
"Aku butuh pinjaman uang," ucap Lea pada Ryan setelah gadis itu tiba-tiba masuk ke kamar Ryan, saat Ryan baru tiba di rumah.
"Apa?" Ryan pura-pura tak mendengar ucapan Lea.
"Aku mau pinjam uang! Tidak banyak, hanya dua puluh lima juta. Kau pasti punya, kan?" Lea mengulangi kalimatnya dengan lebih jelas dan tegas.
"Dua puluh lima juta? Iya, tidak banyak! Tapi masa kau tidak punya uang sesedikit itu," tanya Ryan menatap heran pada Lea.
"Kau sudah bekerja sebagai kepala koki selama lebih dari tiga tahun! Dan Uncle Abi juga selalu membayar penuh gajimu karena kau tidak kerja rodi di B&D Resto! Lalu kemana semua uang gajimu selama tiga tahun itu?" Cecar Ryan panjang lebar yang langsung membuat Lea berdecak.
"Aku tak butuh semua pertanyaan kepomu itu! Aku sedang butuh uang pinjaman untuk membayar DP Wedding Organizer Aunty Audrey! Jadi pinjamkan saja dan tak petlu mengoceh!" Lea balik mengomeli Ryan.
"Tabungan pernikahanmu kemana memang? Lalu calon suamimu kan kontraktor, masa membayar DP pernikahan dua puluh lima juta saja harus mencari pinjaman." Ryan tertawa meledek pada Lea.
"Ck! Pinjamkan saja uangmu, Ryan!" Paksa Lea seraya menarik kerah keneja Ryan yang sontak membuat saudara kembar Lea itu kaget.
"Apa, sih?" Ryan dengan cepat menyentak tangan Lea yang tiba-tiba main kasar.
"Pinjam saja sama Mami atau Papi sana! Aku juga sedang mempersiapkan pernikahanku bersama Nona! Jadi uangku tidak ada yang menganggur!" Ketus Ryan seraya mendorong Lea agar keluar dari kamarnya.
"Ryan!" Geram Lea saat tiba-tiba Ryan sudah menutup pintu kamarnya dengan keras dan menguncinya.
"Ryan! Buka pintu!" Teriak Lea lagi pada saudara kembarnya tersebut. Namun pintu tetap tak dibuka oleh Ryan keras kepala.
"Ck! Dasar saudara kembar pelit!" Maki Lea pada pintu kamar Ryan.
Lea kembali masuk ke kamarnya untuk berfikir kemana kira-kira ia bisa mencari uang pinjaman.
Ke Keano?
Atau ke Zeline saja?
Zeline pasti ada uang sekecil itu!
Secara, gadis itu kan nona direktur di Abraham Group.
Lea lalu menghubungi nomor Zeline namun hanya operator yang menjawab dan mengatakan kalau nomor sedang di luar jangkauan.
Sial!
Lea ganti menelepon Nona untuk bertanya Zeline ada dimana karena tumben nomor nona direktur itu tidak bisa dihubungi.
"Halo, Le! Ada apa?"
"Nona, kau masih di kantor?" Tanya Lea to the point.
"Aku sudah pulang. Ada apa, ya?"
"Tidak aku hanya ingin bertanya kenapa nomor Zeline tidak bisa dihubungi, ya?" Tanya Lea langsung pada intinya.
"Nona Zeline sedang berlibur ke luar kota. Mungkin tidak ada sinyal."
"Oh, begitu, ya? Lalu kapan kira-kira dia akan kembali?" Tanya Lea lagi.
__ADS_1
"Mungkin pekan depan, Lea! Apa ada hal penting? Mungkin bisa kau samoaikan pada Pak Zayn atau Bu Thalita!"
"Iya, terima kasih saranmu! Mereka Uncle dan Aunty ku jadi aku lebih tahu!" Jawab Lea cepat sedikit kesal pada Nona yang sok menasihatinya.
Setelah mengakhiri teleponnya pada Nona, Lea menghela nafas sejenak. Sekarang harapan Lea satu-satunya hanya Keano! Semoga sepupu Lea yang itu mau berbaik hati meminjamkan uang untuk Lea.
Mau pinjem ke Fairel juga mustahil! Pria itu sama galaknya dengan Ryan, jadi pasti nanti Fairel malah akan mencecar Lea habis-habisan.
Kenapa juga para pria yang bekerja di Halley Development itu galak-galak? Heran Lea!
****
"Maaf, tapi saldo tidak cukup, Pak!" Ucap pramuniaga toko saat Rayyen memberikan kartu debet Lea untuk membayar belanjaannya hari ini.
"Tidak cukup bagaimana, Mbak? Saldi saya itu banyak!" Rayyen bersikeras dan anada suaranya sudah meninggi.
"Tapi saldo memang tidak cukup, Pak! Silahkan dicek sendiri!" Pramuniaga toko mempersilahkan Rayyen untuk mengecek saldo dari kartu debet tersebut. Dan bebar saja! Hanya tersusa saldo lima puluh ribu di dalam kartu debet Lea tersebut.
Sial!
Kemana perginya uang Lea?
Perasaan Rayyen hanya memakainya sedikit!
Atau jangan-jangan Lea lupa mengisi saldo di kartu debet tersebut?
"Baiklah! Aku bayar cash saja! Mesin kalian yang rusak,tapi bilang kartuku tidak ada saldo!"
"Kalian pikir aku ini pria kere?" Rayyen menyodorkan beberapa lembar uang berwarna merah pada pramuniaga dan sedikit memutar balikkan fakta demi menutupi rasa malunya pada para pengunjung toko yang antri di belakangnya.
Sial!
Rayyen keluar dari toko pakaian tersebut seraya bersungut kesal. Segera pria itu mengambil ponselnya untuk menelepon Lea yang sudah membuatnya malu hari ini.
Rayyen akan mengomeli Lea!
****
"Sudah terkirim!" Keano menunjukkan layar ponselnya pada Lea yang sejak tadi duduk di depannya.
"Coba kau cek saldo di rekeningmu! Takutnya belum masuk," ucap Keano lagi yang langsung membuat Lea mengecek mutasi rekeningnya di ponsel.
"Ah, iya! Sudah masuk!" Ujar Lea seraya tersenyum senang.
"Terima kasih banyak, Keano!" Ucap Lea selanjutnya seraya menatap tulus pada Keano.
Ya, meminjam uang pada Keano ternyata lebih mudah dan tak perlu drama. Lea hanya menyampaikan alasannya meminjam uang untuk tambahan biaya pernikahan. Dan Keano sudah langsung men-transfernya ke rekening Lea!
"Sama-sama! Jadi kapan pernikahanmu dengan Randu-"
"Rayyen!" Sela Lea cepat mengoreksi kalimat Keano.
"Iya, sorry! Aku pikir mereka masih orang yang sama!" Keano terkekeh dan Lea hanya meringis. Semua keluarga besar Halley memang akhirnya sudah tahu perihal kesalahpahaman Rayyen dan Randu setelah mulut ember Ryan menceritakan semuanya. Tapi sebaiknya memang begitu, agar jika nanti mereka tak sengaja bertemu Randu, mereka tak lagi mengira kalau pria itu adalah calon suami Lea!
__ADS_1
"Jadi kapan rencananya kau dan Rayyen akan menikah?" Keano mengulangi pertanyaannya.
"Dua pekan lagi! Bukankah semua hal baik harus disegerakan?" Jawab Lea sok bijak.
"Iya, benar!" Keano manggut-manggut bersamaan dengan Uncle Abi yang memanggil Keano.
"Aku pergi dulu!" Pamit Keano akhirnya seraya beranjak dan berlalu dari hadapan Lea.
Lea baru saja bernafas lega, saat ponsel yang masih ia genggam tiba-tiba berdering.
Rayyen menelepon!
"Halo, Sayang!" Sambut Lea cepat.
"Lea, kenapa kartu debet yang kau berikan kepadaku bisa tidak ada isinya?"
"Iya, kan kemarin habis dipakai buat modal nyari tempat usaha kamu, Sayang! Trus aku juga harus bayar DP pernikahan kita!" Jawab Lea beralasan.
Padahal Lea tadi sudah menyapa Rayyen dengan mesra.lalu kenapa Rayyen malah langsung berbicara keras pada Lea dan tak ada romantis-romantisnya? Padahal tanya baik-baik kan bisa!
"Ck! Trus kamu bisa isiin lagi, nggak? Aku mau belanja untuk keperluan booth makanan. Masih ada beberapa yang kurang!"
"Yang kurang apa aja, Rayyen? Kamu catat saja nanti biar aku yang belanja." Ujar Lea memberikan solusi lain.
"Kamu memangnya tidak percaya sama aku?"
"Bukan begitu! Tapi uang aku itu hanya tinggal ngepress. Kalau sekarang uangnya kita bagi dua, nanti yang ada malah boros! Jadi udah, biar aku aja yang belanja!" Lea berusaha menjelaskan pada Rayyen.
"Tapi kamu masih punya tabungan lagi, kan?"
"Tabungan apalagi maksudmu? Tabungan aku kan udah kepake buat bikin booth jualan kemarin, trus buat beli peralatan juga!"
"Sekarang boothnya udah buka belum?" Tanya Lea memastikan. Lea mulai frustasi sekarang pada Rayyen yang selalu saja menanyakan perihal uang pada Lea.
"Eeeeee, lusa baru buka! Kan aku harus nyari karyawan dulu, Sayang!"
"Berarti nanti keluar uang lagi buat gaji karyawan padahal omset berapa aja belum pasti. Kamu yakin bisa jalanin bisnis ini? Aku kok mendadak ragu!" Lea menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kok kamu jadi meragukan kemampuanku begitu? Tentu saja aku bisa!" Suara Rayyen sudah kembali terdengar meninggi.
"Iya, aku kan cuma tanya! Nggak usah nge-gas begitu!" Sergah Lea mulai kesal pada Rayyen.
"Nanti aku fotoin boothnya biar kamu percaya dan tidak menganggap aku bohong!"
"Iya, aku tunggu fotonya!" Pungkas Lea seraya menutup telepon dari Rayyen. Lea lalu merem*s topi kokinya karena merasa kesal sekaligus frustasi.
Ada saja cobaan orang mau menikah!
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.