
"Aaaarrrggghhh!" Randu menjerit saat Lea tiba-tiba menggigit lengannya bak ayam goreng.
"Sakit!" Lea ganti memukuli lengan Randu.
"Kenapa-"
"Kau-"
"Yang menjerit?" Cecar Lea lagi tetap sambil memukuli lengan Randu.
"Tanganku juga sakit, Sayang!" Ringis Randu seraya melihat ke lengannya yang sudah terdapat banyak sekali bekas gigitan Lea.
"Dokter! Apa masih lama?" Jerit Lea yang sudah tak mampu lagi menahan sakitnya kontraksi.
"Sudah bukaan delapan, Bu! Sabar dulu, ya!" Ucap dokter yang langsung membuat Lea ganti menarik kepala Randu.
"Mau apa?" Tanya Randu bingung.
"Cium aku, coba? Kemarin saat aku kesakitan lalu kau cium, sakitnya sembuh!" Perintah Lea yang langsung membuat Randu mengernyit.
"Cium disini?" Randu mengecup kening Lea.
"Bukaaaan!" Lea menyalak pada Randu.
"Lalu dimana?" Tanya Randu pura-pura bingung.
Yang benar saja! Masa iya Lea mengajak Randu berpagutan saat sedang melahirkan begini!
"Sakiiiit!" Lea kembali menjerit dan kali ini wanita itu tidak minta dicium lagi oleh Randu melainkan tangannya malah langsung menarik rambut dan kepala Randu.
"Lea! Lea!"
"Rambut aku lepas!" Teriak Randu yang benar-benar sudah kewalahan mendampingi Lea melahirkan.
"Sakiit sekali!" Lea meringis lalu menjerit lalu meringis lagi. Kenapa istri Randu ini tak menangis saja kalau memang kesakitan sekali.
"Randu!" Lea kembali mencengkeram lengan Randu dengan kuat.
"Apa?"
"Aku-"
"Iya?"
"Aku mau BAB!" Ucap Lea yang langsung membuat Randu menganga.
"Sekarang?" Tanya Randu tak yakin.
"Iya! Sekarang!" Lea mengeratkan cengkeramannya pada lengan Randu, hingga mungkin kuku Lea sudah menancap juga disana.
"Auuuuwww!" Randu kembali meringis menahan sakit.
"Suster!" Panggil Randu selanjutnya pada perawat karena ia hendak melapor tentang Lea yang katanya mau BAB.
"Iya, Pak!"
"Ini istri saya katanya mau-"
"Nggak jadi!" sergah Lea tiba-tiba yang langsung membuat Randu mengernyit.
"Tapi tadi katanya-"
"Nggak jadi!"
"Aaaaarrrrrghh!" Lea kembali berteriak dengan ekspresi wajah yang tak.lagi bisa Randu gambarkan memakai kata-kata.
__ADS_1
Ini kali pertama Randu melihat Lea berekspresi aneh begitu.
"Pembukaannya sudah belum, Suster? Kok lama?" Tanya Randu mulai tak sabar.
Tak sabar untuk segera bertemu sang jagoan kecil serta tak sabar untuk melepaskan tangannya dari cengkeraman barbar Lea.
"Sebentar biar dicek lagi, Pak!"
Dokter baru saja akan memeriksa bukaan Lea, saat tiba-tiba Lea terlihat mengejan dan kepala bayi Lea dan Randu sudah menyembul keluar.
"Aaaarrrgggh! Lea, lepas!" Teriak Randu saat Lea yang ternyata mengejan sembari menggigit kuat lengan Randu.
"Oweek!" Teriakan Randu dan tangisan kencang bayi Lea dan Randu berbaur menjadi satu, menimbulkan suara riuh di dalam kamar persalinan.
"Aku tidak mau melahirkan lagi!"
"Ini yang pertama dan terakhir!" Ucap Lea seraya mendelik tajam pada Randu yang hanya meringis, sebelum kemudian suami Lea itu tumbang ke lantai tanpa aba-aba.
Bruuk!
Randu jatuh pingsan setelah bayinya lahir, karena kelelahan berteriak dan digigiti oleh Lea.
****
"Papa Randu!" Panggil seorang balita lucu yang mengenakan baju babyshark.
Lagi?
"Papa Randu!"
"Tidaaaak! Jangan babyshark lagi!" Teriak Randu yang tiba-tiba sudah duduk di atas bed perawatan dengan seluruh tubuh babak belur.
Bukan karena berkelahi, tapi karena habis dicakar, dijambak, dan digigit oleh Lea!
"Sudah bangun, Papa Randu?" Goda Haezel yang langsung disusul gelak tawa dari keluarga Lea dan keluarga Randu sendiri yang ternyata juga sudah tiba.
"Kok aku diinfus? Yang melahirkan kan Lea-" Randu menunjuk ke tangannya yang terpasang jarum infus, lalu pria itu ganti melemparkan pandangannya ke bed perawatan Lea yang ternyata kosong.
Lea kemana?
"Lea kemana?" Tanya Randu mulai panik.
Namun sedetik kemudian, Lea terlihat sudah keluar dari kamar mandi dengan wajah segar. Bahkan istri Randu itu sudah berjalan dengan normal.
Luar biasa!
Tadi di ruang bersalin kesakitan sampai menganiaya Randu. Sekarang sudah terlihat segar bugar seolah tanpa beban.
"Lea, kau sudah sehat?" Randu mengernyit pada Lea yang langsung menghampiri Randu.
"Ya! Kau itu yang aneh. Aku yang melahirkan, tapi malah kau yang pingsan," ujar Lea yang lagi-lagi mengundang gelak tawa dari keluarga Wiyata dan keluarga Andreas.
Sementara Randu hanya garuk-garuk kepala sembari memikirkan alasan yang mungkin bisa jadi pembelaan juga agar Randu tak terlalu malu.
"Aku tadi belum makan saat menemanimu melahirkan," Randu akhirnya menemukan alasan masuk akal.
"Alasan!" Cibir Lea sebelum kemudian Mama Rika menghampiri Lea.
"Haus sepertinya, Azza!" Ujar Mama Rika yang langsung membuat ekspresi wajah Lea sedikit kaku.
"Kan tadi udah nyusu, Ma! Masa haus lagi?" Tanya Lea heran.
"Bayi kan memang begitu, Lea!" Tukas Mami Thalia yang sudah ikut membimbing Lea agar duduk dengan nyaman sebelum menyusui bayinya.
Mama Rika lalu meletakkan bayi Lea dengan hati-hati ke pangkuan Lea.
__ADS_1
"Eh, bagaimana, sih?" Lea terlihat masih kaku saat menyusui sang bayi.
Sementara Randu yang sudah turun dari bed perawatan ikut-ikutan menghampiri Lea untuk melihat sang bayi.
"Hai, Randu junior!" Sapa Randu pada sang bayi.
"Tangannya jangan kaku begitu, Lea!" Mami Thalia kembali membenarkan tangan Lea yang sedang menyangga kepala bayinya.
"Rileks!" Randu ikut memberikan aba-aba pada Lea yang terlihat tegang padahal hanya menyusui. Sudah seperti mau ketemu orang penting saja.
"Iya, ini udah rileks!" Cicit Lea yang tetap tegang.
"Ck! Apanya yang rileks? Tegang begini!" Randu terkekeh dan memijit punggung sang istri dengan lembut. Perlahan, yang dilakukan oleh Randu membiat Lea tak lagi tegang.
Lea menatap pada sang bayi yang sudah pandai menghisap ASI dari payud*ranya. Lea menelan saliva berulang kali.
"Ada apa? Kok ekspresi wajah kamu aneh begitu?" Tanya Randu menatap heran pada sang istri.
"Aku jadi haus lihatin dia nyusu begitu," gumam Lea yang langsung membuat Randu tertawa kecil.
"Dia?"
"Iya, belum ada nama panggilannya. Kamu tadi keburu pingsan!" Lea kembali menyalahkan Randu.
"Iya, maaf! Aku juga tidak tahu kenapa tadi bisa pingsan," Randu kembali tertawa kecil.
"Mungkin karena penganiayaan yang kau lakukan," Randu menunjukkan kedua lengannya yang masih biru-biru. Lea sontak meringis.
"Pas kontraksi sakit sekali! Makanya sakitnya aku bagi sama kamu," ujar Lea beralasan dan Randu langsung mengusap wajah istrinya tersebut.
"Terima kasih," ucap Randu tulus.
"Terima kasih untuk?" Tanya Lea tak mengerti.
"Untuk semua pengorbanan yang kau lakukan saat melahirkan putra kita," jelas Randu yang langsung membuat Lea menundukkan wajah. Namun Randu bisa melihat kilatan butir bening di sudut mata Lea.
"I love you!" Ucap Randu selanjutnya seraya mengecup kening Lea.
"I love you too." Balas Lea lirih.
"Jadi nama untuk Randu junior siapa? Yang lain sudah nungguin itu." Lea mengendikkan dagunya ke arah semua anggota keluarga besar mereka berdua yang sejak tadi menyaksikan adegan mesra Randu dan Lea
Oh, ya ampun!
Bagaimana Randu bisa lupa?
"Siapa nama bayi gantengnya, Mas?" Tanya Rania yang kini juga tengah hamil lima bulan. Usia kandungan Rania kebetulan sama dengan usia kandungan Mayra.
Sepertinya sama-sama tertular kehamilan Lea saat acara empat bulanan.
"Ranza!" Jawab Randu akhirnya yang langsung membuat semuanya mengangguk.
"Aku pikir kita akan memakai nama Azran," bisik Lea pada Randu yang langsung menatap Lea dengan aneh.
"Apa?" Tanya Lea tak paham
"Nanti jagoan yang keda namanya Azran," ujar Randu yang langsung membuat Lea menganga.
Lea sudah tidak mau hamil!
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.