ranah SoulGod Agni?" Tanya Harjaya.
Karena adanya hewan itu, baik Harjaya dan keluarganya maupun Ayu Wilis, kini menjadi yakin bahwa Agni telah berada di ranah SoulGod.
"Terserah kalau kalian ga percaya, aku masih berada di ranah Demigod tahap awal, sudahlah, aku yakin daging hewan ini akan bermanfaat bagi kalian, aku sudah merasakan sendiri manfaatnya" kata Agni.
"Oya, apakah inti hewan ini bisa kalian manfaatkan?" Tanya Agni kemudian.
"Kalau hanya dagingnya saja bermanfaat untuk kami, apalagi intinya Agni" jawab Harjaya.
"Wuuttt" Agni mengeluarkan lima inti hewan iblis, sekali lagi itu benar-benar membuat semua orang sangat terkejut.
Beberapa waktu kemudian mereka segera membersihkan hewan iblis itu, hanya dalam sekejap saja Agni telah membuatnya menjadi potongan-potongan daging yang telah siap untuk di olah.
Hari-hari selanjutnya Agni membimbing mereka untuk berlatih. Namun ia fokus terhadap Ayu Wilis, Arini dan Andara. Sedangkan Harjaya dan Lasmita, keduanya telah cukup berumur, sehingga kemampuan tubuhnya untuk berkembang telah menurun.
Setiap malam tiba, ia akan kembali ke tempatnya untuk melatih dirinya sendiri, itu harus dilakukannya demi menghadapi segala sesuatu yang tidak diketahuinya kedepan.
__ADS_1