
"Lea!"
Azzalea yang baru selesai mandi dan sedang mengeringkan rambutnya memakai handuk langsung mengernyit, saat mendengar ketukan di pintu kamar disertai suara Randu yang memanggil namanya.
Apa pria itu benar-benar belum pulang?
Dasar menyebalkan!
"Lea!" Panggil Randu lagi disertai ketukan pintu.
"Iya!" Jawab Lea seraya melempar handuknya dengan kesal. Lea lalu membuka pintu kamar masih dengan perasaan kesal.
"Ada apa?" Jawab Lea mendelik galak pada Randu.
"Sudah selesai yang mandi? Perutku sudah lapar," ujar Randu seraya mengusap perutnya sendiri.
"Kenapa tidak makan makanan yang ada di dapur saja? Aku ingin istirahat dan ini sudah malam, Randu!" Jawab Lea masih tetap mendelik pada Randu.
"Aku ingin makan amsakanmu seperti yang yadi di B&D Resto,", ujar Randu beralasan.
"Ck! Kau kembali saja ke B&D Resto besok siang, lalu pesan sepuasmu!" Sergah Lea memberikan solusi.
"Tapi aku mau makannya sekarang," Randu mulai memaksa. Lea sontak bersedekap.
"Kenapa kau itu pemaksa sekali?" Tanya Lea yang masih bersedekap pada Randu.
"Sudah bawaan lahir," jawab Randu asal. Lea langsung memutar bola matanya dan membuang nafas malas,saat terdengar bunyi dari perut Randu.
Ya ampun!
Pria ini benar-benar lapar ternyata!
Tadi Lea pikir dia hanya sedang mengada-ada.
"Maaf!" Ringis Randu seraya memegangi perutnya.
"Ayo turun!" Ajak Lea akhirnya seraya mengikat rambutnya yang masih basah dengan asal.
"Hei! Rambut basah tidak boleh diikat!" Randu melepaskan ikatan rambut Lea dan membiarkan rambut sepanjang bahu itu tergerai.
"Terserah!" Gumam Lea yang akhir mendahului Randu untuk menuruni tangga. Lea langsung menuju ke dapur dan membongkar bahan-bahan yang yadi ia beli di ranch market bersama Randu.
"Kau akan memasak apa?"
"Dan kenapa rumah sepi? Aku sejak tadi sudah mondar-mandir dari lantai atas lalu ke lantai bawah, tapi seperti tidak ada orang," cecar Randu melontarkan pertanyaan bertubi-tubi pada Lea.
"Bisakah kau bertanya satu-satu?" Tanya Lea yang tangannya sudah sibuk mencuci potongan dada ayam yang entah akan ia olah menjadi apa.
"Baiklah, kau akan memasak apa?" Tanya Randu mengulangi pertanyaannya.
__ADS_1
"Chicken steak."
"Kau mau pakai saud barbeque atau saus black pepper?" Lea balik bertanya pada Randu.
"Mmmm, kau yakin itu yang aku makan di B&D Resto?" Bukannya menjawab pertanyaan Lea tentang pilihan menu, Randu malah balik bertanya lagi pada Lea.
"Aku tidak tahu! Yang jelas sekarang, aku hanya ingin memasak yang simpel karena bunyi perutmu itu sungguh mengganggu!" Jawab Lea mulai kesal sekarang.
"Ya! Aku selalu kelaparan saat malam, dan biasanya aku akan membuat mie instan kalau sedang malas keluar," cerita Randu yang langsung membuat Lea menghentikan aktivitasnya sejenak.
"Kau tinggal sendiri memangnya? Tudak menyewa ART?" tanya Lea yang mendadak jadi kepo dengan kehidupan Randu.
"Aku tinggal di apartemen dan tak ada ART. Hanya ada tukang bersih-bersih yang biasa datang dua kali seminggu. Untuk makan, aku selalu beli matang atau kadang menumpang di rumah Haezel," jelas Randu seraya memainkan paprika di hadapannya.
"Keluargamu? Kau masih punya orang tua, kan? Lalu putrimu?" Tanya Lea semakin penasaran.
"Aku masih punya orang tua lengkap. Hanya saja, mereka tinggal di luar kota sekarang," ujar Randu yang hanya membuat Lea mengangguk.
"Lalu putrimu?" Tanya Lea sekali lagi yang mendadak ingat pada gadis di ponsel Randu.
"Putri?" Randu terlihat bingung.
"Zelyra! Dia tidak tinggal bersamamu?" Tanya Lea yqng rupanya masih saja ingat pada Zelyra yang Randu akui sebagai putrinya.
"Oh." Randu sontak meringis.
"Zelyra tinggal bersama kedua orang tuaku," dusta Randu yang kembali membuat Lea mengangguk.
"Paprika ini untuk apa?" Tanya Randu selanjutnya mengalihkan pembicaraan, karena Lea yang seperti tak memakai paprika yang tadi sempat Randu elus-elus bokongnya ini. Lalu kenapa dibeli kalau akhirnya tidak dipakai?
"Simpan saja dulu di kulkas. Besok akan aku pakai untuk memasak sarapan serta bekalmu.kau jadi menginap malam ini?" Jawab Lea sekaligus bertanya pada Randu.
"Ya!"
"Tapi kenapa rumahmu sepi?" Tanya Randu lagi serayaengedarkan pandangan ke setiap sudut rumah yang benar-benar sepi.
"Mami dan Papi sedang ada acara di luar kota."
"Kalau Ryan aku tidak tahu. Mungkin menginap di kontrakan Nona," jawab Lea menebak-nebak bersamaan dengan pintu depan yang dibuka dari luar.
"Aroma harum apa ini? Ada yang memasak malam-malam?" Itu suara Ryan yang entah kenapa langsung muncul padahal baru saja dibicarakan.
Benar-benar umur panjang!
"Siapa yang memasak-"
"Hai, Bro! Kau menginap?" Tanya Ryan saat melihat Randu yang masih duduk di kitchen bar yang ada di dapur sembari memperhatikan Lea yang masih sibuk mengolah bahan-bahan.
"Ya! Lea yang memaksaku tadi, karena di rumah tak ada orang," jawab Randu yang langsung membuat Lea berdecak.
__ADS_1
"Aku tak pernah menyuruhmu menginap! Dasar geer!" Gerutu Lea sembari membalik dada ayam yang sudah matang di satu sisi.
"Kau darimana, Ryan? Dari kontrakan Nona?" Tanya Lea selanjutnya pada sang saudara kembar.
"Ya, tapi aku hanya mengantar Nona tadi, karena kami baru saja menghadiri acara,", cerita Ryan seraya mengendurkan dasinya, lalu ikut duduk di samping Randu.
"Kenapa hanya dua piring?" Komentar Ryan saat Lea sudah mulai menata chicken steak beserta pelengkapnya ke atas piring.
"Mana aku tahu kau akan pulang! Lagipula, bukankah kau tadi dari acara, jadi seharusnya kau sudah kenyang sekarang!" Sergah Lea seraya memitar bola mata.
"Iya juga! Aku memang sudah kenyang!" Kekeh Ryan seraya beranjak, lalu membuka pintu kulkas dan mengambil beberapa buah dari dalam sana.
"Ada air dingin, Ryan?" Tanya Randu pada Ryan yang masih berdiri di depan kulkas.
"Ada!" Jawab Ryan.
"Tangkap!" Ryan melemparkan sebotol aur mineral dingin pada Randu.
"Lea, kupaskan buah untukku!" Perintah Ryan pada Lea yang sydah duduk di samping Randu dan hendak menikmati steak-nya.
"Kupas sendiri! Atau kau suruh Nona sana! Aku bukan istrimu!" Jawab Lea malas. Ryan sintak menggerutu, namun akhirnya pria itu tetap mengupas sendiri buah yang hendak ia makan.
"Kau akan menghabiskannya?" Tanya Randu sedikit berbisik pada Lea yang sudah memakan sayuran di steak-nya.
"Kenapa? Aku sudah memasaknya, kadi aku akan memakannya!" Jawab Lea seraya memotong chicken steak-nya dan bersiap untuk melahap makanan tersebut.
"Kau tidak takut gendut? Ini sudah hampir tengah malam," celetuk Randu mengingatkan Lea yang langsung menahan tangannya sendiri dan tak jadi memakan potongan chicken steak-nya.
"Aku terlihat gendut, ya?" Tanya Lea khawatir. Lea langsung turun dari kursi dan menarik sesuatu dari kolong lemari memakai kakinya. Rupanya itu adalah timbangan badan digital.
"Sudah naik berapa kilo?" Tanya Ryan yang turut mengintip ke angka di timbangan.
"Kepo!" Jawab Lea judes seraya kembali duduk di samping Randu.
"Aku tidak gendut, kok!" ucap Lea seraya memindahkan chicken steak-nya ke piring Randu, dan gadis itu akhirnya hanya memakan sayuran pelengkap di chicken steak tadi.
"Wow! Aku akan kenyang sekali!"
"Masakanmu enak!" Puji Randu seraya melahap chicken steak-nya dengan lahap. Lea hanya memperhatikan Randu yang sepertinya benar-benar menikmati masakan buatan Lea.
Rayyen sepertinya tak selahap Randu saat Lea membawakannya makanan. Atau mungkin ini hanya efek dari Randu yang sedang kelaparan?
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.