
Randu dan Azzalea masih berada di ranch market untuk membeli beberapa sayur, buah, serta bahan makanan lain yang nanti akan diolah oleh Lea demi menuruti permintaan Randu.
Lea masih memilih-milih paprika berwarna merah terang, saat ponsel gadis itu berdering dari dalam tas.
"Randu, kau ambil paprikanya dulu!" Titah Lea pada Randu, sembari gadis itu mengambil ponselnya dari dalam tas.
"Warna merah saja? Berapa banyak?" Tanya Randu yang sudah memasukkan lima paprika ke dalam plastik.
"Satu saja! Ambil yang warna kuning dan hijau juga masing-masing satu dan pilih yang bagus! Jangan yang busuk!" Cecar Lea memberikan arahan pada Randu.
"Perasaan semua paprikanya mulus. Mana ada yang busuk?" Gumam Randu seraya memasukkan paprika warna kuning dan hijau ke dalam plastik. Namun sapaan Lea pada seseorang di ujung telepon, membuat Randu mendadak kepo dan pria itu langsung memasang pendengaran baik-baik.
"Rayyen!"
"Kau dimana, Sayang?" Tanya Azzalea dengan mimik wajah yang begitu khawatir, seolah Rayyen adalah bocah lima tahun yang sedang tersesat.
Ck! Lebay sekali!
Randu masih berpura-pura memilih paprika, namun pria itu tetap berusaha menguping obrolan Azzalea dan Rayyen di telepon.
"Terkena penipuan? Bagaimana bisa?" Cecar Azzalea yang langsung membiat Randu menebak,kalau Rayyen baru saja mengatakan pada Azzalea kalau dia sudah menjadi korban penipuan.
Hmmm, insting detektif yang bagus, Randu!
"Lalu kau dimana sekarang? Kenapa ponselmu juga tidak aktif saat hari pertunangan kita?" Cecar Azzalea pada Rayyen. Sayangnya, Azzalea tak memasang loudspeaker, hingga Randu tak bisa mendengar jawaban serta alasan dari Rayyen.
Sial!
Randu rasanya ingin nenyadap ponsel Azzalea saja! Tapi tentu saja itu melanggar hukum dan Randu bisa-bisa kena omelan dari Haezel!
"Jadi kau masih di luar kota sekarang? Perlu aku jemput?" Tawar Azzalea pada Rayyen yang tentu saja sangat bisa didengar oleh Randu yang masih mengusap-usap bokong paprika kuning di depannya.
Ck! Apa bagusnya juga paprika ini?
Kenapa Randu tak berhenti mengusapnya?
"Baiklah! Butuh berapa? Nanti aku kirim secepatnya!"
"Ke rekening biasa, kan?"
Pertanyaan Azzalea pada Rayyen langsung bisa membuat Randu menebak kalau Rayyen baru saja minta kiriman uang pada Lea.
Ck!
Dasar pria tak modal!
Masa iya, minta uang pada wanita! Di mana harga dirinya sebagai seorang pria?
"Lalu kapan kau akan kembali, Rayyen?"
"Masih belum tahu? Tapi kau pasti kembali, kan?" Tanya Lea lagi yang sepertinya sudah benar-benar bucin akut pada Rayyen Rayyen itu. Randu jadi penasaran, setampan apa sebenarnya Rayyen Rayyen itu, sampai Lea bisa tergila-gila padanya.
"Baiklah! Bye!" Pungkas Lea yang akhirnya mengakhiri teleponnya pada Rayyen. Randu langsung kembali fokus pada tumpukan paprika di depannya dan pura-pura tak menguping pembicara Lea tadi di telepon, meskipun sebenarnya Randu memang menguping.
"Sudah belum memilih paprikanya? Kenapa lama sekali?" Tanya Lea pada Randu yang masih menimbang-nimbang dia paprika di tangannya.
__ADS_1
"Aku bingung mau pilih yang ukuran besar ini." Randu menunjukkan paprika di tangan kanan.
"Atau yang ukuran sedang ini?" Lanjut Randu yang sudah ganti menunjukkan paprika di tangan kiri.
"Pilih saja salah satu sesuai kehendak hatimu!" Jawab Lea ketus.
"Iya, aku masih bingung," jawab Randu beralasan.
"Ambil saja keduanya kalau begitu!!" Kea yang sudah geregetan langsung mengambil dua paprika tadi dari tangan Randu dan memasukkannya ke dalam plastik. Lea bergegas menimbang paprika serta bahan-bahan lain yang tadi sudah ia ambil, sebelum pergi ke kasir untuk membayarnya.
"Aku beli camilan dulu!" Izin Randu saat ia dan Lea sudah mengantre untuk menbayar di kasir.
Lea hanya memutar bola matanya,dan memilih untuk mengirimkan uang pada Rayyen saja, sembari menunggu antrean di kasir serta Randu yang tak kunjung kembali.
Ck!
Pria itu mengambil camilan dimana memangnya?
[Hai, Sayang! Uangnya sudah aku kirimkan.] -Azzalea-
Lea baru selesai mengirimkan pesan pada Rayyen, saat tiba-tiba terdengar suara Randu dari balik punggung gadis itu.
"Aku sudah selesai mengambil camilan!" Lapor Randu seraya meletakkan dua bungkus besar camilan ke troli belanja yang ada di depan Lea.
"Kau yang bayar!" Ujar Lea seraya bergeser dan meminta Randu untuk menggantikannya mengantre di kasir.
Lea lanjut mengutak-atik ponselnya lagi sembari menunggu Randu yang masih membayar belanjaaan. Lea masih menunggu 0esan balasan dari Rayyen....
[Ya, uangnya sudah masuk. Terima kasih, Sayang!]- Rayyen-
"Eheem! Kenapa senyum-senyum sendiri?" Tegur Randu yang rupanya sudah selesai membayar belanjaan.
"Tidak ada apa-apa!" Jawab Lea yang segera menyimpan kembali ponselnya.
"Ayo pulang!" Ajak Lea selanjutnya pada Randu yang malah membuka bungkus camilan yang tadi ia beli.
Hhh! Dasar pria aneh!
"Langsung pulang? Tidak kemana dulu, begitu?" Tanya Randu seraya mengekori Lea untuk keluar dari ranch market dan langsung menuju ke mobil Randu di parkiran.
"Ini sudah jam sepuluh malam, Randu! Memangnya kita mau kemana lagi?" Sergah Lea yang langsung menyalak pada Randu.
"Iya, aku hanya bertanya!" Kelit Randu yang mulutnya masih tak berhenti mengunyah keripik kentang. Randu memasukkan semua barang belanjaan ke bagasi mobil, lalu pria itu bergegas menyusul Lea yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam mobil.
"Antarkan aku pulang, lalu kau bisa langsung pulang," ujar Lea pada Randu yang sedang memakai sabuk pengaman.
"Tolong!" Randu mengangsurkan bungkus keripiknya pada Lea, jarena pria itu kesulitan memsjai sabuk pengaman sembari memegang bungkus keripik.
"Kau tadi bilang apa?" Tanya Randu yang langsung membuat Lea memutar boka matanya.
"Antarkan aku pulang, lalu kau bisa pulang setelahnya!" Jawab Lea dengan suara yang sudah naik lima oktaf. Lea menyodorkan keripik kentang Randu, namun ditolak pria itu.
"Suapi! Aku sedang mengemudi!" Randu menunjukkan dua tangannya yang berada di atas roda kemudi.
"Ck! Tidak usah ngemil makanya!" Sergah Lea geregetan! Bukannya menyuapi Randu, Lea malah menyumpalkan keripik kentang ke mulutnya sendiri.
__ADS_1
"Aku sudah lapar! Dan kau janji akan memasak untukku malam ini!" Ujar Randu mengingatkan Lea.
"Aku tak berjanji! Kau itu yang memaksaku tadi!" Sergah Lea lagi seraya kembali menyumpalkan keripik kentang Randu ke mulutnya.
"Aku tak akan pulang jika kau belum memasak untukku," ancam Randu kekanakan.
"Terserah! Aku mau langsung tidur dan mandi nanti!"
"Kau mau tidak pulang, atau mau nangis guling-guling aku tak peduli!" Jawab Lea masa bodoh.
"Baiklah!" Jawab Randu yang langsung membuat Lea mengernyit.
"Maksudnya?" Lea bertanya bingung.
"Aku akan menginap di rumahmu nanti, lalu nangis guling-guling," jawab Randu yang benar-benar membuat Lea geregetan sekarang.
"Terserah!" Teriak Lea pada Randu, sebelum kemudian gadis itu menyumpalkan sisa, keripik kentang ke mulutnya dengan barbar.
"Kau beli minuman tadi?" Tanya Lea yang sekarang kehausan karena terlalu banyak makan keripik kentang.
"Ada di belakang!" Jawab Randu yang langsung membuat Lea mendengus.
"Kau menyuruhku merangkak ke bagasi?" Lea bersedekap malas dan Randu malah terkekeh.
"Tahan saja dulu! Sebentar lagi sampai," ujar Randu yang sudah membelokkan mobilnya masuk ke kompleks perumahan, tempat Lea tinggal.
"Aku turun disini saja! Kau pulang sana!" Usir Lea pada Randu, saat mobil Randu berhenti di depan gerbang.
"Tidak sopan menurunkan seorang gadis di depan gerbang begini!" Sergah Randu beralasan. Randu sudah turun untuk membuka gerbang depan, lalu pria itu kembali masuk dan mengemudikan mobilnya masuk ke halaman rumah keluarga Andreas. Randu menghentikan mobilnya tepat di deoan teras.
"Kau bisa pulang sekarang! Terima kasih sudah mengantarku pulang!" Ucap Azzalea yang langsung turun dari mobil Randu dan masuk ke teras rumaj.
"Belanjaannya bagaimana, Lea?" Tanya Randu yang langsung membuat Lea menghentikan langkah. Gadis itu akhirnya berbalik dan mengambil belanjaan di bagasi mobil Randu.
"Biar aku bawakan!" Randu hendak mengambil alih kantung belanja dari tangan Lea, namun ditolak oleh Lea.
"Tidak usah! Aku bisa sendiri!" Lea mendelik pada Randu.
"Sudah, jangan keras kepala! Biar aku bawakan!" Ujar Randu bersikeras seraya merebut kantong belanjaan tadi dari tangan Lea.
"Ck!" Lea akhirnya hanya bisa berdecak.
"Taruh saja di dapur lalu langsung pulang!" Seru Lea pada Randu yang sudah mendahuluinya masuk ke dalam rumah.
"Aku menginap!" Jawab Randu yang langsung membuat Lea menggeram.
"Ish! Menyebalkan!" Gerutu Lea seraya menghentakkan kakinya ke lantai karena kesal.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.