Pendekar Tongkat Pemukul Anjing

Pendekar Tongkat Pemukul Anjing
Ep 29. - Aura Sasra Birawa


__ADS_3

Keringat mengucur deras membasahi sekujur tubuh Agni. Sebuah aura gelap menyelimuti tubuhnya, bergolak melonjak-lonjak , seolah ingin mencuat keluar dari tubuh Agni. Namun sebuah aura berwarna kemerahan menghalangi aura gelap itu.


Kedua aura itu seolah sedang saling menekan, aura gelap itu berusaha keluar membebaskan dirinya, sedangkan aura kemerahan berjuang keras menekan aura gelap itu untuk masuk kembali kedalam tubuh Agni.


Saat di satu sisi aura kemerahan menekan, di sisi yang lain aura gelap itu melonjak keluar. Terus seperti itu dengan bentuk tak beraturan bagai bentuk percikan-percikan air yang terus berubah dari waktu ke waktu.


"Ini hanya akan menghabiskan energi spiritualku" batin Agni.


Tak jauh beda dengan yang terpancar di sekeliling tubuh Agni, begitu juga di alam spiritualnya. Kedua aura itu masih terus bergelut, satu berusaha menguasai, yang lain berjuang membebaskan diri.


Agni merintih saat dahinya terasa panas dan sakit luar biasa. Ia berusaha menguasai rasa sakit itu. Titik-titik keringat di dahinya berubah warna menjadi merah, itu adalah darah!.


"Ini berbahaya, aku terlalu memaksakan kekuatan spiritualku" batinnya.


Demi mengurangi tekanan rasa sakit di dahinya, perlahan ia melepaskan kekuatan spiritual yang menekan aura gelap itu. Kedua aura yang tadinya terus bergerak saling menekan, berangsur-angsur mulai tenang.


Tiba-tiba saja ia menyadari sesuatu ketika melihat garis-garis pertemuan antara kedua aura itu. Garis pertemuan itu mempunyai warna yang berbeda dari keduanya, merah kehitaman, seolah keduanya telah saling berpadu.


"Jadi begitu, aku tak akan bisa menghilangkan aura membunuh ini, hanya bisa di padukan, terima kasih Kakung!" Itu karena Agni mengingat Gajahmada, salah satu gurunya yang telah dengan telaten melatih Agni teknik mengendalikan kekuatan spiritualnya.


Agni mengendalikan aura spiritualnya yang berwarna kemerahan berputar membentuk lingkaran mengitari aura gelap itu. Agar tak terjadi lagi gesekan dan penolakan dari aura gelap itu, Agni menggerakkan auranya dengan sangat perlahan.


Ketika aura gelap tak memberikan penolakan, ia menambah kecepatan perputaran aura spiritualnya. Dan tanpa disadari Agni, ia telah menghabiskan lima hari lima malam hanya untuk menyatukan kedua aura tersebut.


Kini kedua aura itu telah berputar seirama didalam alam spiritual Agni, setiap unsur dari kedua aura tersebut telah berpadu menjadi satu-kesatuan, dimana Agni bisa merasakan perpaduan kedua aura itu memilikki kekuatan uang cukup besar.


Sesaat sebelum Agni menyelesaikan meditasinya, aura berwarna merah gelap memancar dari tubuhnya. Walaupun aura tersebut hanya sinar tipis yang hampir transparan berwarna merah kehitaman, namun tak menghilangkan kesan mengerikan, akan tetapi itu juga tak berkesan seperti aura membunuh.


"Akhirnya berhasil juga, masih bisa di kembangkan, aku akan memulihkan diri dulu sebelum tahap selanjutnya" katanya setelah mengakhiri meditasinya malam itu.


Agni merasakan kulit dahi dan mukanya mengeras, saat ia raba, itu adalah darah yang telah mengering. Agni mengeluarkan tungku memasak dan air mata dewi, kemudian berendam didalamnya.


"Ini terasa sempit, aku hanya bisa duduk, aku harus membeli bak mandi" katanya sambil berendam.


Semalaman Agni berendam dalam tungku yang berisi air mata dewi itu. Pagi harinya, setelah makan pagi dengan persediaan olahan daging hewan iblis yang masih cukup banyak tersisa, Agni melanjutkan meditasinya.

__ADS_1


Kali ini tujuan Agni adalah menguasai aura baru itu sepenuhnya untuk dapat mengendalikannya. Agni kembali tenggelam dalam meditasinya, Dengan pemahaman teknik pengendalian kekuatan spiritual dari Kakungnya, Gajahmada. Agni berusaha keras untuk dapat menguasai dan mengendalikan aura barunya itu. Akhirnya, dalam waktu 7 hari 7 malam, Agni berhasil melakukannya.


"Saatnya mencoba" gumam Agni pagi itu.


Agni keluar dari formasi perlindungan gunung untuk mencari sasaran. Sebenarnya bisa saja ia melakukannya pada sebatang pohon, namun pohon adalah benda diam, kurang tepat untuk dijadikan sasaran.


Setelah beberapa saat menjelajah hutan, Agni melihat 5 ekor rusa yang sedang asyik mencari makan. Tanpa rusa-rusa itu menyadari kehadirannya, Agni telah berada 10 meter dari rusa-rusa itu.


Agni bersiul untuk menyadarkan rusa-rusa itu akan kehadirannya.


Sesaat setelah melihat kehadiran Agni, rusa-rusa itu hendak berhamburan pergi meninggalkan tempatnya. Namun belum setengah lompatan, tiba-tiba saja rusa-rusa itu terdiam di tempatnya tak dapat bergerak.


"Maafkan aku Rusa, hari ini relakan dirimu untuk menjadi menu makanku" gumam Agni.


Bayangan aura yang berada di sekitar tubuh Agni, sebagiannya terpisah dan membentuk sebuah telapak tangan yang besar, kemudian bergerak ke arah rusa-rusa itu, dan menggenggam salah satunya. Agni melepaskan tekanan pada 4 yang lainnya, merekapun segera berhamburan pergi dari tempat.


Rusa yang digenggam bayangan telapak tangan besar itu berusaha meronta, namun hanya sesaat saja, sebelum suara tulang yang patah karena telapak tangan itu telah mematahkan leher rusa itu.


"Aku menamainya Aura Sasra Birawa, walaupun masih satu telapak yang bisa kubuat saat ini" kata Agni puas dengan hasil yang ia dapatkan dari beberapa hari meditasinya.


Mumpung hari belum terlalu siang, Agni segera melesat terbang menuju kediaman Harjaya, ia berniat memasak rusa itu di rumah Harjaya sekalian sebagai tanda terima kasih, karena Harjaya lah Agni jadi berpikir untuk mengendalikan aura membunuhnya.


"Selamat pagi Paman" sapa Agni yang tiba-tiba saja mamasuki formasi perlindungan gunung di rumah Harjaya. Harjaya sendiri saat itu sedang memotong kayu bakar.


Melihat kehadiran Agni, tampak raut bahagia di mukanya, dan segera membuang kapaknya untuk menyambut Agni.


"Agni, kemana saja kau Ngger, sudah hampir dua minggu kau tak datang berkunjung, aku khawatir terjadi apa-apa padamu Agni" kata Harjaya sambil memegang kedua pundak Agni.


Sebenarnya ingin sekali ia memeluk anak muda itu, namun sesuatu yang dipanggul Agni itu menghalanginya. Walaupun baru beberapa hari mengenal Agni, namun keakraban yang diciptakan Agni, dan ketulusan yang Agni berikan, menumbuhkan perasaan kasih dan sayang seorang ayah terhadap anaknya dalam hati Harjaya.


"Aku baik-baik saja Paman, kok paman jadi gitu sih, eperti pemuda kehilangan gadisnya saja... Hii... Ngeriii" goda Agni.


"Dasar kau memang bocah nakal, sudahlah kalau begitu, balik saja sana" sungut Harjaya.


"Yeeee....ngambek yeeee....hahaha"

__ADS_1


"Iya...iya Paman, maafkan diriku ini, sebagai permintaan maaf, akan kumasakkan kalian daging rusa ini, bagaimana?" Bujuk Agni.


"Hahaha... Dasar... Memang kau bisa masak? Masak air saja juga mungkin akan gosong" sahut Harjaya.


"Kalau gitu Paman nanti ga usa ikut makan daging rusa ini...!"


Agni tak menunggu jawaban Harjaya, ia melangkah ke dapur melalui halaman samping rumah itu sambil berteriak.


"Biiii.... Biibiiii... Biarkan aku yang masak hari ini, kalau Bibi sedang masak, hentikan saja Biii...." Kemudian ia mengeluarkan peralatan memasaknya sendiri dari cincin penyimpanannya. Agni ingin memasak dihalaman saja dari pada didalam dapur.


Mendengar teriakan Agni, Andara yang sedang memberi pakan ayam-ayamnya dihalaman belakang, berhambur menyambut Agni. Ia senang sekali dengan kehadiran Agni, karena Agni orang yang menyenangkan dan baik sekali padanya.


Begitu juga Lasmita dan Arini, sebagaimana Harjaya, keduanya terpukau juga dengan pribadi Agni, dan telah menganggapnya bagian dari keluarganya itu. Namun agak berbeda dengan Ayu Wilis, meskipun ada rasa rasa senang ketika Agni kembali, namun ia masih menjaga sikapnya.


"Kakaaaaakkk..."Teriak Andara yang sekejap kemudian telah memeluk Agni.


"Hahaha... Andara, kau merindukanku? Apa ayam jago mu sudah siap bertanding dengan jagoku. Hahaha..." Kata Agni yang mengingatkan Andara, pertemuan terkahir sabung ayam mereka, dimenangkan oleh Agni.


"Aku sudah meminta Kak Wilis membuat ramuan terbaik buat Jibon, pasti dia akan menang kali ini" balas Andara dengan yakin Jibon, ayam jagonya itu akan menang dari ayam jago Agni


"Hahaha... Ramuan? jamu maksudmu? Jamu apa, jamu buyung upik? Hahaha" ledek Agni.


"Hmmm...liat saja, kak Wilis itu seorang Alkemis, ayo adu sekarang" pinta Andara.


Mendengar Andara bahwa Wilis seorang Alkemis, membuat Agni mengerutkan dahi, tapi ia kesampingkan dahulu sesuatu yang muncul di pikirannya itu.


"Sudahlah, nanti saja, bantu aku membersihkan rusa ini, kakak akan memasak rusa ini untuk kalian" kata Agni.


"Hiraukan saja Andara itu Ngger, baru pulang diajak sabung ayam. Syukurlah kau baik-baik saja Ngger, kau telah membuat kami sekeluarga khawatir" Kata Lasmita. Seluruh keluarga Harjaya telah mengetahui bagaimana cerita Agni dari Harjaya. Dan Ani tidak mempermasalahkan hal itu, selama mereka bisa menjaga rahasia Agni itu.


"Iya Bibi, aku tidak mengapa, Arini, saudari Wilis" jawab Agni yang kemudian menyapa Arini dan Wilis. Agni masih memanggil Wilis dengan sebutan saudari karena mengetahui status gadis itu, begitu juga cara Wilis memanggil Agni dengan sebutan saudara.


"Apakah kau benar bisa memasak Ngger?" Tanya Lasmita meragu.


"Hehehe... Tunggu saja Bi, jangan panggil aku Mahisa kalau masakanku nanti gak enak, panggil aku Agni saja"

__ADS_1


Jawaban Agni tersebut membuat semuanya tertawa, tidak lama kemudian, Agni segera menguliti dan membersihkan rusa itu, dilanjut dengan pertunjukkan ketrampilan memasak Agni didepan seluruh anggota keluarga Harjaya itu.


__ADS_2