
Randu membuka pintu kamar perawatan tanpa permisi tanpa mengetuk.
Dasar lancang!
"Selamat sore, Tuan muda?" Sapa seorang wanita muda yang berpakaian alaid seraya membungkuk pada Randu.
Lah, tadi di rumah Mbok Yah memanggil Randu Mas padahal. Lalu kenapa disini Randu berubah panggilannya jadi tuan muda?
Jadi sebenarnya Randu itu putra keraton atau tuan muda?
"Mama tidur?" Tanya Randu to the point pada maid yang menyambutnya barusan.
"Nyonya sedang makan, Tuan muda-"
"Randu saja dan jangan memanggilku tuan muda!" Sergah Randu memperingatkan dengan nada geram. Sepertinya Randu tidak suka dipanggil tuan muda!
"Nyonya sedang makan, Tuan-"
"Randu!" Randu kembali memotong dan memperingatkan maid yang terlihat segan.
"Nyonya-"
"Randu! Kaukah itu?" Suara merdu dari dalam kamar perawatan membuat maid menghentikan kalimatnyq dan hanya membungkuk pada Randu dan juga Lea, lalu mempersilahkan keduanya untuk menemui mama Randu.
"Randu!" Panggil Mamanya Randu lagi.
"Ya!" Jawab Randu seraya menarik tangan Lea dan membawanya masuk lebih dalam ke kamar perawatan kelas presiden suit tersebut. Tentu saja Lea sedikit tersentak dengan tindakan tak terduga Randu tersebut.
"Sore, Ma!" Sapa Randu yang tangannya sudah dengan cepat berpindah ke pinggang Lea.
Astaga!
Kesempatan sekali!
__ADS_1
"Kau membawa siapa itu?" Tanya Mamanya Randu seraya menunjuk ke arah Lea.
"Dia Azzalea Andreas! Tunangan Randu, Ma!" Jawab Randu to the point.
"Tunangan? Kapan kalian bertunangan? Kenapa tak memberitahu Mama?" Cecar mamanya Randu menatap tak senang pada Randu.
"Baru beberapa minggu yang lalu, Ma! Acaranya mendadak, jadi Randu tak sempat menelepon Mama. Ponsel Randu hilang," ujar Randu beralasan.
"Ponsel detektif bisa hilang? Apa diambil penjahat?" Mamanya Randu tertawa mencibir dan Randu hanya berdecak.
Sepertinya ada perseteruan antara Randu dan mamanya tentang karier Randu. Mungkin mamanya Randu tak setuju jika putranya itu menjadi detektif.
Mamanya Randu meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Rania, belikan ponsel baru untuk masmu! Ponselnya hilang!" Ucap Mamanya Randu yang ternyata sedang menelepon Rania.
"Siap, Ma! Padahal tadi sebelum berangkat Mas Randu masih mengotak-atik ponselnya! Lalu ponselnya hilang dimana? Apa kota kecil ini sudah tak aman?" Cecaran Rania bisa di dengar dengan jelas oleh Randu dan Lea karena mamanya Randu memasang loudspeaker. Lea sontak menutup mulutnya dan sekuat tenaga menahan tawa.
"Satu saja cukup, Ma! Kenapa harus beli selusin?" Decak Randu yang wajahnya terlihat kesal.
"Timbang beli selusin, kenapa tidak sekalian mama beli tokonya saja?" Gumam Randu lagi yang langsung membuat sang mama mengangkat sebelah alisnya.
"Rania, masmu minta toko ponselnya sekalian-"
"Ma!" Sergah Randu cepat dengan nada suara meninggi yang sontak membuat Lea kembali menahan tawa.
"Ada apa lagi? Mau pabrik ponselnya sekalian?" Tawar mamanya Randu yang langsung membuat Randu berdecak.
"Lebay!" Cibir Randu kesal.
"Jadi, mau beli ponsel satu toko, Ma? Atau satu lusin saja?" Suara Rania terdengar dari ujung telepon.
"Beli satu saja-"
__ADS_1
"Eh, beli dua yang bentuk dan type-nya sama! Biar Randu bisa couple-an sama Azza!" Ucap Mamanya Randu.
"Azza siapa, Ma?"
"Loh! Itu, istrinya Randu. Masak kamu belum ketemu!" Tukas mamanya Randu yang sontak langsung membuat Lea batuk-batuk.
"Mbak Lea, Ma! Kok Azza, sih?"
"Iya kan namanya Azzalea. Panggilannya pasti Azza!" Sergah mamanya Randu keras kepala.
"Iyakah? Tapi tadi Mas Randu ngenalinnya ke Rania Mbak Lea!"
"Ck! Sudah cepat belikan!" Titah mamanya Randu menyudahi perdebatan dengan sang putri. Wanita paruh baya tersebut lalu menutup telepon dan sepertinya sudah selesai menelepon Rania.
"Uhuuk! Uhuuk!" Lea masih batuk-batuk karena kalimat mamanya Randu tadi yang menyebut dirinya secara istri Randu.
Yang benar saja!
Ini kan hanya sandiwara!
"Jadi, kapan pernikahan kalian akan digelar? Bukankah lebih cepat lebih baik. Bagaimana kalau besok saja kalian menikahnya?" Cerocos mamanya Randu yang langsung membuat Lea berteriak panik.
"Apa?"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1