
*warning.. rada-rada*
"Kyyaaaaaaaaaaa..........."
Jeritan panjang Ayu Wilis menggetarkan telinga Agni, karena kepala Ayu Wilis kini melekat erat di sisi kiri kepala Agni, kedua bibir gadis itu berada persis didepan gendang telinga Agni.
Kaki Ayu Wilis melingkari pinggul Agni kuat-kuat, begitu pula tangannya yang memeluk leher Agni erat-erat, membuat Agni tercekik dan susah untuk bernafas, namun itu tak berlangsung lama, belum ada satu menit terbang, pelukan Ayu Wilis melemas, cengkaraman kakinya meregang kemudian terkulai lemas, ternyata gadis itu kini telah pingsan di atas punggung Agni.
Dengan posisi terbang yang telungkup menghadap daratan, Agni memegang kedua lengan Ayu Wilis dengan satu genggaman tangan kanan, sedangkan tangan kirinya memegang pantai Ayu Wilis. Selain berusaha menyadarkan gadis itu, Agni juga berusaha untuk membuat pingsan adiknya Ucok yang tersadar.
"Saudari... Saudari Wilis... Bangunlah saudari..." Kata Agni sambil terus terbang dengan kecepatan cukup tinggi, jika dikonversi ke satuan KPJ, sekitar 140-150 km/jam.
Karena Ayu Wilis masib belum tersadar, Agni memperlambat laju terbangnya. Jika tadi dalam kecepatan tinggi adik si Ucok telah menuntut kesadaran, terlebih dalam kecepatan yang lebih lambat seperti saat ini, bagian tubuh Ayu Wilis yang melekat di punggungnya, dan juga tangan kiri Agni yang "terpaksa" memegang pantai Ayu Wilis, membuat adik si Ucok semakin meronta-ronta.
Bagaimanapun Agni adalah pria normal, dadanya masih berdebar kencang merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Bukan hanya Ayu Wilis, bagi Agni, ini juga pengalaman pertama kalinya berada didalam pelukan seorang gadis. Apalagi gadis itu mempunyai paras yang begitu cantik mempesona.
"Sialan, apakah gadis ini benar-benar dari ras hewan!" Umpat Agni dalam hatinya.
"Saudari Wilis, bangunlah saudari...." Agni masih berusaha membangunkan gadis itu.
Agni merasakan sebuah pergerakan. Perlahan kedua kelopak mata Ayu Wilis mulai terbuka. Pandangannya masih remang tiga detik pertama. Sembari mengumpulkan kesadaran, pandangan Ayu Wilis tertuju pada kedua lengannya yang tengah digenggam oleh seseorang. Detik berikutnya setelah kesadaran cukup terkumpul....
"Kyyaaaaaaaaaaa......"
sekali lagi jerit panjang keluar dari mulut gadis itu. Ia memejamkan mata dan kembali mencekik leher Agni erat-erat. Tak lupa kakinya mencengkram sepenuh tenaga pula ke paha Agni. Itu karena ketinggian yang Ayu Wilis rasakan.
"Saudari Wilis ... Tenanglah... Kau... mencekik.... leherku" Kata Agni mencoba menenangkan Ayu Wilis dengan suara terputus.
Mendengar perkataan Agni itu, Ayu Wilis berusaha menguasai kesadarannya. Perlahan ia membuka matanya. Hembusan angin yang cukup kuat membuat Ayu Wilis belum terbiasa untuk membuka matanya dengan sempurna.
Beberapa saat kemudian Ayu Wilis telah sadar sepenuhnya, namun ia masih merasakan kengerian karena sedang berada di ketinggian langit. Kepalanya masih sedikit pusing menatap segala sesuatu yang ada di bawahnya.
"Ma...maafkan aku saudara Agni" Ia kini menyadari dirinya tengah memeluk Agni rapat-rapat. Meski begitu, pelukan tangannya masih erat melingkari leher Agni.
"Saudari, bisa kau longgarkan tanganmu sedikit?" Kata Agni mengingatkan.
__ADS_1
"Oh.. ma....maaf" Ayu Wilis melonggarkan pelukannya, tangan kiri Ayu Wilis kini berada di pundak kanan Agni, sedang tangan kanannya berpegang ke dada Agni. Kesadarannya yang kini telah penuh justru membuatnya kembali tersipu, itu karena saat ini seorang pemuda tengah berada dipelukannya. Karena Ayu Wilis telah sadar, Agni melepaskan genggaman tangannya , dan justru kini kedua tangan Agni memegangi kedua paha Ayu Wilis bagian atas, hampir ke pantai. Dan Ayu Wilis bisa memaklumi hal itu.
"Tenanglah Saudari, kuasailah dirimu, kau aman bersamaku" kata Agni, namun tiba-tiba saja ia merasa telah mengatakan sesuatu yang aneh.
"Aku belum terbiasa saudara, bisa kau memperlambat lagi laju terbangmu?" Pinta Wilis. Kata-kata Agni yang terakhir juga membuat Ayu Wilis mengernyitkan dahi, karena tiba-tiba saja, Ayu Wilis ingin memaknai kata-kata Agni itu ke makna yang lebih dalam lagi. Namun ia cepat tersadar, maksud Agni hanyalah pada kondisi saat ini.
Agni menuruti kata Wilis, ia pun memperlambat lajunya sesuai yang diinginkan gadis itu. Kedua bibir Ayu Wilis yang begitu dekat di telinga Agni, membuat suara gadis itu berkesan lain di gendang telinga Agni.
"Bagaimana saudari Wilis?" Tanya Agni kemudian.
"Ini lebih baik, sejenak lagi aku pasti bisa menyesuaikan diri, dan saudara bisa mempercepat laju terbang saudara" balas Ayu Wilis.
Awalnya Agni memang ingin menempuh perjalanan itu secepat-cepatnya, namun beberapa menit terakhir, membuat pikirannya kacau.
Tangan Ayu Wilis yang merangkul lehernya, dada Ayu Wilis yang melekat di punggungnya, pantai Ayu Wilis yang dipegangnya, juga suara Ayu Wilis yang tiba-tiba saja terdengar begitu merdu, membuat naluri kelelakiannya bangkit. Itu juga membuat Adik si Ucok membutuhkan lebih banyak ruang.
Itu Agni belum mencium aroma harum tubuh Ayu Wilis karena hembusan angin saat mereka terbang. Andai Agni mencium aroma itu pula, tentunya ia akan lebih terkacaukan lagi.
Sementara Ayu Wilis juga sedang dalam angan-angannya sendiri. Sebenarnya, selama ini Ayu Wilis tak banyak berbicara dengan Agni. Mereka hanya bicara seperlunya saja, terutama mengenai pelatihan Ayu Wilis. Namun Ayu Wilis memang memandang Agni sedikit berbeda.
Selain telah menyelamatkan dirinya dari ancaman Pradipta, pemuda itu juga telah banyak sekali membantu dirinya dan keluarga Harjaya. Apalagi pembawaan Agni yang tenang namun menyenangkan dan pandai menghangatkan suasana, membuat Ayu Wilis menjadi terkesan kepada Agni. Dan tak disangkanya, saat ini Ayu Wilis tengah memeluk erat pemuda itu.
"Ternyata pemandangan dari atas langit begitu mempesona, senang sekali jika aku bisa terbang seperti saudara" Kata Ayu Wilis.
"Ini sebenarnya masih aneh bagiku Saudari, karena saat ini aku masih di ranah Demigod tahap awal, sedangkan saudari telah berada di ranah Demigod tahap menengah, tapi masih belum mempunyai kemampuan untuk terbang" Agni menanggapi.
"Aku juga tidak mengetahui alasannya Saudara, bukankah paman telah banyak bercerita padamu?" Balas Wilis.
"Hehehe... Entahlah, tetap saja membuat aku bingung" ujar Agni.
"Jika begitu, saudari harus berusaha lebih keras untuk menerobos, eh... Tapi sebelumnya maaf, selama ini kita saling memanggil dengan sebutan saudara, berbincang berdua seperti ini, memanggil saudari dengan sebutan saudari, terasa menjadi aneh bagiku" kata Agni.
Memang dengan panggilan mereka itu, keduanya jadi merasa ada sekat yang membatasi. Namun selama ini memang tidak terlalu menjadi masalah bagi Agni, apalagi ia tidak banyak bicara dengan Ayu Wilis sebelumnya, namun saat ini, justru ketika sedang berdua saja, panggilan itu terasa menjadi aneh.
"Saudara benar, aku juga menjadi aneh, jadi... Apakah kita akan merubah panggilan kita masing-masing? Kalau begitu aku akan memanggil saudara dengan Kakang saja seperti halnya Arini dan Andara, bagaimana?"
__ADS_1
"Sejujurnya aku lebih suka jika Saudari memanggil namaku langsung, bukankah kita masih seumuran?" Agni balik bertanya.
"Jika begitu, aku menurut saja Saudara"
"Jika menurut, kenapa masih memanggilku saudara? Aku akan memanggilmu Wilis, kau bisa memanggilku Agni"
"Iya, baiklah saudara, eh... Agni" balas Ayu Wilis sambil tersipu.
Didalam pembicaraan itu, Ayu Wilis baru saja menyadari sesuatu, ia mencium aroma harum yang bersumber dari rambut Agni. Memang Agni tak dapat mencium aroma harum tubuh Ayu Wilis, itu karena dia berada didepan, sedangkan Ayu Wilis yang berada di belakang Agni, meskipun samar dapat mencium aroma itu.
Agni harus berterima kasih pada Fang Zizi, karena aroma harum itu berasal dari minyak rambut yang ia berikan pada Agni ketika Fang Zizi mendadaninya. Dan itu bukan minyak rambut biasa. Itu berasal dari ramuan tanaman herbal tingkat tinggi, yang keharumannya beraroma maskulin dan melenakan serta bisa bertahan berbulan-bulan meski Agni telah mencuci rambutnya.
"Nha... Memang lebih enak didengar jika memanggil namamu langsung Wilis, oya, perjalanan ini akan cukup lama, kuharap engkau menikmatinya, jangan tertidur lagi Wilis" canda Agni.
"Iya Agni, ini akan sangat disayangkan jika dilewati hanya dengan memejamkan mata" Ayu Wilis menjawab Agni memaksudkan perkataannya pada pemandangan yang tengah dilihatnya. Bersamaan dengan itu, benar-benar tanpa disadarinya, aroma harum yang samar ia rasakan dari rambut Agni, membuat indra penciumannya sedikit bergerak mencari sumber keharuman itu.
Sementara Agni, yang sedari tadi tengah berjuang mengatasi adik si Ucok di antara pembicaraan mereka, merasakan gesekan kulit halus pipi Wilis pada bagian sisi kiri kepala, yang rambutnya tercukur lebih tipis. Itu membuat Agni berjuang lebih berat mengatasi adik si Ucok.
"Sialan, apakah beberapa jam kedepan aku harus tersiksa seperti ini!" Umpat Agni.
Tiba-tiba saja ayu Wilis menyadari keadaanya, itu membuatnya tersipu malu. Suasana menjadi canggung untuk beberapa saat.
"Wilis, kita akan terbang seperti dalam beberapa jam, apa kau sudah cukup nyaman berada di punggungku?" Tanya Agni memecah suasana itu.
"Aku sudah mulai nyaman Agni, sekarang justru menyenangkan bagiku" jawab Ayu Wilis, memanggil tanpa sebutan saudara, membuat keduanya menjadi lebih akrab dari sebelumnya.
Beberapa menit terbang dengan kecepatan yang lambat, dan Agni memang belum ingin mempercepatnya, membuat angin yang menghembus mereka, menghanyutkan angan mereka masing-masing.
Kembali tanpa disadari oleh Ayu Wilis, ia melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, bahkan kali ini Ayu Wilis melakukannya sambil memejamkan mata, hingga hidungnya menempel pada kepala Agni. Agni merasakan hal tersebut, kepalanya refleks bergerak pelan kekiri, membuat bibir Ayu Wilis menempel di pipi Agni.
Ayu Wilis bagai terhipnotis dengan keharuman yang memasuki indra penciumannya, apalagi selama ini Ayu Wilis juga mempunyai perasaan yang sedikit berbeda kepada Agni, meski ia selalu berusaha menekan perasaan itu.
Tanpa disadarinya, tangan kiri Ayu Wilis yang tadinya berada di pundak kanan Agni, telah bergeser di kepala Agni bagian kanan, dan menekannya perlahan ke arah wajahnya. Agni yang merasakan itu tak dapat menolak, apalagi telah sedari awal dia menahan gejolak.
Kini keduanya benar-benar tak mampu lagi untuk bertahan, bibir Ayu Wilis telah mencium pipi Agni dan perlahan merambat hingga ke mata kiri Agni. Agni mengikuti irama Ayu Wilis, ia telah menoleh ke kiri sepenuhnya, dan Ayu Wilis memajukan posisi kepalanya, itu membuat kedua bibir mereka telah memungkinkan untuk saling bertemu.
__ADS_1
Agni berhenti dan melayang di udara, perlahan namun dengan sigap Agni memindahkan posisi Wilis di gendongan depan dengan memeluk pinggang gadis itu. Kedua kaki Ayu Wilis melingkar di pinggul Agni, dan kedua siku tangan bertumpu pada pundak Agni dengan kedua telapak tangan memeluk lembut kepala Agni.
Pagi itu, Mahisa Agni dan Ayu Wilis melepaskan ciu man pertama mereka di atas langit.