Pengganti Calon Suami Azzalea

Pengganti Calon Suami Azzalea
JANJI


__ADS_3

Lea mengerjapkan matanya, saat wanita itu mendapati pemandangan langit-langit kamar yang sedikit asing. Semuanya serba putih. Dan tangan Lea juga terasa nyeri seperti tertusuk jarum....


Lea mengangkat tangan kanannya dan benar saja, ada jarum infus yang tertancap di sana.


"Sudah bangun, Sayang?" Tanya Randu yang malah membuat Lea terlonjak.


"Kau tadi pingsan setelah melakukan test kehamilan. Mama khawatir, jadi langsung membawamu ke rumah sakit karena kau sudah pingsan dua kali," cerita Randu panjang lebar seolah tanpa jeda. Kalau seperti ini Randu jadi mirip Rania yang bawel.


"Aku tidak hamil, kan?" Tanya Lea memastikan. Lea masih berharap kalau testpack dua garis tadi hanyalah mimpi.


Mimpi buruk lebih tepatnya!


"Kau hamil, Sayang!" Randu sudah menangkup wajah Lea, lalu mengecup kening istrinya tersebut.


"Lihat!" Ujar Randu selanjutnya seraya menunjukkan testpack dua garis dan foto hasil USG.


"Kandungan kamu sudah enam minggu," ujar Randu lagi yang langsung membuat Lea membelalak.


"Tapi, kota kan menikah baru satu bulan lebih beberapa hari?" Lea menatap linglung pada Randu.


"Aku masih perawan saat malam pertama kemarin, kan?" Tanya Lea lagi yang raut wajahnya sudah berubah ketakutan.


Tapi Lea berani bersumpah kalau dia memang tak pernah tidur bersama Rayyen. Meskipun beberapa kali Rayyen pernah mencium bibirnya...


Hoek!


Lea mendadak merasa mual membayangkan ciumannya bersama Rayyen waktu itu!


Ya ampun!


Lea menggosok-gosok bibirnya sendiri seolah merasa geli sekaligus mual.


"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Randu merasa heran dengan tingkah polah Lea.


"Aku hamil anak siapa?" Tanya Lea lagi menatap linglung pada Randu.


"Anakku tentu saja, Lea!" jawab Randu seraya terkekeh.


"Tapi..."


"Kita baru menikah satu bulan!" Cicit Lea kembali mengingatkan Randu.


"Kata dokter, usia kehamilan dihitung dari hari pertama haid terakhir dan bukan dihitung dari kapan kita menikah."


"Dan bukankah katamu, kau terakhir mendapatkan haid saat di rumah Eyang Wida?"


"Iya, sekitar dua minggu sebelum aku pulang dan mendadak disuruh menikah denganmu," ujar Lea menimpali penjelasan Randu.


"Nah, itu!"


"Jadi sudah benar, usia kandunganmu enam minggu!"


"Ini anakku dan benihku! Kenapa kau ketakutan begitu?" Tanya Randu heran.


"Aku berdarah saat malam pertama kita, kan?" Tanya Lea lagi memastikan. Lea masih takut kalau-kalau Mama Rika nanti menuduh Lea hamil anak pria lain.


"Iya berdarah! Aku yang menusuk!" Jawab Randu tegas.


"Menusuk apa, Mas? Kok horor main tusuk-tusukan?" Tanya Rania yang tiba-tiba sudah masuk ke dalam kamar perawatan Lea bersama suami barunya tentu saja. Si Raden Mas Pandu yang wajahnya terlihat berseri-seri.


Aura pengantin baru!


"Nggak ada!" Jawab Randu cepat sedikit bingung untuk beralasan.


"Mbak Azza sudah baikan belum? Dedek bayinya sudah kelihatan, lho!" Cerocos Rania selanjutnya seraya mengusap perut Lea.


"Mana fotonya, Mas? Rania mau lihat lagi!" Rania menengadahkan tangannya ke arah Randu meminta foto USG calon bayi Lea dan Randu.


"Ini!" Randu memberikan foto USG tadi dan kedua mata Rania langsung terlihat berbinar.

__ADS_1


"Mama mana?" Tanya Lea pada Randu karena tak melihat Mama Rika.


Randu segera membuka tirai yang menutupi bed perawatan Lea, dan langsung terlihat Mama Rika yang sedang tidur di sofa yang berada di sisi lain kamar perawatan kelas presiden suite ini.


"Mama tidur sejak tadi. Capek mungkin habis acara," jelas Randu seraya membenarkan selimut Mama Rika.


"Udah disuruh pulang nggak mau, Mbak! Katanya mau nungguin mantu kesayangan dan calon cucunya," timpal Rania yang mendadak membuat Lea menatap trenyuh pada Mama Rika.


Sesayang itu Mama Rika pada Lea.


"Lucu, ya!" Komentar Pandu yang sejak tadi ikut melihat foto USG Lea.


"Buruan bikin sendiri!" Randu meninju pundak sang adik ipar yang langsung terkekeh.


"On proses, Mas! Doakan langsung jadi juga," jawab Pandu yang langsung membuat Rania tersipu.


"Tapi ngomong-ngomong, Mbak Lea nggak ngidam apa, gitu?" Tanya Rania merasa kepo.


"Ngidam?" Lea garuk-garuk kepala kemudian menggeleng.


Boro-boro mikirin ngidam!


Lea saja masih syok dengan kehamilannya yang begitu cepat ini!


Kemarin Nona dan Zeline saja ada jeda setelah menikah dan tak langsung hamil. . Lalu kenapa Lea malah langsung hamil?


Padahal di awal-awal menikah kan Lea sempat mengkonsumsi pil kontrasepsi, sebelum akhirnya ketahuan oleh Randu dan pria itu membuang semua pil Lea.


"Kok malah melamun, Mbak? Lagi mikirin ngidam apa, gitu, ya?" Tegur Rania yang langsung membuat Lea tergagap.


"T-tidak!" Sanggah Lea.


"Nantu kalau ngidam nggak usah ditahan-tahan, lho, Mbak! Minta langsung sama Mas Randu!" Ujar Pandu mengingatkan Lea.


"Benar itu, Mbak! Nanti kalau Mas Randu menolak mencarikan ngidamnya Mbak Azza, lapor langsung saja pada Mama!" Timpal Rania sedikit mengompori.


"Mas pasti cariin apa saja yang Lea mau, Rania!" Sergah Randu cepat.


"Ciyee! Jadi suami siaga!" Ledek Rania pada Randu.


"Harus, dong! Kan calon Papa!" Randu menepuk dadanya sendiri dengan bangga.


"Pulang dan honeymoon sana!" Usir Randu selanjutnya pada adik dan adik iparnya.


"Udah diusir, Sayang! Ayo pulang!" Ajak Pandu seraya merangkul Rania dengan mesra.


"Pulang kemana?" Rania balik merangkulkan kedua lengannya pada Pandu.


Dasar bucin!


"Ke hotel!" Bisik Pandu pada Rania yang langsung tersenyum lebar. Pasangan pengantin baru itu akhirnya berpamitan dan meninggalkan kamar perawatan Lea.


Kini hanya tinggal Randu, Lea, dan Mama Rika yang masih tidur. Randu menutup lagi tirai di sekeliling bed perawatan Lea dan raut wajah suami Lea itu terlihat mencurigakan.


"Gara-gara kamu!" Rengut Lea yang langsung berbaring miring dan membelakangi Randu. Lea masih marah perihal dirinya yang mendadak hamil, padahal Lea merasa masih belum siap punya anak.


"Sayang!" Randu berusaha membujuk Lea, namun dengan cepat Lea menyentak tangan Randu.


"Udah jadi disini. Jangan ngambek, ya!" Bujuk Randu lagi yang kini sudah ikut naik ke atas bed perawatan, lalu mendekap Lea.


"Apa, sih? Mana muat?" Omel Lea saat Randu menyuruhnya agak bergeser.


"Muatlah! Aku nggak besar-besar amat, kok!" Ujar Randu percaya diri.


"Biar kamu nggak ngambek," ujar Randu lagi yang tentu saja langsung membuat Lea memutar bola matanya.


"Apa hubungannya? Mau kamu dekap sampai besok juga aku tetap ngambek!" Sergah Lea yang sekarang sudah ganti menyikut-nyikut perut Randu.


"Geli lho, kamu sikut-sikut begitu!" Kekeh Randu seraya menciumi leher dan tengkuk Lea.

__ADS_1


"Nanti kamu minta apa saja, aku berikan, aku turuti!" Janji Randu seraya mengusap perut Lea yang masih datar.


"Udah, jangan ngambek lagi pokoknya, ya!" Bujuk Randu sekali lagi seraya mengeratkan dekapannya pada Lea.


"Aku mau pulang," ucap Lea membuat permintaan pertamanya.


"Pulang ke rumah Mama?" Tanya Randu.


"Ke apartemen," jawab Lea tegas.


"Baiklah! Besok kita pulang ke apartemen. Nanti Mama bawain maid juga ke apartemen biar kamu nggak perlu beberes atau memasak. Kamu harus istirahat total pokoknya," ujar Randu yang langsung membuat Lea menggeleng.


"Aku nggak suka ada orang asing di rumah!"


"Maid-nya bukan orang asing! Maid-nya sudah bejerja lama di rumah mama-"


"Pokoknya tidak!" Ucao Lea tegas seraya mencubit tangan Randu.


"Auww! Kenapa dicubit?"


"Aku tidak mau pakai maid!" Ucap Lea sekali lagi dengan tegas.


"Baiklah! Lalu nanti yang beberes dan memasak siapa?"


"Kau memasak pesan diluar juga tak masalah. Tapi yang beberes? Aku tidak mau kamu kecapekan, Sayang!" Randu kembali mengusao perut Lea.


"Yaudah, kamu aja yang beberes! Kan apartemen kita juga tidak terlalu besar!" Jawab Lea enteng.


"Aku?" Randu menunjuk tak percaya pada dirinya sendiri.


"Pulang dari kantor kan kamu luang!"


"Tadi katanya mau manjain aku, mau nurutin semua yang aku pinta!" Lea menagih janji Randu yang sontak membuat Randu menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"I-iya, sih!" Gumam Randu.


"Yang bikin aku hamil siapa?"


"Aku!" Jawab Randu cepat.


"Yaudah! Mulai sekarang kamu yang beberes apartemen!" Sergah Lea lagi yang mau tak mau terpaksa membuat Randu mengangguk.


"Iya, Sayang! Iya!"


"Nanti aku yang beberes, nyapu, ngepel, cuci piring, baju kita laundry saja dan..." Randu mengingat-ingat pekerjaan rumah tangga lain selain yang tadi ia sebutkan.


"Dan memasak!" Ujar Lea cepat.


"Aku tidak bisa masak, Sayang!" Sergah Randu beralasan.


"Nanti aku yang arahkan!" Sergah Lea enteng.


"Kalau nggak enak bagaimana?" Tanya Randu pesimis.


"Ya kamu makan, kamu habisin!" JawaLea entahlah yang langsung membuat Randu menepuk keningnya sendiri.


Ya sudahlah!


Terima saja, Randu!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2