
Lea kembali turun dari mobil untuk bertanya pada seorang warga tentang alamat rumah yang ada di akta jual beli rumah yang kemarin Lea temukan di apartemen Rayyen.
"Tinggal belok kiri saja, Mbak!"
"Rumahnya yang di depan ada booth makanan," ujar seorang warga yang Lea tanyai.
"Belok kiri di depan?" Tanya Lea memastikan seraya menunjuk ke satu tikungan yang berjarak beberapa meter dari mobilnya.
"Iya, Mbak! Belokan di depan itu!"
"Nanti masuk saja sekitar 50 meter. Langsung kelihatan rumahnya. Hanya satu itu yang ada booth jualan di depannya." Terang warga itu lagi.
Booth jualan? Apa jangan-jangan itu adalah booth jualan yang kemarin memang dibicarakan Rayyen itu?
Berarti Rayyen memang tidak bohong soal bisnis makanan itu!
Baiklah! Sekalian saja nanti Lea ambil rumah beserta booth jualannya!
"Baiklah, terima kasih, Pak!" Ucap Lea akhirnya pada warga yang sudah membantunya tadi. Lea kembali masuk ke dalam mobil, lalu melaju perlahan ke belokan yang ditunjuk oleh warga tadi.
"Belok kiri," gumam Lea seraya membelokkan mobilnya ke sebelah kiri, dan langsung terlihat rumah di sebelah kanan jalan yang memang terdapat booth jualan di depannya.
Lea menghentikan mobilnya sedikit jauh dari depan rumah tersebut, lalu mengeluarkan ponselnya. Lea membuka galeri ponsel untuk mencari foto booth makanan yang tempo hari Rayyen kirimkan pada Lea.
Ternyata benar!
Dan sama persis!
Lea akhirnya turun dari mobil dan hendak menghampiri booth yang kebetulan sedang buka tersebut, saat tiba-tiba ponselnya berdering karena Keano menelepon.
Oh, ya ampun!
"Halo!" Sambut Lea cepat.
"Le, nggak ke resto hari ini? Atau jau sudah mulai cuti menikah?"
Lea sontak membelalakkan mata mendengar pertanyaan Keano perihal pernikahannya.
"Mmmm, aku belum cuti!" Jawab Lea sedikit tergagap.
"Dan nanti aku ke resto, tapi sedikit siang karena aku sedang ada urusan." sambung Lea lagi.
"Baiklah! Aku hanya memastikan saja! Bye!"
"Bye!" Pungkas Lea bersamaan dengan seorang wanita hamil yang keluar dari rumah yang sejak tadi Lea awasi.
Apa? Siapa wanita hamil itu?
Apa Lea salah rumah?
Tapi booth jualannya sama dengan yang pernah difoto oleh Rayyen!
Lea terus mengawasi wanita hamil tadi yang berjalan ke arah booth makanan. Mungkinkah itu karyawan yang Rayyen bicarakan kemarin?
Lalu kenapa karyawannya hamil begitu?
Apa itu ulah Rayyen juga?
Dasar lelqki baj*ngan keparat!
Lea akhirnya memutuskan untuk pergi ke booth dan berpura-pura menjadi pembeli, sembari Lea ingin mencari tahu hubungan wanita hamil tadi dengan Rayyen baj*ngan.
"Siang, Mbak!" Sapa wanita hamil tadi pada Lea yang baru datang serata tersenyum ramah.
__ADS_1
"Siang!'
"Mau pesan apa?" Tanya wanita hamil itu lagi seraya menunjukkan daftar menu pada Lea.
"Pesan jus alpukat saja!" Ucap Lea akhirnya yang sedang malas memilih.
Si wanita hamil segera menyiapkan pesanan Lea dengan cekatan.
"Ngomong-ngomong, mbaknya pemilik booth ini, ya?" Tanya Lea berbasa-basi sekaligus mencari informasi.
"Iya, Mbak!"
"Yang itu rumahnya, Mbak? Atau ini tempatnya sewa?" Tanya Lea lagi.
"Itu rumah saya dan suami saya, Mbak. Kami baru pindah kesini dua minggu yang lalu." Jawab wanita hamil tadi yang langsung membuat Lea terhenyak kaget.
Suami katanya.
Siapa suaminya?
Bukan Rayyen, kan?
"Ma!" Panggil seorang bocah tidak yang keluar dari rumah tadi. Tak berselang lama, pria yang sejak tadi Lea tunggu ikut keluar juga mengekori bocah yang kisaran umurnya dua atau tiga tahun tadi.
Brengsek!
"Ma! Papa nggak bisa bukain snack-nya!" Lapor si bocah seraya menunjukkan sebuah kemasan makanan ringan pada ibu hamil tadi.
Papa?
Jadi anak kecil dan wanita hamil ini adalah anak dan istri Rayyen?
Keparat!
Lalu kenapa dia memacari Lea dan selingkuh juga dengan jal*ng di apartemennya kemarin?
"Guntingnya tidak ad-" Rayyen tak jadi melanjutkan kalimatnya saat pria itu melihat Lea yang sedang menyesap jus alpukat sembari duduk di booth minuman di depan rumahnya.
"Hai, Rayyen!" Sapa Lea seraya turun dari kursinya.
"Lea! Sedang apa-"
"Loh, mas Rayyen kenal sama mbaknya ini?" Tanya istri Rayyen polos menyela kalimat Rayyen yang kini melemparkan tatapan tajam pada Lea seolah tak punya dosa.
"Kembalikan rumahku!" Gertak Lea pada Rayyen seraya berkacak pinggang.
"Rumah yang mana maksudmu?" Rayyen balik mendelik pada Lea.
"Jangan pura-pura bodoh!" Lea hendak menyerang Rayyen, namun pria itu sudah dengan cepat menghindar, lalu mendekati istrinya sambil berkata,
"Sayang, kau bawa Rayyen ke dalam!"
Tunggu?
Rayyen siapa?
Anaknya Rayyen namanya Rayyen juga?
"Wanita ini gila!" Ucap Rayyen lagi seeaya menunjuk pada Lea.
Sial!
Bisa-bisanya Rayyen menyebut Lea gila!
__ADS_1
"Kau itu yang gila!" Teriak Lea yang kembali menyerang Rayyen.
"Kembalikan rumahku, Pria baj*ngan!" Teriak Lea yang akhir berhasil menarik kaus Rayyen.
"Rumah yang mana maksudmu! Tidak usah mengarang!" Rayyen memitar balikkan fakta.
"Itu rumahku! Kau membelinya dengan uang yang sudah kau kuras dari tabunganku!"
"Juga booth jualan ini! Ini juga milikku!" Lea sudah berteriak-teriak seperti orang gila.
"Jangan mengaku-ngaku! Ini rumahku dan ini juga booth jualanku! Aku membelinya dengan uang hasil kerja kerasku!"
"Kau siapa memangnya? Hanya jal*ng murahan yang menjual tubuh saja-"
"Plak!" Lea langsung menampar Rayyen dengan sekuat tenaga.
Dasar pria baj*ngan!
Menyesal Lea pernah kenal dan pernah tergila-gila pada pria gila ini!
"Pergi kau dari sini!" Usir Rayyen tehas pada Lea.
"Kau tidak bisa mengusirku dan akj tak akan pergi sebelum kau mengembalikan rumahku dan booth jualanku!"
"Dan aku akan melaporkanmu ke polisi!" Lea menuding pada Rayyen seraya mengancam.
"Laporkan saja! Rumah dan semua tanah inin atas namaku. Dan aku tak pernah mencuri uangmu!"
"Kau yang memberikannya padaku secara cuma-cuma jika kau lupa!" Desis Rayyen yang langsung membuat Lea kehilangan kata-kata.
"Kau sendiri yang akan malu jika berani melaporkanku pada polisi!"
"Aku yang akan balik melaporkanmu sebagai wanita gatak murahan yang ingin menghancurkan rumah tanggaku bersama istri dan anakku!" Ucap Rayyen seraya tersenyum licik pada Lea yang langsung naik pitam.
"Kau!"
"Kau benar-benar keterlaluan, Rayyen!" Teriak Lea murka yang hebdak menyerang Rayyen lagi. Namun Rayyen langsung sigao menangkis dan mencekal tangan gadis itu.
"Pergi dari sini sebelum aku meneriakimu sebagai pelakor!" Ancam Rayyen berbisik pada Lea yang berontak dan berusaha melepaskan cekalan Rayyen.
"Dasar baj*ngan!"
"Keparat!"
"Kau akan menerima balasan setimpal nanti!" Teriak Lea penuh kemurkaan.
"Kau pikir doamu itu manjur?"
"Pergi sana, Gadis kere!" Rayyen mendorong tubuh Lea hingga gadis itu nyaris tersungkur. Beruntung Lea bisa dengan cepat menguasai tubuhnya dan tak jadi tersungkur.
"Kau akan mendapat balasan setimpal!" Tuding Lea sekali lagi pada Rayyen sebelum gadis itu pergi meninggalkan rumah Rayyen dan masuk ke dalam mobilnya.
Rayyen baj*ngan!
.
.
.
Yah, si cowok blasteran udah punya anak istri 🥲🥲
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.