
Telah berlalu 40 episode... Baik vote, gift, like, komen saran dan kritik readers sekalian sangat di perlukan bagi author untuk memberikan semangat bagi Mahisa Agni. Beribu-ribu terima kasih bagi para readers yang telah meluangkan waktunya untuk mengikuti kisah Mahisa Agni ini. Jutaan terima kasih untuk yang telah memberikan like, gift dan vote nya... Lup u pull.
****
Agni melihat bilah pedangnya yang berlumuran darah. Dua meter di hadapannya membujur mayat Bok Sun He. Ia melangkah mendekati tubuh yang tak bernyawa itu, berniat untuk membersihkan darah di pedangnya dengan kain baju Bok Sun He. Namun tiba-tiba saja sebuah serangan datang dengan cepat mengarah Agni.
"Blaammm"
Agni menghalau serangan tiba-tiba tersebut dan meloncat mundur 10 meter ke belakang.
Seseorang melayang perlahan dan turun disamping mayat Bok Sun He. Adalah Wira Satriaji alias Tuan besar Kaka, ketua Sekte Alas Roban. Ia datang tepat saat pedang Agni menusuk jantung Bok Sun He. Karena itu Kaka tak mengetahui jalannya pertarungan. Kaka hanya menyaksikan, seorang pemuda yang berada di ranah Demigod tahap awal bintang 3, telah membunuh Bok Sun He, Tetua pertama Sekte Bukit Embun yang berada di ranah Demigod tahap akhir bintang 2.
"Hmmm... Bagaimana kau bisa terbunuh Bok Sun He, dia hanya ranah Demigod tahap awal?" Kaka bertanya pada mayat Bok Sun He, dia masih belum percaya seorang pemuda yang berada di bawah ranah Bok Sun He telah membunuh Bok Sun He, pasti pemuda itu telah melakukan kecurangan sebelumnya.
Namun kematian Bok Sun He itu tidak membuatnya marah ataupun bersedih, justru itu akan melemahkan sekte saingannya. Meskipun sekte Alas Roban masih berada di Sekte menengah, namun Kaka telah yakin tahun depan sektenya akan berada di posisi 6 sekte besar kekaisaran Yun. Dengan begitu kekuatan pesaingnya, yaitu Sekte Bukit Embun, di posisi 6 besar nanti pasti akan melemah. Bukan persaingan secara khusus, namun setiap sekte pasti bersaing untuk menduduki posisi 6 besar.
Dan satu lagi yang membuat Kaka justru senang sekali dengan keadaan itu. Bahkan itu membuat Agni sangat terkejut. Tanpa menghiraukan Agni sama sekali, dengan sebilah pedang di tangannya, Kaka membelah bagian bawah perut Bok Sun He, tepat di titik dantiannya. Kemudian dengan kekuatan spiritualnya, menarik sebuah kristal seukuran genggam tangan dari perut Bok Sun He. Itu adalah inti hewan Bok Sun He.
"Aku tak percaya kau dapat membunuh Bok Sun He, pasti kau telah mencuranginya, namun itu tak masalah, kau justru membawa keberuntungan bagiku anak muda" kata Kaka sambil memandangi inti Bok Sun He yang telah berada di tangannya, kemudian memasukkan inti tersebut pada cincin penyimpanannya. Tak hanya itu, Kaka juga mengambil pedang dan cincin penyimpanan milik Bok Sun He.
"Hhmmmm... Cirimu persis seperti yang dikatakan. Jika begitu aku yakin, Bok Sun He mati karena ingin merebut sesuatu darimu. Aku bukan Bok Sun He, dan kau baru saja bertarung dengannya. Aku yakin energimu telah banyak berkurang. Sebaiknya kau serahkan pil itu agar kau tak terlalu tersiksa saat kehilangan nyawa" Ancam Kaka kepada Agni, ia merasa Agni mempunyai benda berharga, justru mungkin itu malah Pil Bunga Biru sendiri.
Melihat apa yang dilakukan Kaka terhadap mayat Bok Sun He, membuat amarah Agni terungkit, apalagi mendengar ancaman Kaka, ia mendapat keputusan untuk menghabisi orang itu pula. Meskipun Agni baru saja bertarung melawan Bok Sun He, itu hanya menghabiskan tak sampai 40% energinya.
"Tuan, pertama kau menyerangku diam-diam, kedua kau mengambil keuntungan dari mayat itu. Ketiga kau telah mengancamku. Sebaiknya perkenalkan diri tuan sebelum aku membunuhmu pula"
"Aa....apa? Hahahaha...." Kaka tertawa berkepanjangan mendengar kata-kata Agni. Ia masih meyakini Bok Sun He terbunuh karena kebodohannya. Tidak mungkin seorang di ranah Demigod tahap awal bintang 3 dapat membunuh 5 tingkat di atasnya.
"Kau terlalu percaya diri anak muda, semut berlagak harimau, biar ka..."
Ucapan Kaka terhenti di tengah jalan ketika tiba-tiba saja tubuhnya tertekan sesuatu yang begitu membebaninya, itu membuatnya jatuh terduduk dengan bertumpu pada kedua lututnya. Aura membunuh yang mengerikkan merembes keluar dari tubuh Agni.
"Itu bukan aura membunuh, ini lebih mengerikkan dari pada aura membunuh" batin Kaka dalam hatinya.
__ADS_1
"Hahaha... Mau adu tertawa paman? Hahaha......" Tertawa Agni di landasi ajian Gelap Ngampar, itu membuat dada dan telinga Kaka berguncang hebat.
"Am...ampun sen...senior..." Kata Kaka tergagap karena menahan guncangan di dadanya. Agni menarik ajian Gelap Ngampar, kemudian bertanya pada Kaka.
"Jadi bagaimana Paman, siapa yang semut sekarang? kau tak jadi membunuhku?" Ledek Agni
"Am..ampun senior, aku tak menyadari tingginya langit" rengek Kaka yang masih berlutut.
"Katakan siapa Paman, kalau tidak....hahahaha" Agni kembali melepas ajian Gelap Ngampar dalam tertawanya. Darah menyembur dari mulut Kaka. Beberapa saat kemudian ia kembali menarik ajian itu.
"Uhukk...uhukk... Jangan bunuh aku senior... Ampuni aku... Uhukkk"
"Katakan siapa paman!"
"Aku Wira Satriaji, ketua Sekte Alas Roban"
"Jleb...jleb...jleb..jleb...jleb"
"Maaf Paman, Senior Bok Sun He menunggumu minum arak bersama raja neraka" kata Agni bersamaan dengan ambruknya jasad Kaka.
Bukan tanpa alasan Agni membunuh keduanya. Bukan hanya sebagai bahan uji coba kekuatannya. Namun keduanya adalah tokoh penting yang menjadi ancaman Sekte Tapak Macan. Agni telah berjanji untuk membantu Ayu Wilis dan keluarga Harjaya, itu berarti ia juga harus membantu Sekte Tapak Macan.
Kedatangan Kaka justru keuntungan besar yang tak diduga Agni demi tujuannya membantu Sekte Tapak Macan. Ia telah menerima semua informasi dari Fang Yuen. Sekte Alas Roban telah memutus pasokan tanaman herbalnya kepada sekte Tapak Macan dan justru memberikan pasokan tersebut kepada Sekte Rubah Salju.
Padahal telah banyak diketahui ketidak cocokan Sekte Tapak Macan dengan Sekte Rubah Salju. Bahkan tanpa segan-segan, murid-murid Sekte Rubah Salju memprovokasi dan menindas sekte Tapak Macan. Sekte Rubah Salju berani melakukan itu karena hubungan dekatnya pula dengan Sekte Beruang Emas.
Selain itu Sekte Alas Roban juga kandidat terkuat yang akan menggeser Sekte Tapak Macan. Dengan membunuh ketua Sekte Alas Roban, Agni berharap akan membawa keuntungan bagi Sekte Tapak Macan.
Agni masih memandangi mayat Kaka. Beberapa orang yang menyaksikan tak ada yang berani mendekat. Bahkan mereka tidak mengetahui bagaimana bisa Ketua Sekte itu bisa tiba-tiba saja berlutut didepan Agni setelah unjuk kesombongan. Lebih terkejut lagi ketika Kaka ambruk tanpa energi kehidupan.
Agni mengambil cincin penyimpanan milik Kaka. Kemudian ia mengingat inti Bok Sun He yang diambil Kaka.
"Mereka satu ras, pastinya orang ini juga mempunyai inti itu"batin Agni.
__ADS_1
Namun keraguan merayapi hatinya, ia bergidik membayangkan membelah perut mayat didepannya. Meskipun Agni pernah membelah-mbelah isi perut hewan iblis di alam rendah, akan tetapi melakukan itu pada ras hewan iblis yang berwujud manusia didepannya itu, sama sekali hal yang berbeda. Itu membuat perutnya sedikit merasa mual.
"Bagaimana ini, jika tak kuambil, kemungkinan besar akan di manfaatkan orang lain seperti orang ini memanfaatkan inti Bok Sun He"
"Bagaimana mayat mereka setelah kuambil intinya... Aarrggghhh... Ini membuatku pusing!!!!" Batin Agni. Sementara Agni melihat semakin banyak penduduk yang menyaksikan sambil bersembunyi di balik dinding rumah atau tempat lainnya.
Setelah dilanda kebingungan hingga beberapa saat. Akhirnya Agni mendapat keputusan. Itu dilakukannya karena ia harus cepat menentukan.
"Sreett...sreet...sreet"
Agni membelah perut Kaka tepat di titik dantiannya, kemudian ia mengambil inti mayat itu. Rasa mual di perutnya hampir tak tertahankan. Setelah mengambil inti Kaka, kemudian Agni bergegas membakar kedua mayat itu dengan api biru yang keluar dari telapak tangannya.
Tidak sampai satu menit kedua mayat itu telah lebur menjadi abu. Agni yang masih menahan mual di perutnya segera melesat terbang meninggalkan tempat itu dan keluar dari kota Guziko. Sesampainya di hutan, ia mengeluarkan semua isi perutnya tak tersisa.
****
Tidak perlu menunggu esok, kabar terbunuhnya kedua orang itu telah menggemparkan kota Guziko. Belum sampai tengah malam, kabar tewasnya Bok Sun He telah sampai ke telinga Bok Pyong dan seluruh penghuni sekte Bukit Embun. Begitu pula kabar kematian Ketua sekte Alas Roban.
"Arrrrgggghhhhhhhh.......!!!!!" Teriakan panjang keluar dari mulut Bok Pyong. Itu menggetarkan kediamannya. Beberapa pelayan yang mengabdi di kediamannya tak berani bersuara.
Bok Pyong tak pernah menyangka keluarga satu-satunya telah mati dengan mengenaskan. Bahkan oleh seorang anak muda yang mempunyai tingkat kultivasi jauh dibawahnya.
"Aku harus menemukannya, hatiku tak akan tenang sebelum menyeret anak itu menemani Bok Sun He....!!!" Tekad Bok Pyong meski telah mendengar bagaimana adiknya itu tewas.
Sementara di sekte Alas Roban, pertemuan dadakan semua tetua dilaksanakan malam itu juga. Sekte itu tak mempunyai leluhur yang berada di ranah SoulGod, hanya karena jumlah anggotanya dan kekayaan herbalnya saja sekte Alas Roban dapat menjadi sekte yang kuat di antara sekte-sekte menengah. Kaka adalah satu-satunya Orang yang berada di ranah Demigod tahap akhir bintang 3.
Duka menyelimuti sekte Alas Roban, mereka tak mampu berbuat apa-apa jika orang yang membunuh ketua mereka sedemikian kuatnya. Meskipun begitu, mereka mendengar bahwa pemuda yang membunuh Tuan Besar Kaka itu masih berada di ranah Demigod tahap awal bintang 3. Sebagian Tetua masih berkeyakinan untuk dapat membalaskan dendam ketua mereka.
Meski dalam suasana duka, mereka harus bertindak cepat. Tetua pertama mereka yang baru beberapa bulan lalu menerobos ranah Demigod tahap akhir bintang 1 diangkat menjadi ketua sekte yang baru. Adalah Bimbim Setiono yang menggantikan posisi Wira Satriaji.
Bagi sebagian sekte yang lain, kabar itu menjadi kabar yang menggembirakan, namun selain dua sekte yang berduka, kabar itu juga membuat Lin Mewu, ketua sekte Rubah Salju terlihat cemas. Terlebih jika benar yang membunuh mereka berdua adalah pemuda yang diberinya lencana emas. Itu bisa membuatnya terperosok dalam kesulitan.
Bagi Lin Mewu, disamping Sekte Beruang Emas, sektenya juga mempunyai hubungan baik dengan sekte Bukit Embun. Jika pemuda itu memanfaatkan lencana yang diberikannya untuk mengadu domba dirinya dengan Sekte Bukit Embun, akan susah bagi Lin Mewu untuk menjelaskannya. Namun Lin Mewu memang beruntung, Agni telah menghancurkan lencana pemberiannya.
__ADS_1