Pendekar Tongkat Pemukul Anjing

Pendekar Tongkat Pemukul Anjing
Ep 56 - Jaya Pamungkas Bersemangat


__ADS_3

Esok harinya, di Aula pertemuan utama sekte tapak macan.


"Tetua sekalian, hari ini akan aku pertemukan kalian dengan pemuda yang ku janjikan" kata Jaya Pamungkas lantang. Semua Tetua menjadi penasaran dan saling berbisik.


"Keluarlah" kata Jaya Pamungkas selanjutnya memberi isyarat pada seseorang yang berada di balik pintu dibelakang tempat duduknya.


Sementara di balik pintu, seorang gadis yang tak lain adalah Ayu Wilis, menahan debar jantungnya membayangkan reaksi para Tetua yang ada di aula itu.


"Ingat Wilis, angkat wajahmu dan jangan kau tunjukkan kelemahan pada mereka, kau anak Wiraja, macan perkasa di sekte kita!" Pesan Pai Su Cen pada Ayu Wilis sebelumnya.


Ayu Wilis menarik nafas panjang dan memantabkan hati sebelum membuka pintu, kemudian melangkah kedepan dan berdiri di samping depan tempat duduk Jaya Pamungkas.


"Ayu Wilis memberi hormat pada Tetua sekalian" kata Ayu Wilis menangkupkan tangan dan menunduk. Kemudian mengangkat wajahnya dan menyapukan pandangan pada semua Tetua yang ada di Aula itu.


"Ayu Wilis...??? Bukankah dia putri Tetua Wiraja?"


"Apa Tuan Besar bercanda, apa yang bisa dibantu gadis itu?"


"Hanya bisa lari, buat apa dia kembali"


"Sebaiknya kita segera berkemas mengamankan harta kita dari pada disita untuk membayar kekalahan"


"Aku akan keluar sekte sebulan sebelum Pertemuan meja bundar saja, sekte ini akan tamat"


Berbagai bisikkan berkasak-kusuk dalam aula itu, sedangkan mereka yang mengumpat hanya berani dalam hati saja.


"Maaf Tuan Besar, apa yang bisa di lakukan gadis itu untuk membantu kita?" Tanya seorang Tetua memberanikan diri.


"Aku tahu banyak dari kalian yang mengumpatku, andai aku mau, kuhancurkan setiap dari kalian yang mengumpatku juga bukan menjadi masalah buatku" kata Jaya Pamungkas menjawab pertanyaan itu yang membuat semua Tetua yang sedang saling berbisik tiba-tiba diam berkeringat dingin.


Sebenarnya mereka menyadari jika Tuan Besar Jaya Pamungkas mengatakan satu, maka akan satu, dua maka akan dua, dia punya kekuatan untuk itu. Namun Jaya Pamungkas bukanlah seorang diktator yang berbuat semaunya sebagai pemimpin sekte. Jaya Pamungkas menganggap semua anggota sekte adalah aset bagi kebesaran sektenya.


"Sedari awal aku telah memberi kebebasan pada kalian untuk tetap bertahan di sekte ini atau pergi. Aku tak akan menghalangi. Andai yang menjadi pemimpin kalian Lin Mewu, Xiao Dan, atau Bok Pyong itu, tentu mulut kalian telah hancur jika berani berkata lancang didepan mereka" dengan kedatangan Agni dan Ayu Wilis, tiba-tiba saja Jaya Pamungkas menemukan kembali ketegasannya.


"Aku memberi kesempatan terakhir bagi kalian, segera putuskan kalian akan bertahan di sekte ini atau pergi. Jika kalian memilih pergi, segeralah keluar dari aula pertemuan ini dan kemasi barang-barang kalian, akan aku berikan semua hak-hak kalian"


Suasana aula pertemuan menjadi lebih senyap, para tetua hanya berani saling menoleh tanpa bersuara. Beberapa dari mereka menjadi ragu, namun juga tak sedikit justru menjadi lebih percaya diri.

__ADS_1


Sejak tantangan Jaya Pamungkas dilayangkan, Tuan Besar mereka itu terlihat kurang gereget di setiap hari-harinya, itu juga mempengaruhi mereka yang masih setia bertahan disekte itu, namun melihat sikap Jaya Pamungkas sejenak tadi, tiba-tiba membuat mereka juga menjadi bersemangat.


Pada akhirnya, tidak ada satupun tetua yang meninggalkan ruangan itu, mereka hanya berani mengutuk dalam hatinya sendiri.


"Baiklah, kalian sudah memutuskan, selanjutnya seperti yang aku bilang sebelumnya, ini akan menjadi rahasia sekte, jika sampai kalian membocorkan ini keluar, aku tak akan ragu menghancurkan kalian sampai ke anak cucu kalian" ancam Jaya Pamungkas.


"Wilis, tunjukkan apa yang kau punya" perintah Jaya Pamungkas selanjutnya.


"Baik Tuan Besar" jawab Wilis.


Tiba-tiba saja lima bangkai hewan iblis dengan ukuran raksasa, bergelimpangan di tengah ruangan itu, dilengkapi pula dengan lima inti hewan iblis.


"Apa....???"


"Hewan iblis...???"


"Itu hewan Iblis...!!!"


Semua terperangah, bahkan 10 tetua kepercayaan Jaya Pamungkas juga masih terkesima melihat hewan-hewan itu, meskipun sehari sebelumnya telah menyaksikannya. Tak hanya menyaksikan, namun juga merasakan nikmatnya daging hewan iblis tersebut.


beberapa puluh pil langit bintang 3. Itu adalah pil penyembuhan, pil penempa tulang, dan pil awet muda. Dan terakhir yang bahkan membuat Tuan Besar Jaya Pamungkas sendiri membelalakan mata, Ayu Wilis mengeluarkan dua biji pil yang tersimpan dalam kotak khusus.


"Wussshhh"


Semua orang terperanjat, matanya berbinar, sebagian menelan ludah, aura pil Bunga Biru di kotak pil yang dipegang Ayu Wilis menyapu ruangan itu, bukan hanya satu biji, namun dua biji. Itu adalah pemberian Mahisa Agni sebelumnya, Agni berpesan agar mengeluarkan pil itu sebagai pertunjukkan terakhir.


"Pil bunga biru....?????" Banyak tetua yang meneriakkan itu bersamaan.


"Hahaha... Sekarang bukan tidak mungkin sekte ini menjadi sekte terbesar di kekaisaran Yun. Persiapkan segala hal untuk mendukung bakat muda kita di Turnamen U20, kita akan membuat mereka menyesal telah menandatangani perjanjian itu"


Ujar Jaya Pamungkas yang saat ini di penuhi rasa percaya diri. Namun bukan karena 1,6 Miliar juta koin emas yang akan menjadi milik Sekte Tapak Macan jika benar-benar itu bisa dimenangkan, karena sesuai kesepakatan yang dibuat semalam bersama Agni. Agni akan memberikan bantuan sepenuhnya, namun hasil taruhan akan menjadi milik Agni jika Jaya Pamungkas berhasil memenangkan tantangannya.


Turnamen U20 adalah turnamen bakat-bakat muda dibawah usia 20 tahun yang diselenggarakan oleh kekaisaran Yun dan akan diadakan di kota Pilar Emas, ibukota kekaisaran Yun. Itu terdiri dari dua cabang, adalah pertarungan beladiri antara kultivator muda dan kompetisi alkemis muda.


Jaya Pamungkas tersenyum sendiri membayangkan bagaimana ketua 5 sekte lainnya akan menyesali tanda tangan mereka di surat tantangan itu. Bagaimana tidak, murid baru Samijan itu hampir bisa dipastikan akan menyabet gelar juara kompetisi, jangankan mereka yang masih berusia dibawah 20 tahun, sedang para tetua sekte saja harus bertekuk lutut menghadapi murid baru Samijan itu.


Kemudian yang kedua, adalah kemampuan Alkemis Ayu Wilis saat ini. pesaing terberatnya adalah kakak beradik keluarga Luo, mereka adalah murid Master Alkemis Kekaisaran yang berjuluk Maharaja Obat, Luo Jiang, yang sekaligus menjadi ayah kakak beradik Luo Han dan Luo Sin.

__ADS_1


Sementara itu, di Balai Lelang Pucuk Harum, sebuah burung layang-layang yang terbuat dari kertas berwarna perak memasuki lubang khusus yang disiapkan Fang Yuen di ruangannya. Kemudian hinggap di tangan Fang Yuen.


Itu adalah pesan dari Agni yang meminta Fang Yuen untuk menghubungkan Agni dengan pangeran Yun Bei Du.


"Hmmm... Anak ini telah bergerak, Sekte Tapak Macan sangat beruntung mendapat bantuannya" gumam Fang Yuen


Namun Fang Yuen juga harus mendapatkan keuntungan dari hal tersebut, maka dia meminta Agni untuk menemuinya saja agar langkah yang diambil kedepannya lebih tepat sasaran. Fang Yuen mengeluarkan layang-layang perak yang telah d kontrak darah oleh Agni dan menuliskan undangannya pada kertas perak itu, kemudian menerbangkannya.


Seperti halnya lubang khusus pada ruangan Fang Yuen, Agni juga telah meminta Jaya Pamungkas untuk menciptakan lubang khusus pada formasi pelindung sekte itu untuk jalan keluar masuk layang-layang peraknya.


"Hmmm... Orang ini tak mau rugi" desis Agni ketika Layang-layang perak telah berada di tangannya. Itu jelas saja, asosiasi Bintang Mayora bukanlah lembaga amal.


Dengan begitu, Agni akan pergi ke Balai Lelang Pucuk Harum nanti malam, karena ia telah membuat janji dengan tetua Angelina usai pertemuan di Aula pertemuan utama. Sedangkan saat ini, ia masih berada di kediaman Samijan dan baru saja menyelesaikan 3 buah senjata bumi tingkat tinggi dengan kualitas sedikit di bawah pusaka langit tingkat rendah yang telah dipadukan dengan tulang dan inti hewan iblis.


Perhitungan Agni, dengan sedikit arahan dan menyerap 20% inti hewan iblis, para pembuat senjata yang berada di bawah asuhan Samijan, tidak akan kesulitan untuk membuatnya. Sehingga, jika rencana Agni menawarkan senjata tersebut untuk pasukan istana berjalan lancar, Sekte Tapak Macan bisa menyediakan jumlah besar dalam waktu singkat.


Beberapa waktu kemudian sebelum tengah hari, Samijan telah kembali dari pertemuan di Aula utama. Agni menunjukkan pedang yang telah dibuatnya beserta catatan bahan-bahan yang diperlukan kepada Samijan.


"Guru, aku akan membantu orang-orang Guru dengan sedikit arahan dan membiarkan setiap lima dari mereka menyerap 1 inti hewan iblis untuk meningkatkan kultivasi dan kekuatan roh mereka, dengan begitu, aku yakin bukan hal sulit untuk membuat senjata semacam ini" kata Gani kepada Samijan yang sedang menguji senjata itu.


"Hahaha... Langit memang sungguh baik mendatangkanmu di Sekte ini Agni. Senjata ini hampir setara dengan senjata langit yang dimilikki pasukan elit istana. Aku yakin pangeran Yun Bei Du tidak akan menolaknya meskipun ini dijual 50% lebih mahal dari senjata bumi tingkat tinggi pada umumnya" kata Samijan sambil mengayunkan pedang itu untuk mengujinya.


"Baiklah Guru, aku akan membawa senjata-senjata ini terlebih dahulu, nanti malam aku akan ke Balai Lelang Pucuk Harum untuk menemui Tuan Fang Yuen, sekarang Tetua Angelina pasti sudah menungguku, apa guru bersedia mengantarku, aku belum tahu dimana kediaman Tetua Angelina" ujar Agni.


"Hahaha... Bukankah kau datang kesini dengan pintu kemana saja, kau lewat itu saja menuju tempat Tetua Angelina" kata Samijan.


"Ah iya, aku hampir lupa menanyakan itu Guru, sebenarnya bagaimana cara kerja pintu itu Guru, aku pernah belajar pula tentang array dan formasi, namun baru ini aku menemui formasi pintu kemana saja itu"


Sebenarnya sudah hal lumrah seorang kultivator memilikki beberapa kemampuan tentang formasi, namun Samijan mendengar perkataan itu dari mulut Agni, sehingga membuat Samijan menebak-nebak pula, apakah Agni juga mempunya bakat di array dan formasi.


"Kau telah mengejutkan semua orang dengan segala kemampuanmu Agni, aku jadi yakin, kau pun pasti ahli formasi pula, akan memalukan diriku sendiri jika aku menjelaskan itu padamu, seperti saat aku menunjukkan cara membuat senjata kemarin" kata Samijan yang tak ingin menelan rasa malu untuk kedua kalinya, mengajari ikan berenang.


"Ah Guru bisa saja, dari pada aku membuang waktu untuk memahaminya, bukankah lebih baik aku bertanya pada Guru?" Timpal Agni.


Lagi-lagi, sebagai murid Suk Ang hin sang master formasi selama ratusan ribu tahun, juga karena bakat alami Agni yang sekali muncul dalam puluhan ribu tahun, memang sangat mungkin bagi Agni untuk memahami formasi pintu kemana saja, namun itu akan membutuhkan waktu yang cukup lama, maka Agni lebih baik menanyakan saja hal tersebut pada Samijan.


Karena alasan itu pula akhirnya Samijan menjelaskan bagaimana cara kerja pintu itu, dan seberapa banyak batu roh yang dibutuhkan, juga pola formasi serta bagaimana cara mengaktifkannya. Mendengar Samijan menjelaskan, Agni hanya menganggukan kepala tanda Agni memahami penjelasan Samijan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2