Pendekar Tongkat Pemukul Anjing

Pendekar Tongkat Pemukul Anjing
Ep 6 - Warisan


__ADS_3

Kitab itu mulai terbuka dan menunjukkan gambar orang duduk dengan sikap lotus yang bersinar di bagian bawah perutnya.


Perlahan, gambar itu berubah menjadi sebuah titik hitam dan bergerak-gerak menulis bagaikan sebuah pena. Saat lembaran pertama itu telah terisi penuh, titik hitam tersebut terus bergerak menulis, sementara huruf-huruf yang telah berada di bagian atas akan keluar dari lembaran kitab dan melayang memasuki kepala Agni.


Agni kembali dibuat terpukau menyaksikan keajaiban demi keajaiban yang hanya dalam beberapa hari ini ia alami. Huruf-huruf itu kini melayang-layang didalam pikirannya, berkumpul bab demi bab.


Rupanya gambar pertama adalah penjelasan rinci tentang segala macam hal mengenai dantian dan bagaimana cara berkultivasi tahap demi tahap serta penjelasan tentang kultivasi itu sendiri.


Hal yang sama terjadi di lembar selanjutnya yang berisi penjelasan tentang segala hal tentang kekuatan jiwa dan kekuatan fisik serta bagaimana cara melatihnya. Sedangkan lembar ketiga berisi penjelasan tentang kekuatan mental dan spiritual.


Di lembar yang ke empat hingga terakhir, gambar orang yang memegang tongkat itu bergerak meragakan sebuah jurus, disertai beberapa tulisan yang menerangkan bagian-bagian gerakan yang cukup sulit. 9 gambar tersebut adalah 9 jurus tongkat yang berbeda.



Jurus mengusir anjing masuk gang.


Jurus menggebuk anjing buduk.


Jurus memukul sepasang anjing.


Jurus menjinakkan anjing.


Jurus anjing masuk goa.


Jurus anjing melompati sungai.


Jurus memukul seribu anjing gila.


Jurus di dunia tiada anjing.


Jurus anjing dilempar batu.



Setelah semua isi dalam kitab itu telah berpindah ke dalam kepala Agni, kedua orang tua itu melakukan gerakan dengan sebelah tangan yang lain. Kini pancaran sinar keluar dari kedua tangan orang tua itu menuju pangkal tombak, dan pancaran sinar dari ujung tongkat yang lainnya, menjadi semakin besar menyoroti kitab pemukul anjing yang kini telah kosong.


"Boom... Boom... Duaarrr... Duaaar..."


Berkali-kali terdengar ledakan di iring kepulan asap dan juga sambaran petir di sekitar kitab kosong itu. Hingga beberapa waktu, ledakan dan sambaran petir itu terus terjadi.


"Wuuusshhh"


Ketika ledakan dan sambaran petir itu telah usai, perlahan kepulan asap mulai menghilang.


Ternyata kitab kosong itu kini telah menjadi sebuah baju semacam baju zirah yang juga berwarna hijau keemasan.


Seperti halnya isi kitab yang melayang memasuki kepala Agni, kini baju itu juga melayang berada di depan dada Agni. Perlahan baju zirah itu melekat ke dada Agni di iringi suara teriakan Agni karena merasakan kulit dadanya bagai di ditusuk ribuan jarum dan menjalar ke seluruh tubuhnya.


Agni terengah-engah saat proses penyatuan baju zirah dan tubuhnya itu telah selesai. Setelah mengatur nafasnya, Agni menyadari bahwa dia telah menerima satu kitab pusaka dan sebuah baju gaib yang ia belum mengetahui fungsinya. Karena itu Agni segera terduduk dengan kedua lututnya dan bersujud memberi hormat kepada kedua orang tua di depannya.

__ADS_1


"Murid mengucapkan terima kasih dan memberi hormat pada kedua Guru" kata Agni dengan suara mantab.


"Hahaha.... Aku lebih suka kau panggil Eyang Cu" jawab Chua Pek Dong.


"Hahaha... Sebenarnya aku juga menginginkan panggilan tersebut, tapi biarlah aku mengalah pada bocah sinting ini, aku terima hormatmu, berdirilah" timpal Takada Tanaga.


Kemudian Chua Pek Dong menjelaskan isi kitab tongkat pemukul anjing dan bagaimana Agni harus mempelajari kitab tersebut tahap demi tahap. Disusul dengan penjelasan baju zirah oleh Takada Tanaga.


"Baju zirah yang tak lain adalah kertas dari kitab tongkat pemukul anjing itu, terbuat dari kulit badak emas bercula satu, hewan buas tingkat dewa yang berusia lebih dari 500 ribu tahun, baju itu akan menambah armormu beberapa kali lebih kuat, setidaknya engkau bisa menahan serangan seorang kultivator dua tingkat di atasmu, bahkan jika kau memiliki fisik yang mumpuni, armor itu akan mampu menahan serangan kultivator tiga atau empat tingkat di atasmu" kata Takada Tanaga menjelaskan.


"Sekali lagi Murid mengucapkan terima kasih pada Eyang dan Guru, murid berjanji akan berlatih dengan giat dan akan memanfaatkan kemampuan murid untuk membela kebenaran dan menghapus orang-orang jahat dari muka bumi seperti kesatria baja hitam" kata Agni penuh semangat.


"Hahahaha.... Lagakmu... Bocah Edan, kau memang pantas jadi murid Bocah sinting itu, tapi siapa Ksatria baja ringan.. eh... Ksatria baja Hitam yang kau sebut itu?" Tanya Takada Tanaga.


"Anu...anu guru... Murid hanya ikut author saja" jawab Agni sambil garuk-garuk kepala.


"Hahaha... Dasar author gemblung"


Kata kedua orang tua itu sembari mengeluarkan jurus mereka mengarah layar ponsel, menyerang kedua jari jempol sang author yang sedang mengetik di layar ponselnya.


Akibatnya, jari sang author kesemutan hingga memerlukan waktu untuk istirahat sejenak.


------------------------istirahat-------------------------


"Sekarang giliranku" kata Takada Tanaga kemudian mengeluarkan sebuah kitab yang seolah keluar dari dari ruang hampa. Hal itu kembali memunculkan rasa penasaran Agni ketika melihat Chua Pek Dong mengeluarkan meja dan papan catur dengan cara yang sama seperti Takada Tanaga mengeluarkan kitab.


"Hahaha... Ini kuberikan engkau satu" jawab Takada Tanaga sambil melepas satu dari dua cincin yang melingkar di jari manis dan jari tengahnya. Kemudian melemparkannya kepada Agni.


"Memang hanya kau saja yang punya hei Ular sawah? Ini Cu" ujar Chua Pek Dong tak mau kalah dan melemparkan juga satu cincin kepada Agni.


Bergantian Agni telah menangkap kedua cincin dari kedua gurunya.


"Terima kasih Guru, tapi cincin apakah ini?" Tanya Agni sambil memandangi cincin tersebut.


"Itu cincin penyimpanan, kau bisa menyimpan banyak benda didalamnya bergantung ukuran cincin itu. Teteskan darahmu pada mata cincin dan alirkan qi pada cincin itu agar bisa menggunakannya" terang Chua Pek Dong.


Agni masih merasa bingung dengan penjelasan Chua Pek Dong, namun ia melakukannya seperti apa yang dikatakan Eyangnya dengan menggigit jarinya dan mengalirkan qi pada kedua cincin itu. Kemudian Agni memakai kedua cincin itu di jari manis dan jari tengahnya. Cincin itu bisa menyesuaikan ukurannya sendiri dengan jari pemakainya, sehingga kedua cincin itu menjadi pas di kedua jari Agni yang masih berukuran kecil.


Betapa Agni terkejut dan membelalakan mata lebar-lebar ketika melihat mata cincin pemberian Takada Tanaga. Sebuah ruangan yang sangat besar berisi gunungan koin emas, perak,perunggu dan bebatuan aneh berwarna-warni yang Agni belum pernah melihatnya. Didalamnya juga ada berbagai macam tanaman aneh dan ratusan botol-botol obat yang tersusun rapi dalam rak-rak.


Begitu juga ketika Agni melihat isi cincin pemberian Eyangnya, tak kalah menakjubkan dengan cincin yang diberikan Takada Tanaga.


"Aaa...apakah aku tidak bermimpi Eyang, Guru...???" Tanya Agni.


"Hahaha... Kau mirip sekali sama monyet tersedak pisang" kata Takada Tanaga sambil tertawa di ikuti tawa Chua Pek Dong.


"Hahaha...kau hanya perlu menggunakan pikiranmu untuk mengeluarkan dan memasukkan segala macam benda mati kedalam cincin itu, tapi ingat...." Chua Pek Dong terhenti dari perkataanya yang belum selesai karena melihat Agni telah mengeluarkan setumpuk besar koin emas dari cincin yang dipakainya.


"Bodoh benar kau Cuuuuu......." Chua Pek Dong berteriak geram.

__ADS_1


"Hahaha... Aku jadi semakin yakin dia memang pantas jadi muridmu bocah sinting" Takada Tanaga menimpali dengan tertawa sambil memasukkan tumpukan emas itu pada cincin yang masih dipakainya.


Terlihat Agni terengah-engah seperti kehabisan nafas dan merasakan sesak di dadanya.


"Bukankah sudah aku bilang kau hanya bisa membawa beberapa benda saja ke dalam alam jiwamu, dasar bocah gendeng"


Hukum di alam jiwa memang agak aneh. Agni hanya bisa menampung benda di dalam alam jiwanya sebatas tingkat kultivasi dan kekuatan fisiknya. Sedangkan cincin penyimpanan, hanya membutuhkan sedikit qi saja. Namun akan berbeda jika isi dari cincin penyimpanan di keluarkan dalam alam jiwa, maka akan kembali kepada hukum asal alam jiwa. Jika melebihi beban, bukan hanya menguras habis qi yang dimilikki Agni, namun juga membebani fisiknya, akibat yang fatal bahkan bisa menghilangkan nyawanya dengan membuat dadanya sesak bagai tertimbun gunung.


"Lalu bagaimana dengan Eyang dan guru? Bagaimana bisa berada di alam jiwaku tanpa mengganggu?" Tanya Agni masih dalam kebingungannya.


"Aku dan Ular Sawah ini hanya roh saja, dan barang-barang yang kubawa, berada dalam kendaliku, tidak akan mempengaruhi alam jiwamu" jelas Chua Pek Dong.


"Lalu Eyang, apakah engkau hanya bisa menampakkan diri di alam jiwa saja, apakah tidak bisa di dunia nyata?"


"Bocah gendeng, apakah kau pikir ini tidak nyata?" Saut Takada Tanaga.


"Maksudku...." Balas Agni terputus.


"Hahaha... Aku suka melihat mukamu yang kebingungan itu" kata Takada Tanaga.


"Kujelaskan, bisa saja kami menampakkan diri di alam fana yang kau maksud itu. Tapi akan sangat menguras qi, bahkan energi kehidupan roh, jika tak berhati-hati, maka roh kami bisa musnah selama-lamanya" jelas Takada Tanaga.


Agni telah cukup memahami penjelasan kedua orang itu. Kemudian ia bertanya lagi tentang isi cincin penyimpanan.


"Tapi, bagaimana bisa eyang dan guru memilik harta yang begitu, apakah benar-benar Eyang dan Guru memberikannya padaku?"


"Hahaaha.... Cu, apa kau percaya, sebelum menjadi roh, kami telah hidup ribuan tahun?"


Awalnya Agni meragu, namun didalam kitab tongkat pemukul anjing tadi, telah dijelaskan bahwa seorang kultivator bisa memilikki usia yang sangat panjang, bahkan dalam tahap Immortal, tingkat di atas SoulGod, seseorang bisa hidup abadi.


"Jika aku hidup ribuan tahun, apakah tidak mungkin bisa memilikki timbunan harta?" Tanya Chua Pek Dong lagi.


Agni kini memahami penjelasan Chua Pek Dong, walau sebenarnya penjelasan Eyangnya itu belumlah lengkap.


"Kau boleh memilikinya, harta itu juga sudah tak berguna bagiku" terang Chua Pek Dong.


"Tanaman itu adalah tanaman herbal, kau bisa menggunakannya sesuai tingkatanmu, nanti kau akan memahaminya perlahan"


"Botol-botol, berisi pil penyembuhan dan pemulih tenaga"


"Sedangkan batu warna-warni itu disebut batu roh, warna hijau batu roh biasa, warna biru tingkat menengah, dan warna merah batu roh tingkat tinggi. Batu itu berguna untuk membantu meningkatkan kultivasimu dan biasa digunakan sebagai alat tukar sebagaimana halnya uang." Chua Pek Dong menerangkan.


"Sudahlah, bersiaplah bocah, kini giliranku" ujar Takada Tanaga menyudahi keterangan Chua Pek Dong.


Orang tua itu melayangkan kitab yang telah dikeluarkannya, kemudian mengeluarkan pedang yang melilit pinggangnya. Tidak hanya satu, namun dua pedang bersamaan. Satu pedang agak lebih panjang dari pedang yang lainnya. Kedua pedang itu di benua Dai Nippon, biasa disebut katana, namun pedang milik Takada Tanaga ini memilikki gagang yang lebih pendek dari pada katana pada umumnya.


Setelah memainkan kedua pedang tersebut dengan gerakan yang rumit, Takada Tanaga mengakhiri gerakannya dengan mengacungkan kedua pedangnya mengarah ke kitab pusakanya.


Kitab Jalan Pedang.

__ADS_1


__ADS_2