
"Bagaimana kalau besok saja kalian menikahnya," ucap Mamanya Randu dengan nada santai seraya menekan tombol panggil di samping bed perawatan.
"Apa?" Lea langsung memekik terkejut mendengar kalimat mamanya Randu.
Yang benar saja! Hubungan Lea dan Randu hanya sandiwara belaka. Lalu kenapa mamanya Randu malah menyuruh Lea dan Randu menikah besok?
Memang Mamanya Randu punya kuasa apa sampai bisa mencetuskan ide pernikahan dadakan?
"Mama tidak serius! Tidak perlu panik begitu!" Bisik Randu pada Lea yang masih terlihat shock.
"Tapi-" Kalimat Lea belum selesai, saat beberapa perawat sudah masuk ke dalam kamar perawatan.
"Lepaskan infus ini! Aku mau pulang dan mengurus pernikahan putraku," titah Mamanya Randu pada perawat yang baru saja masuk.
Hah?
Lea tentu saja semakin terkejut dengan kalimat Mamanya Randu yang bisa santai sekali menyuruh perawat melepaskan infus. Memangnya sudah sembuh?
"Memangnya tante sudah sembuh? Kok infusnya dilepas?" Tanya Lea akhirnya yang benar-benar bingung sekaligus penasaran.
"Sudah!"
"Randu sudah pulang membawa calon istri, jadi Mama sudah sembuh!"
"Mulai sekarang kau panggil Mama, ya! Jangan tante!" Ucap Mamanya Randu selanjutnya seraya menatap pada Lea yang tetap terlihat bingung.
"Mama?" Gumam Lea seolah sedang praktek.
"Iya! Mama!" Jawab mamanya Randu seraya tertawa kecil. Wanita paruh baya itu melihat sejenak ke bekas infus di tangannya yang sudah tertutup plester berwarna putih, sebelum kemudian bangkit dari atas bed perawatan. Randu bergegas membantu sang mama namun ditolak dengan cepat.
"Mama sudah sembuh!"
"Sekarang mama mau ganti baju, lalu membawa Azza ke butik untuk fitting baju pengantin," ujar Mamanya Randu menuturkan rencananya tetap dengan nada santai.
"Kami tidak akan menikah besok, Tante!"
"Eh, Mama!"
"Eh-"
Randu menahan tawa melihat Lea yang panik hingga gadis itu bingung harus memanggil mamanya dengan sebutan mama atau tante.
"Kenapa tidak mau menikah besok?" Tanya mamanya Randu penuh selidik.
"Karena...." Lea menggaruk kepalanya yang tak gatal karena bingung harus memberikan alasan apa.
"Karena...."
"Karena orang tua Lea tidak ada disini, Ma!"
"Lea tidak bisa menikah dengan Randu tanpa kehadiran orang tuanya!" Jawab Randu yang akhirnya membantu Lea memberikan alasan.
"Besok kita ke rumah Azza kalau begitu! Nanti kau dan Azza menikahnya di rumah Azza-!"
"Lea, Tante!" Sela Lea yang tak suka dipanggil Azza oleh mamanya Randu. Kenapa juga wabita paruh baya ini suka mengganti-ganti nama panggilan Lea!
Sama menyebalkannya dengan Randu!
"Azza lebih bagus!" Sergah mamanya Randu menatap tegas pada Lea yang akhirnya tak protes lagi.
Baiklah, terserah!
Lea akan mengomel pada Randu saja nanti!
"Besok kalian berdua akan menikah di rumah Azza-"
"Mami dan papi masih di luar negeri, Tante!" Sergah Lea yang akhirnya bisa beralasan.
Hahahaha!
Lanjutkan, Lea!
"Bukan begitu, Randu?" Lea pura-pura bertanya pada Randu untuk lebih meyakinkan mamanya Randu yang keras kepala itu.
Enak saja menyuruh orang nikah besok!
"I....ya!" Jawab Randu sedikit malas.
"Bulan depan Mami dan Papi baru pulang, Tante! Jadi Lea tak bisa menikah secara dadakan," ujar Lea beralasan.
Mamanya Randu terlihat bersedekap dan menatap bergantian pada Lea dan Randu, lalu wanita paruh nayabitu menghela nafas.
"Bulan depan tanggal berapa mami dan papi kamu pulang, Azza?" Tanya Mamanya Randu akhirnya pada Lea.
"Masih belum dipastikan, Tante!" Jawab Lea seraya meringis.
__ADS_1
"Kau telepon mami papimu kalau begitu dan biar Mama yang bicara nanti. Sekalian bertanya kapan mereka pulang ahar pernikahanmu dan Randu bisa secepatnya digelar," titah Mamamya Randu yang langsung membuat Lea mengumpat dalam hati.
Sial!
"Azza!" Tegur mamanya Randu dengan tatapan tajam.
"Eh, iya! Ponselnya Lea...." Lea harus beralasan apa sekarang?
Kalau Lea menelepon Papi Daniel atau Mami Thalia, bisa dipastikan kalau ia dan Randu malah akan menikah besok
"Ponsel kamu ikut hilang juga seperti ponselnya Randu?" Tanya Mamanya Randu dengan nada sinis.
"I....." Lea belum menyelesaikan jawabannya saat tiba-tiba ponsel Lea yang berada di dalam tas berdering nyaring.
Ah, sial!
Baru juga Lea mau berbohong. Kenapa malah ponsel Lea tidak mau diajak kerjasama?
"Permisi, Lea mau angkat telepon dulu, Tante!" Pamit Lea seraya melesat dengan cepat dan keluar dari kamar perawatan.
Lea mengambil ponselnya dari dalam tas untuk memeriksa, siapa yang menelepon.
Rayyen!
Hati Lea langsung bersorak senang saat mengetahui kalau Rayyen akhirnya kembali menghubungi Lea.
Oh, semoga urusan Rayyen sudah selesai dan pria itu bisa pulang secepatnya agar sandiwara Randu dan Lea bisa secepatnya berakhir.
Lea sudah jengah bersandiwara dengan Randu menyebalkan dan juga keluarganya yang sama-sama menyebalkan!
"Halo, Rayyen!" Sambut Lea setelah mengangkat telepon Rayyen dengan cepat.
"Lea, kau sedang sibuk, Sayang?"
"Sama sekali tidak! Kapan kau akan pulang, Sayang?" Lea balik bertanya dan hatinya tak berhenti berbunga-bunga. Gadis itu juga sudah duduk di kursi panjang yang kebetulan berada di dekatnya.
"Tadinya aku mau pulang hari ini dan memberikanmu kejutan, Sayang."
"Aduhh!"
"Rayyen, kau kenapa? Apa semua baik-baik saja?" Cecar Lea yang baru saja mendengar rintihan Rayyen. Kekasih Lea itu seperti sedang menahan sakit.
"Auw! Pelan-pelan!"
"Iya, Sayang!"
"Kau kenapa? Apa yang sudah terjadi?" Tanya Lea tak sabar.
"Aku tadinya ingin pulang hari ini dan memberikanmu kejutan, Lea!"
"Tapi sepertinya aku sedang sial. Aku jatuh dari motor saat menuju ke B&D Resto-"
"Hah?" Lea langsung terlonjak dari duduknya.
"Tapi kau baik-baik saja, kan? Kau dimana sekarang?" Cecar Lea mulai panik dan khawatir.
"Di rumah sakit-" Rayyen menyebutkan satu nama rumah sakit di kota S.
"Kau bisa kesini, Sayang? Aku sendirian."
"Iya! Aku kesana sekarang!" Jawab Lea cepat seraya mencari jalan keluar. Lea bergegas menyusuri lorong untuk secepatnya keluar dari rumah sakit. Gadis itu bahkan tam berpamotan pada Randu dan mamanya.
Ah, tapi siapa peduli! Rayyen sedang di rumah sakit sekarang dan Lea harus secepatnya sampai di sana untuk mendampingi Rayyen.
****
"Mama seharusnya tak perlu berlebihan seperti itu!" Ujar Randu pada sang mama setelah Lea keluar dari dalam kamar pearawatan untuk mengangkat telepon. Randu juga tidak tahu, siapa yang menelepon Lea. Mungkin Papi Daniel atau Mami Thalia.
"Berlebihan bagaimana maksudmu?"
"Bukankah hal baik itu harus disegerakan dan tak perlu ditunda-tunda?"
"Lagipula, kenapa kau dan Lea hanya bertunangan jika memang kalian sudah sama-sama serius? Seharusnya kalian langsung menikah saja!" Cecar Nyonya Wiyata yang merupakan mama Randu tersebut.
"Karena pernikahan tidak bisa diadakan secara mendadak, Ma! Banyak yang harus-"
"Omong kosong! Kau tinggal telepon Mama dan Mama akan langsung mempersiapkan pernikahanmu dengan Lea dalam waktu satu hari!"
"Tapi apa yang kau lakukan? Kau malah hanya bertunangan, diam-diam tanpa memberitahu Mama! Anak macam apa kau ini sebenarnya?" Cerocos Nyonya Wiyata lagi dengan nada sinis pada Randu.
"Acara pertunangannya dadakan dan ponsel Randu hilang! Bukankah Randu sudah mengatakannya pada Mama tadi a !" Ujar Randu kembali memakai alasan yang sama.
"Alasan!"
"Kau sangat bisa membeli ponsel baru dan menghubungi mama atau Rania-"
__ADS_1
"Randu tidak hafal nomor Mama dan Rania," sela Randu kembali beralasan
"Bohong sekali!"
"Kau itu kontak berjalan! Nomor ponsel semua orang kau hafal!" Sergah Nyonya Wiyata tak mau kalah. Randu sontak meringis dengan kalimat sang mama yang terakhir.
Yeah!
Sejak dulu Randu memang dijuluki kontak berjalan oleh sang mama dan semua keluarganya karena hanya dengan melihat nomor ponsel seseorang satu kali, Randu sudah langsung bisa menghafalnya.
"Jadi-"
Nyonya Wiyata belum menyelesaikan kalimatnya saat tiba-tiba ponsel Randu di dalam saku berdering.
Ah, sial!
Sepertinya Haezel menelepon!
Nada deringnya memang berbeda dari panggilan lain karena seringkali Haezel meneleponnya untuk bicara hal penting.
"Randu angkat telepon sebentar, Ma!" izin Randu cepat sembari merogoh ponselnya di dalam saku.
"Itu punya ponsel! Tadi bilang ponselnya hilang!"
"Alasan saja!" Gerutu Nyonya Wiyata yang lagi-lagi hanya membuat Randu meringis.
"Halo, Ezel!"
"Kau dimana? Kenapa tidak ke kantor hari ini? Kau sakit?"
"Tidak! Aku baik-baik saja! Aku hanya sedang ke rumah Mamaku," jawab Randu cepat menenangkan Haezel yang sepertinya sedikit khawatir.
"Kenapa tidak bilang?"
"Iya, maaf! Sedikit mendadak karena mamaku sakit," Randu lagi-lagi beralasan.
"Lalu kau disana berapa lama?"
"Aku belum tahu. Mungkin lusa aku sudah kembali. Mamaku sudah membaik sekarang " jawab Randu lagi.
"Baiklah! Semoga mamamu lekas pulih dan sampaikan salamku untuk mamamu."
"Siap, Pak Kepala!" Pungkas Randu seraya menutup telepon. Randu lalu kembali menghampiri sang mama.
"Istrimu tadi kemana? Kenapa menelepon lama sekali?" Tanya Nyonya Wiyata yang langsung membuat Randu ingat pada Lea.
Benar juga!
Kenapa Lea masih belum kembali?
Jangan-jangan gadis itu tersesat.
"Randu susul dulu, Ma!" Pamit Randu yang langsung dengan cepat krluar dari kamar perawatan.
"Lea!" Panggil Randu seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar perawatan. Namun Lea tak ada dimana-mana.
Kemana perginya gadis itu?
"Lea!" Panggil Randu lagi yang lanjut menyusuri lorong hingga ke arah lift. Namun Lea tetap tidak ada.
Randu mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi nomor Lea. Cukup lama hingga akhirnya telepon Randu diangkat.
"Halo-"
"Lea kau dimana?"
"Maaf aku tidak pamit! Aku sedang buru-buru dan ingin menemui Rayyen! Dia baru saja mengalami kecelakaan!"
"Apa?"
Tuut tuut!
Telepon terputus begitu saja.
"Lea!"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1