
Tok tok tok
"Lea, buka pintu!" Panggil Mami Thalia seraya mengetuk pintu kamar Lea. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi dan tumben sekali Lea belum terlihat batang hidungnya. Padahal biasanya, Lea sudah akan keluar dari kamar jam tujuh untuk sarapan atau melakukan hal lain.
Sejak Lea memutuskan untuk membatalkan pernikahannya, Mami Thalia dan Papi Daniel memang mendiamkan gadis itu. Dan Lea juga terlihat biasa saja meskipun didiamkan oleh kedua orang tuanya. Lea juga selalu melakukan aktivitasnyq sehari-hari dengan biasa, dan aru pagi ini Lea tiba-tiba tak keluar dari kamar.
"Lea!" Panggil Mami Thalia lagi kembali mengetuk pintu kamar Lea. Mami Thalia yang sudah jengkel akhirnya membuka knop pintu Lea yang ternyata tak dikunci.
"Lea! Kenapa kau-" Kalimat Mami Tgl tak selesai, saat wanita parih baya itu melohat kamar Lea yang sudah kosong dan rapi.
"Lea!" Mami Thalia mencari ke toilet di dalam kamar Lea, namun kosong juga dan Lea tak ada di manapun!.
Apa mungkin Lea sudah pergi ke B&D Resto?
Tapi kapan?
Sejak tadi Mami Thalia bagkan tam melihat Lea turun dari tangga.
"Bagaimana, Mi! Lea sudah bangun?" Tanya Ryan yang sydah menyudul Mami Thalia ke kamar Lea.
"Lea tidak ada!" Jawab Mami Thalia yang lanjut memeriksa almari baju Lea. Masih tersusun rapi.
"Mungkinkah Lea sudah ke Resto hari ini, Ryan?" Tanya Mami Thalia menduga-duga.
"Tapi bukankah kata Mami, Lea belum turun dari atas sejak tadi?" Tukas Ryan seraya mengeluarkan ponselnya dari saku untuk mencoba menelepon Lea.
Namun sesaat kemudian, malah terdengar dering ponsel dari laci nakas di samping tempat tidur.
Mami Thalia bergegas membuka laci dan wanita paruh baya itu langsung menemukan ponsel Lea yang kini berdering nyaring.
"Ponselnya tertinggal di rumah, Ryan! Lea tidak membawa ponsel!" Ucap Mami Thalia memberitahu Ryan seraya menunjukkan ponsel Lea pada Ryan.
Ingatan Mami Thalia mendadak melayang pada kejadian berpuluh-puluh tahun silam saat seorang gadis kembar, pergi diam-diam dari rumah dan meninggalkan ponselnya di laci nakas demi menghilangkan jejak.
Astaga!
Kini Mami Thalia paham perasaan Mom Belle dan Dad Devan waktu itu!
****
"Aku benar-benar tidak tahu Lea kemana!" Jawab Keano bersungguh-sungguh setelah Ryan mencecarnya mengenai Lea yang mendadak menghilang dari rumah.
__ADS_1
"Lea tak mengatakan sesuatu? Kau cukup dekat dengan Lea, Keano! Jadi pastikan kau tahu sesuatu!" Ryan terlihat frustasi dan Keano paham bagaimana kacaunya perasaan Ryan saat ini. Esok adalah hari pernikahan Ryan dan Nona, dan Lea malah hilang tanpa kabar.
"Sebenarnya, Lea memang menemuiku beberapa hari yang lalu, Ryan!" Ucap Keano akhirnya.
"Lea mengatakan apa?" Tanya Ryan tak sabar.
"Lea meminjam uang lima juta, dan ia mengatakan padaku kalau dirimu ingin pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri-"
"Pergi kemana?" Sergah Ryan lagi yang bahkan sudah menarik kerah kemeja Keano.
"Aku tidak tahu!" Jawab Keano cepat.
"Lea tak menagtakan ia akan pergi kemana! Dia hanya bilang kalau dia ingin menenangkan diri, dan ia berjanji akan kembali saat pikirannya sudah tenang."
"Lea terlihat terpukul dan tertekan! Apa kalian sekeluarga mendiamkan Lea?" Keano balik mencecar Ryan yang sudah melepaskan cengkeramannya pada kerah kemeja Keano.
"Lea begitu keras kepala!" Ujar Ryan beralasan.
"Tapi tak seharusnya kalian mendiamkan Lea begitu!" Pendapat Keano yang malah langsung digertak oleh Ryan.
"Mami dan Papi sengaja mendiamkan Lea agar gadis itu sadar diri dan sadar akan kesalahannya!" Tukas Ryan beralasan.
"Tapi Lea seolah tak sadar pada kesalahannya!" Lanjut Ryan lagi seraya mendengus.
"Tatapan matanya kosong!" Sambung Keano lagi.
"Lalu kenapa kau tak mencegah Lea pergi?" Sergah Ryan kembali emosi.
"Sudah kucegah berulang kali!" Jawab Keano cepat.
"Tapi Lea tetap keras kepala dan ingin pergi. Aku tak bisa menghalangi langkahnya," Keano memijit pelipisnya sendiri
"Aaarrrggh!" Sekarang gantian Ryan yang berteriak frustasi.
"Dan Lea juga minta tolong padaku untuk menyampaikan permintaan maafnya pada kau dan pada Nona karena ia tak bisa datang ke pernikahanmu-"
"Omong kosong!" Teriak Ryan frustasi.
"Ryan, mungkin Lea memang hanya ingin menenangkan diri! Jadi sebaiknya kita memberinya kesempatan!" Nasehat Keano bijak.
"Tapi seharusnya dia pamit dan tak main kabur-kaburan begini!" Omel Ryan yang sudah ganti merasa kesal.
__ADS_1
"Dasar Lea menyebalkan!"
****
Lea menatap pada hamparan kebun teh di sisi kiri dan kanan jalan yang dilalui oleh bus antar kota yang kini dinaiki Lea. Sepanjang jalan, Lea tak sedikitpun mengalihkan tatapannya dari hijaunya daun-daun teh yang begitu memanjakan mata.
Ya, Lea memang meninggalkan rumah papi dan mami pagi-pagi buta, sebelum.ada yang bangun. Dan Lea tak pamit pada siapapun, karena seisi rumah sedang marah pada Lea dan mendiamkan Lea.
Biar saja!
Toh Mami dan Papi juga sedang sibuk dengan persiapan pernikahan Ryan. Dan Lea sudah mirip anak pungut di rumah yang keberadaannya selalu diabaikan belakangan ini.
Menyebalkan!
Lea kembali menatap pada hamparan kebun teh, saat gapura yang menuju ke rumah eyangnya yang berada di lereng bukit sudah nampak dari kejauhan. Eyang Wida adalah ibu kandung dari Papi Daniel yang sejak dulu memang tinggal di lereng bukit. Rumah Eyang Wida terletak di antara hamparan kebun teh luas yang entah milik siapa. Mungkin milik pemerintah atau perusahaan swasta, karena mustahil jika kebun teh seluas ini adalah milik perseorangan.
Kaya sekali orang yang punya kebun teh seluas ini!
Lea sudah bangkit dari kursinya dan bersiap turun, saat bis semakin dekat ke gapura yang menuju ke rumah Eyang Wida.
"Pak, berhenti di gapura depan!" Ucao Lea pada kenek bus yang langsung mengangguk.
Setelah bus berhenti di depan gapura desa, Lea bergeags turun sembari menghirup dalam-dalam segarnya udara ala pegunungan.
"Eyang! Lea datang!"
.
.
.
Aku udah tahu tebakan reader budiman tentang kebun teh 🤣🤣
Bukan!
Yakin bukan!
Namanya saja Randu, mosok juragan teh!
Juragan kapuk dia! 🤣🤣
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.