Pengganti Calon Suami Azzalea

Pengganti Calon Suami Azzalea
JELASKAN!


__ADS_3

"Sayang, apa kau yakin untuk menemui kedua orang tuamu hari ini dan menjelaskan semuanya?" Tanya Rayyen sekali lagi pada Lea.


Saat ini, Lea dan Rayyen sedang naik taksi yang akan mengantar mereka ke rumah kedua orang tua Lea. Sudah sejak semalam Lea mengatakan pada Rayyen kalau hari ini Lea akan membawa Rayyen ke rumah untuk meluruskan semua kesalahpahaman sekaligus mengakhiri sandiwaranya bersama Randu yang selama ini berpura-pura menjadi Rayyen.


Randu Rayyen Foster!


Yang benar saja! Mereka bahkan adalah dua orang yang berbeda!


"Iya, aku yakin!" Jawab Lea tegas.


"Kita harus segera meluruskan semua kekeliruan ini agar kita juga bisa secepatnya menikah, Rayyen!" Lea menangkup wajah Rayyen yang tampan dan berwajah blasteran. Tak seperti Randu yang berwajah full lokal.


Namanya saja Randu! Lokal sekali!


Ish! Kenapa juga Lea malah memikirkan Randu?


Pria itu bukan siapa-siapa, Lea!


Randu hanya pria pengganti saat Rayyen kemarin kabur tak ada kabar. Jadi tak perlu lagi memikirkannya!


Semua sandiwara Lea bersama Randu akan Lea akhiri hari ini!


"Menikah?" Rayyen terlihat kaget saat Lea menyebut kata menikah.


"Tentu saja, Rayyen! Bukankah itu tujuan dari hubungan kita selama ini?" Ujar Lea dengan mata yang sudah berbinar.


"Tapi kau yakin kalau papimu tak akan murka saat mengetahui kebohonganmu selama ini, kan?" Tanya Rayyen memastikan. Rayyen seolah takut jika hubungan Lea dan kedua orangtuanya nya akan langsung memburuk saat Lea mengatakan semua hal tentang Rayyen!


Oh, Rayyen yang sangat peduli!


Lea jadi makin cinta pada pria ini.


"Papi pasti murka, tapi aku akan mengancam untuk keluar dari rumah jika Papi tak merestui hubungan kita."


"Jadi papi pasti akan mengambil keputusan seperti saat aku memaksa untuk bertunangan denganmu waktu itu!" Jawab Lea santai tapi yakin.


"Jika papimu tak mencegah dan tetap membiarkan kau keluar dari rumah?" Tanya Rayyen mengungkapkan kemungkinan terburuk.


"Ya kita tinggal pergi saja! Kan kita bisa tinggal di apartemenmu Sayang!" Jawab Lea masih santai.


"Pekerjaanmu? Kalau kau dipecat dari resto opamu?" Rayyen tampaknya masih merasa cemas.


"Aku akan mencari pekerjaan di tempat lain! Atau kita bisa membuka usaha, Sayang! Kita bisa membuka outlet makanan dimana aku di bagian masak lalu kau di bagian pelayanan."


"Bukankah itu romantis?" Tutur Lea mengungkapkan rencananya pada Rayyen yang langsung garuk-garuk kepala.


"Iya," jawab Rayyen setengah hati.


"Di depan belok kanan, Pak! Rumahnya yang nomor lima!" Ucap Lea memberikan petunjuk pada supir taksi.


"Baik, Nona!"


Taksi berbelok ke sebuah kompleks perumahan, dan Rayyen mengedarkan pandangannya ke deretan rumah yang bentuknya nyaris serupa. Hanya bentuk pagarnya saja yang berbeda-beda.


"Orang tuamu tinggal di kompleks perumahan ini?" Tanya Rayyen pada Lea.


"Ya! Mereka sudah tinggal disini sejak aku dan Ryan lahir! Itu adalah rumah hasil kerja keras mereka," cerita Lea pada Rayyen dengan begitu antusias.


Taksi akhirnya berhenti di depan rumah nomor lima. Lea segera mengangsurkan lembaran uang untuk membayar taksi sebelum ia dan Rayyen turun.


"Ayo, Sayang!" Ajak Lea yang sepertinya sudah tak sabar untuk segera mengenalkan Rayyen pada keluarganya.


Lea membuka pagar besi warna hitam di depan rumah, dan langsumg terlihat rumah dua lantai yang sudah menjadi tempat tinggal Lea selama dua puluh lima tahun ini!


"Sepi," komentar Rayyen saat ia dan Lea masuk ke teras rumah.


"Mami dan papi mungkin sedang di dalam. Dan Ryan juga mungkin belum sampai di rumah," ujar Lea menerka-nerka. Lea langsung membuka pintu depan tanpa segan, lalu mengajak Rayyen masuk ke rumah.


Ya, kenapa juga Lea harus segan?


Bukankah ini adalah rumah Lea sendiri?


"Mi-"


"Lea, sudah pulang?" Lea belum menyelesaikan sapaannya, saat Mami Thalia yang sedang merangkai bunga di ruang tamu sudah balik menyapa putrinya tersebut.


"Iya, Mi!" Jawab Lea yang langsung menghambur ke pelukan Mami Thalia.


"Lalu itu siapa? Kau membawa siapa ke rumah? Tidak diantar Randu?" Cecar Mami Thalia selanjutnya saat wanita paruh baya itu melihat Rayyen.

__ADS_1


"Itu Rayyen, Mi!" Jawab Lea yang sudah melepaskan pelukannya pada Mami Thalia dan kembali mendekat ke arah Rayyen yang langsung menyapa Mami Thalia dengan canggung.


"Sore, Tante!"


"Rayyen?" Mami Thalia terlihat bingung.


"Maksud kamu Randu?" Tanya Mami Thalia memastikan.


"Bukan, Mi! Ini Rayyen, bukan Randu!" Jawab Lea tegas.


"Iya, Randu kan nama tengahnya Rayyen! Randu Rayyen Foster kata kamu!" Ujar Mami Thalia mengingatkan Lea.


"Maaf, Tante! Tapi nama saya Rayyen Foster saja! Tidak ada unsur Randu di depannya," tukas Rayyen mengonfirmasi.


"Rayyen dan Randu itu dua orang yang berbeda, Mi!" Timpal Lea turut meluruskan kesalahpahaman yang sebenarnya Lea buat sendiri selama ini.


Huh!


Kenapa malah jadi rumit begini!


"Pi!"


"Papi!" Mami Thalia yang sepertinya sudah benar-benar kebingungan lantas memanggil papi Daniel yang entah berada di mana.


"Papi! Kesini dulu!" Panggil Mami Thalia lagi.


"Ada apa, Mi? Kenapa teriak-teriak." Papi Daniel tak jadi mengomel pada Mami Thalia saat tatapan pria paruh baya itu tertumbuk pada Rayyen yang kini berdiri di samping Lea.


"Kamu membawa siapa itu, Lea?" Tanya Papi Daniel menatap penuh selidik pada sang putri.


"Ini Rayyen, Pi! Kekasih sekaligus tunangan Lea!" Jawab Lea cepat.


"Pi, masa kata Lea Randu dan Rayyen itu dua orang yang berbeda! Padahal jelas-jelas sebulan yang lalu, Lea itu bilang ke kita semua kalau Randu itu adalah Rayyen! Dan namanya Randu Rayyen Foster!"


"Lalu ini, pria asing ini malah mengaku-ngaku sebagai Rayyen Foster!"


"Mami jadi bingung, Pi!" Tutur Mami Thalia yang wajahnya sudah terlihat benar-benar bingung.


"Apa maksudnya semua ini, Lea?" Papi Daniel langsung menanyai Lea dengan tegas setelah mendengar penuturan Mami Thalia.


"Rayyen itu sebenarnya yang mana dan Randu itu siapa?" Tanya Papi Daniel lagi tetap dengan nada tegas.


"Dan Randu yang selama ini Lea kenalkan sebagai Rayyen pada Mami dan Papi sebenarnya adalah Randu bukan Rayyen!" Jawab Lea yang tentu saja semakin terdengar memusingkan.


"Ada apa ini, Pi? Kok teriak-teriak?" Tanya Ryan yang baru tiba di rumah.


"Loh! Itu bukannya Rayyen yang dulu video call bersama mami dan papi, ya?" Tanya Ryan setelah melihat dan memperhatikan dengan seksama wajah blasteran Rayyen yang masih berdiri di samping Lea.


"Katanya dulu pakai filter?" Tanya Ryan lagi.


"Kok ini ada bentuk aslinya? Atau jangan-jangan kamu pakai topeng, Ndu?" Kekeh Ryan yang tiba-tiba sudah menghampiri Rayyen dan menarik-narik wajah Rayyen seolah itu adalah topeng.


"Ryan, apa, sih!" Lea langsung dengan cepat menyentak tangan Ryan yang masih menarik-narik wajah Rayyen.


"Randu lagi pakai topeng, kan?" Tanya Ryan memastikan.


"Sembarangan! Ini Rayyen! Bukan Randu!" Jawab Lea tegas.


"Rayyen bukan Randu?" Ryan bergumam bingung.


"Bukannya Rayyen memang adalah Randu? Namanya kan Randu Rayyen Foster-"


"Bukan!" sela Rayyen cepat.


"Nama saya Rayyen Foster, Bang! Tidak pakai Randu di depannya!" Ujar Rayyen lagi tegas.


"Masa, sih?" Ryan yang masih tak percaya kembali menarik wajah Rayyen, namun Lea sudah dengan cepat mencegah.


"Ryan jangan konyol!"


"Rayyen memang bukan Randu!" Lea berteriak pada Ryan dan sedikit mendorong saudara kembarnya itu agar menjauhi Rayyen.


"Ini Rayyen asli! Dan Randu yang selama ini kalian kenal sebagai Rayyen, dia hanyalah pria pengganti-"


"Apa maksudmu pria pengganti, Lea?" Sergah Papi Daniel yang nada bicaranya sudah meninggi.


"Iya, dia hanya menggantikan Rayyen sementara waktu karena saat acara pertunangan Lea, Rayyen berhalangan hadir!"


"Dan karena Lea tak mau mami dan Papi marah, makanya Lea meminta Randu untuk berpura-pura jadi Rayyen," jawab Lea jujur yang langsung membuat Mami Thalia, Papi Daniel, dan Ryan membelalakkan mata mereka.

__ADS_1


"Jadi selama sebulan ini kau sudah menipu mami, papi, dan semua keluarga besar kita?" Ryan menatap tak percaya pada Lea yang hanya meringis. Ryan kemudian bertepuk tangan seolah sedang menyindir kebohongan Lea yang luar biasa.


"Luar biasa!"


"Lalu siapa sebenarnya Randu itu siapa dan kenapa dia mau saja berpura-pura menjadi Rayyen untuk menipu kami semua?" Tanya Papi Daniel dengan suara yang masih meninggi pada Lea.


"Randu...."


"Lea tidak tahu, Pi!"


"Lea hanya tak sengaja bertemu dengannya saat Lea ke toilet di acara pertunangan itu, dan alasan Randu mau menggantikan Rayyen, Lea juga tidak tahu!" Jawab Lea seraya mengendikkan kedua bahunya.


"Kau membayar Randu mungkin! Dia sedang butuh uang, lalu kau membayarnya, jadi dia bersedia menjadi Rayyen pura-pura!" Celetuk Ryan sok tahu.


"Aku tak membayar Randu sepeserpun!" Sanggah Lea cepat.


"Meskipun di awal aku memang menawarkan bayaran untuk Randu agar mau berbohong dan berpura-pura menjadi Rayyen, tapi Randu menolak bayaranku!" Ujar Lea lagi menatap tegas pada Ryan yang sok tahu.


"Ryan, kau panggil Randu kesini! Papi ingin mendengar langsung dari Randu alasannya membantu semua kebohongan Lea!" Perintah Papi Daniel pada Ryan. Pria paruh baya itu memijit pelipisnya sendiri yang mendadak terasa pening.


"Siap, Pi!" Jawab Ryan yang langsung bergegas menghubungi Randu dan memintanya untuk datang ke rumah secepatnya.


****


Randu masih berdiri di ambang pintu dan menatap satu persatu anggota keluarga Lea.


Ada papi Daniel yang menatap tajam pada Randu, lalu ada mami Thalia yang terlihat bingung, serta Ryan yang wajahnya malah cenderung penasaran.


Dan untuk Lea sera Rayyen, tak perlu ditanya ekspresi wajah keduanya, karena Randu mendadak merasa malas untuk menatapnya.


"Selamat sore, Uncle, Aunty!" Sapa Randu sekali lagi pada Papi Daniel dan Mami Thalia.


"Masuk dan duduk disini, Randu bukan Rayyen!" Ucap Ryan seraya bangkit dari duduknya dan mempersilahkan Randu untuk ganti duduk di sofa yang yang tadi ia tempati.


"Randu Wiyata!" Randu menyebutkan nama aslinya secara lengkap sebelum diganti oleh Lea dengan seenak jidatnya.


"Oh, Randu Wiyata! Nama dan wajahnya memang full lokal!" Celetuk Ryan sedikit berkelakar. Namun tak ada yang tertawa apalagi menanggapi kelakaran Ryan tersebut. Semuanya justru menatap tajam pada Ryan.


"Baiklah, aku akan diam, dan silahkan papi tanyakan langsung ke orangnya!" Ucap Ryan akhirnya seraya berlalu dari ruang tamu. Namun Ryan tak benar-benar pergi karena pria itu hanya mengambil bangku tambahan untuk ia duduk dan menyimak pembicaraan serius Papi Daniel pada Randu.


"Kau ingin menjelaskan sesuatu, Randu? Tentang kebohongan yang mungkin sudah kau lakukan?" Tanya Papi Daniel to the point sedikit menyindir Randu.


"Ya!" Jawab Randu seraya menghela nafas sejenak.


"Randu minta maaf karena sudah membohongi Uncle Daniel dan Aunty Thalia dengan mengaku sebagai Rayyen-nya Lea selama satubbulan terakhir. Padahal sebenarnya Randu memang bukan Rayyen!"


"Randu adalah Randu dan Rayyen adalah Rayyen! Tidak ada pria yang bernama Randu Rayyen Foster! Itu hanyalah nama yang dikarang oleh Lea!" Tukas Randu panjang lebar seraya tertawa kecil.


"Lalu atas alasan apa kau membantu Lea melakukan kebohongan ini, Randu? Kau mengenal Lea sebelumnya?" Tanya Papi Daniel lagi penuh selidik.


"Kami tidak saling kenal sebe-"


"Diam!" Gertak Papi Daniel pada Lea yang lancang menjawab padahal Papi Daniel sedang bertanya pada Randu.


"Papi sedang bertanya pada Randu dan bukan padamu!" Ujar Ppai Daniel lagi menatap tajam pada sang putri yang langsung mendengus.


"Jawab, Randu!" Perintah Papi Daniel pada Randu dengan nada tegas.


"Saya dan Lea tidak saling kenal sebelumnya, Uncle! Dan alasan kenapa di hari pertunangan Lea saya bisa ada di gedung yang sama adalah jarena saya salah menghadiri undangan!"


"Seharusnya saya menghadiri acara pernikahan kawan lama saya, tapi karrna saya salah baca tanggal, makanya saya datang di waktu yang salah juga dan akhirnya saya tak sengaja melihat Lea yang menangis-nangis di toilet pria karena calon tunangannya tak datang."


"Lalu kami berdua digrebek dan mendadak saya dianggap sebagai Rayyen, jadi ya sudahlah!" Randu menghela nafas sejenak.


"Saya pikir karena sudah terlanjur basah, jadi sekalian saja saya bantu Lea melakukan kebohongan konyol ini,", tutur Randu bercerita apa adanya tanpa menambah apalagi mengurangi.


"Itu saja alasanmu?" Papi Daniel masih menatap tegas pada Randu.


"Ada alasan lain," jawab Randu akhirnya seraya membalas tatapan papi Daniel.


"Saya sebenarnya sudah jatuh cinta pada Lea, Uncle! Jatuh cinta sebagai Randu dan bukan sebagai tunangan pura-pura!"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2