
"Terima kasih telah mempercayakan pelelangan barang berharga Tuan Muda kepada kami" kata Fang Yuen ketika Agni dan Harjaya sudah berada di ruangannya.
"Sama-sama Tuang Fang, aku juga akan kesulitan melelangnya jika tidak ada Balai Lelang Pucuk Harum" jawab Agni.
"Apakah Tuan Agni ingin menerima pembayaran dalam bentuk koin emas atau uang kertas? Tanya Fang Yuen.
Agni masih belum mengerti maksud Fang Yuen, Agni memahaminya setelah menerima penjelasan dari Fang Yuen, namun Agni agak meragu, apakah uang kertas itu akan berlaku di dunianya.
Setelah berpikir beberapa saat, ia memutuskan untuk menerima uang kertas saja, karena kemungkinan ia masih akan lama di alam hewan iblis. Mengingat penjelasan Som Tang Chong tentang perbedaan waktu di alam itu dan di dunianya.
"Oya Tuan Agni, kami menyebut ini Layangan Perak, jika Tuan Agni ingin menghubungi kami untuk melelang benda berharga lagi, silahkan tuliskan pesan di kertas origami ini" kata Fang Yuen sambil memberikan sebuah kertas lipat berwarna perak.
"Njir... Beneran dapat layangan!!!" Batin Agni mengingat penjaga loket.
"Bagaimana aku menggunakannya Tuan Fang?" Tanya Agni.
"Setelah Tuang Agni menulis pesan, cukup rentangkan telapak tangan Tuan dan letakan itu di atas telapak" terang Fang Yuen.
"Baiklah, terima kasih Tuan Fang, oya bolehkan aku bertanya?" Agni ingin mengetahui perihal Sekte Tapak Macan.
"Silahkan Tuan Agni, mungkin aku bisa membantumu"
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan sekte Tapak Macan, mengapa seperti terlihat ada permusuhan dengan wanita sekte Rubah Salju?" Tanya Agni.
"Apakah Tuan Agni tak mengetahuinya? Kabar tantangan Tuan Besar Jaya Pamungkas kepada 5 sekte lainnya telah menyebar tidak hanya di kota Guziko, bahkan di seluruh wilayah kekaisaran Yun"
"Oh benarkah, kalau begitu aku terlalu lama menutup diri, terima kasih atas informasinya Tuang Fang" ujar Agni seolah terkejut.
"Kabar itu sudah banyak menyebar Tuan Agni, jika tidak dariku, Tuan pasti akan mendengarnya dari orang lain, jika Tuan Agni membutuhkan informasi lebih mendalam tentang segala sesuatunya, tuan bisa pergi ke asosiasi Bintang Mayora yang mengendalikan Balai Lelang ini, namun ada harga untuk setiap informasi" terangnya.
"Hmmm.... oya tuan Fang, karena asosiasi Bintang Mayora yang mengendalikan Balai Lelang Pucuk Harum, aku tak ingin lagi mengalami kejadian seperti saat memasuki Balai ini" kata Agni mengingat penjaga yang menghentikannya.
"Oh, maaf Tuan Agni, kami sungguh minta maaf atas kejadian tersebut" kata Fang Yuen sambil menundukkan kepala dalam-dalam, kemudian ia melanjutkan.
"Kami sudah memberhentikan petugas itu, kedepannya, akan menjadi koreksi bagi kami. Sebagai kompensasi atas ketidaknyamanan Tuan Agni, tolong terima ini Tuan Agni" kata Fang Yuen sambil memberikan sebuah kartu dan sebuah lencana.
"Seharusnya Tuan Fang tak perlu memberhentikannya, bagaimana kalau petugas itu benar-benar menyalahkanku kemudian mencariku Tuan?" Kata Agni sambil menerima sesuatu yang diberikan Fang Yuen. Bukan sebenarnya Agni merasa terancam oleh petugas loket tadi, namun Agni hanya ingin mencari tahu, sejauh mana kredibilitas Balai Lelang Pucuk Harum dibawah Asosiasi Bintang Mayora.
"Tenang saja Tuan Agni, kami akan menjamin keselamatan Tuan. Tentu saja yang kami maksud jaminan keselamatan dari ancaman petugas yang telah kami berhentikan, orang itu tidak akan mencelakakan Tuan, jika itu terjadi dari orang lain, tentu diluar tanggung jawab kami, namun aku tak berharap itu terjadi Tuan" Jawab Fang Yuen.
"Baiklah Tuan Fang, lalu apakah kedua benda ini?" Agni menanyakan kedua benda yang diterimanya, satu sebuah lencana, dan satu lagi sebuah kartu.
"Lencana itu akan mempermudah tuan memasuki Asosiasi Bintang Mayora, cukup tunjukkan lencana tersebut pada petugas. Dan kartu tersebut adalah satu tiket makan kelas VVIP di restoran Warmindo, itu salah satu restoran terbaik di kota Guziko Tuan Agni" terang Fang Yuen.
__ADS_1
"Baiklah Tuan Fang, aku mohon diri" Agni berpamit.
"Silahkan Tuan Agni, semoga kita bisa menjalin hubungan baik kedepannya" balas Fang Yuen.
Agni kembali mengikuti Fang Zizi, kali ini Agni keluar dari Balai Lelang Pucuk Harum melalui jalan yang berbeda. Itu adalah salah satu bentuk usaha yang dilakukan Balai Lelang Pucuk Harum untuk melindungi keselamatan orang yang dianggap penting.
Awalnya Agni mengira bentuk pelayanan seperti itu oleh Balai Lelang Pucuk Harum diberlakukan untuk semua pelanggan yang mereka anggap penting. Namun yang yang sebenarnya, itu hanya untuk orang yang benar-benar di anggap penting. Fang Yuen merasa Agni tidak sesederhana yang dilihat.
"Kau harus mendapatkan informasi tentang orang itu, berhati-hatilah, ia tak sesederhana yang dilihat...!!!" Fang Yuen memberikan tekanan khusus pada nada suaranya. Perintah itu tertuju pada seorang di ranah Demigod tahap akhir bintang 1, yang mengawasi Agni sejak masuk lorong ruangan itu.
"Baik Tuan" Jawab orang yang diperintahkan dan kemudian segera menghilang dari tempat itu.
Sementara itu, Agni telah berada di luar tembok kota Guziko. Karena hari telah menjelang sore, ia tak ingin berlama-lama di dalam kota.
"Bagaimana menurutmu Paman?" Tanya Agni.
"Aku tidak sering mengetahui dunia luar, karena sebagian besar hariku berada dalam sekte, apalagi aku hanya seorang pelayan. Namun nama besar Asosiasi Bintang Mayora memang telah terkenal Agni. Beberapa kali aku mendengar Tuan Wiraja dan beberapa tetua berbicara tentang mereka" jawab Harjaya.
Namun tiba-tiba saja Agni merasakan seseorang mengikutinya.
"Paman, hati-hati lah, seseorang mengikuti kita" bisik Agni kepada Harjaya, mereka tidak menempuh perjalanan dengan terbang. Sebagai catatan, walaupun ras hewan iblis alam tengah berada di ranah Demigod, namun kemampuan terbang hanya dapat di milikki pada ranah Demigod tahap menengah bintang 2 atau bintang 3.
Harjaya mengangguk pelan, namun ia tak dapat merasakan kehadiran seorang pun. Keduannya terus melangkahkan kaki, Agni mencari kesempatan yang tepat untuk bertindak.
Yang sebenarnya, penguntit Agni bukannya tidak mempunyai kemampuan menyembunyikan aura dengan baik, hanya saja yang di ikuti saat ini adalah seorang Agni, yang telah waspada sejak meninggalkan Balai Lelang Pucuk Harum. Sedangkan saat di Ruang Platinum tadi, yang bisa lolos dari pengamatannya adalah seorang ketua Sekte ranah Demigod tahap akhir bintang 3. Bisa jadi memilikki kemampuan seperti Agni pula untuk menyembunyikan auranya.
Dengan tetap berjalan, Agni mengeluarkan layangan perak dari cincinnya. Kemudian membuka lipatan kertas itu, seukuran kertas lipat origami. Agni hendak menuliskan sesuatu, ia menjadi agak bingung karena tak membawa pena. Ia mengingat saos tomat ABC bekal perjalanannya. Agni menggapit tongkat di bawah ketiaknya, kemudian dengan perlahan agar tak belepotan, ia menulis menggunakan saos itu.
"SUDAH KUBILANG JANGAN MACAM-MACAM...!!!"
Setelah menuliskan kalimat tersebut, Agni melipat kembali kertas itu dan meletakkannya di atas telapak tangan. Kertas tersebut terlipat dengan sendirinya dan berubah menjadi origami burung layang-layang, kemudian terbang meninggalkan Agni.
"Huh...Layangan" batin Agni sambil tersenyum kecut. Kemudian ia berhenti.
"Anak bebek, aku bukan indukmu, kenapa kau terus mengikuti aku?"
Lepas berkata, Agni mengayunkan tongkatnya kebelakang, sebuah tongkat berwarna hijau yang terbentuk dari padatan energi qi, keluar dari ayunan itu dan mengarah sekira 20 meter di belakang Agni.
"Boom"
Serangan Agni tak mampu dihindari, si penguntit. Ia hanya mampu menahan serangan Agni, namun cukup untuk membuat dadanya bergejolak.
Tanpa menunggu jeda, dengan jurus anjing melompati sungai, Agni menerjang si penguntit yang ternyata menggunakan penutup muka dan bersenjatakan sebuah pedang.
__ADS_1
Sekejap saja telah puluhan jurus yang tertukar. Agni di atas angin, si penguntit terdesak. Perpaduan jurus anjing melompati sungai dengan jurus irama petir benar-benar merepotkan si penguntit.
"Apakah benar hanya seperti ini kemampuan ranah Demigod tahap akhir?" Tanya Agni dalam hatinya, itu karena Agni merasakan tidak sulit menghadapi orang itu.
Namun justru itu menurunkan kewaspadaan Agni. Satu tendangan melemparkan Agni beberapa meter kebelakang. Itu tak cukup untuk melukai Agni. Namun kesempatan itu hendak di gunakan oleh si penguntit untuk melarikan diri.
"Hhmmmm... Jangan harap bisa melarikan diri" batin Agni.
"Wuuusshhh.... Booom" tongkat energi qi Agni, dihalau dengan ayunan pedang si penguntit.
"Kau mau kemana anak bebek, setidaknya perkenalkan dirimu terlebih dahulu"
Agni yang telah berada tidak jauh dari si penguntit mengeluarkan aura Sasra Birawa sekaligus Ajian Gelap Ngampar. Itu membuat si penguntit sulit bergerak dan merasa tergoncang di dada dan telinganya. Beruntung Harjaya telah berada cukup jauh dari mereka, sehingga ia tidak terlalu merasakan efek ajian Gelap Ngampar, hanya goncangan kecil yang dengan mudah ia tahan, namun cukup untuk menimbulkan pertanyaan di hati Harjaya.
"Ilmu apa yang Agni pakai ini... Ck..ck..ck... Luar biasa anak muda ini, yang ia hadapi ranah Demigod tahap akhir, sedangkan dia masih di tahap awal" Harjaya berdecak kagum.
"Katakan, siapa kau anak bebek...!!!" Bentak Agni sambil mengacungkan tongkat di leher si penguntit tanpa menggunakan Ajian Gelap Ngampar. Agni sebenarnya telah mengetahui jika orang itu adalah orang yang sama dengan yang mengawasinya di Balai Lelang Pucuk Harum. Namun Agni ingin mendengar langsung dari mulut orang itu.
Si penguntit hanya diam, ia masih sulit bergerak, matanya menatap Agni dengan penuh keheranan, si penguntit tak pernah menyangka di kalahkan oleh ranah Demigod tahap awal bintang 3.
"Hhmmm... Baiklah kalau kau tak mau bicara, aku sudah tahu kau orang yang mengawasiku di Balai Lelang Pucuk Harum, bilang sama tuanmu itu, ini peringatan pertama dan terakhir jika tak ingin menjadi musuhku, pergilah...!"
Agni melepaskan tekanan aura Sasra Birawa, ia tak ingin melukai orang itu terlalu parah, apalagi membunuhnya. Agni berpikir, itu bisa membawa masalah dengan Asosiasi Bintang Mayora. Ia tak ingin mempunyai musuh dari sekumpulan orang yang telah di kenal nama besarnya.
Si penguntit itupun berdiri dengan payah dan bergegas pergi meninggalkan Agni. Sementara Harjaya telah datang mendekat pula.
"Dia orang yang mengawasi kita di Balai Lelang Pucuk Harum Paman, rupanya mereka berniat menyelidiki diriku" kata Agni.
"Selanjutnya kau harus sangat hati-hati Agni" balas Harjaya.
"Kau benar paman, marilah, aku sudah kelaparan. Hehehe" kata Agni seperti tak terjadi sesuatu.
"Eh... Apa paman pernah makan daging hewan iblis? Maksudku, hewan iblis alam rendah". Tanya Agni sambil menggaruk kepalanya yang memang sedang gatal.
"Hahaha... Kanibal dong". jawab Harjaya.
"Aku serius paman". Saut Agni.
"Iya..iya... Sudah kubilang, bagi kami mereka tidak beda dengan hewan pada umumnya, tapi daging hewan iblis sangat mahal Agni, karena hanya ranah SoulGod yang dapat berburu hewan iblis. Dan itu sangat jarang sekali terjadi, karena ranah SoulGod berada di alam tinggi. Aku belum pernah memakannya"
"Paman mau?"
"Jangan bercanda kau Ag!"
__ADS_1
"Ya sudah kalau gak mau" Agni mempercepat langkahnya meninggalkan Harjaya.