Pengganti Calon Suami Azzalea

Pengganti Calon Suami Azzalea
IZIN


__ADS_3

Azzalea menghentikan mobilnya di persimpangan karena lampu lalu lintas berwarna merah.


"Mampir sebentar ke ranch market di depan!" Ujar Randu seraya mengendikkan dagu ke ranch market yang terletak setelah lampu merah.


"Mau beli apa? Aku tak mau memasak malam-malam lagi!" Jawab Lea malas


"Beli camilan saja kalau begitu! Uncle Daniel biasanya suka ngemil apa?" Tajya Randu pada Lea.


"Singkong goreng!" Jawab Lea asal.


"Serius?" Randu sontak menganga.


"Yup! Kamu cariin, gih! Biar bisa sekalian cari muka di depan Papi," Sindir Lea yang langsung membuat Randu berdecak. Di saat bersamaan, ponsel Randu berdering dan pria itu sigap mengangkatnya.


"Halo, Rania! Kenapa menelepon malam-malam?" Tanya Randu to rhe point pada seseorang bernama Rania.


Siapa Rania?


Seperti nama wanita!


"Di rumah sakit? Kapan?" Cecar Randu dengan nada suara yang sudah naik beberapa oktaf.


"Lalu bagaimana keadaan Mama?" Tanya Randu lagi yang semakin membuat Lea bertanya-tanya.


"Iya! Besok aku usahakan untuk kesana! Aku harus mengurus izin dulu pada atasanku! Nanti hubungi aku lagi jika Mama sudah sadar!" Ujar Randu panjang lebar yang tentu saja masih disimak oleh Lea.


Sejuta pertanyaan kini memenuhi otak Lea.


"Bye-"


Beep! Beep!


Randu tak melanjutkan kalimatnya saat terdengar jeritan klakson dari arah belakang.


Beep! Beep!


"Lea!" Randu menepuk pundak Lea yang terlihat melamun. Ck!


"Eh, iya!" jawab Lea tergagap seraya hendak membuka pintu mobil.


"Lea, kau mau kemana?" Randu segera mencegah Lea.


Beep beep!


Suara klakson kembali terdengar dari belakang.


"Cepat jalan! Lampu udah ijo?" Perintah Randu merasa gemas pada Lea.


"Hah!" Lea tampak terkejut saat mendapati lampu lalu lintas yang ternyata memang sudah berwarna hijau.


Perasaan tadi masih merah!


Kenapa Lea jadi linglung begini?


Lea segera menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya ke depan.


"Melamun apa, sih?" Tanya Randu kepo setelah mobil Lea melaju membelah aspal.


"Nggak ada!" Kilah Lea cepat.


"Siapa juga yang melamun!" Sanggah Lea sekali lagi.


"Kau!" Jawab Randu seraya terkekeh.


Lea sampai heran, kenapa Randu masih bisa bercanda dan tertawa padahal pria itu baru saja mendapat kabar tentang ibunya yang masuk rumah sakit.


"Ngomong-ngomong, yang tadi masuk rumah sakit siapa?" Tanya Lea membuka obrolan setelah keheningan beberapa saat

__ADS_1


"Kamu nguping, ya!" Randu terkekeh, lalu mengeluarkan ponselnya dari saku.


"Adik aku tadi telepon dan ngasih tahu kalau Mama aku masuk rumah sakit," jawab Randu seraya menunjukkan sebuah foto pada Lea.


"Adik beneran atau adik tipu-tipu?" Tanya Lea penuh selidik.


"Adik beneran, lah!" Sergah Randu cepat.


"Iya, aku kan mastiin doang. Soalnya kamu kan pernah bohong ke aku perihal Zelyra yang ternyata anak dari temanmu!" Ujar Lea yang langsung membuat Randu meringis.


"Jadi, Mama kamu masuk rumah sakit? Kok kamu santai begitu?" Tanya Lea heran.


Anak macam apa Randu ini, coba!


Orang tua sakit malah masih cengengesan.


"Iya trus aku harus bagaimana? Nangis guling-guling? Toh mama emang udah lumayan sering di rawat," cerita Randu.


"Sakit apa memangnya mama kamu?" Lea semakin kepo.


Namun bukannya menjawab, Randu malah tergelak menertawakan Lea.


"Penasaran, ya!" Kekeh Randu yang langsung membuat Lea berdecak.


"Yaudah, nggak jadi tanya!" Sungut Lea seraya membelokkan mobil dan masuk ke jalan di kompleks perumahan.


"Besok mau ikut aku pulang dan menjenguk Mama?" Tawar Randu pada Lea.


"Nggak!" Jawab Lea cepat.


"Aku kan bukan siapa-siapa kamu!" Sambung Lea lagi.


"Kamu tunangan aku! Masa lupa?" Sergah Randu yang langsung membuat Lea memutar bola matanya.


Lea benar-benar malas mengingatkan Randu tentang sandiwara di antara dirinya dan Randu.


"Ikut, ya! Nanti aku yang minta izin ke Papi Daniel!" Bujuk Randu sekali lagi yang langsung membuat Lea kembali mengernyit.


"Aku tunangan kamu dan calon suami kamu! Masa lupa!" Jawab Randu penuh percaya diri.


"Ck!" Lea hanya berdecak sembari menginjak pedal rem dengan kasar, saat akhirnya ia dan Randu sudah sampai di depan kediaman Andreas.


"Buka gerbangnya!" Perintah Lea pada Randu.


"Siap!" Randu langsung bergegas turun untuk membuka gerbang.


Lea sendiri langsung masuk dan tancap gas setelah gerbang terbuka, dan meninggalkan Randu yang hanya melongo.


Biar saja!


"Lea!" Panggil Randu setelah Lea turun dari mobil dan hendak masuk ke rumah.


"Apa? Pulang sana!" Usir Lea seraya melanjutkan langkahnya.


"Mobilku tertinggal di B&D Resto tadi! Aku harus pulang naik apa?" Jawab Randu beralasan.


"Ck! Siapa juga yang menyuruhmu meninggalkan mobil? Kan bisa naik taksi!" Lea memberikan solusi.


"Lea! Baru pulang?" Sapa Papi Daniel yang rupanya sedang dudyk di ruang depan seperti menunggu seseorang.


"Malam, Uncle!" Sapa Randu yang langsung dengan cepat mencium punggung tangan Papi Daniel.


Oh iya, Lea lupa!


Randu dan Papi Daniel kan mau tanding catur malam ini!


"Malam, Randu! Tadi bareng Lea?" Tanya Papi Daniel.

__ADS_1


"Iya, Uncle! Lea katanya takut pulang sendiri malam-malam, makanya Randu temani," jawab Randu mengarang indah.


"Ck! Siapa juga yang takut! Biasanya juga pulang jam segini sendiri dan baik-baik saja!" Gerutu Lea seraya bersedekap kesal.


"Lea mau mandi trus istirahat!" Ujar Lea selanjutnya yang masih merasa kesal.


"Lea, buatkan kopi dulu untuk Papi dan Randu!"


"Kami mau bermain catur," titah Papi Daniel pada sang putri.


"Mami kemana memang?" Tanya Lea malas.


"Mami sedang tidak enak badan! Jadi sudah istirahat!" Jawab Papi Daniel.


"Oh, iya! Memang sedang musim sakit, Uncle!" Ujar Randu sok akrab pada Papi Daniel.


"Mama di rumah juga sakit dan dirawat di rumah sakit," cerita Randu lagi.


"Mama kamu?" Tanya Papi Daniel kaget.


Nah, kan!


Papi saja kaget mendengar kabar tentang mama Randu yang katanya sakit!


Lalu kenapa Randu malah santai-santai begitu!


Dasar anak tak tahu diri!


"Tapi bukankah kamu yatim piatu, Randu?" Tanya Papi Daniel lagi yang sontak membuat Lea menepuk keningnya.


Oh, iya!


Randu kan pengganti Rayyen. Dan Rayyen yatim piatu.


Haduuh!


Kenapa Randu harus sok-sokan cerita tentang mamanya pada papi, sih?


"Maksud saya, mama angkat saya, Uncle!" Ujar Randu yang langsung membuat Lea bernafas lega.


Untung saja, Randu pria yang mudah tanggap dan pandai bersandiwara.


"Oh!" Papi Daniel membulatkan bibirnya.


"Dan besok saya akan menjenguk Mama. Apa boleh saya mengajak Lea, Uncle?" Tanya Randu selanjutnya meminta izin pada Papi Daniel.


Apa pria itu sudah gila?


"Aku sedang banyak pekerjaan, Randu! Aku tak bisa ikut!" Tolak Lea cepat sebelum Papi Daniel mengiyakan permintaan izin Randu.


"Izin satu hari kan bisa, Lea! Nanti Papi izinkan ke Keano dan Uncle Abi!" Ujar Papi Daniel yang rupanya memberikan izin pada Randu untuk mengajak Lea.


Ck! Menyebalkan!


"Tapi, Pi-"


"Mana kopinya? Bukankah papi tadi menyuruhmu membuat kopi?" Tagih Papi Daniel memotong kalimat protes Lea.


"Kopi, Lea! Punyaku gulanya satu sendok saja!" Ujar Randu ikut-ikutan memerintah Lea.


Dasar menyebalkan!


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2