Pendekar Tongkat Pemukul Anjing

Pendekar Tongkat Pemukul Anjing
Ep 17 - Menghancurkan Keluarga Ming. bag.1


__ADS_3

Berdasar informasi yang Agni terima dari ketiga gurunya yang saat ini sedang berada di dunia kecil, keluarga Ming adalah keluarga terkuat dari lima keluarga praktisi di kota Ngalam. Patriak keluarga mereka adalah Ming Goman, yang berada pada ranah Kaisar tahap awal, dan istrinya Sun Zia berada pada ranah Raja tahap akhir, mempunyai 5 orang anak, dua anak pertama ranah raja tahap awal, dan ketiga anak yang lainnya kini berada pada ranah jendral tahap menengah, jendral tahap awal, dan terakhir adalah ranah perwira tahap akhir.


Ming Goman mempunya dua adik laki-laki yang keduanya berada pada ranah Raja tahap akhir. Masing-masing mempunyai 3 orang anak. Istri dan anak mereka paling tinggi berada pada ranah Raja tahap awal, dan perwira tahap menengah. Mereka mempunyai 20 pengawal yang berada di ranah perwira tahap akhir, dan pemimpin pengawal yang berada di ranah Jendral tahap awal.


Agni saat ini berada pada ranah Kaisar tahap menengah, dan telah mempunyai 30 titik qi. Sebuah kekuatan yang masih diluar nalar untuk seorang kultivator muda berusia 17 tahun.


Dengan kualitas tulang dan otot serta jurus-jurus tingkat tinggi, baju zirah badak emas dan titik qi yang dimilikki Agni, bahkan kekuatan Agni saat ini akan mampu menghadapi lawan 2 tingkat diatasnya, atau mungkin lebih dari pada itu.


Dengan perhitungan-perhitungan itu, Agni yakin akan bisa menghadapi keluarga Ming meski hanya sendirian saja.


"Eyang, Guru, aku akan segera melakukan rencana awalku" kata Agni kepada dua guru yang ada di dalam alam jiwanya.


"Hahaha... Lakukan Cu... Ini akan menjadi ujian pertamamu menghadapi lawan sebenarnya" jawab Chua Pek Dong.


"Meskipun begitu, aku ingatkan, jangan pernah meremehkan musuh-musuhmu" pesan Takada Tanaga.


"Baik Guru" pungkas Agni


Ketiga anak Ming Goman, tidak lain adalah 3 ming bersaudara yang sering kali menindas Dirjo dan juga mengakibatkan Agni pingsan, mempunyai kebiasaan di pagi hari untuk minum teh di salah satu kedai di pasar di desa Agni, yang memang pasar itu dikelola oleh keluarga Ming.


Maka pagi itu, Agni bersama Dirjo, pergi ke pasar itu. Sejak kembali ke desanya, hari-hari Agni tak lupa menyembunyikan auranya, termasuk pula hari itu.


Memang pucuk di cinta ulam pun tiba, beberapa belas meter lagi Agni akan sampai di kedai yang dimaksud, dari arah berlawanan, nampak 3 Ming bersaudara bersama dengan 5 pengawalnya.


"Jo, sebaiknya kau menghindar dulu" seru Agni.


"Kau yakin Ag, aku...." Beluma selesai Dirjo menyelesaikan kata-katanya, Agni memotongnya.


"Sudahlah, cepat... Aku akan baik-baik saja"


Biasanya, ketika Ming bersaudara ini melalui satu jalan, orang-orang disekitarnya pasti akan minggir untuk menghindari masalah dengan keluarga Ming. Tapi Agni sengaja mencari masalah, ia pun masih melangkah ditengah jalan sambil bersiul dan bertelekan tongkatnya.


"He... Siapa kau pikir dirimu, berani menghalangi jalanku" ming Tan yang berada di ranah jendral tahap menengah menghardik Agni.


"Eh, maaf tuan, kenapa tuan marah-marah, aku hanya memakai jalan sebatas ukuran tubuhku, jalanan juga masih lebar tuan" jawab Agni acuh.


"Lancang, kau tidak tahu siapa tuan muda ini hah? rasakan ini" seorang pengawal dibelakang Ming bersaudara segera meloncat maju tanpa ragu untuk menampar Agni, pengawal itu melihat Agni baru ranah perwira tahap menengah saja.


"Dugh" Agni sengaja menerima pukulan pengawal itu. Ia tak khawatir sama sekali pukulan pengawal itu akan melukainya, apalagi baju zirah badak emas melekat ditubuhnya.


"Aduh, sakit tuan, kenapa kau memukulku... Aduduh...duh...duh" keluh Agni berpura-pura sambil berjongkok menggosok-gosok pipinya.


Pengawal itu terheran-heran, dengan tenaganya, setidaknya Agni tersungkur beberapa langkah atau bahkan terlempar karena tamparannya. Namun Agni hanya mengaduh kecil saja tanpa berkisar dari tempatnya.


"Anak ini...!!!" Pengawal itu menggeram, merasa pukulannya tak berakibat serius pada Agni, ia melayangkan tendangan dengan mengerahkan lebih banyak qi mengarah tubuh Agni.


"Bugh" tendangan itu memang telak memukul lambung Agni, tapi Agni tak peduli dengan tendangan itu, ketika kaki pengawal itu menyentuh lambung Agni, dengan cepat Agni mengarahkan sikunya ke pergelangan kaki pengawal itu. Tak ada yang menyadari pukulan Agni itu.

__ADS_1


Agni kembali mengaduh berakting kesakitan, namun pengawal itu tiba-tiba saja ambruk dan mengerang karena tulang pergelangan kakinya bagikan telah remuk.


"Dasar pengawal tak berguna, menghadapi semut saja tak becus" Ming Hautse tak sabar, ia melompat dan menendang Agni.


"Buaghh" Agni menerima pukulan itu, kemudian meloncat mundur selangkah dan berdiri, ia masih dalam aktingnya.


"Apa...?" Ming Hautse tak percaya, ia telah mengerahkan qi dalam tendangannya, tidak mungkin ranah perwira tahap menengah bisa menahannya, namun Agni hanya mengaduh kecil saja.


Sementara Dirjo yang menyaksikan hal itu dari jauh, telah dipenuhi rasa kekhawatiran karena melihat Agni mulai dipukuli.


"Aduuhhh... Dasar tuan muda monyet.. kalau begini aku akan melawan, kalian memang pantas di musnahkan" seru Agni.


Ming Tan, turut terheran pula melihat Agni yang ranah perwira tahap menengah bisa menahan serangan Ming Hautse yang berada di ranah jendral tahap awal. Tapi dasar mereka pemuda yang tinggi hati. Giliran Ming Tan yang panas telinga mendengar kata-kata Agni.


"Lancang, dasar semut, mati sana...!" Ming Tan menerjang Agni dengan pukulannya.


"Bugh"


Meskipun Agni telah berkata akan melawan, ia sengaja menerima pukulan-pukulan Ming Tan untuk mempermainkannya. Sementara Ming Tan terus menyerang Agni.


"Bugh...bagh...dugh"


"Aduh...duh..duh...sakiiiittt.... Tapi bo'ong...." Agni mengolok pukulan Ming Tan.


"Baiklah, majulah kalian bersama, biar kalian tahu kalau kalian itu cuma t*i semut" seru Agni mulai serius.


Suara senjata saling beradu mengeluarkan percikan-percikan api dari benturan itu. Agni memadukan jurus irama petir yang merupakan jurus tangan kosong, dengan tongkat pemukul anjingnya. Agni menahan semua serangan ketiga bersaudara itu sambil terus berceloteh menghina kemampuan ketiganya.


Puluhan jurus telah dikerahkan ketiga Ming bersaudara. Sementara orang-orang disekitar pasar itu, menyingkir demi menghindari masalah, dan para pengawal Ming bersaudara hanya terdiam saja menyaksikan pertarungan yang bukan dalam jangkauan mereka itu.


"Inikah jurus pedang andalan keluarga Ming? Kupikir hanya batang-batang sumpit keropos dimakan rayap saja" ejek Agni.


Ketiga nya semakin panas, merasa serangan mereka tak mampu menembus pertahanan Agni, ketiganya pun melompat mundur dan secara bersamaan, ketiganya bersiap memberikan jurus andalan mereka.


"Pedang hitam pengoyak bumi... Hyaaaa...." ketiganya berteriak bersama, sinar hitam kemerahan dengan bentuk tak beraturan keluar dari ujung-ujung pedang mereka dan melesat ke arah Agni.


Agni terlihat sangat santai menghadapi jurus lawannya itu. Bahkan Agni berdiri tegak sambil menyilangkan tangan kiri di belakang punggungnya. Tangan kanan mengangkat tongkat bersiap menghalau serangan Ming bersaudara.


"Slaaassshhhh"


Dengan satu ayunan tongkat saja, Agni menghalau ketiga serangan itu dan menjadikannya kepulan asap tipis.


"A...apa....???? Ketiganya benar-benar tak percaya jurus andalan mereka dihalau hanya dengan satu ayunan tongkat.


"Sii...siapa kau?" Tanya Ming Tan.


"Kau tak ingat siapa aku, baiklah... Sekarang giliranku wahai t*i semut" seru Agni.

__ADS_1


"Terimalah ini... Jurus tongkat memukul sepasang Anjing" serunya.


"Bugh...bugh" Ming Hautse dan Ming Yu terlempar beberapa meter kebelakang.


Sementara Ming Tan, tertunduk menahan tekanan tongkat Agni dipundaknya.


"Ini, biar kau ingat siapa aku....cuih...!!!" Agni meludahi muka Ming Tan. Kemudian mendorongnya dengan ujung tongkat hingga terjengkang.


Ming Tan adalah orang yang 5 tahun meludahi Agni di pasar itu pula.


"Bagaimana? Sudah ingat...?"


Dasar memang ketiga Ming bersaudara itu tak bisa melihat tingginya langit, ketiganya bangkit dan sekali lagi mengerahkan semua tenaganya untuk menyerang Agni.


"Amukan pedang hitam...hiaaaa"


Tiga sinar hitam pekat sekali lagi mengarah ke Agni.


"Benar-benar ta* semut tak punya cermin" dengus Agni. Kali ini Agni mengayunkan tongkatnya sebelum serangan itu datang. Sinar hijau keluar dari tongkat Agni, membentang sepanjang dua meteran menghalau ketiga serangan Ming bersaudara.


"Slassshhh...wussshhh...jessshhh" kepulan asap yang lebih besar dari sebelumnya keluar dari benturan sinar itu.


Agni tak ingin berlama-lama, segara ia melesat dengan jurus anjing melompati sungai. Lompatan Agni sangat cepat hingga mata Ming bersaudara tak mampu mengikuti gerakan itu.


Tiba-tiba saja lima pengawal Ming bersaudara mengerang dengan muka merah padam, Agni telah menghancurkan dantian mereka, itu lebih sakit daripada kematian bagi seorang kultivator. Sementara Ming Hautse dan Ming Yu telah melepaskan pedang mereka dan jatuh tersungkur.


Ming Tan juga telah kehilangan pedangnya, tapi ia masih tertunduk dengan tongkat Agni yang tiba-tiba saja ia rasakan menekan pundaknya.


"Cuih.... Cuihhh...grroookkk.... Cuihhh...cuihh...cuihhh..."


Agni benar-benar memuaskan diri dengan meludahi muka Ming Tan, bahkan dengan lendir dari lubang tenggorokannya.


"Bagaimana ta* semut.... Kau sudah ingat siapa aku" tanya Agni.


"Ampun...ampun senior... Tapi junior ini belum tahu siapa senior" jawab Ming Tan sambil mengusap mukanya yang penuh ludah Agni.


"Apa kau harus merasakan lebih banyak ludah untuk mengingat lima tahun lalu kau meludahiku?" Tanya Agni lagi.


Ming Tan berusaha mengingat kejadian lima tahun lalu, samar-samar mulai muncul ingatan dalam kepalanya. Sejenak kemudian, ia mengingat seorang manusia fana yang memukulnya hingga terlempar.


"Ka...ka....kau...? Akhirnya Ming Tan mengingat kejadian lima tahun lalu ketika ia meludahi anak petani yang memukulnya hingga terlempar.


"Kau...kau...kau apa...? Masih berani kau memanggilku tak hormat?" Agni memukul satu lengan Ming Tan lagi, satu lengan yang lain yang memegang pedang, pasti saat ini masih kesakitan. Dan karena pukulan tongkat Agni ini, kini kedua lengan Ming Tan menjadi kebas seolah mati rasa.


"Aamm...ampun senior... Aku tak berani..." Kata Ming Tan.


"Sekarang bawa aku kerumahmu, dan turuti kata-kataku, kalau tidak kuhancurkan dantianmu seperti para pengawalmu itu" seru Agni kemudian menendang dada Ming Tan yang membuat Ming Tan berguling-guling kebelakang.

__ADS_1


__ADS_2