
Lea menatap Pada barisan gedung yang berjajar di kiri dan kanan jalan. Tak ada lagi pemandangan dari hamparan kebun teh milik keluarga Randu yang begitu memanjakan mata.
"Sudah sampai, Lea?" Tanya Eyang Wida yang duduk di samling Lea dan kini menyandarkan kepalanya di pundak Lea.
Ya, Eyang Wida memang ikut ke kota karena sidah lama sekali ibu kandung Papi Daniel itu tidak berkunjung ke rumah. Sekalian Eyang Wida mau menyaksikan pernikahan Lea nantinya, karena kemarin di pernikahan Ryan Eyang Wida sudah tidak datang. Acaranya terlalu mendadak saat itu dan Eyang Wida juga kurang sehat.
"Belun, Eyang! Sedikit lagi," jawab Lea seraya membenarkan letak kepala sang Eyang. Sementara Mami Thalia dan Papi Daniel yang duduk di jok depan hanya membisu.
Mobil sudah berbelok di kompleks perumahan, dan rumah kedua orang tua Lea sudah terlihat dari kejauhan.
"Ini rumahmu?"
"Rumah kedua orang tuaku lebih tepatnya!"
"Ah, iya! Kita bisa tinggal di apartemenku setelah menikah nanti, karena itu adalah apartemen milikku sendiri."
Lea memejamkan kedua matanya saat mendadak obrolannya dengan Randu saat pertama kali Lea mengajak pria itu ke rumah Mami dan Papi kembali berjelebqt di benak Lea.
Ya ampun!
Kenapa Lea tak bisa berhenti memikirkan Randu?
Randu akan menikah dengan gadis lain, Lea!
Berhentilah memikirkannya!
Jika sekarang kau merasa jatuh cinta pada Randu, maka perasaanmu itu sudah terlambat!
Randu sudah benci padamu dan dia tak peduli lagi kepadamu!
Batin Lea terus berkecamuk seolah sedang ada perang antara Lea dan hatinya sendiri.
Entahlah!
Mobil Papi Daniel sudah berbelok ke dalam pagar yang tumben di buka lebar...
Tunggu!
Kenapa ada tenda pernikahan di halaman dan banyak hiasan bunga-bunga?
Jantung Lea berdegup tak menenru saat mobil semakin masuk ke arah garasi dan halaman rumah Papi Daniel yang kini sudah diubah seperti lokasi pernikahan.
"Pernikahanmu akan digelar besok pagi!" Ucap papi Daniel yang sejenak membuat jantung Lea berhenti berdegup dan Lea mendadak lupa caranya bernafas.
Acara pernikahan?
Digelar besok?
Lea bahkan belum bertemu dengan pria yang akan menjadi calon suaminya!
"Tapi Lea belum bertemu pria yang akan dijodohkan dengan Lea, Pi!" Gumam Lea yang entah bertanya pada siapa. Papi Daniel dan Mami Thalia sudah turun dari mobil.
Mami Thalia membuka pintu belakang mobil, dan membangunkan Eyang Wida yang masih terlelap.
"Bu, sudah sampai!" Ucap Mami Thalia seraya mengusap lembit lengan Eyang Wida.
"Sudah sampai?" Tanya Eyang Wida seraya membenarkan kacamatanya.
"Ayo turun, Bu! Istirajat di dalam." Mami Thalia membimbing Eyang Wida untuk turun dari mobil dan meninggalkan Lea yang masih mematung dan bingung.
Besok Lea akan menikah?
****
"Hai!" Sapa Nona pada Lea yang baru selesai mandi. Kamar Lea bahkan juga sudah dihias ala kamar pengantin dengan banyak bunga di mana-mana.
"Aku membawakan baju yang akan kau kenakan besok pagi," ujar Nona lagi seraya menunjukkan baju semi kebaya yang kini sudah terhampar di atas ranjang Lea.
__ADS_1
"Aku bingung," keluh Lea seraya duduk di samping Nona.
"Bingung kenapa? Kau akan menikah besok dengan pria baik pilihan Papi dan Mami," ujar Nona yang semakin membuat kepala Lea terasa pening.
"Kau tahu siapa pria yang akan menjadi suamiku, Nona?" Tanya Lea penuh harap.
"Mmmmm, aku tidak tahu!" Jawab Nona cepat.
"Aku dan Ryan belum pulang dari honeymoon saat pria itu datang ke rumah!"
"Jadi yang tahu hanya Papi dan Mami," jawab Nona yakin.
"Kau tidak tanya pada Mami atau Papi? Atau mungkin Ryan? Dia kan kepo sekali!" Cecar Lea yang masih berharap akan menemukan celah untuk mengetahui siapa pria yang akan menjadi calon suaminya.
Ini sudah seperti cerita novel yang dijodohkan dengan orang asing. Tapi biasanya di cerita novel kan ada alasannya. Untuk menebus hutang atau untuk dijual.
Lalu ini Lea alasannya apa?
Agar Lea tak tersesat lagi pada pria penipu yang ternyata adalah suami orang juga seperti Suryanto?
Gila!
"Mami dan Papi tidak mau memberitahu dan katanya nanti juga semua akan tahu saat acara!" Tukas Nona yang benar-benar membuat Lea kehilangan harapan.
"Tapi gaun yang dikirimkan calon mertuamu cantik sekali!"
"Coba kau pakai dulu!" Titah Nona seraya membantu Lea mencoba gaun pengantin semi kebayanya.
"Pas sekali!" Puji Nona saat akhirnya gaun putih tulang itu sudah melekat di tubuh Lea.
Lea menatap pada pantulan dirinya di cermin. Wajah Lea terlihat bingung.
Ya, Lea memang sedang bingung sekarang karena mendadak ia akan menikah dengan pria asing yang Lea sendiri juga tidak tahu.
Bagaimana kalau pria itu ternyata galak?
Bagaimana kalau pria itu sudah tua dan keriput?
Bagaimana bagaimana?
Ya ampun!
"Lea, kau mau memakai baju ini semalaman?" Pertanyaan Nona membuyarkan lamunan Lea. Gaduh itu segera menggeleng dan meminta tolong Nona untuk menurunkan ritsleting gaunnya.
Lea lalu melepaskan gaun pengqntin putih tulang tadi dan ganti mengenakan piyama.
"Kau sudah makan tadi?" Tanya Nona yang sudah selesai membereskan gaun pengantin Lea.
"Sudah," jawab Lea lirih.
Lea hanya malan sedikit tadi karena ia sedang tak berselera. Lea masih saja memikirkan soal Randu. Kapan pria itu akan menikah kira-kira?
"Baiklah, tidur yang nyenyak malam ini dan jangan begadang!"
"Besok malam kau mungkin sudah berstatus sebagai istri dan sudah tidur bersama suamimu," kekeh Nona seraya berjalan ke arah pintu kamar Lea.
"Selamat malam!" Ucap Nona sebelum wanita itu keluar dan menutup pintu kamar Lea.
"Ya ampun! Aku masih belum siap!" Gumam Lea pada dirinya sendiri.
****
"Sudah siap?" Tanya Mami Thalia yang sudah masuk ke ruangan tempat Lea di make-up pagi ini.
"Tinggal pasang hiasan bunga untuk rambutnya, Bu!" Jelas MUA yang hari ini merias Lea.
Lea hampir tak mengenali dirinya sendiri saat ia menatap pada pantulan wajah di kaca di depannya.
__ADS_1
"Kau cantik sekali, Lea!" Puji Nona yang sudah ikut masuk ke dalam ruang make-up.
"Apa mami akan memberitahu Lea, siapa calon suami Lea, Mi?" Tanya Lea sekali lagi masih pantang menyerah.
"Sebentar lagi juga kamu pasti tahu, Lea!" Jawab Mami Thalia santai.
"Tapi bagaimana kalau Lea merasa tidak cocok-"
"Kau sudah berjanji untuk menerima perjodohan ini, Lea!" Sergah Mami Thalia tehas yang langsung membuat Lea membisu.
Lea memejamkan kedua matanya dan menarik nafas panjang berulang kali. Lea terus berusaha untuk menyiapkan hatinya .
Terima saja, Lea!
Anggap ini sebagai hukuman atas sikap bodohmu selama ini.
"Sudah siap!" Ucap MUA yang membuat Lea sedikit tersentak.
Mami Thalia dan Nona membantu Lea untuk bangkit berdiri, lalu menuntun Lea keluar dari ruang make up. Mereka langsung menuju ke tempat acara dimana para tamu undangan sudah banyak yang datang. Sedangkan mempelai pria belum terlihat di tempat acara.
Ya ampun!
Membuat Lea semakin deg-degan saja!
"Belum datang?" Tanya Mami Thalia pada Papi Daniel yang menghampiri Lea.
"Masih dalam perjalanan," jawab Papi Daniel.
"Duduk dulu!" Titah Mami Thalia seraya membantu Lea untuk duduk.
Lea merem*s kedua tangannya karena gugup dan berulang kali menarik nafas panjang.
Tak berselang lama, iring-iringan dari mempelai pria sudah tiba. Lea memilih untuk menundukkan wajahnya saja, dan mendadak gadis itu merasa kehilangan keberanian untuk menatap pada calon suaminya yang masih asing.
"Mempelai pria memasuki tempat acara."
Mami Thalia membimbing Lea untuk bangkit dari duduknya saat pria yang akan menjadi suami Lea sudah berjalan ke arahnya.
Leaasoh menundukkan wajahnya, dan hanya berani menatap pada sepatu mempelai pria, lalu pada kakinya yang terbalut celana warna putih yang mungkin senada juga dengan jasnya.
Pria itu semakin mendekat ke arah Lea, bersamaan dengan tatapan Lea yang terus naik ke atas.
Lea melihat jas pengantin warna putih yang begitu pas membalut tubuh tegap pria itu, lalu ada sematan bunga di dada kirinya. Tatapan Lea semakin naik ke atas, hingga akhirnya berhenti di wajah pria yang sangat tidak asing untuk Lea.
Pria yang pekan lalu mengatakan ingin pulang untuk melamar kekasihnya.
Pria yang sudah membuat hari-hari Lea menjadi kacau karena Lea yang tak berhenti memikirkannya.
Pria yang sudah membuat Lea berkubang dalam rasa bersalah dan penyesalan terdalam karena pernah bersikap kasar serta meremehkannya
Pria yang membuat jantung Lea berdegup tak karuan belakangan ini.
Pria yang kini berdiri di depan Lea, calon suami Lea.
Dia adalah....
"Randu?"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1