
"Amukan iblis neraka...hyaaahhhhh" teriak Ming Goman.
Itu adalah jurus pedang, tidak tanggung-tanggung, Ming Goman ingin segera menyelesaikan pertempuran itu. Ia mengerahkan kekuatan terbesarnya. Puluhan pedang hitam yang tercipta dari energi qi yang terkondensasi muncul dari ruang hampa di belakang Ming Goman, bersaman dengan ayunan pedang ditangannya, puluhan pedang itu melesat berputar-putar ke arah Agni.
Begitu juga dengan Agni, Ia pun tak ingin memperlama pertempuran itu.
"Jurus memukul seribu anjing gila"
Sama halnya seperti Ming Goman, bayangan tongkat berwarna hijau tua menyala keluar dari ruang hampa dibelakang Agni. Bahkan jumlah tongkat-tongkat itu jauh lebih banyak dari pada puluhan pedang Ming Goman.
"Dumm...dumm...boommm..."
Berkali-kali suara ledakan terdengar ketika serangan dari kedua orang yang bertanding itu berbenturan dan menimbulkan kepulan asap serta lobang yang cukup besar di halaman itu.
Namun bayangan tongkat-tongkat Agni ternyata jauh lebih kuat dan apalagi jauh lebih banyak. Belum hilang kepulan asap diantara mereka, tongkat-tongkat Agni terus melaju menghantam tubuh Ming Goman.
"Booommm...bommm..booom..." Suara ledakan yang menghantam tubuh Ming Goman masih terdengar beberapa kali sebelum akhirnya tubuh Ming Goman hancur bagaikan debu. Tak berhenti sampai disitu, aura gelap muncul dari sisa-sisa ledakan itu. Kemudian semakin menipis dan menghilang, namun sebagian aura itu justru merasuki tubuh Agni tanpa Agni bisa menolaknya.
Agni mendekati lubang bekas ledakan tubuh Ming Goman, ia tak menyangka hasilnya justru jauh diluar dugaan Agni. Bahkan serangan itu menghancur leburkan tubuh Ming Goman. Inilah pengalaman pertama Agni membunuh seseorang, ada perasaan tidak nyaman dalam hatinya, namun ia berusaha menerima hal itu, bagaimanapun, Ming Goman telah mencelakakan banyak orang, bahkan menghilangkan nyawa puluhan anak tak berdosa.
Pedang Ming Goman tergeletak disana, Agni tak mengacuhkannya, namun ia melihat sebuah cincin di dekat pedang itu. Dengan kekuatan spiritualnya, ia mengambil cincin itu.
"Cincin penyimpanan" kata Agni dalam hati. Namun ia tak menyampaikan diri untuk melihat isi dalam cincin itu.
Agni kemudian melihat sekelilingnya, ternyata hanya tinggal satu orang saja yang masih tersadar dalam keadaan payah. Itu adalah Sun Zia, istri dari Ming Goman yang berada pada ranah raja tahap akhir. Dua adik Ming Goman dan dua anaknya yang berada pada ranah raja juga telah pingsan karena Agni telah menghancurkan dantian mereka.
"Aampun tuan muda, aku berjanji akan menjadi orang yang baik tuan muda" Ujar Sun Zia yang jelas tak akan mampu berbuat apa-apa.
"Hancurkan dantianmu" kata Agni tegas.
"Lebih baik kau bunuh aku anak muda!" Sun Zia hanya wanita yang sudah cukup berumur, jika dia laki-laki, masih memungkinkan untuk menjalani hidup tanpa kultivasi, dia lebih memilih mati daripada harus menghancurkan dantiannya.
Tapi Agni tak peduli dengan semua itu, Agni telah bertekad untuk menghancurkan dantian semua anggota keluarga Ming, termasuk pula para pengawalnya. Agni menilai, keluarga Ming telah lama merusak tatanan hidup di kotanya itu. Tanpa banyak pertimbangan, Agni sendiri yang menghancurkan dantian wanita itu dengan sisa batu yang masih disimpannya.
Wanita itu membelalakan mata, tersirat kebencian yang mendalam pada Agni. Mukanya merah padam. Namun sejenak kemudian, karena tak mampu menahan tekanan yang ia rasakan dalam hatinya, wanita itu menjadi pingsan pula.
Dengan kekuatan spiritualnya, Agni mengumpulkan semua orang yang pingsan ditempat itu pada satu tempat. Kemudian ia menghancurkan satu persatu semua dantian mereka.
__ADS_1
Agni melesat cepat menuju bagian belakang kediaman keluarga Ming, ia masih merasakan aura kehidupan yang lainnya di tempat itu. Namun yang Agni rasakan bukanlah aura seorang kultivator.
"Itu pelayan-pelayan keluarga ini, beruntung mereka tak terkena efek ajian Gelap Ngampar, rumah ini memang sangat besar sekali, mungkin lebih pantas disebut istana" kata Agni dalam hati.
Kemudian Agni menuju salah satu ruangan dimana sumber aura kehidupan itu berada dan membuka pintunya. Terlihat beberapa orang ketakutan karena kedatangan Agni.
"Urusi orang-orang yang pingsan itu"
Hanya itu saja yang di ucapkan Agni, sebelum akhirnya ia melesat pergi meninggalkan kediaman keluarga Ming dan menjemput Dirjo yang masih berada di pasar sebelum akhirnya kembali kerumah mereka.
******
"Tetua Hu, bagaimana menurut tetua?" Tanya Chen Rui
"Entahlah Tetua Rui, aku tak tahu ini hal baik atau hal buruk, kita harus menunggu, Ming Bao Ze pasti akan turun gunung untuk mencari pemuda itu, kita sebaiknya menunggu Patriark" jawab tetua Chen Hu.
Keluarga Chen adalah keluarga terkuat kedua di kota Ngalam. Berbeda dengan keluarga Ming, keluarga Chen memilikki hampir 200 anggota keluarga, namun ranah kultivasi keluarga Chen selisih jauh dibanding keluarga Ming. Dari 10 tetua keluarga Chen 8 orang berada di ranah raja tahap awal, dan 2 orang yang berada di raja tahap menengah, dan Patriark mereka, hanya berada di ranah raja tahap akhir.
Sedangkan keluarga Ming, walaupun anggota keluarga mereka hanya sedikit, namun kultivasi anggota keluarganya jauh lebih baik. Itu karena keluarga Ming menyadari minimnya sumber daya di pulau Jawa. Sehingga keluarga itu lebih fokus untuk meningkatan kultivasi anggota keluarga mereka.
Dan inilah yang lepas dari ketiga guru Agni ketika mencari informasi. Sebelum hadirnya Agni menjadi murid mereka, mereka hanya fokus untuk melindungi keluarga Agni, sehingga tak terlalu memperhatikan bagaimana keadaan kota Ngalam.
Ming Bao Ze, adalah kakek dari ming Goman, leluhur keluarga Ming yang berada di ranah kaisar tahap menengah saat meninggalkan kediaman keluarga Ming. Itu berarti telah lebih dari 5 tahun ia meninggalkan kediaman keluarga Ming dan melatih kultivasinya di Gunung Putri Tidur.
****
"Semoga pemuda itu menghancurkan keluarga Chen pula" kata Arya Sena.
"Aku juga berharap demikian, tapi siapakah pemuda itu?" Sahut Ismoyo.
"Aku dengar namanya Mahisa Agni Guru, dia hanya seorang anak petani yang tinggal di desa Lowok" jawab Risang.
"Jadi bagaimana Guru?" Tukas Singamerta.
"Kita tak boleh terburu-buru, tapi yang jelas, kita harus mendekati pemuda itu" jawab Ismoyo yang dipanggil Guru oleh lainnya.
Adalah Perguruan Bajrageni, ranting dari perguruan Pagar Nusa di wilayah selatan jawa. Mereka tidak menyebut kelompok mereka dengan sebutan sekte seperti orang-orang pendatang pada umumnya, karena anggota perguruan mereka adalah penduduk asli pulau jawa. Namun itu hanya perbedaan istilah saja.
__ADS_1
Seperti halnya keluarga Chen, perguruan Bajrageni juga memilikki cukup banyak murid, sekitar seratus lebih sedikit. Namun mereka hanya memilikki 4 murid utama yang berada di ranah raja tahap awal, dan 1 orang di ranah raja tahap menengah. Sedangkan Ismoyo, orang yang disebut guru itu berada di ranah Raja tahap akhir. Dan ranah rata-rata murid perguruan Bajrageni, masih berada di bawah kelurga Chen.
Dua dua keluarga yang lainnya adalah keluarga Surajaya dan keluarga Kwon, yang memiliki jumlah anggota keluarga sekitar 80-90 orang. Keduanya tidak terlalu terlibat dalam persaingan dengan 3 kekuatan yang lainnya karena keluarga mereka adalah keluarga keturunan campuran dari penduduk asli dan para pendatang. Tapi pengaruh kedua keluarga itu masih cukup besar di pasar-pasar yang ada di kota Ngalam.
****
Beberapa hari setelah itu, berita hancurnya keluarga Ming telah menyebar di seluruh kota Ngalam. Kebanyakkan tetangga Agni merasa senang mendengar berita itu, karena keluarga Ming, terutama tiga bersaudara putra Ming itu selalu berbuat sesuka hatinya. Namun ada juga yang tidak senang dengan itu, karena itu berarti Agni telah berpotensi mengundang kerusuhan di desanya.
Agni juga telah melihat isi cincin penyimpanan yang diambilnya dari sisa-sisa tubuh Ming Goman. Itu berisi beberapa kotak koin emas dan perak, surat-surat penting, beberapa pil penyembuhan dan pil lainnya tingkat menengah. Dan juga kitab sesat yang di pelajari Ming Goman. Isi kitab itu sungguh mengerikkan, dan Agni memilih memusnahkan kitab itu.
"Aku tak menyangka kau sekuat itu Ngger, kau benar-benar menghancurkan keluarga Ming seorang diri" Mahisa Pukat yang awalnya meragukan anaknya, kini menjadi sangat bangga kepada Agni.
"Iya, kakang hebat sekali, kakang harus mengajariku, tidak bisa tidak" ujar Rara Kencana memaksa.
"Tapi kau harus tetap hati-hati Ngger, sebagai seorang ibu, aku masih terbayang rasa khawatir Ngger" agak berbeda dengan Puspandari, bagaimanapun memang dia adalah wanita, yang mempunyai perasaan lebih halus dari pada seorang laki-laki.
"Iya Ibu, aku akan waspada dan akan berusaha meningkatkan kemampuan untuk menjadi lebih kuat agar bisa menjaga diriku sendiri dan juga keluarga kuta" jawab Agni.
"Ayah, ibu, benar kata Rara, sebaiknya Ayah Ibu juga berlatih kultivasi, itu akan bermanfaat bukan hanya untuk melindungi diri saja"
"Horeee... Aku mau Kang... Aku mau" kata Rara bersemangat.
"Tapi apakah bisa Agni?" Ayah Agni yang selama ini berpandangan negatif terhadap dunia kultivasi, menjadi antusias karena melihat Agni sekarang.
"Aku akan membatu Ayah, aku yakin, kelima guruku juga tidak akan keberatan, sejak saat ini ayah tak perlu bekerja, biarlah sawah kita itu di urus orang lain" kata Agni.
"Kau jangan bercanda Agni, lalu bagaimana kita akan memenuhi kebutuhan hidup kita" kata ibunya.
"Ini bukan sekedar cincin Ibu, ini namanya cincin penyimpanan. Lihatlah ini" kemudian Agni mengeluarkan setumpuk koin emas di atas meja yang membuat keluarganya benar-benar terkejut.
"Bag... bagaimana mungkin Ngger?" Seru Ayahnya.
"Kakang, ini... Kita kaya Kang, ini emas sungguhan Kang?" Mata Rara Wulan berbinar melihat tumpukkan koin emas itu.
"Benarkah ini Agni" kata Puspandari sambil mengambil beberapa koin emas.
"Hehehe... Sudahlah ayah ibu, jangan terlalu terkejut, aku masih mempunyai banyak sekali koin koin yang lainnya bahkan jika aku keluarkan semua, rumah ini pun tak akan cukup untuk menampungnya" kata Agni yang membuat keluarganya semakin terkejut.
__ADS_1
"Aku akan segera mengatur waktu agar kita semua bisa berlatih, mungkin nanti malam kita bisa mulai. Oya, ayah ibu, dan terutama kau Rara, jangan mengember tentang koin emas ini pada tetangga-tetangga kita, aku khawatir akan tidak baik akibatnya" pesan Agni kepada keluarganya.