
"Sialan, tongkat ini terlalu panjang"
Agni mengumpat menyadari hal tersebut. Atau mungkin lebih tepatnya, tinggi badan Agni sendiri yang kurang tinggi.
Sebenarnya, dengan ukuran tinggi badan 145 cm untuk seorang anak-anak usia 12 tahun, badan Agni terbilang cukup tinggi. Hanya saja kitab sekaligus tongkat pemukul anjing, dibuat berdasarkan ukuran tinggi badan orang dewasa. Tongkat pemukul anjing, mempunyai panjang 120 cm, itu cukup pendek dibandingkan panjang tongkat atau tombak pada umumnya.
Tapi panjang tongkat bukanlah alasan Agni untuk berhenti. Ia pun memulai ayunan tongkatnya mengikuti gambar siluet orang botak didalam kepalanyaĜ yang meragakan jurus pertama dari jurus tongkat pemukul anjing.
Baru pada gerakan ke 6, Agni terhenti. Sementara orang botak dalam kepalanya terus meragakan gerakan-gerakan jurus pertama.
Kadang-kadang orang botak itu membentangkan kedua kakinya, atau mengangkat kakinya sejajar kepala, kadang-kadang juga meloncat dan salto di udara. Bagaimanapun, Agni tidak mempunyai pengalaman sama sekali tentang tata olah ilmu beladiri, sehingga Agni menemui kesulitan untuk mengikuti gerakan orang botak itu.
Agni bukanlah pemuda yang mudah menyerah. Sekuat tenaga Agni mencoba membetangkan kakinya di atas tanah.
Urat-urat pada selangk**gannya serasa hampir putus karena hal itu, namun Agni terus berusaha.
Pada akhirnya lebih dari tiga jam lamanya Agni menghabiskan waktu hanya untuk berlatih dan membiasakan diri dengan membentangkan kaki atau mengangkat kaki sejajar kepala. Juga gerakan salto di udara, baik itu ke depan maupun ke belakang.
Akan tetapi, andai Agni hanya manusia biasa, tiga jam adalah waktu yang tidak mungkin baginya untuk bisa melakukan dan membiasakan diri dengan gerakan-gerakan tersebut.
Namun Agni yang saat ini adalah seorang kultivator ranah Satria tahap menengah, bukan lagi Agni yang hanya orang biasa. Meskipun Agni masih seorang anak petani.
Rasa sakit pada urat selang**ngan saat ia meregangkan kaki, dengan mudah ia pulihkan dengan kemampuannya saat ini. Dan dengan bekal baju zirah kulit badak emas, ia tak merasakan sakit ketika harus jatuh bangun berlatih salto. Namun kadangkala ia tetap merasakan ngilu pada uratnya ketika kaki atau tangannya terkilir.
Setelah cukup terbiasa dengan gerakan-gerakan sulit itu, Agni melanjutkan gerakan-gerakan pada jurus pertama. Pada kitab di dalam kepala Agni, diterangkan juga bagaimana teknik pengendalian qi ketika melakukan jurus tersebut. Namun Agni teringat pesan Chua Pek Dong agar mencukupkan diri dengan tanpa menggunakan qi.
Pada akhirnya, Agni dapat menyelesaikan 20 gerakan yang ada pada jurus mengusir anjing masuk gang. Kemudian Agni mengulanginya beberapa kali lagi untuk memantapkan jurus tersebut.
Menjelang sore Agni selesai dengan latihannya. Agni melangkah ketepi sungai untuk minum dengan kedua tangannya. Kemudian ia kembali duduk bersila di atas batu padas besar tempat biasanya.
"Aku harus sering-sering mengulanginya" pikir Agni yang merasa gerakan-gerakan jurus pertama yang ia lakukan masih jauh dari kemantapan.
Agni kemudian terpejam memusatkan pikiran untuk memulihkan tenaganya. Sejenak kemudian ia membuka matanya.
"Rumput giok" desisnya.
__ADS_1
Agni meraba kantong yang berada di ikat pinggangnya. Ikat pinggangnya kini terasa lebih tebal sejak dua pedang katana milik Takada Tanaga melingkarinya.
Agni memandangi sejenak rumput giok itu. Tanpa keraguan sedikitpun pada perkataan gurunya, Takada Tanaga, yang merupakan seorang master alkemis, ia mulai menggigit ujung rumput giok itu. Agak kenyal. Agni mengunyahnya perlahan, ia menikmati rasa rumput itu.
"Biasanya tanaman obat itu rasanya pahit atau semacamnya, tapi ini mengapa begitu nikmat sekali"
Agni merasakan sensasi dingin segar di tenggorokannya, semacam efek daun mint, tapi ini berbeda. Kemudian Agni memejamkan matanya. Secara alami, nalurinya berkata untuk menyerap segala kandungan rumput itu dengan semua organ dalam yang bisa digunakannya untuk menyerap.
Tiba-tiba saja detak jantung Agni berdebar lebih kencang dari biasanya. Urat-urat syarafnya terasa semakin kokoh. Agni merasakan aliran energi dari lambung dan usus dalam pencernaannya menuju titik dantiannya, bergejolak bagaikan gelombang lautan, reflek ia mengalirkan aliran energi itu ke ratusan jalur yang bercabang-cabang, merayap ke seluruh bagian tubuhnya. Bahkan ke dalam sumsum tulangnya.
Beberapa titik yang tadinya agak kurang lancar atau bahkan yang tersumbat, menjadi terbuka sempurna. Aliran energi itu terus berputar dari titik dantian di bawah pusar, menuju titik dantian dibelakang pinggulnya.
Dantiannya terasa penuh, bergejolak dengan gelombang energi yang sangat padat. Agni merasakan sensasi yang sama ketika ia bermeditasi di gubuk di tengah sawah. Dantiannya seolah meledak karena lonjakkan energi itu. Namun ia merasakan itu hal baik untuknya.
Aliran energi itu masih terus berputar. Kemudian Agni merasakan agak panas di bagian tulang ekornya, semakin lama semakin panas dan mulai bergetar. Agni mengerutkan muka menahan sakit yang sangat, urat-urat diseluruh tubuhnya menegang bagai julur-julur akar rotan.
Rasa sakit itu semakin menyiksanya. Agni tak mampu menahan beban tubuhnya, ia jatuh merebah dengan kedua tangan merentang di atas batu. Rasa panas dan sakit itu menjalar perlahan ke seluruh bagian tulangnya.
Agni mencengkram batu kuat-kuat demi menahan rasa itu, hingga tanpa ia sadari, jarinya terbenam ke dalam batu padas itu. Keringatnya bercucuran kental kehitaman membasahi seluruh tubuhnya.
"Kretekretek...kretekretak...kretekkk.."
Andai tubuh Agni di angkat, maka siapa saja pasti akan mengira tubuh Agni hanya bagai seonggok daging tak bertulang.
Agni merasa sebaiknya pingsan saja daripada merasakan sakit yang luar biasa itu, namun ia tak bisa memilih, kesadarannya masih penuh bersama rasa sakit yang ia alami saat itu.
Seiring dengan itu, aliran energi dalam tubuhnya terus mengalir. Bahkan aliran itu seolah berebut memasuki jalur-jalur energi yang berada di bagian dalam tulangnya.
Setelah semua tulang di dalam tubuhnya telah hancur, perlahan-lahan tulang-tulang itu kembali mengeras dalam bentuknya. Seperti saat hancurnya, itu di mulai dari bagian tulang ekor, menjalar perlahan ke seluruh bagian tulangnya.
Saat tulang-tulang itu telah terbentuk sempurna, keluar kepulan asap tipis dari semua lobang tubuhnya, bahkan dari pori-pori sekalipun.
Agni terengah-engah, sementara aliran energi dari lambung dan ususnya terus mengalir. Tentu saja titik dantiannya masih terus bergejolak.
Agni kembali duduk kemudian memejamkan mata dan memulihkan tubuhnya. Agni mengira telah selesai dengan proses itu. Ia juga merasakan perubahan yang luar biasa dalam tulangnya. Terasa lebih kokoh dan lebih keras dari sebelumnya.
__ADS_1
Sementara gelombang energi di titik dantiannya masih terus bergejolak, hingga ia kembali merasakan ledakan untuk yang kedua kalinya.
"Apakah akan terjadi lagi?" Tanyanya dalam hati merasa khawatir.
Dan benar saja, ketika aliran energi didalam tubuhnya berputar semakin cepat dan lancar. Rasa panas kembali ia rasakan di bagian tulang ekornya.
"Oh tidaaaaaaaakkkkkkk....."
__________
Dua jam lebih Agni tersiksa. Tapi itu adalah hal yang baik untuknya. Kini Agni telah terduduk dalam sikap lotusnya.
"Luar biasa, semua kekuatan ini" kata Agni dalam hatinya, mengagumi segala perubahan yang terjadi pada tubuhnya. Penderitaan yang dia alami dua jam lebih seolah terbayar lunas dengan bunga-bunganya.
Agni menelisik kedalam tubuhnya, semua organ dalam tubuhnya, baik yang kasat mata maupun tak kasat mata, mengalami peningkatan yang mengagumkan. Otot-otot nya seolah lebih liat dan peredaran darahnya menjadi lebih lancar.
Begitu juga dengan jalur jalur meridiannya, peredaran energi qi menjadi semakin selaras. Bukan hanya itu, kini semakin banyak titik meridiannya yang terbuka, bahkan yang berada di dalam tulang sekalipun.
Agni juga merasakan tulang-tulang nya bagai terlahir kembali dengan jauh lebih kokoh dari pada sebelumnya. Selain itu Agni, juga merasakan pendengarannya lebih tajam, suara hiruk pikuk ditengah hutan itu semakin jelas di gendang telinganya. Bahkan ketika Agni memusatkan konsentrasi pada telinganya, ia bisa mendengar langkah beberapa ekor kelinci yang berada beberapa puluh meter darinya.
Kemudian Agni membuka matanya. Ia melihat seekor burung yang hinggap di sebuah pohon beberapa puluh meter darinya, sangat detail dengan garis-garis warna pada bulunya. Dan betapa membuat Agni terkejut ketika ia memusatkan konsentrasi pada penglihatannya, dia bahkan bisa melihat apa saja yang berada beberapa puluh meter di sekelilingnya.
Indra penciumannya juga meningkat tajam. Mungkin karena tadi Agni terfokus pada hal-hal sebelumnya, sehingga ia tak terlalu menyadari bau yang sangat busuk yang bersumber dari dirinya sendiri. Tiba-tiba saja perutnya menjadi mual akibat bau badannya itu.
Agni segera turun dari batu tempat ia duduk dan melepas semua pakaiannya, ia berniat untuk segera membersihkan diri. Usai melepas pakaiannya, tiba-tiba saja perutnya menjadi sangat melilit, suara kentut yang menggebret berkepanjangan tak mampu ia tahan.
Agni segera mencari posisi di tepi sungai untuk meredam lilitan di perutnya. Gerbretan kentutnya terus terdengar mengiringi limbah yang keluar dari dalam perutnya. Hingga beberapa saat Agni terjongkok memegang perutnya yang melilit.
Usai merampungkan hajat yang tak diharapkannya tersebut, Agni segera mencuci pakaian dan membersihkan dirinya. Namun di tengah pekerjaannya, perutnya kembali merasa melilit di iringi dengan gebretan suara kentut. Agni kembali harus berjongkok.
"Apakah ini efek samping rumput giok?" Agni mengingat, Takada Tanaga tak mengatakan sesuatu pun tentang efek samping rumput giok.
Agni menjadi penasaran, ia teringat kitab jalan pedang yang memuat informasi tentang berbagai macam tanaman herbal. Segara ia membuka kitab itu dalam kepalanya
Dan benar saja, mengkonsumsi Rumput Giok harus didahului dengan mengkonsumsi pil atau tanaman anti mulas untuk menangkal efek samping rumput giok. Jika tidak mengkonsumsinya, pemberian obat setelah datangnya efek samping akan percuma saja. Akibatnya, untuk 3 hari kedepan, Agni akan merasakan efek samping dari rumput giok tersebut.
__ADS_1
Lepas membaca informasi dalam kitab tersebut, Agni berteriak kencang di iringi gebretan suara kentutnya.
"Tua bangka sialaaaaaaannnnnnnn....!!!"