
"Jadi, kita akan jarang bertemu setelah ini?" Tanya Haezel membuka obrolannya bersama Randu. Saat ini Haezel tengah membantu Randu mengemasi barang-barangnya di kantor.
Ya!
Seteleh sedikit drama pemaksaan dari Randu, Haezel akhirnya membantu Randu untuk dimutasi ke kota dimana Mama Rika tinggal. Meskipun nantinya di tempat yang baru Randu harus kembali memulai kariernya dari nol, tapi sepertinya hal itu bukan sebuah masalah untuk seorang Randu Wiyata. Yang terpenting untuk Randu saat ini pasti bisa dekat dengan Lea, baby Ranza, serta sang mama.
"Aku akan sering menghubungimu, Pak Kepala! Dan mungkin saat weekend, aku juga akan mengajak Lea, Ranza, serta anak keduaku nantinya ke kota ini. Orang tua Lea juga tinggal di kota ini," tukas Randu panjang lebar, seolah sedang menenangkan Haezel yang sepertinya berat berpisah dari Randu.
Ya, ya, ya, ya!
Menjadi rekan kerja lebih dari delapan tahun memang sudah membangun sebuah ikatan di antara Haezel dan Randu. Ikatan yang bahkan lebih kuat dari hubungan saudara!
"Zelyra juga tetap akan jadi mantan terbaikku, Mantan calon mertua!" Lanjut Randu lagi yang sontak membuat Haezel terbatuk-batuk.
Dasar Randu gila.
"Apa aku perlu mengatakannya juga pada Lea?" Tanya Haezel akhirnya yang langsung membuat Randu mengernyit bingung.
"Mengatakan apa?"
"Kalau kau masih menyimpan rasa pada Zelyra."
"Sepertinya Lea sedikit cemburuan dan sensitif juga di kehamilan kedua ini. Jadi ini pasti akan-"
"Jangan mengatakannya pada Lea!" Sergah Randu cepat seraya menuding pada Haezel yang langsung tergelak.
"Aku tadi hanya berkelakar!" Sambung Randu lagi masih sambil menuding pada Haezel.
"Kelakarmu lucu sekali, Papa Randu!" Cibir Haezel seraya menutup box yang sudah selesai ia isi dengan barang-barang Randu.
"Atau mungkin kita bisa menjodohkan anak-anak kita ke depannya," cetus Randu tiba-tiba memaparkan sebuah ide.
"Menjodohkan? Maksudmu Zelyra dan Ranza, begitu?" Cecar Haezel tak paham.
"Iya!" Jawab Randu cepat.
"Aku tak yakin putriku suka berondong ke depannya," gumam Haezel yang langsung membuat Randu tergelak.
"Tapi mungkin bisa jadi wacana jika nanti anak keduamu perempuan! Nanti aku pasangkan dengan adiknya Zelyra," tukas Haezel selanjutnya memberikan secercah harapan pada Randu perihal perjodohan.
"Kalau adiknya Ranza laki-laki bagaimana?" Tanya Randuengajukan pertanyaan sulit.
"Kau buat lagi sampai dapat yang perempuan! Kasus selesai!" Jawab Haezel enteng.
"Kau dan Mayra tidak buat lagi?" Tanya Randu kepo.
"Entahlah, aku tidak yakin!" Haezel menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan Randu malah manggut-manggut. Dasar aneh!
"Sudah semua?" Tanya Randu selanjutnya memastikan sekali lagi. Sudah ada tiga box yang berisi barang-barang Randu di kantor.
"Ya! Atau kau mau sekalian mengemas ruangan ini dan membawanya pindah juga?" Seloroh Haezel yang hanya membuat Randu berdecak. Randu lalu menumpuk dua box warna coklat dan membawanya keluar dari ruangan. Sementara Haezel membantu membawakan satu box yang ukurannya sedikit besar dari yang dibawa oleh Randu.
"Apartemenmu bagaimana? Kau akan menjualnya?" Tanya Haezel yang masih mengekori Randu menuju ke mobil pria itu.
"Aku masih belum tahu! Kemarin aku hanya mengambil barang-barangku dan barang-barang Lea," jawab Randu yang ternyata masih bingung juga.
"Aku alan memberikan kuncinya padamu. Barangkali kau mau mengajak Mayra dan kedua putrimu tinggal di sana," tukas Randu lagi yang tiba-tiba mendapatkan ide.
"Tidak usah!" Tolak Haezel cepat.
"Tidak usah sungkan begitu, Mantan calon Dad mertua!" Kelakar Randu lagi yang langsung melemparkan kunci apartemennya ke arah Haezel, setelah pria itu meletakkan box di tangannya tadi ke bagasi mobil.
"Ck! Pemaksaan sekali!" Decak Haezel yang sudah menerima kunci apartemen Randu.
"Bagaimana nanti kalau aku jual apartemenmu?" Seloroh Haezel selanjutnya yang malah membuat Randu tergelak.
"Tak masalah! Asal uang penjualannya kau bagi dua denganku," tukas Randu santai.
"Nanti aku belikan babyshark," kelakar Haezel lagi.
"Ck! Lea sudah tak ngidam babyshark," jelas Randu pada sang sahabat.
"Lalu ngidam apa? T-Rex?" Tanya Haezel masih berkelakar.
__ADS_1
"Bukan ngidam T-Rex, tapi dia yang berubah jadi T-Rex sekarang!" Curhat Randu seraya geleng-geleng kepala.
"Sensitif sekali dan mudah marah," lanjut Randu lagi.
"Sabar!" Haezel menepuk punggung Randu dan memberikan semangat pada sang sahabat.
"Memangnya aku bisa apa lagi selain sabar? Kata Mama sudah konsekuensi karena yang membuat Lea hamil ya aku sendiri," tutur Randu yang langsung dibenarkan oleh Haezel.
Disaat itulah, ponsel Haezel tiba-tiba berdering.
"Aku angkat telepon dulu!" Pamit Haezel yang hanya membuat Randu mengangguk. Tak berselang lama, Haezel sudah kembali.
"Mayra mau melahirkan! Kau bisa mengantarku ke rumah sakit dulu?" Tanya Haezel yang sudah langsung masuk ke dalam mobil Randu, padahal sahabatnya itu belum bilang iya.
Ah, tapi kapan memangnya Randu pernah menolak permintaan tolong dari Haezel?
****
Beberapa bulan kemudian....
"Terima kasih, Pak!" Ucap Lea pada supir yang mengantarnya ke tempat kerja Randu siang ini.
Sengaja Lea datang tanpa memberitahu suaminya tersebut, karena Lea memang ingin memberikan kejutan untuk Randu.
Setelah sedikit bertanya pada petugas yang berjaga, Lea segera menuju ke ruangan dimana Randu bekerja. Namun baru membuka pintu, Lea sudah dikagetkan dengan keberadaan seorang wanita di dalam ruang kerja Randu.
Apa?
Randu selingkuh?
"Lea!" Sapa Randu yang sepertinya sangat sangat terkejut dengan kehadiran Lea.
"Dia istrimu? Aku akan keluar dan makan siang. Aku sudah lapar," Pamit wanita yang tadi berada di ruangan Randu dan tengah cekikikan bersama suami Lea tersebut.
Sementara Randu langsung menyambut Lea tanpa raut bersalah sedikitpun.
"Hai, kenapa tidak bilang kalau mau datang-"
"Lea-" Randu masih bingung dengan apa yang terjadi, saat tiba-tiba Lea sudah berbalik dan pergi meninggalkan Randu.
"Lea!" Randu bergegas menyusul Lea yang sepertinya sudah salah paham
Apa gara-gara Lea tadi melihat Amber yang merupakan rekan kerja Randu berada di ruangan Randu?
Konyol sekali jika Lea cemburu karena Amber juga sudah punya tunangan dan wanita itu jelas-jelas bukan selingkuhan Randu.
"Lea!" Randu akhirnya berhasil menyusul Lea yang baru saja akn menyusul taksi.
"Lepas!" Lea menyentak tangan Randu dengan kasar.
"Jadi benar, tentang kelakaranmu bersama Haezel tahun lalu itu? Tentang kamu yang katanya mau cari istri lagi!"
"Sekarang kamu sudah terang-terangan membawa calon istri keduamu ke kantor!" Lea bercerocos tanpa jeda dan tak berhenti melayangkan tuduhan konyolmua pada Randu.
"Siapa yang mau punya istri dua?" Tanya Randu menatap heran pada sang istri.
"Kau itu!" Lea mendorong bahu Randu karena kesal.
"Itu tadi Amber. Dia rekan kerjaku dan-"
"Randu, apa ada masalah?" Wanita yang tadi berada di ruangan Randu tiba-tiba sudah menghampiri Lea dan Randu. Dan wanita itu tidak sendiri. Ada seorang pria bule yang merangkul panggangnya dengan mesra.
"Kenapa istrimu menangis, Randu? Kau menyakitinya?" Tanya Amber lagi karena pertanyaannya yang pertama tak kunjung dijawab oleh Randu.
"Dia hanya kelilipan tadi," jawab Randu beralasan.
"Benarkah?" Amber masih tak yakin.
"Iya benar!" Jawab Lea ketus seraya mengusap airmatanya dengan kasar. Randu buru-buru merangkul Lea dan membantu Lea menyeka airmatanya.
"Sweet couple!" Puji pria yang bersama Amber.
"Terima kasih! Kau tunangannya Amber?" Ucap Randu sedikit berbasa-basi pada pasangan di depannya tersebut.
__ADS_1
"Ya, dia tunanganku dan kami baru saja akan pergi makan siang." Jawab Amber seraya mengulas senyum.
Randu hanya mengangguk-angguk.
"Kau dan istrimu..."
"Lea!" Sergah Randu cepat menyebutkan nama Lea sembari merangkul erat pundak Lea yang masih sedikit berontak.
"Kau dan Lea mau bergabung bersama kami?" Tawar Amber mengulangi ajakannya pada Randu.
"Tidak usah! Aku akan pulang ke rumah saja karena Lea sudah masak katanya," tolak Randu beralasan.
"Baiklah! Kami duluan, Bye!" Pamit Amber seraya berlalu dari depan Randu yang masih merangkul Lea.
Lea langsung menyentak rangkulan Randu dan wanita itu berjalan duluan me arah mobil Randu. Rasanya Lea malu sekali pada Randu karena sudah berprasangka dan menuduh yang tidak-tidak
"Lea!" Panggil Randu yang sudah dengan cepat menyusul Lea.
"Aku mau pulang," guma. Lea berusaha menutupi rasa malunya.
"Aku antar," ucap Randu yang sudah dengan cepat membukakan pintu mobilnya untuk Lea. Namun Lea malah tak kunjung masuk dan hanya mematung.
"Aku naik taksi saja!" Tukas Lea tiba-tiba seraya putar balik dan meninggalkan mobil Randu.
"Kenapa naik taksi, Sayang?" Tanya Randu tak paham. Pria itu kembali mengekori Lea.
"Kenapa kau mengekoriku? Bukankah kau harus kerja?" Sergah Lea yang sudah menghentikan langkahnya serta mengomel pada Randu, namun tanpa menatap wajah pria itu.
"Aku sedang istirahat," tukas Randu mengingatkan Lea.
"Kau masih marah soal Amber di ruanganku tadi? Tadi Amber hanya mengantar berkas kasus, lalu kamu sedikit mengobrol dan berkelakar."
"Itu hal wajar seperti yang dulu aku lakukan bersama Ezel."
"Tapi Amber seorang wanita!" Sergah Lea yang sepertinya masih cemburu.
"Iya, tapi kan dia juga sudah punya tunangan dan mereka akan segera menikah. Jadi konyol sekali jika kau mengira aku berselingkuh di belakangmu-"
"Siapa memang yang menuduhmu berselingkuh?" Lea menyalak pada Randu yang langsung diam.
"Sudahlah! Aku mau pulang!" Lea kembali berbalik dan menuju ke mobil Randu lagi.
"Tidak jadi pulang naik taksi, Sayang?" Tanya Randu mengingatkan. Dan Lea kembali menghentikan langkahnya.
"Kenapa menyuruhku naik taksi? Kau tidak mau mengantar istrimu yang hamil tua ini-" Lea meringis seraya memegangi perutnya.
"Lea!" Randu buru-buru menopang tubuh Lea yang hampir jatuh ke lantai.
"Auuuwww!" Lea menggigit bibir bawahnya karena kontraksi yang tiba-tiba datang dan terasa begitu menyakitkan.
"Aku mau duduk!" Lea mencengkeram lengan Randu dengan kuat.
"Kita ke rumah sakit sekarang! Mungkin kau mau melahirkan," cetus Randu yang langsung membimbing Lea dengan hati-hati menuju ke mobilnya.
"HPL-nya masih dua minggu lagi." Lea masih terus meringis.
"Tapi kata dokter bisa maju atau mundur," ujar Randu yang sudah selesai memasangkan sabuk pengaman Lea.
"Sakit sekali!" Keluh Lea setelah Randu menyusul masuk ke dalam mobil.
"Tarik nafas panjang!" Randu memberikan aba-aba untuk Lea sembari menyalakan mesin mobilnya.
Tak berselang lama, mobil Randu sudah meluncur menuju ke rumah sakit terdekat.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1