Pendekar Tongkat Pemukul Anjing

Pendekar Tongkat Pemukul Anjing
Ep 21 - Alam Hewan Iblis


__ADS_3

"latihan kalian kali ini adalah memancing ikan!" Ujar Suk Ang Hin setelah memberikan kepada murid barunya beberapa buah pisang sebagai sarapan pagi.


"Apa Ssaem, memancing?" Tanya Rara Kencana tak percaya bahwa latihan pertamanya justru memancing.


"Jaga sikapmu Rara" sergah Mahisa Pukat.


"Maafkan sikap putriku Ssaem" imbuhnya.


Sebagai lelaki dewasa sepenuhnya, Mahisa Pukat mengerti bahwa tak ada yang bisa didapatkan dengan instan. Ia juga memahami, pasti ada tujuan dari perintah gurunya itu.


"Hahaha.... Tak apa Pukat, jadi bagaimana Rara? Bukankah kau ingin sekuat kakakmu itu?" Kata Suk Ang Hin.


Rara Kencana sendiri memang belum bisa di bilang dewasa sepenuhnya, usianya masih 15 tahun, apalagi dia anak bungsu, susah untuk melepaskan sikap manja dari dirinya.


"Rara memang belum bisa memancing Ssaem, hanya sekali-sekali pernah juga ikut Ayah memancing, tapi bagaimana bisa kuat dari memancing Ssaem?" Gerutu Rara Kencana.


"Hahaha... Terserah engkau Gadis kecil, kalau kau tidak mau, nanti siang kau hanya akan makan pisang ini lagi" Suk Ang Hin mengancam.


"Ibuuuu, masa' hanya memancing sih Bu..." Rengek Rara Kencana.


Ben Crutch mengeluarkan 4 joran pancing dari cincin penyimpanannya.


"Kalau kalian tidak segera memulai, ikan-ikan itu akan segera kenyang kalau mereka sudah dapat makanannya sendiri, akan lebih susah bagi kalian untuk memancingnya" katanya.


"Umpannya kalian cari sendiri, aku ingatkan, cari sendiri. Pukat, kau hanya boleh mengajari anak istrimu untuk mencari umpan, tapi jangan membantunya!" Imbuh Gajahmada.


"Hiks...hiks... Apa kang Agni dulu harus memancing juga seperti ini... Hiks..." Keluh Rara Kencana.


"Hahaha... Kau tau, kakakmu itu harus dipukuli sampai pingsan sebelum berlatih, apa kau mau seperti kakakmu gadis kecil?" Ujar Suk Ang Hin.


"Hiks, apa ssaem tega memukuli gadis kecil seperti aku Ssaem"


"Hahaha...sudahlah, kalian mulai saja, tapi sebelumnya, makan ini dulu" pungkas Suk Ang Hin sambil memberikan pil penempa tubuh tingkat tinggi namun dengan dosis yang rendah agar ke empat murid barunya itu bisa menyerapnya dengan sempurna.


Berbeda dengan Agni, selain memiliki bakat khusus, dantian dan beberapa titik meridian Agni juga telah terbuka ketika pertama kali Agni resmi menjadi murid mereka, bahkan secara alami Agni telah mengendalikan sendiri aliran qi nya pada tahap pengumpulan qi, tanpa bimbingan siapapun. Dan dengan rumput giok, bahkan Agni telah menerobos Ranah perwira tahap menengah. Sesuatu yang belum pernah didengar oleh guru-guru Agni meskipun mereka telah hidup ratusan ribu tahun sebelum menjadi roh.


Namun begitu, dalam semua ilmu tata gerak yang diberikan oleh guru-gurunya, sama sekali Agni tak menggunakan energi qi nya untuk melakukan semua jurus yang di ajarkan, hingga Agni bisa menguasainya dengan sempurna.


Sedangkan ke empat murid baru mereka saat ini, benar-benar memulai dari awal, maka ujian kesabaran dan penempaan tubuh dibutuhkan untuk memperkuat pondasi mereka terlebih dahulu.


Hingga siang, waktu memancing telah usai. Rara Kencana terlihat sangat senang sekali karena dia mendapatkan dua ekor ikan. Meskipun itu jumlah paling sedikit daripada kedua orang tuanya dan juga Dirjo.


Ke empat orang itupun makan siang dengan ikan-ikan yang mereka dapatkan. Pada sore harinya, mereka diberi tugas untuk menangkap kelinci dengan tangan kosong di tempat yang telah di tentukan oleh guru mereka.

__ADS_1


Suk Ang Hin telah menyiapkan area sekitar 100 meter persegi yang telah ia beri formasi pembatas agar beberapa ekor kelinci yang ia tempatkan di tempat itu tidak bisa berlari jauh. Masing-masing dari keempatnya menempati satu area. Itu sungguh menyiksa Rara Kencana.


"Huuu...Ssaem, tadi harus memancing, sekarang menangkap kelinci, nanti malam apa lagi?" Gerutu Rara Kencana sambil melipat muka.


"Haha... Lakukan saja gadis kecil, apa kau lebih memilih dipukuli hingga pingsan?" Godanya.


Walaupun memperlihatkan ekspresi terpaksa, namun dalam hati Rara Kencana, ia bertekad besar untuk menjadi kuat seperti Kakaknya, sehingga ia berjanji dalam hatinya sendiri, untuk berusaha dengan sungguh-sungguh.


Sementara itu, didalam goa tempat Agni berlatih, Agni sedang menyerap pil pertama dari 5 pil tingkat suci yang ia persiapkan. Saat ini Agni sedang melihat ke dalam seluruh bagian tubuhnya.


Dahi Agni telah bercucuran keringat. Ia merasakan setiap bagian tubuhnya berkedut karena menyerap pil suci yang ia telan. Kemudian, Agni merasakan aura gelap yang belum pernah ia temui sebelumnya. Agni segera menyadari, itu aura membunuh yang ia dapat dari nyawa Ming Goman, ia masih merasa terganggu dengan itu.


Tiba-tiba saja tanpa di inginkan Agni, ia memasuki alam spiritualnya, ini berbeda dengan alam jiwa. Agni bagaikan sedang melayang di langit tanpa batas yang dipenuhi bintang gemintang.


Kemudian, beberapa meter dihadapan Agni, seperti muncul dari dalam air, satu benda yang diselimuti sinar yang cukup menyilaukan, hingga tak terlalu terlihat benda apa yang diselimuti sinar itu.


Agni memicingkan mata untuk dapat melihat lebih jelas, kini agni cukup yakin, sesuatu yang diselimuti sinar itu adalah bayangan seorang manusia.


"Terlalu lemah, apa kau benar-benar sanggup menerima ujian itu anak muda" suara itu menggema memenuhi alam spiritual Agni, hanya datar saja, namun kekuatan yang sangat besar sedang menekan Agni si semua bagian tubuhnya, bahkan ia merasa sulit untuk sekedar berbicara.


Tubuh Agni yang sesungguhnya pun berkeringat semakin deras membasahi pakaiannya.


"Mmmaa...mmaaa...maaf... Llll...llle...lluu...hur... Aa....kkuuu... Tak...tta..hu... Makk...sud... Llle..lluu...hur..." Agni berjuang dengan seluruh kekuatan yang ia punyai untuk dapat mengeluarkan kata-katanya itu.


Tiba-tiba saja Agni kembali ke alam sadarnya di dunia luar. Agni mencoba mengatur nafasnya yang masih terengah-engah sambil memikirkan apa yang baru saja terjadi. Namun belum juga nafasnya kembali teratur, tiba-tiba saja segaris sinar dengan cepat sekali mengitari tubuhnya dan dalam sekejap menyelimuti tubuh Agni, kemudian membuat Agni hilang dari goa itu.


"Tempat apa ini, alam hewan iblis?" Tiba-tiba saja Agni telah berada di tengah hutan yang sangat aneh, pepohonan yang nampak dimatanya jauh berbeda dengan pepohonan yang pernah ia lihat. Tiap batang pohon berwarna lebih gelap dan diselimuti asap tipis.


"Ingatlah, pertahankan dirimu, nyawamu menjadi taruhan" suara yang sama dengan yang ia dengar sebelumnya terngiang di kepalanya.


"Aku harus bagaimana? Tidak, aku tidak boleh panik, sial, bagaimana mungkin aku harus mempertaruhkan nyawaku untuk sesuatu yang tidak aku ketahui" gerutu Agni.


Agni memandang sekelilingnya, perasaan aneh dan menyeramkan ia rasakan. Batang-batang pohon disekelilingnya begitu besar, mungkin lebih dari pelukan 3 atau 4 orang dewasa.


Agni mengerahkan kemampuan melihatnya beberapa puluh meter kedepan. Namun tiba-tiba saja ia merasakan aura seseorang di ranah kaisar tahap akhir.


Agni membalikkan tubuh, karena aura itu datang dari arah belakangnya. Agni terkejut bukan kepalang, karena pemilik aura itu bukanlah seorang manusia. Seekor hewan seperti kumbang tanduk berukuran, merayap turun dari pohon yang berada sekitar sepuluh meter dihadapan Agni. Dan bahkan Agni baru merasakan aura hewan itu setelah belasan meter dari tempanya. Padahal biasanya, Agni bisa merasakan beberapa puluh meter dari dirinya.


"Gila, hewan apa ini, apa mungkin kumbang tanduk bisa sebesar ini?" Itu memang mirip sekali dengan kumbang tanduk yang memiliki dua tanduk di bagian atas kepala, melengkung ke bawah, dan satu tanduk di bagian atas mulutnya yang melengkung ke atas, serta mempunyai kaki yang lebih panjang dari kumbang tanduk biasa. Tentunya perbandingan itu jika kedua kumbang dalam ukuran yang sama.


Selain ukuran tubuhnya yang jauh lebih besar, tanduknya tidak hanya berada di kepala saja, namun tanduk-tanduk itu juga tumbuh disepanjang kaki-kakinya.


Agni berusaha berpikir jernih karena kumbang itu hanya melangkah perlahan saja.

__ADS_1


"Apakah aku harus menghindar. Tapi aku juga belum tahu keadaan tempat yang lainnya. Setidaknya beberapa puluh meter disekelilingku hanya aura hewan ini yang kurasakan, jika di menyerang sepertinya aku harus keras membunuhnya" begitu pemikiran Agni.


Kumbang tanduk itu kini telah sampai di tanah, tiba-tiba Agni merasakan aura membunuh yang kuat sekali dari kimbang itu.


"Sial, baru datang sudah harus melawan kumbang raksasa sebesar ini" Agni menggerutu sambil mengeluarkan tongkat dari cincin penyimpanannya.


Kumbang itu semakin dekat dengan Agni, kemudian mulai menyerang Agni dengan kaki depannya yang lebih panjang dari kaki lainnya.


Agni menghindari serangan dari kumbang itu. Awalnya Agni mengira dengan tubuh sebesar itu, dan ciri khas kumbang tanduk yang biasa ia temui di dunianya mempunyai pergerakkan yang lambat, mungkin kumbang didepannya ini juga bergerak lambat.


Ternyata Agni salah duga, serangan itu datang dengan sangat cepat, untung saja Agni masih sempat menghindar.


Menyadari telah melakukan kesalahan yang hampir mencelakakannya, Agni semakin serius. Hingga belasan kali kumbang itu menyerang, Agni masih terus menghindar.


Kumbang itu sebenarnya juga menyadari, makhluk aneh yang akan menjadi mangsanya hanya berada ranah kaisar tahap menengah, namun beberapa kali menyerang, ia masih belum mampu untuk menyentuh tubuh Agni.


Sejenak kemudian puluhan serangan sudah kumbang itu lesatkan dengan semakin cepat, Agni mulai kerepotan, apalagi kumbang itu berada satu tingkat di atasnya. Kadang-kadang ia harus menahan serangan kumbang itu karena tak sempat untuk menghindar.


"Sialan, tidak mungkin aku harus menghindar terus-menerus" pikir Agni.


Ia berusaha mencari celah untuk memberikan serangannya. Perhitungannya, kumbang itu memiliki titik lemah di bagian atas tubuhnya.


Tepat perhitungan Agni, ia melompat tinggi kemudian mengayunkan tongkatnya keras memukul punggung kumbang itu.


"Luar biasa, kulitnya keras sekali" ujarnya dalam hati ketika pukulannya itu membentur sulit punggung kumbang itu, dan sepertinya tak terlalu memberikan efek.


Kini Agni membelakangi kumbang itu, namun dengan cepat kumbang itu juga berbalik menghadap Agni.


"Kau memang kuat, tapi setidaknya aku tahu bagian lemahmu" pikir Agni.


Kini Agni berinisiatif menyerang terlebih dahulu, ia meloncat tinggi dan hinggap di punggung kumbang itu.


"Hehe...sekarang terimalah pukulanku kumbang jelek" pikir Agni.


Namun betapa terkejutnya Agni, kumbang itu meloncat dan memutar tubuhnya, Agni tak ingin terlambat, ia segera meloncat agar tak tertindih kumbang itu. Ternyata kumbang raksasa itu meloncat dan memutar tubuhnya 360 derajat hingga membuatnya kembali berdiri di tempatnya semula.


"Sial... Aku harus berusaha keras mencari titik lemahnya"


Pertarungan mereka kembali terjadi, ratusan jurus telah Agni kerahkan, namun kumbang itu benar-benar tak memberi celah sama sekali pada Agni. Andai ada satu dua serangan Agni yang menemui sasaran, itupun mental begitu saja karena kulit kumbang uang keras itu.


Keringat di tubuh Agni telah bercucuran, itu cukup menguras energi qi nya.


"Buugghhh"

__ADS_1


Agni terlempar beberapa meter saat salah satu serangan kumbang itu luput dari perhatian Agni dan menyentuh dadanya.


__ADS_2