
"Randu!" Panggil Haezel bersamaan dengan pintu ruangan Randu yang sudah menjeblak terbuka.
Ya ampun! Membuat kaget saja!
"Ada apa, Pak kepala?" Jawab Randu dengan nada lesu tak bersemangat.
"Laporan yang kemarin sudah beres?" Tanya Haezel seraya menengadahkan tangannya pada Randu.
"Silahkan, Pak kepala!" Randu menyodorkan sebuah map pada Haezel tetap dengan raut lesu tak bergairah.
"Kau kenapa? Belum makan kudapan yang dibawakan Lea?" Tanya Haezel pada Randu.
"Lea tak membawakanku bekal apalagi kudapan hari ini!" Jawan Randu ketus.
"Bagaimana bisa? Kalian bertengkar?" Tanya Haezel menerka-nerka bersamaan dengan ponsel pria itu yang berdering nyaring.
"Kami tidak bertengkar. Hanya saja, Lea tiba-tiba kabur dan tak ada kabar," jawab Randu lesu.
"Lea kabur?" Tanya Haezel lagi semakin penasaran. Pria itu bahkan mengabaikan ponselnya yang terus berdering.
"Ponselmu berdering, Pak Kepala!" Randu yang merasa terganggu dengan dering ponsel Haezel akhirnya melayangkan protes.
"Ya, aku dengar!" Haezel terkekeh lalu membuka layar ponselnya untuk melihat siapa yang menelepon.
"Halo, May!"
"Dad! Ini Lyra!"
"Oh. Ada apa, Lyra?"
"Dad nanti pulang untuk makan siang atau mau makan siangnya diantar ke kantor?"
"Dad nanti pulang, Sayang!"
"Oke!"
"Om Randu boleh ikut makan siang di rumah, Lyra?" Tanya Randu setelah merebut ponsel Haezel. Jangan tanya bagaimana ekspresi Haezel sekarang! Sudah pasti geram!
"Om Randu, tadi Lyra ketemu Tante Lea!"
"Oh, ya? Dimana?" Tanya Randu cepat.
"Tante Lea beli es krim ikan banyak sekali! Buat Om Randu, ya?"
"Lyra ketemu Tante Lea dimana?" Tanya Randu sekali lagi pada putri Haezel tersebut.
"Di supermarket!"
"Lyra juga dibeliin es krim ikan sama Mom! Enak lho, Om!"
"Tante Lea bersama siapa, Lyra? Berikan ponselnya pada Mom!" Perintah Randu lagi pada Lyra.
"Mom lagi bikin bakso. Nggak bisa pegang ponsel!"
"Ck!" Randu mengembalikan ponsel Haezel pada sang empunya dan pria itu langsung menyambar kunci mobil.
"Hei, kau mau kemana, Bung?" Tanya Haezel yang hendak menyapa Lyra lagi tapi ternyata telepon sudah terputus.
"Mau ke rumahmu untuk menemui istrimu!" Jawab Randu seraya berlalu.
"Sinting! Jam makan siang masih satu Jam lagi, Randu!" Teriak Haezel seraya menyusul Randu.
"Randu! Tunggu aku!"
__ADS_1
****
"Di supermatket dekat sekolahnya Lyra!" Jawab Mayra saat Randu yang baru datang langsung menanyainya dimana ia bertemu Lea.
"Sebenarnya ada masalah apa antara kau dan Lea? Apa kalian sedang bertengkar?" Tanya Mayra selanjutnya penuh selidik. Sama persis dengan pertanyaan Haezel tadi di kantor. Dasar suami istri yang selalu kompak dan sehati!
Randu menghela nafas panjang sebelum memulai dongengnya tentang kronologi Lea yang tiba-tiba kabur tanpa pamit tanpa berkata apa-apa!
Apa memang yang dipikirkan Lea?
"Awalnya aku mengajak Lea menjenguk mamaku yang sakit. Lalu Lea mendadak dapat telepon dan dia keluar dari kamar perawatan mama. Dan saat aku menyusulnya, Lea sudah tidak ada!"
"Kau tidak coba meneleponnya?" Haezel menyela.
"Sudah! Tentu saja aku langsung meneleponnya! Tapi Lea hanya mengatakan kalau ia harus segera menemui Rayyen yang kecelakaan!"
"Menyebalkan, bukan?" Nada bicara Randu sudah terdengar bersungut.
"Rayyen itu siapa?" Tanya Mayra bingung.
"Pria yang seharusnya menjadi tunangan Lea. Tapi kata Randu, Rayyen tidak datang saat acara pertunangan, jadi Lea meminta Randu berpura-pura menjadi Rayyen dan menggantikan posisi Rayyen sementara waktu." Bukan Randu, melainkan Haezel yang menjawab dan menerangkan pada sang istri.
"Dan kau mau saja saat Lea menyuruhmu berpura-pura menjalin tunangannya yang kabur?" Mayra menatap tak percaya oada Randu yang hanya berdecak.
"Dia jatuh cinta dan sudah terpesona pada Lea di pandangan pertama, Sayang-"
"Mana ada! Dasar sok tahu!" Sela Randu menyanggah kalimat Haezel.
"Tidak usah gengsi jika memang itu benar, Randu! Jatuh cinta bukan sebuah kejahatan dan aku tak akan menjebloskanmu ke dalam penjara," kelakar Haezel yang membuat Randu semakin berdecak. Hanya Mayra yang tergelak mendengar kelakaran sang suami.
"Aku tidak jatuh cinta pada Lea! Aku menolongnya hanya karena aku merasa iba!" Sergah Randu beralasan.
"Lalu kenapa kau sampai mengajak Lea bertemu mamamu dan keluargamu, jika memang kau tidak mau serius menjalin hubungan bersama Lea?"
Skakmat!
"Jelaskan itu, Randu!" Timpal Haezel ikut memojokkan Randu.
Randu hanya berdecak dan memilih untuk melontarkan pertanyaan lain pada Mayra.
"Kau tadi melihat Lea bersama seseorang di supermarket, May?" Tanya Randu menatap serius pada Mayra.
"Tidak! Lea sendirian tadi dan tidak ada siapapun yang bersamanya," jelas Mayra.
"Kenapa kau tidak melacak ponselnya saja?" Tanya Haezel sekaligus memberikan ponsel.
"Sudah kulacak tanpa kamu suruh! Dan sinyalnya berhenti di jalan tol tadi! Bukankah kau juga sydah melihatnya?" Jawan Randu ketus.
"Oh, nomor yang tadi pagi kau lacak itu nomornya Lea?" Haezel akhirnya paham.
"Ya! Dan sekarang ponselnya sudah mati. Jadi aku tak bisa melacaknya lagi!"
"Posisi terakhir ya di jalan tol tadi!" Jawab Randu yang sepertinya sedang emosi tingkat tinggi.
"Aku yakin kalau Lea pasti sedang di apartemen Rayyen sekarang!" Ujar Randu lagi yang masih terlihat kesal.
"Ada beberapa gedung apartemen di sekitar sekolah Lyra dan kita tak mungkin memeriksanya satu persatu, Randu!" Gumam Haezel yang ikut-ikutan berpikir.
"Lea tidak pulang ke rumah orang tuanya? Atau pergi bekerja mungkin? Lea kerja di mana?" Tanya Mayra.
"B&D Resto-"
"Aku akan ke B&D Resto untuk memastikan!" Putus Randu akhirnya seraya bangkit berdiri dan meninggalkan rumah Haezel.
__ADS_1
****
"Lea masih izin. Bukankah seharusnya Lea pergi bersamamu ke rumah keluarga besarmu, Randu?"
"Lalu kenapa kau malah disini dan bertanya apa Lea masuk kerja atau tidak?" Tanya Keano merasa heran sekaligus bingung.
"I-iya!"
"Memang benar!" Jawab Randu tergagap.
"Lalu kenapa kau sudah disini dan Lea belum pulang?" Keano mengulangi pertanyaannya pada Randu.
"Aku pulang duluan kemarin karena ada hal penting. Lalu Lea menyusul pulang dan mendadak dia tak ada kabar! Makanya aku bertanya apa dia ke resto hari ini," jelas Randu yang langsung membuat Leano memekik lebay.
"Jadi maksudmu Lea hilang?" Keano sudah dengan cepat membuka ponselnya dan menghubungi nomor Lea.
"Tidak aktif!" Gumam Keano setelah beberapa kali mencoba menghubungi Lea.
"Sudah sejak kemarin ponselnya tidak aktif," jelas Randu pada Keano.
"Kau sudah memberitahu Uncle Daniel dan Aunty Thalia? Sudah lapor polisi?" Cecar Keano yang langsung membuat Randu garuk-garuk kepala.
Randu kan detektif juga!
"Aku tidak memberitahu Uncle Daniel karena aku tak mau beliau khawatir," tukas Randu menjawab pertanyaan Keano.
"Aku hanya bilang kalau Lea masih di rumah keluargaku dan nanti akan menyusul pulang," lanjut Randu lagi.
"Ada benarnya keputusanmu itu!"
"Lalu sekarang kau mau mencari Lea kemana?" Tanya Keano selanjutnya.
"Kau tahu alamat apartemen Rayyen?" Tanya Randu yang langsung membuat Keano mengernyit.
Apa yang salah dengan pertanyaan Randu memang?
"Kau sedang berkelakar?" Keano kini sudah ganti terkekeh.
"Kenapa kau malah menanyakanalamat apartemenmu kepadaku, Randu Rayyen Foster!" Ujar Keano lagi yang langsung membuat Randu mengumpat dalam hati.
Sial, Randu lupa!
Keano dan semua keluarga besar Lea kan mengiranya Randu adalah Rayyen!
Semua karena sandiwara bodoh yang sudah dibuat oleh Lea!
"Ya! Aku hanya mencairkan suasana," Randu tertawa sumbang dan masih terus mengumpat dalam hati.
"Aku akan lanjut mencari Lea, Keano! Dan tolong jangan beritahu Uncle Daniel perihal hilangnya Lea ini!" Pesan Randu pada Keano sebelum pria itu undur diri.
"Ya!"
"Dan segera hubungi aku jika tiba-tiba Lea kesini," pesan Randu lagi.
"Pasti!" Jawab Keano seraya mengangguk.
"Aku pamit. Bye!" Pungkas Randu kemudian seraya meninggalkan B&D Resto.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.