Pendekar Tongkat Pemukul Anjing

Pendekar Tongkat Pemukul Anjing
Ep 14 - Lima Tahun Kemudian


__ADS_3

Titik Qi, hanya bisa dimilikki ketika seorang kultivator mencapai ranah Perwira. Itu terletak pada dantian bagian belakang. Syarat untuk menerobos hingga ranah Perwira, relatif mudah, karena sebagian besarnya hanya mengandalkan jumlah qi seorang kultivator. Sedangkan pemahaman terhadap inti qi, hanya seputar cara kerja qi itu sendiri.


Namun dari ranah Perwira, tingkat kesulitan akan bertambah. Karena pada tahap ini, kultivator harus memahami inti qi pada dantian bagian belakang. Itulah mengapa titik qi hanya didapati pada ranah Perwira ke atas.


Secara alami, kemampuan untuk menyimpan titik qi akan meningkat seiring naiknya ranah kultivasi. Namun itu juga bisa di tingkatkan dengan mengkonsumi tanaman herbal, inti hewan buas, harta spiritual, ataupun pil-pil yang terbuat dari ketiganya. Pada umumnya, jumlah titik qi bawaan, sesuai dengan ranah dan tahap kultivasi.


Fungsi titik qi, selain sebagai indikator jumlah Qi, juga bisa digunakan untuk mengintimidasi lawan. Titik qi bisa ditunjukkan dengan pengerahan sedikit energi spritual. Misal, Agni menghadapi lawan pada ranah yang sama. Jika Agni memilikki titik qi yang jauh lebih banyak daripada lawannya, hampir bisa dipastikan, Agni akan menjadi pemenangnya. Dengan begitu, bisa membuat lawan Agni menyerah, dan Agni tak perlu membuang tenaga untuk bertanding.


Dan Agni memang beruntung, berkat rumput giok, ternyata dantian belakang Agni, telah mempunyai kemampuan untuk menyimpan 8 titik qi.


"Eyang, apakah berarti aku bisa meningkatkan kultivasiku lagi?" Tanya Agni ketika sedang berlatih dengan Chua Pek Dong.


Kelima guru Agni telah bersepakat, masing-masing dari mereka akan melatih Agni setidaknya satu tahun untuk masing-masing orang. Bisa lebih cepat andai Agni dapat memahami yang mereka ajarkan dengan baik.


"Benar, dalam kondisi aman, sebaiknya kau gunakan qi mu untuk menerobos. Karena jika qi dalam tubuhmu sudah penuh, tidak ada lagi tempat untuk menyimpan energi alam, itu bisa kau manfaatkan untuk menerobos" jawab Chua Pek Dong, kemudian ia menerangkan hal yang lainnya lagi.


Seperti yang telah dijelaskan, meski energi qi dalam tubuh seseorang telah penuh, tidak begitu saja setiap kultivator bisa menerobos. Itu juga di lihat dari kemampuan fisik, akar roh seseorang, dan juga pemahamannya terhadap inti qi. Menerobos ranah selanjutnya, itu berarti menyatukan qi dengan setiap bagian tubuh. Walau dia telah memahami inti qi pada ranahnya, namun jika kekuatan fisik tidak cukup kuat untuk menampung semua energi qi pada saat penerobosan, maka akan sangat fatal akibatnya. Bisa jadi akan menghentikan ranah kultivasinya pada tingkat itu, atau setidak-tidaknya membawa luka dalam yang membutuhkan waktu cukup lama untuk memulihkannya.


"Jika begitu, dengan akar roh yang aku milikki, dan kualitas tulang harimau ini, ranah apa yang mampu aku terobos Eyang?" Tanya Agni kemudian.


"Hahaha... Kau bersemangat sekali Cu. Dan kau memang sangat beruntung, bekalmu saat ini bahkan mampu untuk menerobos ranah Semigod sekalipun" jawab Chua Pek Dong.


"Benarkah Eyang, kalau begitu aku akan segera menerobos sampai keranah Semigod seperti Eyang...!!!!" Ujar Agni bersemangat.


"Hahaha.... Bocah edan... Kau pikir gampang.... Gemblung!" Jawab Chua Pek Dong sambil tertawa.


"Lho? Bukankah bekalku sudah cukup eyang?" Tanya Agni polos.


"Tuk...tuk..tuk..." Tongkat yang tersandar di batu pada tempat mereka duduk, tiba-tiba saja melayang mengetuk kepala Agni.


"Aduh...duh...duh...sakit Eyang" keluh Agni menggosok-gosok kepalanya.


"Hahaha... Makanya dengarkan kalau orang tua bicara" ujar Chua Pek Dong.

__ADS_1


"Kau cukup beruntung bisa memahami dengan cepat inti qi pada ranah perwira, bukankah tadi sudah aku bilang, tingkat kesulitan untuk memahami inti qi, akan semakin bertambah setiap tingkatannya" Chua Pek Dong kembali mengulangi penjelasannya.


"Itu hanya kau sendiri yang bisa menjawabnya, karena pada ranah perwira ke atas, ujian pada pemahaman inti qi, bisa berbeda-beda tiap orangnya" tandas Chua Pek Dong.


"Apakah hanya itu cara untuk berkultivasi Eyang?" Lanjut Agni.


"No...no...no... Banyak sekali teknik-teknik kultivasi Cu... Bukankah kau sudah membaca teknik kultivasi jalan pedang?"


"Bahkan dengan pemahaman yang mendalam, seorang master bisa menciptakan teknik kultivasinya sendiri"


Chua Pek Dong menjelaskan beberapa hal lagi sebelum ia meninggalkan Agni untuk melanjutkan latihannya. Beberapa hari yang lalu, ia sempat mengungkapkan kerinduannya terhadap keluarganya dirumah, kepada guru-gurunya. Namun perhitungan kelima gurunya, akan lebih baik bagi Agni fokus pada latihannya. Agni bisa mengerti, karena jika sudah berada dirumah, akan cukup susah untuk Agni mengatur waktu berlatih.


Selain itu Agni juga belum siap untuk menceritakan pengalamannya ini pada orang tuanya. Mengingat bagaimana Ayahnya cukup memahami bagaimana kehidupan dunia kultivator bekerja, yang lemah akan menjadi mangsa yang kuat, karena itu, sebaiknya bagi orang biasa seperti dirinya, lebih baik menjauhi dunia kultivasi.


Guru-gurunya juga siap menjamin keselamatan keluarga Agni, seperti yang sebelumnya telah dilakukan oleh ketiga gurunya. Itu membuat Agni semakin fokus untuk berlatih. Ia harus bisa secepat mungkin mempunyai kemampuan yang tinggi, agar keluarganya, terutama Ayahnya, dapat merasa tenang walau Agni telah menjadi seorang kultivator.


Hari-hari terus berlalu berganti minggu, bulan, dan tahun. Di awal-awal latihan, semua guru Agni menginstruksikan agar berlatih tanpa menggunakan qi. Dengan begitu, secara alami tubuhnya akan bisa menyesuaikan diri terhadap semua gerakan didalam jurus-jurus yang mereka ajarkan dengan lebih kokoh.


Sebelumnya, Chua Pek Dong telah mengatakan kepada Agni, untuk memakai beberapa alat bantu latihan yang berada pada cincin penyimpanan yang ia berikan. Namun Agni sama sekali terlupa akan hal itu. Sehingga sejak saat itu, Agni menggunakan gelang pemberat pada tangan dan kaki Agni, untuk melatih kekuatan Agni agar bisa bergerak seperti biasanya walau dalam tekanan.


Agni mempelajari semua jurus pada kitab Tongkat Pemukul Anjing, ia sempat mendongkol pada jurus ke 9, jurus Anjing dilempar batu, karena ternyata, jurus itu hanya jurus untuk melarikan diri jika bertemu lawan yang jauh lebih kuat.


Pada kitab jalan pedang, dibawah bimbingan Takada Tanaga, Agni berlatih 3 jurus dalam kitab itu. Jurus pedang Auman Raja Naga, jurus Tarian Dua Naga yang menggunakan dua pedang, dan ketiga jurus andalan Takada Tanaga, jurus pedang dua naga menjadi satu. Jurus itu menggabungkan dua pedang hingga seolah-olah menjadi satu-kesatuan, yang memberikan serangan dari semua sisi pertahanan lawan.


Suk Ang Hin mewariskan kitab formasi dan mengajarkan jurus irama petir, dan jurus dewa ilusi, keduanya merupakan jurus tangan kosong.


Ben Crutch mewariskan kitab pembuatan segala macam senjata. Dan ribuan jarum kecil sebagai senjata rahasia. Walaupun Ben Crutch seorang master senjata, namun jurus andalan Ben Crutch adalah jurus tangan kosong. Jurus Tinju Besi.


Gajahmada, mengajarkan jurus tapak sasra birawa dan jurus keris Naga Sasra Sabuk Inten serta sekalian mewariskan keris tersebut. Ia juga mengajarkan ilmu spiritual Ajian Gelap Ngampar. Tak lupa, Gajahmada mewariskan kitab Mangkubumi, yang berisi segala hal tentang kekuatan mental dan spiritual.


Tiga tahun pertama, Agni telah mampu menguasai semua jurus-jurus gerak tubuh yang diajarkan kelima gurunya dengan sempurna. Kelima gurunya sangat bahagia, karena Agni benar-benar jenius yang hanya lahir 10-20 ribu tahun sekali. Tidak heran dia bisa menguasai berbagai jurus yang mereka ajarkan dengan sempurna.


Tahun selanjutnya, Agni mempelajari dunia alkimia dibawah bimbingan Takada Tanaga. Namun kebanyakan tanaman herbal yang di wariskan Takada Tanaga, hanya bahan untuk membuat pil penyembuhan, pil awet muda, dan beberapa pil biasa lainnya, hanya sedikit saja yang bisa digunakan untuk membuat pil pengumpul qi dan pil peningkat kultivasi.

__ADS_1


Namun begitu, pil-pil yang berhasil dibuat Agni dibawah bimbingan Takada Tanaga, bukanlah pil rendahan. Tingkatan pil ada tiga, yang paling rendah pil tingkat bumi, kemudian tingkat langit, dan terakhir tingkat suci. Kebanyakan yang dibuat Agni adalah pil tingkat langit dan beberapa bahkan pil tingkat suci.


Agni tak melupakan Ki Jarpa dan Sri, ia memberikan pil awet muda dan pil kesuburan kepada dua orang yang bersedia menampungnya itu.


Selanjutnya, dibawah bimbingan Suk Ang Hin Agni menggeluti dunia formasi, dan bersama Gajahmada, ia memperdalam Ajian Gelap Ngampar dan pemahaman spiritualnya. Selama lima tahun itu juga, Agni tak lupa meningkatkan ranah kultivasinya. Ia juga belajar dari kelima gurunya, terutama Chua Pek Dong dan Takada Tanaga, teknik untuk menyembunyikan aura kultivasinya.


Lima tahun berguru kepada lima orang gurunya, menjadikan Agni bagaikan orang yang berbeda sama sekali. Lima tahun yang lalu, Agni hanya manusia biasa seorang anak petani. Bagi para kultivator, mungkin Agni lebih rendah dari pada semut sekalipun.


Namun Agni hari ini, pemuda berusia 17 tahun itu telah menjadi kultivator dengan ranah Kaisar tahap menengah. Dengan kondisi biasa, bahkan kultivator jenius pun, mungkin baru pada ranah Raja tahap menengah atau tahap puncak. Namun Agni adalah jenius diantara jenius, bahkan kelima gurunya pun, diusia yang sama, tidak sebanding dengan pencapaian Agni saat ini.


Penampilan Agni juga jauh berbeda, Agni adalah anak petani, yang sehari-harinya harus bekerja di bawah terik matahari, tentu akan mempengaruhi warna kulitnya. Meskipun begitu, Agni mempunya jalur darah orang tiongkok yang berkulit putih, sehingga warna kulit sawo matang yang ia milikki saat itu, terbilang cukup putih untuk ukuran orang suku jawa.


Namun kini, setelah ia menjadi kultivator, juga telah mengkonsumsi tanaman herbal dan pil-pil alkemis bertingkat tinggi, maka warna kulitnya terlihat semakin bersih meski tak seputih warna kulit orang tiongkok. Masih pula ditambah dengan tubuhnya yang kekar berisi, walaupun badan Agni tidak terlalu besar, namun terlihat sangat kokoh dan ideal dengan tinggi badannya.


Namun Agni tidak terlalu nyaman dengan penampilan yang mencolok, ia hanya berpakaian sederhana saja dengan baju putih yang diselubungi warna kain berwarna coklat. Ia juga telah menyimpan semua senjata pemberian guru-gurunya kedalam cincin penyimpanan, termasuk dua pedang dari Takada Tanaga yang sebelumnya selalu melingkar di pinggang Agni.


"Tidak percuma menanti lebih dari sejuta tahun, hahahaha..." Ujar Chua Pek Dong yang merasa sangat bahagia disambut tertawa ke empat orang tua yang lainnya.


"Selanjutnya bagaimana Bocah sinting, apa kau akan terus mengurung cucumu di tempat terpencil ini?" Tanya Takada Tanaga.


"Hahaha... Ular sawah, itu pertanyaan bodoh... Apa harus kujawab?" Sahut Chua Pek Dong.


"Hahaha... Kau mengerti rupanya, tidak ada yang bisa kita ajarkan lagi, dia harus mencari cara sendiri untuk mengembangkan kemampuannya" imbuh Takada Tanaga.


"Sudah saatnya kau menemui keluargamu Ngger, mungkin mereka mengira engkau sudah tiada, kehadiranmu pasti akan sangat mengejutkan mereka" kata Gajahmada.


"It's right young man, memang sudah saatnya engkau menemui mereka" imbuh Ben Crutch.


"Oya bocah Nakal, adikmu itu sangat cantik, andai aku masih mempunyai keturunan, tentu akan kupungut adikmu itu sebagai cucu mantuku...hahaha" pungkas Suk Ang Hin.


Mereka semua tertawa bahagia hari itu. Selain bukan hanya karena mereka mempunyai murid, namun Agni juga telah benar-benar tumbuh lebih dari harapan mereka.


Beberapa saat kemudian Agni bersimpuh dan bersujud beberapa kali mengucapkan berulang-ulang terima kasih pada kelima gurunya. Agni berjanji akan menggunakan kemampuannya itu di jalan yang seharusnya. Walaupun mungkin dia tak akan bisa mengubah tradisi dunia kultivasi, kekuatan adalah kekuasaan.

__ADS_1


[maaf, ada beberapa revisi pada beberapa paragraf]


__ADS_2