
Agni mengira, makan malam itu akan ia lalui bersama Harjaya saja, atau setidaknya, bertiga dengan Andara, putra bungsu Harjaya. Namun ternyata setelah masakan Lasmita siap, mereka semua duduk bersama dalam satu meja makan. Kalau hanya dengan Harjaya dan istrinya bersama putra bungsunya, tak menjadi soal, namun dua gadis muda anak dan anak asuh Harjaya itu, membuat Agni jadi canggung. Agni hanya merasa itu kurang pantas, namun Agni tak bisa menolak ketika Harjaya dan Lasmita mempersilahkannya.
Bagi Harjaya sendiri, sebenarnya hal tersebut bukanlah sesuatu yang biasa dilakukan, apalagi ketika mereka masih berada di Villa Anggrek Bambu, kediaman Wiraja. Hal seperti itu dilakukan hanya dengan sanak kerabat atau orang-orang terdekat saja.
Akan tetapi Harjaya memang mempunyai tujuan khusus. Melihat Agni, Harjaya berharap Ayu Wilis bisa menjalin hubungan yang dekat dengan Agni, bukan hubungan kasih asmara, cukup hubungan sahabat atau mungkin bisa menjadi saudara kakak beradik saja, dengan begitu, mungkin akan dapat membantu Wilis di masa-masa mendatang.
"Kalau begitu aku akan mencoba tidak sungkan-sungkan. Paman, Bibi, jangan menyesal kalau aku menghabiskan jatah makan malam kalian" canda Agni.
Mereka tertawa mendengar Agni bicara,
"Hihi... Kau boleh menghabiskan semuanya Agni, Asal kau sisakan sedikit untuk Andara, aku akan kebingungan kalau dia tak bisa tidur karena kelaparan" kata Lasmita.
"Andara, kau dengar, kita bagi berdua saja, kau makan jatah kedua kakakmu, aku akan memakan jatah ayah ibumu, bagaimana?" Gurau Agni.
"Tidak ah Kak, aku lebih rela kelaparan dari pada harus merasakan cubitan jari-jari mereka berdua" jawab Andara yang disambut cubitan Arini dan mengundang tawa semua yang ada di meja makan itu.
Pembawaan Agni yang mudah mengakrabkan diri itu membuat suasana makan malam itu menjadi hangat, Ayu Wilis dan juga Arini tidak banyak bicara, karena bagaimanapun mereka adalah seorang gadis, sehingga mereka merasa harus lebih bisa menjaga sikap dan menjadi pendengar setia saja. Namun hal tersebut tak mengurangi suasana kehangatan makan malam itu.
"Ayah, ibu, andai kalian ada disini..." Kata Ayu Wilis dalam hatinya, telah cukup lama ia tak merasakan kehangatan suasana seperti malam itu.
Selepas makan malam, Agni bermohon diri. Mungkin hanya sekedar basa-basi, Harjaya menawarkan Agni untuk bermalam saja di rumah itu. Tapi Agni menolaknya, dengan makan malam itu saja seharusnya sudah agak tak pantas, apalagi jika dia harus bermalam di rumah itu. Itu karena dua gadis muda yang berada di rumah itu.
"Terima kasih paman, walaupun pengelana, aku sudah mempunyai tempat yang kusiapkan untuk tempatku bermalam, Paman tenang saja, aku akan sering-sering datang kemari" pungkas Agni.
Setelah mohon diri, Agni bergegas pergi, ia melesat terbang kembali menuju tempat persembunyiannya sendiri. Ternyata jarak dari rumah Harjaya ke tempat Agni cukup jauh, dengan kecepatan tinggi, ia membutuhkan waktu lebih dari satu jam untuk sampai ke tempatnya bersembunyi.
Mengingat hanya untuk membuat formasi perlindungan gunung ternyata setara dengan menghabiskan 3000 koin emas, membuat Agni melihat kembali semua persediaan yang ada dalam cincin penyimpanannya.
"Tak kusangka batu-batu ini sedemikian mahalnya"
Agni tak pernah memikirkan hal tersebut, lima tahun waktunya hanya digunakannya untuk berlatih dan berlatih saja. Saat pertama kali mengetahui gunungan emas dan perak itu saja sudah membuatnya sangat terkejut, ternyata batu-batu itu bahkan puluhan kali lebih mahal dari sekedar koin emas.
Andai nanti Agni mengetahui tanaman-tanaman herbalnya, pil-pil nya, juga harta yang lainnya yang ada di dalam cincinnya jauh lebih mahal daripada koin emas dan batu-batu itu, mungkin Agni bisa muntah darah dibuatnya.
Hari-hari selanjutnya Agni berkunjung kerumah Harjaya untuk mendengarkan segala informasi yang ia perlukan dari orang itu juga dari Ayu Wilis. Karena satu dan lain hal, Agni masih belum bisa mengatakan siapa dia sebenarnya kepada keluarga itu, keluarga Harjaya dan Ayu Wilis pun dapat mengerti.
****
Di sekte Tapak Emas tengah diadakan pertemuan para tetua,
"Laporkan!!!" Tagih Tuan Besar Jaya Pamungkas.
__ADS_1
"Bulan ini 45 murid menyatakan keluar, penghasilan restoran, rumah bordil dan penginapan menurun 10%, paviliun obat mengalami kondisi terparah dengan penurunan hingga 40%" lapor tetua ke 6, Amigo.
"Lanjutkan" ujar Jaya Pamungkas kepada tetua lainnya dengan menahan perasaannya.
"Sekte alas roban memutus pasokan bahan obat yang kita butuhkan Tuan Besar" imbuh tetua ke 5 Jun Kyo
"Cih, mereka semakin berani tidak memberi muka pada kita" saut Gao Yuan, tetua pertama sekte Tapak Macan.
"Kalau terus seperti ini, Sekte Alas Roban akan menggeser kita dari posisi 6 sekte besar" keluh Tuan Besar Jaya Pamungkas
"Murid dari sekte Rubah Salju juga semakin berani memancing keributan pada murid-murid sekte kita" imbuh tetua ke 10, Samijan.
"Bukan hanya memancing, mereka sudah membuat keributan dengan menindas murid-murid kita Tetua Samijan" Tetua ke 8 Hui Ja menyauti kemudian melanjutkan.
"Laporan itu baru saja kuterima sore tadi Tuan Besar" pungkasnya
"Brughh" Jaya Pamungkas memukul tangkai singgasana tempatnya duduk.
"Kita harus balas mereka Tuan Besar" sela Aryasena tetua ketiga Sekte Tapak Macan.
Jaya Pamungkas mengusap mukanya mencoba mengurangi tekanan di kepalanya.
"Bagaimana mau membalas? Apa kau akan turun tangan sendiri dan menghajar murid-murid rubah emas Aryasena? Itu sama saja memancing Lin Mewu turut campur, kau tahu persahabatan Sekte Rubah Salju dengan Sekte Beruang Emas? Masih ditambah hubungan mereka dengan Kaisar Yun?" Kata Jaya Pamungkas tajam.
"Jun Kyo, bagaimana aula dagang Tugu Monas?"
"Aula Dagang Tugu Monas bersedia menyediakan yang kita butuhkan, namun harga yang diberikan 10% lebih mahal dari yang diberikan Sekte Alas Roban Tuan Besar" jawab Jun Kyo.
"Sudahlah, saat ini itu yang kita butuhkan, pil paviliun obat kita butuh pil-pil tingkat langit agar bisa bersaing" ujar Jaya Pamungkas.
Beberapa waktu kemudian pertemuan itu berakhir. Kerut wajah Jaya Pamungkas begitu terlihat masam dengan kondisi yang dialami sekte yang dipimpinnya saat ini.
"Andai kau masih disini Wiraja" keluh Jaya Pamungkas dalam hati.
Sebelumnya, sumber penghasilan Sekte Tapak Macan yang paling besar adalah dari paviliun obatnya. Wiraja selama ini banyak memberikan kontribusinya untuk melambungkan nama paviliun obat milik Sekte Tapak Macan, selain Wiraja sendiri yang merupakan tetua Alkemis di sekte, juga berkat kerja Wiraja lah Sekte Tapak Macan bisa menjalin hubungan baik dengan Sekte Alas Roban, sehingga mendapatkan pasokan bahan obat yang lebih murah.
****
Sementara itu, melalui Harjaya, semakin banyak informasi yang Agni dapatkan dari hari ke hari. Pada satu waktu Harjaya kembali memperbincangkan saat pertama kali mereka bertemu.
"Maaf Agni, sebenarnya aku ada sesuatu yang mengganjal, semoga tidak menyinggungmu" kata Harjaya.
__ADS_1
"Silahkan Paman, tak usah sungkan" balas Agni.
"Beberapa hari mengenalmu, aku tak melihat sama sekali ciri-ciri orang yang menakutkan pada dirimu, bahkan sejujurnya aku memilikki penilaian yang sangat baik padamu, tapi...."
"Paman terlalu memuji... Tapi... Tapi mengapa Paman?" Agni heran Harjaya menghentikan kata-katanya.
"Maafkan aku, sekali lagi semoga engkau tak tersinggung. Saat engkau menghalau serangan Pradipta padaku, juga saat kau menghardiknya, aku sempat melihat sesuatu yang menurutku sangat mengerikkan darimu, aku..."
"Teruskan Paman, tak usah sungkan, aku benar-benar tak akan tersinggung" Agni telah menebak sesuatu.
"Aku melihat aura membunuh yang kuat padamu Agni, aku yakin, selain karena kau menyembunyikan aura kultivasimu, namu juga karena aura membunuh itu pula yang Pradipta tak berani mengambil resiko untuk melawanmu" kata Harjaya menurunkan nada suaranya.
"Baiklah Paman, sekarang atau nanti Paman juga akan mengetahui siapa aku sebenarnya, mungkin aku memang harus berterus terang sekarang" jawab Agni.
Harjaya mengerutkan dahi mendengar jawaban Agni. Kemudian Agni menceritakan perjalananannya hingga bisa sampai ke tempat itu, namun ia tak bercerita tentang membunuh macan kumbang raksasa. Ia merasa ada yang tak beres dengan macan itu, karena saat di alam rendah hewan iblis, hanya Macan Kumbang itu satu-satunya yang ia temui berada di ranah Demigod.
"Begitulah Paman, aku berharap paman bisa membantuku"
"Kau telah menyelamatkan nyawaku dan juga Nona Wilis Agni, bahkan tanpa ragu engkau juga menghabiskan banyak batu roh tingkat tinggi hanya untuk melindungi kami, aku bukan orang yang tak tahu budi Agni, nyawaku berada di tanganmu"
"Paman....! Jangan berkata seperti itu, memang benar aku mengharapkan balasan atas apa yang aku lakukan, hanya sekedar untuk memberiku informasi tentang alam ini, itu juga demi keselamatanku sendiri, bukan berarti paman harus bersikap seperti itu, sudahlah Paman, jangan seperti itu" sergah Agni.
"Terima kasih Agni, paman sangat bersyukur bertemu denganmu, inilah untuk pertama kalinya aku bertemu ras manusia sebenarnya"
"Begitu pula denganku paman, baru pertama kali ini pula aku bertemu iblis berwujud manusia....hehehe... Kalau begitu, aku tak akan sungkan-sungkan lagi untuk bertanya segala sesuatunya pada Paman, bolehkan? Hehehe..." Tanya Agni.
"Sudah kubilang aku akan membantumu semampuku, apa aku harus membelah dadaku?"
"Hahaha... Paman ini... Tapi boleh juga kalau Paman mau coba" Lepas berkata seperti itu, Agni tiba-tiba terkejut karena Harjaya mengeluarkan sebuah pisau dari cincin penyimpanannya.
"Paman...!!!" Sergah Agni sambil memegang tangan Harjaya yang menggenggam pisau.
"Kenapa, aku mau menyembelih Ayam buat makan kita. Apa kau tak mau?" Kata Harjaya.
"Pingin tak hiiiiihhh..." Gerutu Agni mendongkol karena dikerjai Harjaya.
"Hehehe... Marilah..." Ajak Harjaya.
Sejak hari itu, Agni jadi terpikirkan akan aura membunuh yang dimilikkinya.
"Jika aku bisa mengendalikan aura kultivasiku, bukan tidak mungkin aku bisa menyembunyikan aura membunuh ini juga" pikirnya.
__ADS_1
Maka hari-hari berikutnya, setiap malam Agni selalu bermeditasi untuk memahami bagaimana sifat-sifat dari aura membunuhnya itu. Karena hal itu pula, Agni mengurangi waktunya untuk berkunjung ke rumah Harjaya. Bahkan kadangkala, meditasinya itu membuatnya lupa waktu, baru sekejap saja ia memejamkan mata untuk bermeditasi berusaha memahami bagaimana aura membunuh itu bekerja, ternyata ia telah menghabiskan satu hari satu malam, bahkan kadang lebih dari itu.
"Tak kusangka sesusah ini" keluh Agni pelan.