
Lea pulang ke rumah dengan perasaan kesal sekaligus marah. Dan juga patah hati.
Entahlah!
Satu yang pasti, saat ini perasqan Lea sedang campur aduk tak karuan!
"Itu orangnya sudah pulang, Aunty!" Ucapan Ryan sontak membiat Lea menghentikan langkahnya. Lea baru sadar kalau di ruang tamu rumahnya sudah ada Aunty Audrey dan juga Alicia dan Ryan yang baru saja beranjak pergi.
Ada apa ini?
Oh, iya!
Pernikahan Rayyen dan Lea yang hanya tinggal beberapa hari lagi!
Mati kau, Lea!
"Baru pulang, Lea?" Sapa Aunty Audrey seraya tersenyum ramah pada Lea.
"Calon pengantin, masih saja kerja sampai lembur-lembur," celetuk Alicia ikut menimpali.
"Hehe! Iya, Aunty!" Lea garuk-garuk kepala dan mendadak jadi salah tingkah.
"Duduk sini! Aunty mau membahas banyak hal tentang pernikahanmu dan Rayyen," titah Aunty Audrey selanjutnya seraya menepuk sofa kosong di sebelahnya.
"Apa pernikahan Lea bisa dibatalkan saja, Aunty?" Tanya Lea tiba-tiba pada Aunty Audrey yang sontak langsung membelalakkan mata.
"Diba-"
"Dibatalkan kenapa, Lea? Rayyen kanur lagi?"
Aunty Audrey belum jadi bertanya, saat Papi Daniel yang entah muncul dari mana tiba-tiba sudah melontarkan pertanyaan pada Lea yang amat sangat tepat sasaran.
"Undangannya juga sudah disebar kemarin, Lea? Masa mau dibatalkan?" Ujar Alicia mengingatkan Lea perihal undangan pernikahannya.
Ya ampun!
Lea juga lupa!
"Iya bagaimana mau menggelar pernikahan kalau mempelai prianya saja tidak ada!" Ucap Lea akhirnya seraya pergi dari ruang tamu dan langsung berlari menaiki tangga.
Lea menyeka airmata yang mendadak jatuh di kedua pipinya, lalu masuk ke kamar dan mengunci pintu. Lea butuh waktu untuk menenangkan diri sekarang!
****
"Apa perlu kita panggil Randu untuk menjadi mempelai prianya, Pi?" Usul Ryan yang tadi turut mendengar pengakuan Lea tentang calon suaminya yang mendadak jadi tidak ada.
Kemarin saat tunangan juga tiba-tiba menghilang. Lalu muncul lagi secara tiba-tiba, dan sejarang jelang pernikahan menghilang lagi!
Jadi sebenernya Rayyen itu makhluk nyata atau makhluk tak kasat mata?
"Tidak perlu lagi mengusik Randu!"
__ADS_1
"Apa kau lupa bagaimana ketusnya sikap Lea pada Randu?" Jawab Papi Daniel menatap serta mengingatkan Ryan dengan tegas.
"Jadi bagaimana, Daniel? Acaranya mau tetap digelar atau bagaimana?" Tanya Aunty Audrey memastikan karena ia sendiri juga tak terlalu paham bagaimana sebenarnya perjalanan cinta Lea dan Rayyen hingga calon suami Lea itu mendadak bisa kabur menjelang hari H pernikahan.
"Batalkan saja, Audrey!"
"Dari awal sebenernya aku itu juga sudah tak yakin dengan hubungan Lea dan Rayyen!" Tukas Papi Daniel kesal.
"Tapi papi merestui hubungan mereka, dan bahkan membiarkan saja Lea merencanakan pernikahannya, hingga Lea mem-booking WO-nya Aunty Audrey," Cerocos Ryan merasa bingung dengan jalan pikiran sang papi.
Bukankah seharusnya kalau memang tak setuju, Papi Daniel mengatakannya sedari awal secara terang-terangan?
"Kau tahu satu pepatah, Ryan?" Papi Daniel menepuk pundak putranya yang langsung menatapnya dengan penuh tanya.
"Pepatah apa, Pi?"
"Puncak dari rasa marah dan rasa kecewa seseorang, bukan lagi memaki-"
"Tapi diam dan sama sekali tak peduli!" Alicia melanjutpepatah yang diucapkan oleh Papi Daniel.
"Kemarin papi memang tak mencegah Lea yang bersikeras mempersiapkan pernikahannya dengan Rayyen, bukan karena papi merestui. Tapi karena papi sudah sangat kecewa pada Lea!"
"Bisa-bisanya dia kembali pada pria pengecut yang hampir membuatnya malu di acara pertunangan dan malah bersikap ketus pada Randu yang jelas-jelas sudah dengan tulus membantu menyelamatkan acara pertunangannya."
"Dia bahkan sama sekali tak mengucapkan terima kasih pada Randu!" Tutur Papi Daniel panjang lebar meluapkan semua uneg-uneg di hatinya.
"Jadi sebenarnya, Papi kemarin mengusir Randu bukan karena Papi marah pada Randu?" Tanya Ryan lagi yang perlahan mulai paham.
"Mami juga bingung. Kenapa Lea bisa keras kepala begitu," sambung Mami Thalia seraya memijit pelipisnya.
"Baiklah, berarti acaranya kita batalkan saja-"
"Tunggu, Ma!" Celetuk Alicia tiba-tiba memotong kalimat Aunty Audrey.
"Ada apa, Alice?"
"Kenapa acaranya tak kita lanjutkan saja, dan untuk mempelainya kita ganti jadi Ryan dan Nona saja!" Usul Alicia yang sontak langsung membuat Ryan membelalakkan kedua matanya.
"Lah! Bisa memang, Aunty? Kalau bisa, ya, Ryan oke oke saja!"
"Nanti tinggal kita tambah undangan yang baru saja, Ma! Untuk teman-teman Ryan dan Nona," sambung Alicia lagi memberikan solusi.
"Ada benarnya ketimbang kita harus konflik satu persatu ke tamu yang sudah terlanjur menerima undangan." Tukas Aunty Audrey yang langsung setuju dengan usulan Alicia.
"Bagaimana menurutmu, Daniel, Thalia?" Tanya Aunty Audrey selanjutnya meminta pendapat Papi Daniel dan Mami Thalia. Pasangan paruh baya itu saling melempar pandang.
"Jika Ryan setuju dan tak keberatan, kami ikut saja, Audrey!" Ujar Mami Thalia yang akhirnya memberikan jawaban.
"Bagaimana Ryan?" Tanya papi Daniel pada sang putra.
"Nanti nama di pelaminan bakal diganti jadi Ryan dan Nona, kan, Aunty?" Bukannya langsung menjawab pertanyaan sang papi Ryan malah melontarkan pertanyaan pada Aunty Audrey.
__ADS_1
"Tentu saja, Ryan! Kalau soal.namakan bisa dibikin dadakan. Apalagi masih ada waktu sekitar lima hari," jawab Aunty Audrey meyakinkan Ryan.
"Mengubah nama pengantin dalam hitungan jam saja Aunty Audrey bisa! Apalagi ini masih ada waktu lima hari, Ryan! Jadi bisa sekali pasti!" Seloroh Papi Daniel yang langsung membuat Mami Thalia dan Aunty Audrey menahan tawa. Berbeda dengan Alicia dan Ryan yang tampak bingung.
"Pernikahan siapa yang nama mempelainya berubah, Ma?" Tanya Alicia berbisik pada Aunty Audrey. Namun bukannya menjawab pertanyaan sang putri, Aunty Audrey malah tertawa kecil.
Aneh!
"Nanti kamu tanya saja pada papamu!" Jawab Aunty Audrey yang masih saja tertawa.
"Yang jelas kalau saat itu nama pengantin prianya tak diubah, Olivia, Alicia, dan Riley tak akan ada saat ini!" Celetuk Mami Thalia yang langsung membuat Aunty Audrey kembali terkekeh. Sementara Alicia hanya garuk-garuk kepala karena benar-benar bingung.
****
Lea kembali masuk ke kamarnya, lalu bersandar di balik pintu dan tak berhenti merutuki kebodohannya.
Tadinya Lea memang keluar lagi dari kamar untuk menguping pembicaraan para tetua di bawah. Dan Lea baru tahu, kalau sebenarnya Papi Daniel dan Mami Thalia memang marah ke Lea beberapa pekan kemarin, atau lebih tepatnya setelah Lea memutuskan untuk kembali pada Rayyen.
Pantas saja sikap Mami dan Papi sedikit dingin belakangan ini. Ternyata memang Lea saja yang tak peka pada kemarahan orang tuanya!
Lea yang tetap keras kepala mempersiapkan pernikahannya dengan Rayyen, hingga akhirnya semua jadi kacau begini!
Sekarang bagaimana Lea harus bersikap serta minta maaf pada mami dan papinya? Kedua orangtua Lea itu pasti sudah sangat-sangat kecewa pada Lea dan mungkin tak peduli lagi pada apa yang akan dilakukan Lea setelah ini!
Ya!
Terima saja, Lea!
Ini semua akibat ulah dan kebodohanmu sendiri!
"Hati-hati pada Rayyen dan berhentilah menghamburkan uangmu untuk pria itu!"
Nasehat dan pesan Randu kembali berkelebat di benak Lea, bersamaan dengan ingatan Lea yang kembali tertuju pada akta pembelian rumah.
Bukankah Rayyen membeli rumah itu memakai uang Lea? Jadi Lea pasti masih bisa mengambil rumah itu dari tangan Rayyen!
Kecuali Rayyen sudah membubuhkan namanya sebagai pemilik rumah tersebut di sertifikat.
Brengsek!
Lea harus mencari tahu tentang rumah itu dan merebutnya kembali dari Rayyen kalau perlu!
.
.
Oh, iya! Daniel asistennya Kyle, ya?
Berarti udah bener ya, Audrey dekat juga dengan keluarga Andreas. 🙈
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.