
"Manthaaab.... Zi'er memang jagonya bikin ganteng orang" Puji Fang Yuen saat melihat penampilan baru Agni.
"Yuen Gege, mintalah beberapa kantong darah ke PMI, aku tak tahu berapa banyak darahnya yang keluar, aku butuh dua pack tissue hanya untuk mengusap hidungnya" imbuh Fang Zizi sambil membawa tissue bekas yang telah berwarna merah.
Sementara Agni hanya tertunduk diam menyembunyikan mukanya yang memerah. Bukan darah yang membuatnya gelisah, namun adiknya si ucok yang bikin perkara.
Bagaimana tidak, gaun Fang Zizi yang sedikit terbuka di bagian atasnya, membuat belahan dada Fang Zizi terpampang dengan jelas didepan mata Agni ketika Fang Zizi mendandaninya dari depan. Belum lagi ketika Fang Zizi mencukur rambut Agni, berkali-kali satu bagian yang menjadi favorit lelaki normal itu menempel di punggung dan lengan Agni. Masih pula ditambah aroma harum mewangi dari tubuh Fang Zizi, mungkin hanya mayat hidup saja yang tak tergoda dengannya.
"Sial, berhadapan dengan kenyataan lebih menyakitkan dari pada bayanganku" umpat Agni didalam hatinya. Itu karena selama Fang Zizi memperbaikki penampilannya, Agni hanya berusaha mengendalikan adiknya si Ucok agar berhenti memanjat-manjat.
Walau sebenarnya Agni tak terlalu suka dengan penampilan yang mengundang perhatian, namun dengan kondisinya sekarang, Agni cukup senang dengan penampilannya barunya. Tak terlalu terlihat sebagai pemuda kaya, namun cukup pantas untuk di panggil Tuan Muda. Itu demi menyesuaikan diri dengan keadaan.
Hampir setengah jam setelah itu, Yan Lee datang dan melaporkan kedatangan Jaya Pamungkas. Karena telah di informasikan bahwa itu adalah pertemuan rahasia, maka Tuan Besar Sekte Tapak Macan itu datang dengan penyamaran dan menyembunyikan dirinya.
"Selamat datang Tuan Besar Jaya Pamungkas, Fang Yuen memberi hormat" Fang Yuen berdiri dari tempat duduknya menyapa Jaya Pamungkas sambil menangkupkan tangan yang di ikuti pula oleh Agni, ketika Jaya Pamungkas telah memasuki ruang pertemuan. Hal itu di balas Oleh Jaya Pamungkas dengan hal yang sama.
"Maaf jika membuat Tuan Fang Yuen menunggu" ujar Jaya Pamungkas yang merasa datang terlambat. Raut mukanya sedikit berbeda ketika melihat Agni yang berdiri di sebelah Fang Yuen. Jaya Pamungkas merasa tidak asing dengan aura Agni, namun ia masih belum bisa mengetahui alasan itu.
"Tidak perlu Tuan Besar, bahkan ini masih belum sampai pada waktu yang dijanjikan, silahkan duduk" balas Fang Yuen, memang janji pertemuan mereka masih beberapa belas menit lagi.
"Baiklah Tuan Besar, silahkan dinikmati hidangan seadanya ini sembari kita membicarakan maksud pertemuan kita" ujar Fang Yuen kemudian melanjutkan,
"Inilah pemuda yang kumaksudkan ingin bertemu dengan Tuan Besar"
Agni kembali menangkupkan kedua tangan dan memperkenalkan diri.
"Hormatku Tuan Besar Jaya Pamungkas, namaku Agni" ujarnya tanpa menyebut nama depan. Ia masih ingat reaksi Harjaya dan Ayu Wilis ketika Ia memperkenalkan namanya.
Jaya Pamungkas mengangguk, sedari awal ia merasa Agni bukan pemuda biasa, mengingat Fang Yuen lah yang mempertemukan mereka, menurut informasi yang ia terima, pembunuh Bok Sun He dan Wira Satriaji, hanyalah seorang pemuda yang berada di ranah Demigod tahap awal bintang 3.
Pemuda itu di curigai pula sebagai pemilik Pil Bunga Biru yang melelang pil itu di Balai Lelang Pucuk Harum. Karena itulah Jaya Pamungkas harus lebih berhati-hati menjaga sikapnya. Jika informasi itu benar, maka dia tak boleh meremehkan pemuda yang saat ini berada di hadapannya.
Namun Jaya Pamungkas telah dikenal sebagai Tuan Besar yang tak terlalu suka berbasa-basi, apa yang ada di hatinya, biasanya pasti akan di ucapkannya, terbukti dengan tantangan yang ia layangkan, begitu pula pertanyaannya kemudian yang ia tujukan kepada Agni,
__ADS_1
"Maaf Agni, aku hanya ingin memastikan, mengingat Tuan Fang Yuen yang mempertemukan kita, apakah benar kau pemilik Pil Bunga Biru dan juga pemuda yang membunuh Bok Sun He dan Wira Satriaji?" Tanya Jaya Pamungkas seketika menuju ke pokok permasalahan.
Agni tak bisa mengelak lagi, ia juga tak berniat menutupi hal tersebut pada Jaya Pamungkas ataupun Fang Yuen.
"Bukan maksudku untuk bersombong-sombong diri, namun memang benar apa yang Tuan Besar tanyakan tersebut" jawab Agni.
Fang Yuen sudah tidak terkejut dengan jawaban Agni, sementara Jaya Pamungkas, meski telah menebak hal tersebut, tetap saja masih cukup susah untuk segera percaya.
"Andai bukan Tuan Fang Yuen yang mempertemukan kita, aku tidak akan begitu saja percaya Agni, kau telah membuka mataku lebar-lebar tentang tingginya langit diatas kita ini" ujar Jaya Pamungkas.
"Aku tidak tahu harus merasa senang atau bagaimana dengan pujian Tuan Besar, namun saat ini, bukan hal tersebut yang menjadi tujuan pertemuan kita Tuan Besar" kata Agni.
"Kau benar Anak muda, baiklah, utusan Tuan Fang Yuen mengatakan kau menawarkan bantuan penting, aku ingin mendengarnya" kata Jaya Pamungkas selanjutnya.
"Sebelum itu Tuan Besar, aku ingin bertanya, bagaimanakah Tuan Besar bersikap kepada Ayu Wilis?" Pertanyaan Agni membuat Jaya Pamungkas terkejut, ia tidak menyangka bahkan Agni menyebut-nyebut nama anak perempuan Wiraja, yang telah ia anggap sebagai anaknya sendiri.
"Apa kau mengenalnya Agni, dimanakah dia sekarang?" Tanya Jaya Pamungkas.
Maksud Agni tersebut memang berhasil mengungkit harga diri Jaya Pamungkas dan membuat urat muka orang itu sedikit meregang, itu tidak beda dengan sebuah ancaman kepada Jaya Pamungkas, bagaimana mungkin seorang pemuda yang masih berada pada ranah Demigod tahap awal bintang 3, berani berkata seperti itu pada ketua Sekte Tapak Macan yang berada di ranah Demigod tahap akhir bintang 3.
Begitu pula Fang Yuen, meskipun ia sedikit mengetahui kemampuan Agni, namun Fang Yuen merasa perkataan Agni tersebut agak kurang pada tempatnya.
"Maaf Tuan Besar, aku mengerti apa yang Tuan pikirkan, sekali lagi, aku bukan bermaksud bersombong-sombong diri"
Lepas berkata seperti itu, Agni melepaskan aura Sasra Birawa. Dari aura spiritual itu, ia juga membuat dua telapak tangan besar yang melayang di udara. Agni juga menunjukkan 65 titik qi yang ia milikki, kemudian ia berkata dengan melandasi kata-katanya menggunakan Ajian Gelap Ngampar,
"Bagaimana Tuan Besar?"
Perkataan Agni tersebut dibarengi dengan salah satu telapak yang bergerak mengangkat kursi di meja kerja Fang Yuen, namun ia tidak merusak kursi tersebut. Tekanan yang dilakukan Agni tersebut, tidak hanya tertuju pada Jaya Pamungkas, namun juga kepada Fang Yuen.
"Gila, kekuatan macam apa ini???" Batin Jaya Pamungkas.
"Beruntung aku menjalin hubungan dengan anak ini" batin Fang Yuen pula.
__ADS_1
Kedua orang itu membatin didalam hatinya sambil menahan goncangan pada dada dan telinganya karena mendengar perkataan Agni.
Agni menarik Aura Sasra Birawa tanpa merusak kursi yang diangkat oleh salah satu telapak tangan aura itu. Juga Ajian Gelap Ngampar dan pertunjukkan titik qi nya.
"Andai aku mengerahkan semua orangku melawan anak ini, mungkin Sekte Tapak Macan akan benar-benar hancur, namun bagaimana mungkin ia bisa melakukan itu, padahal ranahnya masih di tahap awal" batin Jaya Pamungkas yang begitu terpukau dengan kekuatan Agni.
Sejatinya Agni belum menyadari kemampuan sebenarnya yang ia milikki. Aura Sasra Birawa bisa menjangkau radius puluhan meter dari dirinya, dengan begitu, jika sekelompok orang bersama-sama menghadapinya pun, pasti akan kesulitan karena harus menahan tekanan aura Sasra Birawa.
"Uhukkk..uhukk.." dua orang itu terbatuk-batuk.
"Bagaimanapun Tuan Besar?" Agni mengulangi pertanyaannya.
"Aku akan berkata dengan sebenarnya Agni, aku telah menganggap Ayu Wilis sebagai putriku sendiri. Terang-terangan aku mengatakan pada semua anggota sekte, bahwa Ayu Wilis berada dalam perlindunganku, tapi bagaimanapun, aku tak bisa mengendalikan pandangan seluruh anggota sekte pada Ayu Wilis setiap waktu" terang Jaya Pamungkas dengan suara agak berat karena baru saja lepas dari goncangan Ajian Gelap Ngampar.
"Pada akhirnya ia memilih pergi diam-diam dari Sekte, lima tahun ini, aku telah mengerahkan orang untuk mencari keberadaannya, sekali waktu laporan orangku berhasil menemukan tempatnya berdiam, namun ia selalu berhasil menjauh, aku menyadari, beberapa orangku juga tidak melakukan tugasnya dengan benar-benar, itu karena keadaan Ayu Wilis sendiri" sambung Jaya Pamungkas.
"Apakah salah seorang yang Tuan utus adalah pemuda bernama Pradipta?" Tanya Agni, Jaya Pamungkas mengiyakan, kemudian Agni menceritakan pengalamannya ketika berhadapan dengan Pradipta yang membuat Jaya Pamungkas menggeram.
"Sialan anak itu, jauh sekali berbeda dengan Ayahnya" batin Jaya Pamungkas, dalam hati ia berjanji akan memberikan pelajaran pada Pradipta itu. Namun Agni seolah bisa membaca jalan pikiran Jaya Pamungkas.
"Sebaiknya Tuan Besar menunda jika ingin memberi pelajaran pada Pradipta itu, saat ini, kondisi Sekte yang Tuan Besar pimpin, lebih memerlukan tindakkan yang lebih bijak daripada sekedar memberikan pelajaran pada Pradipta itu" kata Agni.
"Kau benar Agni, baiklah, kau dapat memegang kata-kataku, sekarang, dimanakah Ayu Wilis berada?" Lanjut Jaya Pamungkas.
"Baik Tuan Besar, aku akan membawa saudari Ayu Wilis ke Sekte Tapak Macan, sama sekali aku ingin membicarakan mengenai niatku untuk membantu sekte Tuan Besar, bagaimana Tuan Yuen?" Agni meminta pendapat Fang Yuen, Agni merasa perlu untuk melibatkan Fang Yuen dalam rencananya, itu jika Fang tak menolaknya, karena Agni menyadari, asosiasi Bintang Mayora berdiri pada posisi netral.
"Kau tentu tahu bagaimana Asosiasi Bintang Mayora bekerja Agni, aku tak bisa terlibat lebih jauh, namun hal ini tetap akan aku bicarakan kepada asosiasi, jika hal tersebut tak menggangu prinsip-prinsip kenetralan Asosiasi, aku tidak akan segan memberikan bantuan" jawab Fang Yuen.
Sedari tadi bicara, membuat tenggorokan mereka kering. Agni meraih gelas untuk meminum air didalamnya. Kedua orang yang lainnya melakukan hal yang serupa. Setelah tenggorokan mereka cukup terbasahi, mereka melanjutkan pembicaraan itu di bab selanjutnya.....
...Krisan, Like, Gift, Vote, Share, dari readers sekalian, akan sangat memberi semangat Agni untuk melanjutkan petualangnya. ...
...Tararengkyu ...
__ADS_1