
Setelah berjibaku dengan kemacetan di pagi hari, Randu akhirnya tiba di rumah keluarga Andreas. Ada Mami Thalia yang sedang menyapu halaman depan, saat Randu tiba. Wanita paruh baya tersebut langsung menyapa Randu dan memasang senyuman hangat.
"Pagi, Randu! Sudah sampai?"
"Pagi, Aunty!" Jawab Randu yang bergeags mencium punggung tangan Mami Thalia.
"Lea mana? Tertidur di mobil?" Tebak Mami Thalia yang sudah dengan cepat mengitari mobil Randu, lalu memeriksa kursi di samping pengemudi.
"Loh, kok Lea tidak ada, Randu? Lea tidak ikut pulang?" Tanya Mami Thalia selanjutnya merasa bingung.
"Iya, Lea masih disana untuk menjaga Mama," jawab Randu berdusta.
Padahal tadinya Randu ingin jujur saja dan mengatakan kalau Lea mendadak kanur untuk menemui Rayyen. Namun Randu tidak mau membuat kedua orang tua Lea jadi cemas. Nanti saja Randu akan berusaha mencari Lea sendiri dan untuk Mami Thalia serta Papi Daniel biarlah tahunya Lea masih ada di rumah Mamanya Randu.
"Ada apa? Lea tidak ikut pulang?" Tanya Papi Daniel yang sudah ikut keluar untuk menemui Randu.
"Katanya masih betah di sana, Uncle! Itulah makanya Randu kesini untuk mengabari," jawab Randu sedikit menerangkan.
"Syukurlah, kalau memang Lea langsung akrab dengan keluarga angkatmu, Randu!" Ucap Mami Thalia yangvterlihat bernafas lega
Haduuh!
Mati kau, Randu kalau Lea tak cepat-cepat ditemukan!
"Ayo masak dan sarapan dulu! Aunty sudah masak tadi!" Ajak Mami Thalia selanjutnya pada Randu yang langsung mengangguk. Randu akhirnya mengukuti Mami Thalia dan Papi Dan untuk masuk ke rumah, lalu sarapan bersama kedua orang tua Lea tersebut.
****
"Ya ampun! Aku kesiangan!" Lea bergegas bangun setelah melihat jam di apartemen Rayyen yang sudah menunjukkan hampir pukul tujuh pagi. Setelah mengucek kedua matanya, Lea langsung bangkit dari sofa dan masuk ke kamar Rayyen.
"Sayang!" Panggil Lea saat tak mendapati Rayyen di dalam kamar.
Apa? Rayyen kemana?
"Rayyen! Kau di dalam?" Lea ganti mengetuk pintu kamar mandi dan memanggil Rayyen. Namun tetap tak ada jawaban.
"Rayyen!" Lea mendorong pintu kamar mandi yang rupanya juga kosong. Rayyen kemana?
"Rayyen!" Panggil Lea seraya mengelilingi apartemen untuk mencari Rayyen. Tak lupa Lea juga memeriksa balkon. Namun Rayyen tetap tidak ada.
"Rayyen!" Lea membuka pintu depan apartemen yang rupanya tak terkunci.
Hah?
__ADS_1
Apa Rayyen keluar?
"Rayy-"
"Hai, Sayang! Kau mencariku?" Tanya Rayyen yang berjalan terpincang-pibcang untuk menghampiri Lea.
"Kau darimana? Kenapa malah jalan-jalan padahal kakimu masih sakit?" Cecar Lea mengomel pada Rayyen.
"Aku membeli makanan tadi!" Rayyen menunjukkan kantung plastik di tangannya pada Lea.
"Ck! Padahal bisa pesan online saja!" Decak Lea yang langsung dengan cepat mengambil makanan tadi dari tangan Rayyen. Lea juga membimbing Rayyeuntuk masuk ke dalam apartemen lalu menyuruh kekasihnya itu duduk di sofa sementara Lea menyiapkan sarapan.
"Aku tadi bertemu pengelola gedung, Lea," lapor Rayyen selanjutnya pada Lea
"Ada masalah dengan apartemenmu?" Tanya Lea yang sudah kembali seraya membawa makanan untuk dirinya dan Rayyen.
"Sebenarnya aku menunggak pembayaran selama tiga bulan," ujar Rayyen seraya meringis.
"Kenapa baru bilang sekarang?" Leaeraih tasnya lalu mengeluarkan dompet warna coklat dari dalam tas.
"Kau pakai saja kartu debetku,", Lea memberikan kartu debetnya pada Rayyen.
"Passwordnya?" Tanya Rayyen.
Lea membisikkan password kartu debetnya pada Rayyen.
"Iya, sudah!" Jawab Rayyen yakin.
"Aku bawa dulu dan nanti aku akan mengganti semua uangmu termasuk yang kemarin."
"Tidak usah kamu pikirkan soal itu, Sayang! Aku ikhlas membantumu!" Ucap Lea dengan nada santai.
"Proyek sedang sepi dan yang terakhir ternyata bermasalah. Makanya sekaranga ku tak punya penghasilan," cerita Rayyen lagi.
"Kau fokus pemulihan luka-lukamu dulu saja, oke! Soal biaya hidup, aku masih ada tabungan." Ujar Lea lagi menenangkan Rayyen.
"Sekarang makan dulu!" Lea menyodorkan makanan ke depan mulut Rayyen dan kekasihnya itu sudah dengan cepat membuka mulut.
****
"Lea!"
Lea yang sedang memilih-milih buah dan sayur di supermarket,langsung terkejut saat seorang wanita memanggil namanya.
__ADS_1
Tunggu!
Tapi itu siapa yang memanggil Lea.
"Lea! Kamu Lea tunangannya Randu, kan?" Tanya wanita itu lagi memastikan.
"Iya aku Lea! Tapi aku bukan tunangan Randu lagi! Maaf!" Ucal Lea ceoat seraya merapatkan maskernya.
"Masih ingat padaku dan putriku-"
"Eh, kemana tadi?" Wanita itu tampaknya mencari-cari putrinya yang mebdadak hilang.
Ck! Dasar ceroboh!
"Lyra! Kesini!" Panggi wanita tadi pada bocah perempuan lima tahun dengan poni dan dua kuncir.
Hah!
Itu kan Zelyra yang pernah diaku Randu sebagai putrinya!
Oh, ternyata ini istri dan anak Detektif Haezel. Baiklah, Lea sudah ingat.
"Hai, Lyra!" Sapa Lea sok manis pada Zelyra. Padahal sebenarnya Lea kurang suka pada anak-anak. Mungkin nanti setelah menikah dengan Rayyen, Lea akan menunda punya momongan dulu!
"Hai, Tante Lea!" Sapa Zelyra yang rupanya malah masih ingat pada Lea.
"Sedang belanja?" Tanya Mayra berbasa-basi pada Lea
"Iya dan kebetulan sudah selesai," Lea memamerkan keranjang belanjanya yang memang sudah terisi penuh.
"Waaah! Tante Lea borong es krim ikan!"
"Lyra mau juga, Mom!" Zelyra merengek pada Mayra dan Lea tak peduli!
"Aku duluan, Mayra!" Pamit Lea seraya berlalu meninggalkan Mayra dan Zelyra yang masih berdebat soal membeli es krim.
Lea ingin secepatnya sampai di apartemen lalu memasak makanan sehat untuk Rayyen!
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.