
Randu memijit pelipisnya sendiri setelah pria itu mematikan layar komputer di depannya. Tiga hari sudah Lea hilang tanpa kabar dan Randu masih tak menemukan petunjuk apa-apa. Sedangkan Uncle Daniel dan Aunty Thalia tahunya Lea masih di rumah mamanya.
Bagaimana ini?
Randu bangkit dari kursi kerjanya dan jendak pulang ke apartemen, saat ponselnya di dalam saku tiba-tiba berdering.
"Rania?" Gumam Randu serelah membaca nama yang tertera di layar ponsel.
"Halo, Rania! Ada apa?" Tanya Randu to the point setelah mengangkat telepon dari sang adik.
"Mas, bisa pulang dulu, nggak? Sehari saja!"
"Kenapa lagi? Mama sakit lagi? Bukannya kemarin sakitnya hanya pura-pura?" Tanya Randu seraya berdecak.
Mama kandung Randu itu memang dramaqueen! Suka sekali pura-pura sakit kalau keinginannya tak dituruti!
Sudah begitu aktingnya selalu totalitas karena melibatkan rumah sakit, dokter, perawat, dan jarum infus.
Tak sakit memang tangannya diinfus berkali-kali?
"Enggak! Bukan itu!"
"Lalu apa?" Randu mengerutkan kedua alisnya dan mendadak penasaran.
"Ini.."
"Ini apa, Rania?" Desak Randu tak sabar.
"Itu..."
"Ini itu apa, Rania? Kamu ngomong yang jelas dan jangan cuma ini itu anu saja! Mas bingung!" Randu sudah menaikkan nada bicaranya pada Rania.
"Pacarnya Rania mau ke rumah buat melamar Rania."
"Astaga!" Randu mengusap kasar wajahnya.
"Pulang, ya, Mas!"
"Iya!" Jawab Randu akhirnya.
"Trus Mbak Azza gimana, Mas? Udah ketemu dimana?"
"Belum!" Jawab Randu lirih.
"Nggak lapor polisi?"
__ADS_1
"Memangnya kamu pikir pekerjaan masmu ini apa?"
"Eh, iya lupa!" Terdengar kikikan Rania di ujung telepon.
"Udah dulu, Mas! Rania mau antar mama belanja!"
"Iya, iya! Selamat berbelanja dan menghamburkan uang!" Sinis Randu seraya menutup telepon dari Rania.
Randu baru saja menjejalkan ponselnya ke saku celana saat benda itu kembali berdering nyaring.
Ya ampun!
Apalagi sekarang?
Rania minta tambahan uang untuk belanja?
Randu membaca nama yangvtertera di layar ponsel, saat kemudian kedua mata pria itu membelalak karena mendapati nama Ryan di layar ponselnya.
Apa?
Ada apa Ryan menelepon?
Tidak biasanya saudara kembar Lea itu menelepon Randu.
"Halo, Randu! Kau bisa ke rumah sekarang?"
"Ya! Ada apa memang?" Tanya Randu yang mendadak merasa kalau ada yang tidak beres.
"Datang saja sekarang karena papi mau menkonfirmasi hal penting!"
"Hal penting apa?" Tanya Randu lagi semakin merasa tak ada yang beres.
Jangan-jangan Papi Daniel sudah tahu perihal Lea yang sebenarnya hilang dan tidak sedang berada di rumah mamanya Randu.
"Datang saja, Randu!"
"Baiklah. Aku kesana sekarang," pungkas Randu akhirnya bersamaan dengan telepon yang sudah terputus.
Randu benar-benar penasaran, ada apa sebenarnya di rumah Lea, hingga Ryan meminta Randu untuk cepat-cepat datang ke kediaman Andreas.
"Semoga bukan sesuatu yang buruk!" Gumam Randu sebelum pria itu menuruni tangga dan langsung menuju ke area parkir untuk mengambil mobilnya.
****
Butuh waktu tiga puluh menit untuk Randu sampai di rumah Lea, karena jalanan yang lumayan macet. Sore adalah jam pulang kantor. Jadi sangat wajar jika jalanan macet dan lalu lintas tersendat.
__ADS_1
Setelah memarkirkan mobilnya di halaman rumah Lea, Randu bergegas masuk ke teras, lalu mengetuk pintu depan yang memang sudah terbuka.
"Selamat sore!" Sapa Randu seraya melihat ke ruang tamu, saat kemudian Randu mendapati Lea yang ternyata sudah pulang. Gadis itu kini sudah duduk di sofa berdampingan dengan pria berwajah blasteran yang wajahnya terlihat asing.
Randu menatap lekat-lekat wajah pria di samping Lea tersebut sembari menebak siapa kira-kira pria itu.
"Maaf aku tidak pamit! Aku harus menemui Rayyen! Dia baru saja mengalami kecelakaan!"
"Rayyen baru saja mengalami kecelakaan!"
"Kecelakaan!"
"Kau berbeda jauh dari Rayyen sebenarnya karena Rayyen itu wajahnya blasteran dan tidak sepertimu!"
"Wajahnya berbeda dengan saat video call? Apa dia memakai filter?"
"Ya, Dia memakai filter saat video call, makanya wajahnya sedikit berbeda!"
Puluhan kalimat yang pernah dilontarkan Lea, Ryan, lalu Papi Daniel semuanya berkelebat di benak Randu dan terdengar seperti kaset yang diputar berulang-ulang.
"Wajah Rayyen itu blasteran!"
"Blasteran!"
Ya, sekarang Randu paham kalau pria yang duduk di samping Lea itu adalah Rayyen. Dan sekarang Randu juga paham kenapa ia mendadak dipanggil Papi Daniel kemari.
Semua sandiwara ini akhirnya terbingkar, Randu!
Bersiaplah untuk menerima murka dari keluargq Andreas!!
.
.
.
Jadi, sudah tahu kan kenapa Lea tergila-gila pada Rayyen!
Blasteran, gaees!
Beda dengan Randu yang produk lokal 🤣
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1