
Di setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Itulah yang dipahami penghuni pulau jawa pada umumnya. Tidak peduli itu manusia biasa maupun seorang kultivator. Sekalipun seorang kultivator telah menerobos ranah immortal, itu tetap akan menemukannya dengan sebuah perpisahan, karena seorang immortal akan naik ke langit, naik ke alam lainnya.
Namun, bagaimana dengan pertemuan setelah perpisahan. Itulah yang dialami Mahisa Pukat saat ini. Anak lelaki penerus garis darahnya tang selama lima tahun ini dikiranya telah tewas terbawa arus sungai, kini berada dihadapannya dalam keadaan sehat tanpa kurang satu apapun. Anak lelaki yang dulu masih setinggi pundaknya, kini telah berdiri tegap didepannya sebagai pria dewasa.
"Agni....benarkah engkau ini Ngger?" Mahisa Pukat masih setengah percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Ayah... Ini benarlah diriku, Mahisa Agni... Ayaaaahhh..." Betapapun Agni menahan, ia tak mampu lagi, kerinduannya begitu mendendam untuk di luapkan. Ia segera merengkuh dan memeluk Ayahnya yang bahkan kini Agni lebih tinggi dari ayahnya itu.
"Oh .. terimakasih Tuhan, syukurlah engkau masih selamat Ngger..."
"Buuuk....Bukkkkk... Nduuukkk..." teriak Mahisa Pukat memanggil istri dan putrinya yang sedang berada di dapur.
"Ada apa sih ayahmu itu nduk, pagi-pagi sudah teriak-teriak" kata Puspandari yang masih belum mengetahui apa yang terjadi. Sementara Mahisa Pukat masih terus memanggil dirinya.
"Buuukkk... Nduuukkk... Syukurlah Nggerrr... Terimakasih Tuhan" dalam keadaan memeluk dan menciumi kepala Agni, Mahisa Pukat masih terus memanggil istri dan putrinya.
"Ayo sini Ngger... Ibuk dan adikmu pasti sangat terkejut" Mahisa Pukat merangkul putranya itu menuntunnya memasuki rumah.
"Sana nduk, lihat ayahmu itu" suruh Puspandari kepada Rara Kencana, adik Mahisa Agni.
"Baik Bu" jawab Rara Kencana yang kemudian berlalu pergi keluar dapur.
Mahisa Pukat dan Agni tidak melewati pintu depan, mereka melangkah di halaman samping untuk langsung menuju pintu dapur yang terhubung dengan halaman itu. Sementara Rara Kencana melewati halaman itu pula.
Rara Kencana keheranan melihat Ayahnya merangkul seorang pemuda, awalnya terasa asing, namun Rara Kencana hapal benar bagaimana kakangnya itu, kecuali saat ayahnya sedang berburu atau membantu ayahnya ke sawah, hari-hari ia habiskan waktu bersama Agni, kakangnya tersayang. Maka setelah memastikan pandangannya, Rara Kencana mendapat keyakinan bahwa yang bersama ayahnya itu adalah kakangnya, Mahisa Agni.
"Kakang...? Benarkah ini? Kakaaaaang....!!!!!"
Rara Kencana segera berlari menerjang kakangnya dan bergelayut memeluk Agni.
"Kakang, hiks ..hiks... Kakang kemana saja... Hiks..." Air mata Rara Kencana tak tertahankan melepas kebahagian.
"Rara... Kau sungguh sudah sebesar ini Rara..." Balas Agni.
Sementara Puspandari, mendengar putrinya berteriak "kakang" menjadi bertanya-tanya, dan tiba-tiba saja dadanya berdegup sangat kencang. Segera ia meninggalkan kerjanya dan keluar dapur pula untuk melihat apakah benar pendengarannya itu.
Seperti halnya Rara Kencana, Puspandari sangat mengenali putranya, apalagi melihat suami dan putrinya telah memeluk pemuda itu. Debar jantungnya yang semakin kencang bertambah kencang, Puspandari pun segera berlari untuk memeluk putranya itu.
"Agniiii... Agniii... Aku tahu kau masih hidup Ngger... Agni... Anakuu" Bercucuran air mata ketika Puspandari memeluk putranya itu. Begitu pula Agni yang bahkan adalah orang pertama yang meneteskan air matanya.
Suasana pagi hari dihalaman rumah keluarga Agni itupun pecah oleh deru tangis kebahagian. Hingga beberapa saat, Ayahnya segera tersadar dan mengajak mereka untuk segera memasuki rumah.
Agni harus menjawab berbagai pertanyaan terutama dari ibu dan Adiknya, ia berusaha menjawab seperlunya saja, belum tepat waktunya untuk menceritakan semuanya kepada mereka.
"Sudahlah ibu, Rara, yang penting aku sekarang selamat dan sehat tanpa kurang satu apapun" jawab Agni pada akhirnya.
"Agni benar Bu....Rara.... bukankah kerjaan kalian di dapur belum selesai?" Imbuh Ayah Agni, mengingatkan akan tungku mereka yang masih menyala.
"Kakang, ayo bantu, aku rindu sekali masakanmu" pinta Rara Kencana manja sambil meraih tangan Agni dan menyeretnya.
"Haha... Rara... Bukankah kau dulu sering sekali mengejekku?" Jawab Agni, namun tak menolak ketika adiknya itu menyeret dirinya.
__ADS_1
Hari itupun Agni ikut memasak bersama Ibu dan adiknya, sementara ayahnya, buru-buru menyelesaikan pekerjaannya agar segera bisa ikut mengobrol bersama Agni, sesungguhnya, ia pun juga sangat merindukan putranya itu.
Agni menceritakan bahwa ia ditolong oleh seorang petani. Bahkan petani itu bersedia menampung Agni di rumahnya. Namun, karena satu dan lain hal, petani itu belum bisa untuk mengirimkan kabar kepada keluarga Agni. Agni juga berjanji, akan mengenalkan petani itu kepada keluarganya.
Seharian itu mereka menghabiskan waktu untuk menceritakan kisah Agni, untung saja deru tangis di halaman tadi pagi, tak terlalu mengundang perhatian tetangganya, sehingga belum ada yang mengetahui kehadiran Agni, sekalipun Dirjo, sahabat Agni yang rumahnya bersebelahan dengan rumah Agni.
Bahkan di hari itu, Ayah Agni hanya pergi kesawah untuk memeriksa pematang saja, ia segera pulang tanpa mengerjakan pekerjaan lainnya yang biasa ia lakukan di sawah, meski hanya sekedar duduk-duduk dan mengobrol dengan kawan-kawan sesama petani. Tak lain demi mendengar kisah putranya.
Esoknya, baru kabar itu tersiar di antara tetangga mereka. Beberapa tetangga mendatangi rumah Agni untuk mengucapkan selamat sekaligus ingin mendengarkan kisah Agni, terutama Dirjo sendiri, ia sangat bahagia sekali sahabatnya itu ternyata masih selamat, karena setelah kejadian tenggelamnya Agni, Dirjo merasa bahwa dirinyalah yang menyebabkan Agni mendapat musibah itu. Hingga berminggu-minggu sikap Dirjo sama sekali berubah, ia menjadi pendiam dan lebih banyak melamun sehari-harinya.
Selama dua hari penuh rumah Agni menjadi ramai karena kedatangan para tetangganya. Dan setelah hari itu, perlahan, Agni mulai menjalani kehidupan seperti biasanya. Pertama kali orang yang Agni percaya untuk mendengarkan kisah Agni sebenarnya, justru adalah Dirjo, sahabat terdekatnya.
"Apa kau tak percaya Jo?" Tanya Agni ketika berada satu bukit di desanya.
"Haha... sebelumnya aku sangat susah mempercayaimu, kali ini, aku akan berusaha mempercayaimu, beneran... Aku akan mempercayaimu" tegas Dirjo, sebenarnya ia masih agak ragu, namun cerita Agni terdengar cukup meyakinkan.
"Jelas kau tak percaya, baik lihatlah ini" Agni mengalirkan qi di ujung jarinya, kemudian dengan elemen yang ia milikki, ia mengubah energi qi di ujung jarinya menjadi api berwarna biru.
Inti api mempunyai tingkatan-tingkatan. Tingkat bumi terbagi menjadi dua, tingkat rendah api berwarna merah, dan tingkat tinggi api berwarna jingga. Tingkat langit juga terbagi menjadi dua, tingkat rendah api berwarna kuning, dan tingkat tinggi api berwarna biru. Dan yang tertinggi adalah tingkat suci, yang memiliki satu tingkatan saja, yaitu inti api berwarna putih.
Itulah yang membuat ke empat guru Agni terkagum-kagum, bukan hanya Agni memilikki inti api tingkat langit, bahkan Agni mempunyai dua inti api tingkat langit, yaitu inti api berwarna kuning dan biru. Benar-benar bakat yang sangat jarang sekali ditemui, tidak lagi 10 atau 20 ribu tahun sekali, bahkan mungkin dalam 100 ribu tahun atau lebih, belum tentu di temui pemilik akar roh elemen tunggal, yang mempunyai bawaan alami dua inti api.
"Aa....aaapa.... Bagaimana mungkin Ag? Sihir kah itu?" Dirjo yang terkejut, melangkah mundur dengan bertumpu pada kedua telapak dan tangannya, sekalian dengan pantatnya, karena mereka sedang duduk saat itu.
"Apa kau ingin merasakannya?" Goda Agni sambil menjulurkan tangannya ke arah Dirjo.
"Jangan bercanda kau Ag" seru Dirjo.
"Coba kau rasakan sendiri jika tak percaya" seru Agni.
"Hahaha... Ba..baiklah... Aku percaya... Sudah.... aku percaya...." Kata Dirjo sambil kembali duduk pada posisinya semula.
"Aku mempunyai rencana untuk memberi pelajaran pada keluarga Ming itu Jo, tapi aku harus memberi tahukan keadaanku kepada keluargaku terlebih dahulu" kata Agni kemudian.
"Apa kau serius Ag? Keluarga Ming itu tidak hanya satu dua orang saja, apa kau yakin bisa mengalahkan mereka?" Tanya Dirjo khawatir.
"Sudahlah, kau tidak usah ikut memikirkannya. Yang terpenting sekarang, bagaimana aku menceritakan ini pada keluargaku" ujar Agni.
"Terserah kau saja Ag, namun benar, kau memang harus bercerita pada keluargamu dulu" pungkas Dirjo.
Malam harinya, Agni menemui kedua gurunya di alam jiwa.
"Bagaimana Eyang, Guru?" Tanya Agni.
"Hahaha... Kau hanya khawatir berlebihan saja, sudahlah, ceritakan saja" jawab Chua Pek Dong.
"Mereka pasti justru akan merasa bangga memilikki putra sepertimu" imbuh Takada Tanaga.
"Bukan seperti itu maksudku Eyang, Guru, aku justru khawatir akan membawa kesedihan bagi orang tuaku"
"Sudahlah Cu, ceritakan saja, apa mau terus kau simpan?" Sebenarnya dalam hati Chua Pek Dong, dia bangga pada keturunannya itu, Agni masih memikirkan kekhawatiran orang tua pada dirinya yang menjadi kultivator, itu pertanda bahwa Agni memanglah anak yang mempunya bakti pada orang tuanya.
__ADS_1
Setelah beberapa waktu berbicara, Agni pun keluar dari alam jiwanya.
"Bocah sinting, apa kau tak ingin membantunya?" Tanya Takada Tanaga.
"Biarlah, dia harus bisa mengatasi masalahnya, aku yakin akan baik-baik saja, dia hanya terlalu khawatir saja" pungkas Chua Pek Dong.
Selain kondisinya sendiri, juga dorongan kedua gurunya, esok paginya Agnipun memberanikan diri untuk bercerita kepada keluarganya.
Yang menjadi alasan kekhawatiran Ayah dan ibu Agni, mereka tahu benar bagaimana persaingan dunia kultivasi. Yang kuat akan menindas yang lemah, dan yang lemah akan melampiaskan kelemahannya pada manusia biasa. Ayah dan Ibu Agni menganggap, dunia kultivasi adalah dunia tanpa kedamaian, karena mereka terlalu tinggi menghargai sebuah kekuatan, dan sangat meremehkan kelemahan.
"Apakah kau bercanda Agni?" Ibu Agni tak mampu menahan perasaannya mendengar Agni mengutarakan keadaanya.
Meskipun ayah Agni merasakan hal yang tak jauh berbeda dengan istrinya, namun Mahisa Pukat masih lebih bisa mengendalikan perasaannya. Sementara Rara Kencana, yang juga berada di ruangan itu, merasa tak pantas untuk ikut pembicaraan tersebut, ia hanya diam menyaksikan pembicaraan itu
"Kau tahu Ngger, dengan menjadi kultivator, maka untuk selanjutnya hidupmu akan dipenuhi persaingan, sangat mungkin kau akan dalam bahaya" kata Ayah Agni.
Sebagai kultivator bebas, memang sangat bisa jadi Agni akan menjadi incaran keluarga praktisi atau kultivator yang tergabung dalam satu sekte. Karena kultivator bebas, tidak mempunyai perlindungan, dan yang menjadi incaran adalah harta yang dibawa oleh kultivator bebas. Siapa tahu ada harta berharga yang dibawa oleh kultivator bebas itu.
"Aku tahu Ayah, aku bisa meyakinkan Ayah, aku mempunyai bekal yang cukup untuk melindungi diriku dan juga keluarga kita" jawab Agni.
"Bagaimanapun, kau akan membuat ibu khawatir Agni? Apa kau tak bisa kembali menjadi orang biasa saja" keluh Puspandari.
"Benar Agni, aku dengar, seorang kultivator masih bisa kembali menjadi orang biasa" bujuk ayahnya.
"Maaf Ayah, ibu, justru aku mempunyai tekad untuk mengubah keadaan tanah jawa ini, apa selamanya kita akan rela, para kultivator itu menjadi penguasa di tanah kita?" Ujar Agni.
"Ayah dan ibu mengajarkanku, sebagai manusia yang berbudi untuk tak segan menolong sesama, dan sekarang aku mempunyai cukup bekal untuk mengamalkan apa yang Ayah dan Ibu ajarkan. Maafkan aku Ayah, ibu, bukan aku anak yang lupa bakti, tapi apakah aku tak boleh memutuskan sendiri langkahku ini?" Ujar Agni.
Perkataan Agni itu cukup menusuk perasaan kedua orang tuanya. Namun kemudian keduanya menjadi agak tersadar, bagaimanapun, Agni telah beranjak dewasa, dia berhak untuk menentukan langkahnya sendiri. Apa lagi jika dinilai kembali, tujuan Agni adalah tujuan yang mulia.
"Baiklah Ngger, tak ada yang bisa kukatakan lagi, engkau telah dewasa, kami juga tak akan bisa menghalangimu, aku hanya bisa berpesan, kau harus berhati-hati dan meningkatkan kekuatanmu, kau harus menyadari, tujuanmu bukanlah hal yang mudah untuk dilaksanakan" kata Ayah Agni.
"Terima kasih Ayah, aku berjanji akan menjaga keselamatanku dan akan membuat Ayah Ibu bangga atas keputusanku" Agni mengucapkan itu sambil menjatuhkan diri untuk bersimpuh di kedua lutut Ayah dan ibunya.
"Oh ..Agniii...." Puspandari mengelus kepala anaknya yang sekarang berada dilututnya itu, ia memang bersedih, namun ia menjadi bangga kepada anaknya itu. Pun begitu apa yang Ayah Agni lakukan.
"Baiklah ayah, ibu, aku ingin memperkenalkan Ayah dan Ibu kepada leluhur, yang sekaligus menjadi guruku" ujar Agni.
Untuk memanggil kedua gurunya yang berada di alam jiwa, Agni tidak perlu memasuki alam jiwanya, Agni cukup memanggil dengan kekuatan spiritualnya, maka panggilan Agni itu akan terdengar oleh kedua gurunya yang berada di alam jiwa. Hal itu telah ia pelajari dari Gajahmada, master spiritual yang juga menjadi gurunya.
Namun sebelum Agni memanggil, kedua gurunya tiba-tiba saja muncul dan berdiri di belakang Agni. Sebenarnya, telah sedari tadi mereka berdua keluar dari alam jiwa Agni dan menyaksikan semua yang terjadi.
"Eyang, Guru...!" Seru Agni.
Kedua orang tua Agni dan juga Rara Kencana sangat terkejut dengan kehadiran yang tiba-tiba itu, apalagi wujud kedua orang tua itu berselimut asap. Namun karena Agni telah menceritakan, sehingga kedua orang tua Agni segera dapat mengatasi keterkejutannya. Kedua orang tua Agni pun segera bersimpuh. Di ikuti pula oleh Rara Kencana.
"Cucu memberi hormat kepada leluhur" seru ketiganya berbarengan.
"Aku terima hormat kalian, bangkitlah" jawab Chua Pek Dong.
Selanjutnya, setelah saling berkenalan, Chua Pek Dong dan Takada Tanaga meyakinkan kepada kedua orang tua Agni, untuk tidak terlalu khawatir terhadap apa yang akan dihadapi Agni. Kekhawatiran Kedua orang tua Agni pun menjadi jauh berkurang dengan kehadiran dan penjelasan dua orang tua itu. Kemudian mereka saling mengobrol beberapa saat, sebelum kedua orang tua itu kembali ke alam jiwa Agni.
__ADS_1