Pendekar Tongkat Pemukul Anjing

Pendekar Tongkat Pemukul Anjing
Ep 32 - Kabar Lelang


__ADS_3

"Aku menantang lima sekte besar yang lainnya untuk bertaruh, jika dalam waktu satu tahun kedepan sekte Tapak Macan tidak dapat kembali menduduki sekte terbesar di kekaisaran Yun, Sekte Tapak Macan akan membubarkan diri dan menyerahkan semua harta sekte kepada 5 sekte besar lainnya. Namun sebaliknya, jika sekte Tapak Macan berhasil kembali menduduki sekte terbesar di kekaisaran Yun, maka kalian semua harus menyerahkan setengah dari harta kalian pada Sekte Tapak Macan...!!!!"


"Blaaarrrrr...." Suasana menjadi gempar.


"Tuan Besar....!!!" Gao Yuan, Iko Uwais, dan Aryasena sebagai tiga tetua besar yang menemani Jaya Pamungkas terkejut sekali mendengar tantangan ketuanya itu. Itu sama saja bunuh diri.


"Jaya Pamungkas kerasukan Setan" desis Bok Pyong.


"Setan mana yang merasukinya?" Sahut Lee Hong, tetua pertama sekte itu.


"Setannya Via Vallen mungkin" sahut Bang Jamil, tetua ke 2.


"Semongko...!" Imbuh tetua ke 3 nya.


Sementara bisik-bisik tetangga yang lain memenuhi ruangan itu.


Di kepala para ketua Sekte dan tetua-tetua yang ada di ruangan itu, nilai pertaruhan Jaya Pamungkas memang sangat menggiurkan. Seperlima kekayaan Sekte Tapak Macan bukan jumlah yang sedikit, meskipun keadaan Sekte Tapak Macan saat ini sedang sulit, tapi tentunya kalau hanya untuk sekedar bertahan sebagai sebuah sekte, masih sangat mencukupi.


"Maaf Tuan Jaya Pamungkas, apakah engkau sedang bergurau. Posisi Sekte Tapak Macan jelas tidak menguntungkan jika ingin bertaruh seperti itu, bahkan untuk mempertahankan posisi di 6 besar sekte saja mungkin akan sulit..!!" Xiao Dan mempertanyakan tantangan gila Jaya Pamungkas.


Sudah kepalang tanggung Jaya Pamungkas berucap, pantang menjilat ludah sendiri.


"Hahaha... apa Ketua sekalian tidak berani menerima tantanganku...?" Ujar Jaya Pamungkas.


"Tuan Besar, kumohon tarik kembali tantangan Tuan, itu benar-benar akan menghancurkan sekte" bisik Gao Yuan.


Jaya Pamungkas hanya melirik Gao Yuan sambil tersenyum tipis membuat Gao Yuan Iko Uwais dan Aryasena mengepalkan tangan mereka.


"Sepertinya Tuan Jaya stres berat, apa Tuan ingin bunuh diri?" Cibir Lin Mewu.


"Lin Mewu, kau bisa menekan Aryasena. Tapi aku tak segan-segan ******* bibir lamismu itu jika kau tak menarik ucapanmu!" Kali ini Jaya Pamungkas tak tahan mendengar cibiran Lin Mewu. Walau mereka berdua sama-sama berada di ranah Demigod tahap akhir bintang 3, tapi siapapun tahu, kekuatan fisik Jaya Pamungkas tak ada ketua sekte lainnya yang bisa menandingi.


"Ma..Maaf Tuan Besar Jaya, tapi tantangan Tuan apa tidak terlalu berlebih-lebihan" Lin Mewu merasa menyinggung orang yang salah.


"Hahaha.... Jadi apakah para Ketua tidak ada yang berani menerima...? Cih" ujar Jaya Pamungkas meremehkan nyali ketua sekte yang lainnya.


"Hahaha... Menarik...menarik... Tuan Besar Sekte Tapak Macan memang sesuai nama besarnya, apakah lima sekte besar lainnya tak ada yang berani menerima tantangan itu, aku benar-benar bersedia menjadi saksi bagi kalian" pangeran Yun Bei Du memprovokasi.


"Aku menerima tantanganmu Tuan Jaya Pamungkas, jika ketua yang lain tak ada yang berani, maka bukan hanya setengah kekayaan sekte Beruang Emas yang akan kuberikan, aku mempertaruhkan semua kekayaan sekte Beruang Emas...!!!" Xiao Dan sebagai tuan rumah, tak bisa menolak tantangan di rumahnya sendiri. Apalagi jelas sekali tantangan Jaya Pamungkas itu adalah tantangan bodoh.


"Aku juga akan menerimanya...!" Lin Mewu yang bersahabat baik dengan ketua sekte Beruang Emas menjadi penerima tantangan kedua.


Pada akhirnya, karena Xiao Dan juga Lin Mewu menerima tantangan itu, ketiga Ketua sekte yang lainnya pun menerima tantangan Jaya Pamungkas yang dinilai sebagai pertaruhan bodoh hanya untuk bunuh diri itu.


Petugas administrasi segera didatangkan untuk mendata semua kekayaan masing-masing Sekte dan membuat surat perjanjian pertaruhan yang di tanda tangani oleh semua ketua sekte dan pangeran Yun Bei Du sebagai saksi. Karena saksi hanya dari pangeran Yun Bei Du saja dirasa kurang, maka mereka mengundang pejabat aula Dagang Tugu Monas yang berada di kota Guziko untuk menjadi saksi pula. Dengan demikian disetujuilah pertaruhan tak masuk akal antara ke enam sekte besar kekaisaran Yun tersebut.


Adapun data-data kekayaan masing-masing sekte adalah sebagai berikut.


Sekte Beruang Emas 900 juta koin emas.


Sekte Rubah Salju 700 juta koin emas.

__ADS_1


Sekte Bukit Embun 600 juta koin emas.


Sekte Cahaya Matahari 500 juta koin emas.


Sekte Mahkota Gajah 500 juta koin emas.


Dan terakhir Sekte Tapak Macan adalah 400 juta koin emas.


Pengahasilan sekte besar pertahun adalah 11-20 juta koin emas.


Sekte menengah 6-10 juta koin emas, dan sekte kecil 1-5 juta koin emas.


Pendapatan Sekte Tapak Macan lima tahun terakhir anjlok tajam hingga pada akhir tahun ini hanya 6 juta saja pendapatan sekte tersebut.


Memang diantara kelima sekte, kekayaan sekte Tapak Macan adalah yang paling sedikit, itu karena 5 tahun terakhir terlalu banyak pemborosan dan minimnya pemasukan.


Meskipun begitu, andai 5 sekte yang lainnya memenangkan pertaruhan, masing-masing akan mendapatkan 80 juta koin emas, itu sama saja dengan pendapatan sekte besar selama 7-8 tahun. Tentu sangat menggoda 5 sekte yang lainnya, apalagi jelas sekali bagi mereka, tidak mungkin sekte tapak Macan bisa bertengger di urutan pertama 6 sekte besar.


Dan jika sekte Tapak Macan yang memenangkan pertaruhan, 1,6 miliar koin emas akan didapatkan. Namun siapapun pasti menyangka tidak mungkin Sekte Tapak Macan dapat memenangkan pertaruhan, melihat kondisi yang di alami sekte saat ini.


"Aku mengajukan permohonan undur diri"


"Aku juga"


"Aku pula"


Beberapa tetua dan para guru ramai-ramai mengajukan permohonan undur diri dari Sekte Tapak Macan. Mereka berpikir akan lebih baik menjadi kultivator bebas dengan penghasilan menjual jasa, jual gorengan atau jual kopi saja dari pada harus melakukan kerja sia-sia selama satu tahun kedepan, karena pertaruhan bodoh ketua mereka


*0,3% berdasarkan pengalaman author yang resign dari perusahaan dan hanya mendapatkan tanda terima kasih itu, tanpa pesangon lainnya.


Jaya Pamungkas tak bisa menghalangi niat mereka, meskipun hatinya merasa geram, namun itu juga karena tantangan bodohnya sendiri. Jaya Pamungkas pasrah akan kehancuran sekte. Ia tak menolak menjadi yang dipersalahkan.


Lebih dari 40% tetua dan para guru pengajar mengundurkan diri. Sementara yang lainnya tetap bertahan, setidaknya untuk satu tahun kedepan, mereka masih mendapatkan penghasilan.


"Tuan Besar, apakah tidak sebaiknya kita memanggil leluhur?" Gao Yuan memberikan usul.


"Percuma saja Tetua Gao Yuan, surat perjanjian telah di tanda tangani, maafkan aku" balas Jaya Pamungkas lemah.


Maka hari-hari setelah itu, geliat divisi usaha di Sekte Tapak Macan bukannya semakin gencar namun tampak semakin lesu. Penghasilan dari hari ke haripun semakin merosot. Tinggal menunggu waktu hilangnya nama sekte Tapak Macan dari kekaisaran Yun.


****


Sementara itu, Agni bersama Harjaya tengah berada di sebuah kedai dekat kantor administrasi kota Guziko, mereka menunggu kartu identitas yang sedang diproses.


"Luar biasa, ramai sekali kota ini" seru Agni.


"Ini kota terbesar di kekaisaran Yun setelah ibukota. Kau nampak belum pernah pergi ke kota saja Ag?" Tanya Harjaya.


"Hehe.. kau benar Paman, aku tinggal di sebuah pulau terpencil yang sangat jauh dari Benua pusat keramaian. Jumlah penduduknya saja hanya ratusan ribu jiwa"


"Hahaha... Kau tahu, jumlah penduduk kota ini saja lebih dari 2 juta jiwa"

__ADS_1


"Apa? Pantas saja ramai begini. Terus kenapa paman memilih tinggal di dalam hutan?"


"Apa aku harus menjawabnya panjang lebar lagi?" Balas Harjaya.


Seorang pengunjung lain dikedai itu tengah memperbincangkan sesuatu yang menarik perhatian Agni.


"Siang ini Balai Lelang Pucuk Harum akan melelang barang berharga, tapi tiket masuknya mahal sekali, mungkin hanya tuan muda keluarga kaya dan utusan sekte besar saja yang akan menjadi penawarnya" kata seorang.


"Jelas saja mahal, aku dengar yang akan dilelang adalah beberapa sumber daya dari leluhur salah satu sekte yang kembali dari alam tinggi" imbuh satunya.


"Ooohhh... Pantas saja"


Agni menjadi tertarik dengan kabar pelelangan tersebut.


"Aku belum pernah mengetahui bagaimana lelang-melelang, apakah kita akan kesana paman, sepertinya akan menarik" kata Agni.


"Aku pernah beberapa kali menemani Tuan Wiraja, namun apa tadi kau dengar, orang itu bilang tiketnya mahal sekali" jawab Harjaya.


"Semahal apa? Aku jadi ingin sekali pergi kesana"


"Aku juga tak tahu, cobalah tanya orang itu"


"Baiklah" Tanpa ragu-ragu Agni berdiri dan kemudian bertanya kepada orang yang membicarakan pelelangan tersebut.


"Maaf Saudara, bolehkah aku bertanya" sapa Agni sambil menangkupkan tangan.


"Silahkan Saudara" ekspresi kedua orang itu biasa saja saat Agni menyapa.


Namun ketika Agni bertanya harga tiket lelang, salah satu diantaranya merubah ekspresinya. Mendengar pertanyaan Agni, ia tidak segera menjawab, justru memercingkan mata sambil melihat Agni dari ujung rambut hingga ujung sepatunya. Tak terlalu terlihat sebagai orang miskin, namun mempertanyakan pertanyaan Agni yang bertanya harga tiket masuk pelelangan itu.


"Apa urusannya anak ini bertanya harga tiket" pikirnya dalam hati sambil terus memandangi Agni tanpa menjawab pertanyaannya.


Agni cukup kesal dengan ekspresi orang itu. Ia jadi ingin mengerjai orang itu.


"Hmmmm... Awas kau, manusia-manusia sepertimu memang banyak sekali berceceran di dunia ini, hanya melihat penampilan untuk menilai seseorang" batinnya.


Agni berniat hendak bertanya ke satu orang lainnya, untuk membuat orang itu menyesal tak menjawab pertanyaan Agni. Namun sebelum Agni bertanya, satu orang yang lainnya telah memberitahukan harga tiket itu dengan ramah.


"Saudara, harganya 5 koin emas, itu setara dengan 2 bulan penghasilan penjaga kedai ini, apakah saudara akan kesana?" Tanya seorang yang lainnya.


"Terima kasih sudah menjawab Saudara, bukankah saudara melihat, dari penampilanku tidak seperti orang yang akan membelinya, mungkin aku hanya ingin lewat saja, dimanakah tempat itu saudara?" tanya Agni lagi.


Sementara seorang yang lain mendengus dala hatinya, "ngapain sih Joni repot-repot menjawab pertanyaan orang ini" ternyata nama temannya itu Jono, sedangkan namanya sendiri adalah Joni.


"Oh, kau bisa ikuti saja jalan ini dan belok kanan ketika sampai di ujungnya" jawab orang bernama Jono.


Joni akan meminum minumannya ketika Agni mengucapkan terima kasih.


"Terima kasih atas jawaban saudara, koin ini untuk saudara karena telah bersedia menjawab pertanyaanku, mungkin saudara ingin pergi melihat pelelangan itu" Agni mengambil 5 koin emas dari kantongnya dan memberikan kepada Jono. Agni sengaja menyimpan beberapa koin di kantong agar tidak menarik perhatian jika mengeluarkan koin dari cincin penyimpanannya.


Dan tindakkan Agni tersebut membuat air minum yang sudah berada di depan mulut Joni, mengalir di bawah bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2