Pengganti Calon Suami Azzalea

Pengganti Calon Suami Azzalea
SUDAH!


__ADS_3

"Arrrggghhh!" Randu mengerang untuk kesekian kali saat ia kembali mencapai pelepasannya entah yang ke berapa malam ini.


Malam?


Benarkan ini masih malam?


Kukuruyuukkk! Kukuruyuuuuk!


Randu mengedarkan tatapannya ke kiri dan ke kanan saat mendengar suara kokok ayam di dalam kamar Lea. Memangnya Lea memelihara ayam?


"Itu alarm ponselku!" Ucap Lea yang terlihat sudah kepayahan karena semalaman Randu yang tak mau berhenti mengajaknya bercinta. Lea berusaha menjangkau ponselnya yang berada di atas nakas, namun wanita itu sudah benar-benar tak punya tenaga sekarang.


Ya ampun!


Randu benar-benar sudah gila semalam!


"Kenapa memasang alarm lucu begitu?" Tanya Randu yang akhirnya membantu untuk mengambilkan ponsel Lea. Randu lalu mendekap Lea lagi dan kembali menciumi istrinya tersebut.


"Randu!" Lea sedikit menggeliat, meskipun tubuhnya sudah terasa tak bertenaga.


"Sekali lagi," rayu Randu yang sudah menggigiti daun telinga Lea.


"Aku sudah tak punya tenaga-"


"Aaaahhhh!" Lea memekik lalu melenguh saat Randu sudah kembali memainkan kedua bukit kembarnya.


"Kau masih bisa memekik!" Kekeh Randu yang kemudian membalik tubuh Lea menjadi telentang.


"Randu..." Lea tak bisa berontak lagi saat Randu sudah menekuk kedua lututnya.


Ya ampun!


Apa Randu tidak lelah?


"Ini yang terakhir, aku janji!" Ucap Randu seraya mengusap bibir Lea dengan ibu jarinya. Ranflalu kembali menyentak masuk ke dalam milik Lea yang masih saja terasa sempit dan menjepit.


"Aku sudah tidak bisa bergerak!" Lea terkulai di bawah Randu.


"Kau bisa diam saja kalau begitu," ujar Randu yang sudah memulai pergerakannya. Meskipun Leaengeluh sudag capek dan tak lagi bertenqgq, namun racauqn serta lenguhan masih saja keluar dari bibir istri Randu tersebut.


"Aku tak akan bisa berjalan setelah ini!" Keluh Lea lagi pada Randu.


"Nanti aku gendong! Memangnya kau mau kemana?" Randu masih bergerak keluar dan masuk ke dalam milik Lea.


"Aku mau mandi...." Lea kembali melenguh.


"Lalu tidur," lanjut Lea lagi.


"Nanti aku temani tidur!" Randu melesakkan dalam-dalam miliknya ke dalam milik Lea.


"Aku keluar lagi!" Lapor Randu pada Lea yang sudah menguap lebar.


"Ya!"


"Sudah selesai, kan?" Tanya Lea seraya menejamkan kedua matanya. Lea sudah ngantuk berat sekarang dan Lea butuh tidur.


"Satu ronde lagi," ujar Randu seraya terkekeh.

__ADS_1


"Lalu setelahnya kau harus membawaku ke UGD karena aku pingsan!" Jawab Lea yang langsung membuat Randu tergelak.


"Baiklah, sudah!" Randu mencabut miliknya dari milik Lea yang sudah sedikit bengkak karena semalaman Randu hajar tanpa jeda.


Ya, Randu memang sudah gila semalan!


Randu tergila-gila pada Lea!


"Aku mau mandi!" Lea mengulurkan kedua tangannya ke arah Randu dengan mata yang tetap terpejam.


Randu tak berkomentar apa-apa dan segera menggendong Lea ke dalam kamar mandi. Randu juga sekalian memandikan Lea dan memakaikan baju lengkap untuk istrinya tersebut.


"Randu kita mau kemana? Kenapa memakaikan aku baju bepergian begini?" Tanya Lea setelah ia memindai penampilannya di kaca. Lea yang ngantuk berat kembali menguap lebar.


"Kita akan pulang ke apartemen. Kamarmu sudah seperti kapal pecah begini," ujar Randu seraya terkekeh.


"Tapi aku ngantuk sekali!" Sergah Lea beralasan.


"Nanti kau bisa tidur di mobil, Sayang!" Ucap Randu seraya menangkup gemas wajah Lea.


"Kau akan menerjangku lagi di apartemen?" Tanya Lea menerka-nerka.


"Tentu saja tidak! Aku akan mengerjakan beberapa laporan karena laptopku juga masih tertinggal di apartemen. Dan kau bisa tidur nyenyak nanti," ujar Randu yang terlihat begitu segar dan tak lelah sedikitpun.


Padahal Lea dan Randu sama-sama lembur semalam!


Lalu kenapa Randu segar bugar dan Lea yang begitu kepayahan?


"Gendong ke mobil!" Rengek Lea manja seraya bergelayut pada Randu. Hari juga masih pagi, jadi mungkin orang-orang di rumah belum bangun.


Baiklah!


Tapi bukan gendong ala bridal melainkan gendong belakang di punggung. Namun Lea tak protes sedikitpun dan wanita itu tetap nyaman bersandar pada punggung Randu.


Dasar Lea!


****


"Itu apa?" Tanya Randu saat Lea mengambil satu pil dari kemasan blister yang wanita itu keluarkan dari tasnya.


"Pil kontrasepsi!" Jawab Lea jujur.


Randu sontak langsung mengambil pil tadi dan kemasannya dari tangan Lea, lalu membuangnya ke tempat sampah.


"Randu, kenapa dibuang?" Protes Lea yang hendak mencegah, namun terlambat.


"Iya kenapa kamu harus minum pil kontrasepsi?" Randu balik bertanya sekaligus protes pada Lea.


"Karena aku belum siap hamil!" Sergah Lea cepat.


"Aku belum siap punya anak," imbuh Lea lagi yang langsung berhadiah tatapan tak senang dari Randu.


Lea menghentakkan satu kakinya, lalu duduk di tepi ranjang dan menundukkan wajahnya.


"Lea," Randu menghampiri Lea lalu bersimpuh di depan istrinya tersebut.


"Maaf," ucap Lea lirih masih terap menundukkan wajahnya.

__ADS_1


"Kau menangis?" Randu mengangkat wajah Lea dan butir bening langsung meluncur di kedua pipi istri Randu tersebut. Namun Lea cepat menyekanya.


"Aku juga minta maaf kalau perkataanku tadi kasar."


Lea menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Seharusnya kita membicarakan ini kemarin-"


"Bagaimana mau membicarakan hal ini, jika kau saja tak bilang sejak awal akan menikahiku! Aku bahkan baru tahu kalau calon suamiku adalah kau di detik terakhir sebelum kata sah!" Sergah Lea mengomeli Randu seraya menyeka air mata yang terus saja meluncur di kedua pipinya.


Namun Randu malah terkekeh mendengar omelan Lea.


"Baiklah aku yang salah!" Randu sudah bangkit berdiri lalu duduk di sebelah Lea dan merangkul istrinya tersebut.


"Kita bisa membicarakannya sekarang. Bagaimana?" Usul Randu selanjutnya yang hanya membuat Lea mengangguk.


"Jadi, ketakutan apa yang membuatmu masih enggan untuk hamil dan punya anak?" Tanya Randu to the point.


"Aku tak terlalu care pada anak-anak." Lea mengendikkan kedua bahunya.


"Entahlah! Aku merasa kalau aku tak punya jiwa keibuan seperti wanita pada umumnya. Aku selalu emosi dan kesal setiap mendengar ada anak kecil merengek di dekatku. Dan yang paling parah adalah...." Lea menjeda kalimatnya sejenak dan menatap ragp pada Randu yang malah memberikan kode agar Lea melanjutkan penjelasannya.


"Aku pernah melihat ada anak kecil tang tak sengaja jatuh lalu menangis di dekatku dan aku hanya diam saja. Aku bahkan tak punya niatan untuk menolong anak itu atau menghentikan tangisnya dan aku malah pergi begitu saja," cerita Lea dengan tatapan takut pada Randu.


Lea takut kalau Randu akan kecewa dan menyesal karena sudah menikahi wanita egois yang tak punya jiwa keibuan sejenis dirinya.


"Itu alasanmu?" Tanya Randu sekali lagi dan Lea langsung mengangguk.


"Terima kasih atas kejujuranmu!" Randu mengusap lembut kepala Lea dan tak ada sedikitpun raut kemarahan di wajah Randu.


"Kau tidak marah?" Tanya Lea bingung.


"Kenapa aku harus marah? Kau baru saja berkata jujur tentang sifat kurang baikmu, jadi aku sangat menghargainya!"


"Dan tugasku sekarang adalah membuatmu memiliki jiwa keibuan dan menjadi care pada anak kecil." Randu memaparkan rencananya.


"Meskipun aku yakin kalau setiap wanita itu pasti punya jiwa keibuan yang biasanya akan muncul atau bertambah kuat saat mereka mengandung dan melahirkan," tutur Randu panjang lebar berteori


"Jadi, kau akan menyuruhku hamil?" Tebak Lea yang seolah sudah tahu arah pembicaraan Randu.


"Bukan menyuruh, tapi menghamilimu lebih tepatnya dan aku sudah melakukannya semalam," jawab Randu seraya terkekeh dan Lea langsung cemberut.


"Bagaimana kalau nanti saat honeymoon kita mengajak Zelyra?" Usul Randu selanjutnya yang langsung membuat kedua mata Lea membelalak.


"Zelyra anaknya Ezel dan Mayra?"


"Iya! Agar kau bisa sekalian belajar menjadi seorang mom!" Ucap Randu lagi yang benar-benar membuat Lea kehilangan kata-kata.


Sejak kapan orang honeymoon membawa anak?


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2