
Kartu identitas Agni telah jadi. Pertama kalinya untuk Agni memilikki kartu tersebut. Tak pernah ada di desanya hal-hal semacam ini.
"Apa di setiap kota harus seperti ini Paman?" Tanyanya.
"Yang aku tahu seperti itu, itu cukup penting sebagai salah satu sumber penghasilan kota disamping sumber-sumber yang lainnya". Terang Harjaya.
Mengikuti petunjuk Jono, Agni menyusuri jalanan kota Guziko. Kota itu benar-benar ramai sekali. Walaupun di sepanjang jalan itu banyak sekali pedagang-pedagang, namun tidak mengurangi keindahan kota itu. Setiap tempat di tata sedemikian rupa sehingga terlihat rapi sekali.
Di belakang kedai-kedai pedagang, ada taman tempat bermain anak-anak, ada pula taman mengucap seribu janji setia sampai mati, tak ketinggalan pula disediakan taman khusus untuk pasangan-pasangan tua yang telah membuktikan sumpah setianya. Juga sekedar tempat beristirahat untuk para pejalan kaki.
Agni berjalan dengan memainkan tongkatnya, ia sungguh menikmati perjalan pertama kalinya masuk ke kota itu. Acara pelelangan kurang lebih masih dua jam lagi di gelar.
"Paman, seperti apa acara lelang melelang itu, aku hanya pernah mendengar saja, belum pernah tahu yang sebenarnya?" Tanya Agni.
"Satu barang akan di tawarkan oleh seorang pemandu acara dengan harga minimal, siapa yang menawar dengan harga tertinggi, dia yang akan mendapatkannya" terang Harjaya.
"Hanya itu saja?"
"Jika kau ingin, kau juga bisa melelang barangmu, semakin berharga akan semakin mahal"
"Paman menjerumuskanku, bagaimana masa depanku jika ku lelang barangku?"
"Ra urusan...!" Harjaya kesal.
"Hahaha... Ngambeeekkk....ngambeekk" ledek Agni.
"Makin lama makin usil saja kau Ag!" Ujar Harjaya.
"Hihi... Biar ga kayak paman, cepet tua... Hahaha... Eh.. aku jadi punya ide, marilah paman, kita cari tempat yang sepi" Agni segera melangkah tanpa menunggu Harjaya untuk mencari tempat yang sepi.
"Dasar bocah nakal, tunggu aku woy" Harjaya menyusul.
Setelah berputar-putar hampir 15 menit, Agni belum juga menemukan tempat yang di inginkannya. Sangat susah mencari tempat sepi di tengah kota yang padat. Beberapa menit kemudian Agni melihat sebuah hutan di tengah kota. Memang itu adalah hutan kota Guziko. Cukup sepi, karena hanya berisi pepohonan saja. Orang lebih memilih untuk bersantai di taman dari pada di hutan kota itu.
Agni menyusup masuk ke kedalam hutan, di ikuti Harjaya. Walau hanya hutan kota, namun cukup luas, tidak kurang dari 500 meter persegi.
"Paman, Ayu Wilis bilang pil Bunga Biru bisa seharga lebih dari sejuta koin emas, aku akan membuatnya sejenak, setidaknya 30 menit kedepan, tolong Paman jaga sekitar, aku akan membuat beberapa" kata Agni.
Harjaya segera mengerti maksud Agni, namun Agni bilang "beberapa" masih cukup mengejutkan bagi Harjaya.
__ADS_1
"Tempat ini tak akan dikunjungi orang di waktu seperti ini, kau tenang saja" kata Harjaya. Ia masih terus berpikir, kekayaan seperti apa yang di milikki Agni, dengan ringan sekali ia bilang "beberapa".
30 menit berlalu, 5 buah pil Bunga Biru telah berada di tangan Agni. Ia segera mengajak Harjaya bergegas. Kurang dari satu jam acara pelelangan akan di mulai.
Setelah kembali ke jalan utama, Agni dan Harjaya menyusur jalan ke arah Balai Lelang Pucuk Harum dengan langkah lebih cepat dari sebelumnya. Setengah jam sebelum acara, mereka telah sampai di tempat yang di maksud.
Balai Lelang Pucuk Harum memiliki 5 lantai. Setiap lantai memilikki atap yang di design bermotif daun.
Semakin tinggi lantai semakin sempit luas bangunan. Mirip sebuah pagoda, namun lebih luas dan agak lebih rendah. Di bagian atas atap bangunan, sebuah patung besar berbentuk tangkai daun yang di panjat oleh dua ekor ulat hijau menjadi ciri khas Balai Lelang tersebut.
Agni mendekati tangga di muka bangunan Balai Lelang Pucuk Harum. Di sisi kanan dan kiri tangga, terdapat papan informasi tentang loket dan harga tiket dari setiap lantai. Semakin tinggi lantai, semakin mahal pula harga tiketnya. Lantai dasar di mulai dengan harga 1 koin emas, dan setiap lantai bertambah 1 koin emas.
Agni dan Harjaya menaiki tangga serambi bangunan itu. Penampilan Agni dan Harjaya yang biasa-biasa saja mengundang perhatian beberapa orang pengunjung lainnya. Apalagi sebatang tongkat bambu yang dibawanya.
"Hmmm... Dasar orang kaya" batin Agni.
Melihat pandangan beberapa pengunjung lain yang tak sedap padanya, ia memutuskan untuk ikut mengantri di loket lantai satu agar tak terlalu menarik perhatian. Agni juga tak bermaksud mengikuti pelelangan, namun Agni ingin membuktikan kata-kata Wilis tentang Pil Bunga Biru.
Ternyata tak hanya pengunjung yang menunjukkan pandangan tak menyenangkan kepada Agni dan Harjaya, dua penjaga ranah Demigod tahap awal bintang 3 yang berada di atas tangga pun memberikan tatapan meremehkan pada keduanya. Dan benar saja, petugas jaga itu menghentikan Agni ketika baru saja melewati anak tangga terakhir.
"Anak muda, ini bukan tempat bermain, kalau kau ingin mengejar layangan putus, bukan disini tempatnya" kata penjaga itu sambil melihat tongkat yang di bawa Agni.
Agni tak menjawab perkataan penjaga itu, ia berbalik dan melihat beberapa pengunjung yang berada dibelakangnya, 6 orang pemuda, setiap dua orang dari mereka menggunakan pakaian yang sama.
Kali ini Agni mengeluarkan beberapa koin emas dari cincin penyimpanannya, yang sengaja ia tunjukkan di atas telapak tangannya.
"Maaf Saudara, apakah saudara sekalian akan mengikuti pelelangan, di loket manakah saudara sekalian akan mengantri?" Tanya Agni.
Melihat koin-koin emas yang sengaja Agni pamerkan di atas telapak tangannya, membuat para pemuda itu tak bisa menghiraukan Agni. Rupanya mereka adalah utusan dari beberapa sekte menengah untuk mengikuti pelelangan di lantai 1.
"Benar saudara, kami memang berniat mengikuti pelelangan di lantai 1 Balai pelelangan ini" jawab salah satunya.
"Oh kebetulan kalau begitu, aku juga akan mengantri di loket lantai 1, marilah, biar aku yang membayar harga tiket saudara sekalian!"
Para pemuda itu terkejut dalam kebahagiaan, 1 koin emas itu adalah uang saku mereka selama satu bulan di sektenya.
"Kenapa diam saudara? Kalau begitu, 6 koin ini masing-masing satu untuk kalian, silahkan duluan" Agni memberikan 6 koin emas pada mereka dan mempersilahkan mereka untuk berjalan terlebih dahulu.
"Terima kasih.... Terima kasih Tuan Muda" para pemuda itu mengganti panggilan kepada Agni dan bergegas melangkah menuju loket.
__ADS_1
"Marilah paman" ajak Agni kepada Harjaya yang ikut melongo menyaksikan ulah Agni itu. Begitu juga beberapa pengunjung lainnya.
Dengan santainya Agni melewati penjaga Balai Lelang.
"Maafkan kebodohanku Tuan Muda" ucap penjaga itu sambil membungkuk menekuk punggung ketika Agni melaluinya. Namun Agni tak menghiraukannya.
Petugas loket adalah seorang wanita muda, ia telah mengetahui apa yang dilakukan Agni tadi, maka iapun berusaha melayani Agni dengan sebaik-baiknya.
"Silahkan Tuan Muda" sapa petugas jaga itu dengan senyum semanis mungkin yang mampu ia berikan.
"Maaf nona, kemanakah jika aku ingin melelang salah satu barang berhargaku?" Tanya Agni pada petugas loket itu.
"Oh baiklah, tunggu sebentar, silahkan tulis disini benda apa yang ingin Tuan Muda lelang" petugas itu memberikan selembar kertas dan pena. Sebuah cara yang baik agar benda yang akan dijual tidak terdengar orang lain, karena jika benda tersebut cukup berharga, apalagi berharga tinggi, maka akan bisa terjadi kehebohan di tempat itu.
Petugas loket itu terkejut ketika membaca apa yang akan dijual Agni, namun dituntut sikap profesionalnya untuk menjaga kerahasiaan, keterkejutannya hanya berlangsung sepersekian detik saja. Wanita muda itu segera kembali dengan keprofesionalannya.
"Baiklah Tuan Muda, silahkan tunggu di ruangan itu, petugas kami akan mendatangi tuan Muda" jawab petugas itu sambil menunjukkan satu tempat.
"Terima kasih Nona" jawab Agni sambil memberikan satu koin emas kepada petugas itu dan berlalu pergi ke tempat yang ditunjukkan, di ikuti oleh Harjaya.
"Terima kasih Tuan Muda" kata petugas itu.
Agni bersama Harjaya telah memasuki ruang tunggu, beberapa menit kemudian, seorang wanita cantik dengan baju ketat panjang berwarna hitam yang memiliki belahan panjang hingga ke atas paha dengan bagian dada yang sedikit terbuka memasuki ruang itu. Itu membuat mata Agni hampir tak berkedip. Harjaya yang justru melihat reaksi Agni hanya menggeleng pelan.
"Maaf, apakah tuan muda lama menunggu?" Sapa wanita itu.
"Eh.. ti..tidak Nona, maafkan ketidak sopananku, mataku ini memang kadang-kadang susah dikendalikan" jawab Agni gugup.
"Hihihi... Marilah ikuti aku Tuan Muda, pakailah terlebih dahulu topeng ini untuk menutupi identitas tuan" kata wanita itu sambil tersenyum kecil melihat Agni. Ia tak menyangka seseorang yang ingin melelang sebuah Pil Bunga Biru berpenampilan sangat jauh dari perkiraannya.
Agni dan Harjaya mengikuti wanita itu, mereka menuju lantai atas dari Balai Lelang Pucuk Harum. Saat tiba di lantai 5 mereka berjalan melewati sebuah lorong yang agak panjang. Agni merasakan seseorang mengawasinya, seseorang yang berada di ranah Demigod tahap akhir bintang 1. Agni sendiri tak lagi menyembunyikan aura kultivasinya, karena semua orang di alam tengah itu, rata-rata berada di ranah Demigod tahap awal.
Merasa ada yang mengawasi, Agni lebih berhati-hati tapi tanpa mengubah sikap.
"Mungkin ini bagian dari keamanan, Demigod tahap akhir, bukan sesuatu yang bisa dihiraukan" batin Agni.
Mereka memasuki sebuah ruangan, disana telah ada seorang yang menunggu.
"Mari, silahkan Tuan berdua, namaku Fang Yuen, manajer Balai Lelang Pucuk Harum" kata
__ADS_1
Mereka saling menangkupan tangan, Agni dan Harjaya memperkenalkan diri mereka masing-masing. Kemudian duduk di tempat yang telah disediakan di ruangan itu.