
"Ranza!" Rania yang baru tiba di rumah Mama Rika langsung menghampiri Ranza dan hendak menggendong bayi Lea dan Randu tersebut. Namun Pandu sudah dengan cepat mencegah.
"Biar aku yang gendong. Kan kamu sudah bawa," ujar Pandu yang langsung membuat Rania terkekeh. Saat ini kandungan Rania memang sudah masuk usia delapan bulan.
"Sehat?" Tanya Lea berbasa-basi pada Rania, seraya mengusap perut adik iparnya tersebut.
"Sehat, Mbak! Kata dokter jenis kelaminnya laki-laki juga! Nanti Ranza punya teman bermain, ya?" Rania mencium gemas kedua pipi Ranza.
"Bayinya Haezel dan Mayra katanya juga laki-laki," timpal Randu yang sudah duduk di samping Lea setelah pria itu keluar dari dapur. Randu juga membawa sepiring potongan buah, serta bumbu rujak di tangannya.
Lah, kenapa malah Randu yang makan bumbu rujaknya? Itu tadi Lea buatkan untuk Rania yang memang sudah pesan sebelum adik Randu itu datang.
"Kak Mayra sudah melahirkan, Mas?" Tanya Rania yang ternyata kenal juga dengan Mayra, istri Haezel. Luar biasa memang adik Randu ini. Semua orang di planet bumi sepertinya ia kenal.
"Belum! Kan usia kandungannya sama dengan kamu!" Jawab Randu sembari mengunyah bengkuang yang ia colek ke bumbu rujak.
"Hah! Pedas!" Randu mengibaskan tangannya di depan mulut.
"Mas Randu makan rujaknya siapa? Tadi Rania juga pesan rujak ke Mbak Azza-".
"Iya itu rujak kamu, Rania! Dimakan sama masmu!" Jawab Lea sedikit mengompori. Rania langsung beranjak dengan cepat dan pergi ke dapur untuk mengambil nampan rujak yang memang sudah dipersiapkan Lea tadi.
"Cuma ambil sedikit! Itu masih satu nampan!" Sergah Randu beralasan. Suami Lea itu masih terlihat kepedasan.
"Mangga mudanya enak, Sayang! Mau?" Tawar Randu pada Lea yang langsung menggeleng.
Rania sudah kembali dari dapur seraya membawa senampan rujak.
"Sejak kapan Mas Randu suka rujak?" Tanya Rania saat melihat Randu yang begitu lahap makan rujak terutama mangga mudanya. Lea sendiri hanya berekspresi datar dan seolah tak tertarik pada rujak Randu maupun Rania.
"Memang dulu Randu tidak suka rujak, Ran?" Tanya Lea penasaran.
Rania langsung menggeleng.
"Dulu, katanya Mas Randu. Rujak itu makanan ibu hamil!" Rania memcomot satu potongan belimbing dari nampan, mencolekkannya ke sambal, lalu melahapnya.
Wanita itu mengunyah belimbing beberapa saat, sebelum melanjutkan kalimatnya lagi.
"Sekarang Mas Randu suka rujak. Jangan-jangan Mas Randu hamil!" Seloroh Rania sambil tergelak yang langsung membuat Randu mencibir.
"Mbak Azza mungkin yang hamil lagi," Celetuk Pandu yang masih menimang-nimang baby Ranza.
Lea langsung terbatuk-batuk mendengar celetukan Pandu, dan Randu yang tadi sibuk mengunyah mangga muda, menghentikan aktivitasnya sejenak.
"Kamu hamil lagi, Sayang? Kemarin kan belum pasang kontrasepsi," tanya Randu setengah berbisik pada Lea yang hanya diam.
"Sayang!"
"Apa?"
"Kamu hamil lagi, ya? Ada adiknya Ranza disini, ya?" Tanya Randu lagi yang kini sudah ganti mengusap perut Lea.
"Apa, sih!" Lea langsung menampik tangan Randu dan bibir wanita itu tampak merengut.
"Randu junior kedua sudah jadi, kan?" Tanya Randu sekali lagi yang kembali mengusap-usap perut Lea. Sementara Lea hanya diam tak menampik tapi juga tak mengiyakan.
"Sayang!" Desak Randu lagi.
"Mbak Azza hamil lagi?" Tanya Rania kepo. Namun Lea belum sempat menjawab, saat ternyata Mama Rika sudah tiba di rumah.
"Rania! Sudah datang?"
"Mama!" Rania dan Pandu langsung bangkit bersama untuk menyapa Mama Rika. Sementara Randu masih merangkul Lea yang belum juga mengaku apa dia sedang hamil atau tidak. Randu dan Lea sendiri sudah berada di rumah Mama Rika sejak kemarin dan rencananya besok sore mereka sudah akan kembali ke apartemen.
"Sayang!" Desak Randu lagi yng kini sudah ganti mencium puncak kepala Lea.
"Mbak Azza hamil lagi katanya, Ma!" Celetuk Rania yang tiba-tiba membuat laporan pada Mama Rika.
"Rania! Apa, sih?"
"Hamil lagi? Benar itu, Azza?" Tanya Mama Rika menatap serius pada Lea yang hanya menggaruk kepalanya.
__ADS_1
"Iya pasti! Udah garuk-garuk kepala begitu! Mas Randu juga ngidam rujak tadi. Padahal seumur-umur Mas Randu kan nggak doyan rujak!" Seloroh Rania lagi sok tahu.
"Sok tahu kamu!" Cibir Randu pada sang adik.
"Jadi, sudah berapa bulan, Azza?" Tanya Mama Rika lagi yang masih menatap serius pada Lea.
"Ranza mau punya adek, ya?" Mama Rika ganti berucap pada Ranza yang sudah berpindah ke pangkuannya. Mama kandung Randu dan Rania itu lalu menciumi Ranza dengan gemas.
"Apanya yang berapa bulan, Ma?" Tanya Lea kembali menggaruk kepalanya.
"Satu bulan kayaknya, Ma! Kemarin dia baru selesai nifas langsung Randu hajar-" kalimat Randu belum selesai saat sikut Lea sudah mendarat keras di perutnya.
"Auuuwww!"
"Sok tahu!" Lea kembali menyikut perut Randu yang masih merangkulnya.
"Kayak apa aja dihajar, Mas!" Seloroh Pandu seraya tergelak. Calon bapak baru itu sudah ikut makan rujak bersama Rania.
"Jadi benar kamu hamil lagi, kan?" Tanya Randu yang sudah senyum-senyum sendiri.
"Iya." Jawab Lea lirih yang langsung membuat Randu bersorak kegirangan.
"Yess! Uhuy!"
"Ranza mau punya adik! Ranza mau punya adik!" Randu sudah mengambil Ranza dari pangkuan Mama Rika, lalu mengajak bayinya yang baru berusia tiga bulan tersebut joget-joget tak karuan.
Dasar papa Randu!
"Selamat, ya, Azza!" Mama Rika langsung memeluk Lea dengan erat. Pun dengan Rania dan Pandu yang juga langsung memberikan selamat.
"Nanti kamu kejar tayang juga setelah lahiran, Rania! Biar rumah Mama semakin ramai!" Ujar Mama Rika pada Rania yang langsung terkekeh.
"Aman itu, Ma! Nanti Pandu akan berguru langsung pada Mas Randu!" Seloroh Pandu yang sontak membuat semua orang tergelak. Sementara Randu sudah kembali duduk di samping Lea dan mengecup puncak kepala istrinya itu lagi.
"Nanti kita ke dokter, ya!" Ucap Randu pada Lea yang hanya mengangguk samar dan wajahnya terlihat sedih.
"Kenapa sedih?" Tanya Randu bingung.
Meskipun dulu di awal kelahiran Ranza, Lea masih kaget dan kaku sebagai ibu. Namun seiring berjalannya waktu, ikatan emosional antara Lea dan Ranza kini sudah kuat.
"Ibu hamil tetap boleh menyusui, kok, Mbak! Asal tidak ada keluhan dan gizi ibunya terpenuhi dengan baik. Coba nanti konsul ke dokter!" Saran Rania yang langsung membuat Lea antusias.
"Benarkah?" Lea terlihat ragu.
"Temanku ada kok yang hamil juga sambil tetap menyusui. Tapi ya memang harus rajin konsul ke dokter juga. Biar kebutuhan nutrisi untuk janin di perut tetap terpenuhi." Cerita Rania yang sedikit memberikan harapan untuk Lea.
"Tu kan! Nanti kita tanya ke dokter!" Hibur Randu yang akhirnya membuat wajah Lea sedikit sumringah.
"Ini berarti Azza harus tinggal disini kalau mau tetap menyusui Ranza, ya! Biar tidak usah mengerjakan pekerjaan rumah dan bisa fokus pada Ranza serta kehamilannya," ujar Mama Rika yang langsung membuat Randu membelalak.
"Lah, Ma! Trus masa Randu tinggal di apartemen sendiri?" Sergah Randu melayangkan protes.
"Mas Randu ikut pindah, to! Nanti Rania bikinkan surat pengunduran diri buat dikirim ke Mas Ezel!", sahut Rania memberikan solusi.
"Apa, sih! Siapa memang yang mau pensiun jadi detektif?" Sergah Randu menolak usulan Rania.
"Sudah delapan tahun jadi detektif, mama rasa sudah cukup, Randu! Itu kebun teh dan pabrik sudah melambai-lambai minta kamu urus!" Ucap Mama Rika menatap tegas pada Randu.
"Mama!"
"Mama tidak menerima penolakan kali ini! Mama sudah tua dan mau di rumah saja! Main-main sama Ranza, sama anaknya Rania nanti, sama adiknya Ranza juga!" Sergah Mama Rika tetap dengan raut wajah tegas.
"Azza juga mau pindah ke sini saja. Nemenim Mama mulai sekarang," seloroh Lea yang sudah berpindah tempat duduk ke sebelah Mama Rika.
"Mulai! Konspirasi!" Randu mencebik kesal.
"Ranza sini! Mau sama Oma juga, kan?" Mama Rika sudah mengambil Ranza dari pangkuan Randu.
"Astaga!" Randu mengusap wajahnya sendiri dan mulai dilema sekarang.
"Sudah, Mas! Pindah saja kesini dan resign jadi detektif!" Rania mulai mengompori.
__ADS_1
"Iya, Mas! Itu Mbak Azza dan Ranza juga sudah nyaman disini. Masa iya mau LDR-an terus?"
"LDR itu berat, lho!" Pandu ikut mengompori.
"Apa perlu Rania teleponkan Mas Ezel?" Rania sudah mengeluarkan ponselnya.
"Tidak usah!" Sergah Randu cepat seraya merebut ponsel sang adik.
"Nanti Randu akan resign! Tapi bukan sekarang, Ma!" Jawab Randu akhirnya membuat keputusan.
"Yaudah kamu balik ke apartemen sendiri besok! Aku dan Ranza mau tinggal disini saja," ujar Lea yang langsung membuat Randu buru-buru menghampiri istrinya tersebut, lalu berlutut di depan Lea.
"Sampai Mayra melahirkan saja, Sayang!" Bujuk Randu pada Lea.
"Iya tapi aku maunya tinggal disini! Ini bawaan hamil dan bukan karena aku memaksa kamu resign," sergah Lea beralasan.
"Aku beliin babyshark satu toko, ya! Tapi kamu pulang ke apartemen," ujar Randu kembali membujuk Lea.
"Apaan, sih? Aku udah nggak ngidam babyshark!" Lea memutar bola matanya. Wanita itu lalu menggamit lengan Mama Rika dan bergelayut pada sang mama mertua.
"Ngidam paus mungkin, Mas!" Seloroh Pandu yang langsung membuat Rania tergelak.
"Beliin paus, Mas!" Rania ikut menimpali.
"Kamu ngidam paus?" Tanya Randu lagi pada Lea.
"Enggak, iih!" Jawab Lea sedikit kesal pada Randu.
"Lalu ngidam apa, Sayang? Spongebob? Tuan Krab? Squidword? Patrick?" Randu menyebutkan satu persatu nama hewan laut di film kartun yang pernah ia tonton bersama Zelyra dulu.
Ah, itu hanya masa lalu!
"Enggak! Aku nggak ngidam apa-apa!"
"Kamu kenapa, sih?" Lea menyingkirkan tangan Randu dari pangkuannya.
"Sudah, Randu! Kalau memang Azza tidak mau pulang ke apartemen ya jangan di paksa!"
"Kamu mau membuat Azza tekanan batin, stress, trus terkena baby blues? Mama tendang ke planet pluto kamu nanti kalau masih memaksa-maksa Azza pulang ke apartemen!" Omel Mama Rika pada Randu.
"Ini sebenarnya anak Mama Randu atau Lea, sih? Kok Randu berasa seperti anak pungut, ya?" Keluh Randu yang langsung disambut gelak tawa dari Rania dan Pandu.
"Pokoknya aku dan Ranza akan tinggal disini mulai hari ini!" Sergah Lea lagi yang langsung membuat Randu berdecak.
"Dengar itu!" Mama Rika ikut menimpali dengan galak.
"Kalau kamu mau tetap dekat dengan Azza dan Ranza, ya kamu pindah kesini juga! Resign dari pekerjaanmu!"
"Tapi, kalau kamu masih berat dengan pekerjaanmu, ya tinggal saja sendiri di apartemen sendiri!" Cerocos Mama Rika yang langsung membuat Randu mengusap wajahnya dengan frustasi.
"Bagaimana, Mas Randu? Galau? Gundah gulana? Merasa bimbang?" Rania sudah cekikikan menggoda sang kakak.
"Pindah saja, Mas! Masa iya mau LDR-an sama Mbak Azza?" Pandu mulai mengompori.
Randu yang sejak tadi bimbang, akhirnya mengeluarkan ponsel dan sepertinya akan menelepon sang Pak Kepala.
"Halo-"
"Ezel! Apa aku bisa dimutasi ke kota tempat tinggal Mama?"
Pertanyaan Randu pada Haezel langsung membuat semua anggota keluarga Wiyata menganga.
Ternyata Randu masih pantang menyerah!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.