Pendekar Tongkat Pemukul Anjing

Pendekar Tongkat Pemukul Anjing
Ep 18 - Menghancurkan Keluarga Ming bag.2


__ADS_3

Agni telah sampai di depan pintu rumah keluarga Ming. Papan nama di atas pintu itu bertuliskan Ming dalam huruf China atau disebut juga huruf hanzi, namun di bawah huruf hanzi tertulis "keluarga Ming" dengan huruf alfabet.


Dua orang penjaga berdiri di kedua sisi pintu itu. Agni telah menyiapkan beberapa batu kecil di tangannya. Kedua pengawal yang kedatangan tuan mudanya itu, segera bersiap memberi hormat. Namun tiba-tiba saja sesuatu menghantam titik dantian kedua pengawal itu.


"Bughh...bugh.."


Muka kedua pengawal itu berubah merah padam, tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba saja mereka kehilangan dantian tanpa mengetahui sebabnya. Merasa kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya, kedua pengawal itu terduduk meratapi nasib tanpa bisa berkata apa-apa.


"Duaaar" Agni menghancurkan pintu gerbang rumah keluarga Ming.


Agni segera memasuki halaman rumah itu diikuti ketiga Ming bersaudara. Ketiganya tak bisa berbuat apa-apa, mereka telah mengetahui ranah Agni sesungguhnya, dan ketiganya menyadari, ayahnya sekalipun bukan tandingan anak muda didepannya itu.


Ming bersaudara itupun menyadari, Ayahnya berada dalam bahaya. Namun ketiganya lebih takut akan ancaman Agni, seolah-olah mereka lebih rela kehilangan ayahnya daripada kehilangan dantiannya.


"Setan mana berani berbuat onar di kediaman keluarga Ming!" Tanpa melihat ketiga tuan mudanya yang hanya diam saja saja, seorang pengawal yang berada di halaman rumah itu, segera menyerang Agni yang dilihatnya hanya ranah perwira tahap menengah.


"Bugh"


Pengawal itu tersungkur dengan muka merah padam sambil memegang bagian bawah perutnya.


Melihat rekannya jatuh, ketiga pengawal lainnya yang memang bertugas di halaman tak diam saja. Mereka segera menghambur untuk menyerang Agni.


"Bugh..bugh..bugh..." 3 orang lagi jatuh memegang titik dantian mereka. Pengawal itu tak menyangka tiba-tiba saja telah hilang kemampuan kultivasinya.


"9 pengawal lagi" kata Agni dalam hati.


Agni bertekad akan menghancurkan titik dantian semua anggota keluarga Ming, termasuk pula para pengawalnya. Sudah menjadi rahasia umum di dunia kultivator, lebih baik mati daripada kehilangan dantian.


"Berani benar kau, hanya semut rendahan mengacau di tempatku" hanya beberapa saat saja, semua anggota keluarga Ming telah berkumpul di halaman kediaman keluarga Ming yang cukup luas itu.


Dengan menyebut "tempatku" jelas sudah bagi Agni bahwa orang tua yang rambutnya mulai agak keputihan itu adalah kepala keluarga Ming.


"Eh... Maaf senior... Bukan maksudku, hanya saja, dulu tiga putramu ini membuat aku dan temanku babak belur dan pingsan di pasar, tapi aku tak dapat kompensasi, juga anak pamanku hilang di rumah ini, aku ingin menjemputnya"


"Kurang ajar... Bicara tak sopan pada patriak keluarga Ming... Matilah...!" Ming Jizhun yang merupakan anak pertama tak dapat membiarkan seekor semut berani meracau sembarangan.


"Wush" sebuah sinar hitam kemerahan melesat ke arah Agni.

__ADS_1


Agni segera mengeluarkan tongkat dari cincin penyimpanannya dan mengayunkannya. Sebuah sinar kehijauan menghalau serangan Ming Jizhun


"Slaaassh" kepulan asap tipis keluar karena benturan itu.


"Aa..apa...?" Semua orang tak percaya, ranah perwira tahap menengah bisa menghalau serangan ranah Raja tahap awal.


"Tunggu...tunggu senior..tunggu...jangan buru-buru" ujar Agni sambil berisyarat dengan telapak tangannya agar orang-orang itu menunda seranganya.


"Aku ingin menunjukkan sesuatu terlebih dahulu"


Lepas berkata, Agni membidik ketiga dantian Ming Tan, Ming Hautse dan Ming Yu kemudian melesatkan batu kecil yang batu kecil yang ia persiapkan dengan kecepatan luar bias menghancurkan dantian ketiga pemuda itu. Agni ingin membuat Ming Goman merasakan bagaimana rasanya kehilangan satu bagian penting dalam hidupnya.


"Tan'er, Tse'er, Yu'er...." Teriakan beberapa orang bersamaan, sementara ketiga pemuda yang dipanggil itu terduduk dengan muka merah padam.


"Matilah bangsaaaaaatttttttt". Ming Goman tak mampu menahan amarah, ia segera menerjang Agni. awalnya Ming Goman menahan diri karena melihat hanya bocah ranah perwira tahap menengah saja yang mengacau, tak perlu ia turun tangan.


Pertempuran patriak keluarga Ming dengan bocah yang dikira hanya ranah perwira tahap menengah itu membuat semuanya tercengang, lantai halaman mulai terlihat retakan-retakan serta percikan-percikan sinar menghiasai pertarungan kedua orang itu. Puluhan jurus telah saling bertemu.


"Hahaha... Bagaimana rasanya senior, anakmu itu masih hidup, sedang anak pamanku telah kau hilangkan nyawanya" Agni masih dapat berbicara dengan santai di pertempuran itu. Ia juga masih masih memanggil senior kepada Ming Goman, biasanya panggilan senior hanya ditujukan pada mereka yang berilmu lebih tinggi.


"Bicara apa kau... Terimalah ajalmu" Ming Goman semakin gencar memberikan serangan, aura membunuhnya sangat tajam mengarah ke Agni. Ming Goman juga telah mengeluarkan pedangnya. Tapi aura membunuh Ming Goman itu tak berpengaruh sama sekali terhadap Agni, apalagi ia mengenakan baju zirah badak emas. Namun beberapa orang yang menyaksikan pertarungan itu harus mundur beberapa jarak menghindari efek pertarungan.


"Luar biasa baju zirah ini" desis Agni dalam hati.


Sementara Ming Goman yang tadinya merasa senang karena pukulannya mengenai sasaran, menjadi terperangah tak percaya karena pukulannya tak berakibat apa-apa pada lawannya itu.


"Hmmm... Pantas saja kau berani berlagak, ranah apa kau sebenarnya?" Tanya Ming Goman disela-sela pertempuran itu.


"Hahaha... Apakah penting senior? Apakah jika kuberi tahukan ranahku kau akan berletuk kutut... Eh... Maaf... Bertekuk lutut padaku? Haaha...." Canda Agni yang semakin membuat geram Ming Goman.


Sementara semua orang menyaksikan pertarungan yang semakin mengerikan itu, beberapa orang tak mampu mengikuti gerakan keduanya. Tidak mungkin bocah ranah perwira dapat mengimbangi ranah kaisar. Kini mereka menyadari, setidaknya Agni berada pada ranah yang sama dengan Patriark mereka.


"Uhuukkk..." Ming Goman terlempar mundur beberapa meter ke belakang, darah segar mengalir di mulutnya.


"Patriark...!!!" Teriak yang lainnya.


"Guan'er, Xing'er, jangan diam saja, bantu aku"

__ADS_1


Sebenarnya kedua adik Ming Goman sudah sedari tadi ingin membantu kakaknya itu, tapi mereka khawatir itu justru akan membuat kakaknya tersinggung.


"Hiyyyaaattt" ketiganya kembali menerjang Agni dengan aura membunuh yang kuat.


"Hahaha... Inilah yang dikatakan keluarga terkuat di kota Ngalam, melawan seorang anak-anak juga main kroyokan, tapi tak usah sungkan, aku akan melayani kalian dengan baik" seru Agni.


Sebenarnya melawan ketiganya agak membuat Agni kerepotan. Tapi Agni adalah murid dari lima orang tua pemegang tongkat pemukul anjing yang telah menyelamatkan daratan bumi dari iblis surgawi lebih dari sejuta tahun yang lalu.


Dengan memadukan jurus irama petir yang mempunyai gerakan-gerakan rumit yang sangat cepat, serta jurus menghalau anjing masuk gang yang mempunyai pertahanan sangat rapat. Dengan cukup mudah Agni dapat mengimbangi ketiganya.


Namun Agni tak ingin berlama-lama lagi,


"Aku sudah bosan, ternyata hanya begini saja. Lebih pantas nama keluarga t*i semut dari pada keluarga terkuat. Terimalah ini, jurus anjing melompati sungai"


Agni melompat zig-zag dengan kecepatan luar biasa sambil mengayunkan tongkatnya, Ming Guan dan Ming Xing terlempar dengan muka merah padam memegang dantiannya. Sementara Ming Goman sempat melompat mundur ketika Agni menyerang kedua adiknya.


"Guan'er, Xing'er....bangsat kau... Huuaaahhhhh!!!!" Melihat kedua adiknya kehilangan dantiannya, membuat amarah Ming Goman berada di puncaknya.


Kepulan asap tipis berwarna hitam menyelimuti tubuh Ming Goman, tubuhnya membesar sehingga membuat baju yang ia kenakan robek di beberapa bagian, matanya memerah dan pupil hitamya berubah menjadi lonjong lancip seperti mata binatang. Begitu pula kedua telinganya.


Inilah untuk pertama kalinya Ming Goman menggunakan ilmu sesatnya. Selama ini belum pernah ada lawan yang membuatnya mengeluarkan ilmu itu. Bahkan sekte Awan Gunung yang berkuasa di wilayah timur pulau jawa menaruh hormat pada keluarga Ming. Sehingga tak banyak yang berani membuat masalah dengan keluarga Ming. Namun justru kini hanya seorang pemuda yang tak dikenal, membuatnya harus menggunakan ilmu itu.


Agni merasakan aura kekuatan Ming Goman meningkat, aura membunuhnya pun juga semakin pekat. Namun Agni masih sangat yakin dapat mengalahkan Ming Goman. Sebenarnya Agni tak berniat membunuh lawannya, apalagi memang Agni belum pernah sama sekali membunuh. Namun melihat Ming Goman, Agni tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Hahaha... Kau jadi mirip sekali dengan anjing kurap senior, rupanya kau benar-benar mempelajari ilmu sesat itu, berapa anak yang telah kau korbankan, sudah genap 99 anak kah?" Ujar Agni.


Ming Goman terkejut mendengar kata-kata Agni itu, selama ini hanya anggota keluarga saja yang mengetahui rahasia Ming Goman, bahkan pengawal dan pelayan di kediamannya pun juga tak mengetahui hal itu. Ming Goman jadi teringat peristiwa lebih dari sepuluh tahun yang lalu ketika salah satu pelayannya kabur dari kediamannya setelah Ming Goman mengorbankan anaknya. Namun ia sudah tak peduli lagi, ia merasa ilmunya sudah pada titik sempurna dengan mengorbankan 99 darah anak-anak.


"Hahaha... Mulutmu memang pandai bercakap anak muda. Tapi berbanggalah, kau akan menjadi korban pertama ilmuku ini, jangan menyesal jika namamu saja yang akan pulang, cih... Bahkan aku tak peduli siapa namamu" Ujar Ming Goman.


"Hahaha... Maaf senior, aku lupa mengenalkan namaku. Aku Mahisa Agni, anak petani yang akan menggebuk anjing-anjing buduk seperti kalian ini... Hahahaha" Agni terus tertawa berkepanjangan, karena kali ini, Agni mengerahkan ajian Gelap Ngampar, ilmu warisan Gajahmada.


Setiap kali berbicara atau tertawa, suara Agni itu akan memberi guncangan pada dada dan memekakkan telinga orang-orang yang mendengarnya, dia belum sempat untuk menyempurnakan ilmu itu agar bisa mengarah pada orang-orang yang di pilihnya saja.


Hal itu membuat Ming Goman mengerahkan lebih banyak qi untuk menahan goncangan pada dada dan telinganya. Namun orang-orang yang menyaksikan pertempuran itu, sebagian besar tak mampu menahan suara tawa Agni, mereka yang dibawah ranah Raja terjatuh menahan sakit, sebagian besarnya justru telah pingsan. Termasuk pula anak-anak keluarga Ming dan para pengawal keluarga itu.


Ming Goman tak bisa membiarkan itu terus terjadi, ia segera menyerang agni dengan kekuatan penuh...

__ADS_1


"Jurus amukan pedang hitam iblis neraka...hyaaahhhhh" teriak Ming Goman.


__ADS_2